Sabtu, 27 April 2019

Waspada dalam Bertransaksi


www.kreditgogo.com

Kemajuan teknologi dewasa ini membawa perubahan signifikan terhadap beberapa bidang dalam kehidupan. Tidak terkecuali kepada transaksi jual beli antara penjual dan pembeli. Kehadiran transaksi jual beli secara online merupakan salah satu hasil dari kemajuan teknologi. Kita sebagai penjual tidak perlu repot menyediakan etalase yang tentunya berbiaya mahal untuk menyediakannya. Penjual hanya perlu mempunyai akun di suatu situs jual beli yang tersedia, dan mengunggah informasi terkait barang yang akan mereka jual, pun juga bagi pembeli, tidak perlu repot mendatangi toko fisik yang bisa saja jauh dari domisili si pembeli. Cukup sekadar mengoperasikan gawai berupa handphone, tablet pc, ataupun notebook dan komputer, kemudian mengakses aplikasi ataupun situs jual beli online, pembeli dapat mencari dan menemukan segala macam barang yang mereka butuhkan. Tatap muka antara penjual dan pembeli pun dapat tidak dihadirkan untuk menyelesaikan transaksi jual beli.

Saya pun turut mengalami dan menikmati kemudahan yang seperti demikian. Kemajuan teknologi yang begitu pesat dewasa ini telah membawa saya kepada kemudahan dalam berbelanja sesuatu. Umumnya barang-barang elektronik. Namun perlu juga disadari bahwa tetap perlu ada kehati-hatian dalam melakukan transaksi jual beli secara online. Absennya momen pertemuan saya sebagai pembeli dengan pihak penjual dapat menjadi celah untuk pihak yang berniat tidak baik untuk melakukan penipuan. Sebut saja penipuan kualitas produk yang ternyata tidak sebaik yang diiklankan dalam situs internet milik penjual. Atau penipuan metode pembayaran. Dimana penjual meminta pembeli untuk membayar sejumlah uang terlebih dahulu sebagai konfirmasi dari pembeli bahwa mereka membeli barang milik penjual. Penipuan terjadi tatkala pembayaran telah dilakukan oleh pembeli namun barang tidak dikirimkan kepada pembeli.

Kejahatan secara digital dewasa ini cukup marak terjadi. Karenanya kita perlu waspada tatkala kita menggunakan dunia digital untuk melakukan transaksi jual beli. Mengapa demikian? Karena, dalam dunia digital, pertemuan antara pembeli dengan penjual maupun sebaliknya tidaklah berlangsung melalui tatap muka secara langsung, melainkan hanya sekadar antara akun penjual dengan akun pembeli. Penjual mempunyai sebuah akun dalam sebuah media toko digital, bertemu dengan akun milik pembeli. Pertemuan secara tatap muka dalam dunia digital dirasa hanya akan memperlambat transaksi, yang mana memang mengedepankan kemudahan dan kecepatan dalam bertransaksi.

Beberapa waktu yang lalu saya mengalami kejadian yang kurang mengenakkan. Saya hampir saja menjadi korban penipuan secara digital. Ketika itu saya sedang dalam posisi menjual sebuah kamera digital milik saya karena sedang membutuhkan dana segar. Guna mempercepat terjualnya kamera milik saya tersebut tanpa ragu saya pun mengiklankan kamera tersebut ke sebuah website jual beli online yang cukup terkenal. Benar saja, saya segera mendapat pesan singkat melalui aplikasi chatting yang mengabarkan bahwa si calon pembeli berminat dengan kamera saya. Seperti biasa, terjadi negosiasi harga antara saya dengan calon pembeli dimana disepakati sebuah harga antara kami.

Kemudian proses berlanjut, kami membahas mengenai ongkos kirim (ongkir). Si calon pembeli memberikan alamat lengkapnya yang berada di kota yang berbeda dengan saya. Saya pun melakukan pengecekan ke alamat situs penyedia jasa ekspedisi dan memberikan beberapa opsi kepada calon pembeli untuk ongkir yang diperlukan. Setelah terjadi kesepakatan mengenai ongkir yang perlu dibayar oleh calon pembeli. Setelah terjadi kesepakatan, maka proses berikutnya yaitu pembayaran oleh calon pembeli. Metode transfer melalui rekening bank pun dipilih oleh calon pembeli. Calon pembeli mengaku akan mentransfer melalui mandiri e-cash. Saya pun mengiyakan saja kendati saya tidak begitu memahami seperti apa mandiri e-cash tersebut. Tak lama berselang saya menerima bukti transfer dari calon pembeli seperti di gambar berikut:

Nomor rekening saya tidak cantumkan.
Saya mulai curiga karena merasa bukti transfer tersebut seolah seperti foto kertas kosong yang menyerupai struk ATM yang ditambahkan tulisan menggunakan aplikasi editor foto. Saya semakin curiga ketika melihat ada salah ejaan pada gambar tersebut.



Saya pun menjelajah internet untuk mencari informasi terkait mandiri e-cash dan saya mendapatkan artikel mengenai penipuan menggunakan mandiri e-cash. Sontak saya pun dengan alasan tidak memahami mengenai mandiri e-cash tersebut membatalkan transaksi dengan calon pembeli untuk menghindari penipuan.

Sedikit informasi mengenai mandiri e-cash:
  1. Mandiri e-cash adalah uang elektronik berbasis server yang memanfaatkan teknologi aplikasi di handphone dan USSD, atau yang disebut sebagai uang tunai di handphone, dimana yang memungkinkan pemegangnya untuk melakukan transaksi perbankan tanpa harus melakukan pembukaan rekening ke cabang Bank Mandiri. https://www.bankmandiri.co.id/e-cash

  2. Mandiri e-cash tidak dapat transfer ke bank lain selain Bank Mandiri. https://penablog.com/transfer-e-cash-ke-rekening-bank-selain-mandiri/

  3. Untuk menerima dana dari mandiri e-cash, penerima dana tidak perlu memasukkan kode OTP (One Time Password). https://carabimo.com/mau-tahu-struk-bukti-transfer-e-cash-ke-rekening-ini-gambarnya/
Jika rekan sekalian mengalami kejadian yang serupa dengan yang saya alami, ada baiknya benar-benar menelusuri kebenaran niat dari calon pembeli, apakah memang benar-benar ada itikad baik dari pembeli untuk membeli barang milik anda ataukah ada niatan jahat dari calon pembeli untuk melakukan penipuan guna mendapatkan untung berupa barang yang anda jual tanpa harus mengeluarkan sejumlah dana untuk mendapatkan barang tersebut. Berhati-hati akan lebih bijaksana daripada harus menyesal di kemudian hari.


Minggu, 07 April 2019

Menikah : Sebuah Keputusan Penuh Pertimbangan atau Sebuah Keterpaksaan Keadaan?

Menikah adalah suatu hal yang menjadi impian sebagian besar orang di dunia. Satu tahapan yang akan mulai menjadi topik pembicaraan ketika usia sudah memasuki tahapan dewasa. Ada suatu anggapan tertentu bagi sebagian golongan masyarakat, bahwa yang menjadi latar belakang atau pendorong terjadinya sebuah pernikahan adalah karena sudah cukup usia, pekerjaan yang sudah mapan, atau dorongan pihak keluarga yang dirasa ingin cepat mendapatkan anggota keluarga baru dan menimang cucu. Sebuah rahasia umum jika beberapa hal tersebut menjadi motivasi terjadinya sebuah pernikahan. Namun ketika ditelaah lebih lanjut, apakah sesederhana itu alasan utama untuk melangkah ke salah satu jenjang lanjutan dari kehidupan seorang manusia tersebut? Apakah sebuah keputusan untuk menikah yang telah diambil tersebut dapat konsisten dijaga dengan adanya alasan-alasan umum yang melatarbelakangi keputusan tersebut?

Perlu diingat, sebuah pernikahan adalah salah satu keputusan besar yang perlu dipersiapkan dan direncanakan secara matang. Kesalahan dalam memilih calon pasangan hidup bisa menjadi penyesalan terbesar di kemudian hari. Seperti diketahui, pada hakikatnya pernikahan adalah penyatuan dua orang manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dalam sebuah ikatan yang sah baik secara agama maupun secara hukum, untuk membina sebuah keluarga yang diharapkan baik dan berlangsung seumur hidup, sampai akhir hayat. Walau terjadi banyak penyimpangan akan kedalaman makna pernikahan, akan tetapi hal mendasar dalam hubungan pernikahan tidak akan bisa digantikan. Bilamana dewasa ini terdapat banyak pernikahan antara dua orang yang memiliki satu kesamaan berupa jenis kelamin yang sama, baik itu antara lelaki dengan lelaki atau perempuan dengan perempuan, tetap tidak dapat mengganti definisi dari pernikahan yang sebenarnya. Karena pada dasarnya manusia diciptakan Sang Pencipta hanya bergender laki-laki dan perempuan, sehingga ketika relasi dalam pernikahan dikreasikan olehNya, itu pun untuk manusia dengan dua jenis kelamin berbeda, dan bukan untuk laki-laki dengan laki-laki, atau perempuan dengan perempuan.

Kembali kepada latar belakang sebuah pernikahan, tentu keputusan untuk menikah tidak bisa didasarkan hanya pada alasan yang dangkal. Akan menjadi terlalu riskan jika sebuah pernikahan terjadi hanya karena alasan-alasan yang saya sebutkan sebelumnya. Bisa saja karena alasan tersebut, pernikahan menjadi tidak terencana secara matang, dan bahkan menjadi sebuah keterpaksaan bagi masing-masing pihak, dikarenakan keadaan yang seolah mendesak karena perkara umur, atau mungkin pandangan orang sekitar, dsb. Padahal, mungkin sang calon mempelai secara mental maupun finansial belum mencapai tahapan siap. Bahkan jika dipaksakan untuk menikah, pernikahannya tidak akan menjadi suatu hal yang baik. Tentu tidak ada yang menginginkan pernikahan seperti demikian.

Contoh lain alasan yang (menurut saya) dangkal yang mendorong sepasang kekasih untuk menikah adalah (hanya karena) cinta dan perasaan tertarik kepada pasangan. Perlu diingat bahwa pernikahan adalah perjalanan seumur hidup. Ibarat sebuah rumah, maka ketika sepasang kekasih yang memutuskan untuk menikah memasuki rumah tersebut, membentuk sebuah kesatuan yang disebut dengan keluarga, mereka harus mengetahui bahwa tidak akan ada pilihan untuk mundur ataupun pergi dari rumah tersebut. Apapun yang terjadi, mereka harus setia dengan pilihan yang telah diambil. Menyenangkan ataupun mendukakan, itulah yang harus diterima dan dijalani. Karenanya pertimbangan matang dalam menentukan calon pasangan hidup adalah mutlak diperlukan, tidak bisa tidak, jika ingin memiliki pernikahan yang "abadi" (sampai maut memisahkan). Pernikahan yang hanya didasarkan karena rasa saling mencintai dan karena ada perasaan ketertarikan diantara dua insan manusia, cenderung untuk gagal, walaupun belum dapat dipastikan akan gagal. Namun bukan berarti pernikahan yang langgeng adalah pernikahan tanpa kehadiran cinta. Bukan juga demikian.

Apa yang saya maksudkan adalah, ketika kita tertarik dengan seseorang dan membuka kemungkinan untuk sebuah hubungan yang mendalam, kita perlu juga mempertimbangkan berbagai hal yang ada pada diri orang tersebut pun juga yang ada dalam diri kita. Pikiran egois akan berkata, "Apa yang bisa dia berikan padaku?". Namun jika kita sudah mencapai kedewasaan yang cukup dan dapat berpikir tidak lagi untuk diri sendiri, maka kita akan bisa berkata, "Apa hal terbaik dariku yang bisa aku berikan untuknya?". Kita perlu untuk tetap berpikir logis akan keberadaan pasangan kita. Cinta dan perasaan tertarik kepada pasangan rentan untuk berubah-ubah, namun ketika kita memilih berdasarkan karakter pasangan kita, suatu hal yang (bisa dibilang) permanen adanya pada diri pasangan kita, maka kita bisa meyakinkan diri kita untuk bertahan sampai maut memisahkan bersama pasangan kita. Karena sebuah karakter seseorang adalah sesuatu yang terbentuk sejak lama. Jika karakter seseorang baik adanya, kecil kemungkinannya orang tersebut untuk berubah karakternya menjadi buruk ataupun menjadi tidak baik. Jadi, sertakanlah pertimbangan karakter pasangan sebagai salah satu latar belakang sebuah pernikahan.

Ketika anda memutuskan untuk menikahi seseorang, segala sesuatu yang tadinya dilakukan sendiri, sepihak, tanpa perlu ada izin orang lain, akan berubah menjadi sesuatu yang memerlukan kesepakatan bersama, perlu dibicarakan berdua, dan bisa jadi tidak terlaksana karena ketiadaan kesepakatan dengan sang pendamping hidup. Hal yang wajar, karena bisa jadi sesuatu yang akan diputuskan tersebut, akan berpengaruh pada kehidupan anda dan pasangan. Bagi pria, bukan berarti menjadi lemah, hanya karena perlu pendapat dari istri untuk sesuatu hal yang mungkin sepele, begitupun bagi wanita, bukan juga berarti menjadi dominan, karena dapat bagian untuk "mengontrol" keputusan sekecil apapun dalam kehidupan pernikahan. Semuanya punya peranan tersendiri, setara, sepadan, dan bukan berat sebelah. Tidak menakut-nakuti, namun pernikahan adalah salah satu sarana untuk menyambut kehidupan yang penuh masalah dengan cara yang bersukacita. Benar, kehidupan setelah pernikahan bukanlah hidup tanpa masalah. Melainkan akan muncul banyak masalah baru yang sebelumnya (mungkin) belum pernah ada. Lalu mengapa bisa menjadi suatu sukacita? Karena kita tidak lagi menghadapi permasalahan tersebut sendirian. Bersama pendamping hidup kita, kita diberikan "sharing partner" yang dengan lapang dada dan tanpa harus diiringi permintaan yang memohon-mohon, akan memberikan sugesti-sugesti yang bisa menjadikan setiap permasalahan menemukan solusinya. Seperti janji pernikahan dimana kita akan selalu setia dalam suka dan duka, hidup setelah pernikahan menjanjikan keadaan yang tidak hanya penuh masalah, namun juga ada kebahagiaan besar sebagai anugerahNya.

Tuhan tidak memaksa umatnya untuk menjalani sebuah pernikahan. Dia menyadari bahwa rencanaNya untuk setiap pribadi adalah tidak sama satu dengan yang lain. Jika pada akhirnya, pergumulan hidup anda membawa anda pada keputusan untuk menikmati sebuah pernikahan, hendaknya tidak hanya karena suatu alasan dangkal. Landasi pernikahan anda dengan sebuah keputusan matang yang telah dipertimbangkan dengan baik, dan juga tanamkan motivasi kuat untuk memuliakan Tuhan melalui pernikahan yang anda akan jalani. Karena sesungguhnya pernikahan itu adalah ide dari Allah sendiri, karenanya sudah sepantasnya pernikahan dijalani untuk membawa kemuliaan bagi Allah, sang kreator relasi pernikahan itu sendiri. Dengan begitu, akan menjadikan refleksi kemuliaan Tuhan terpancar nyata, ketika hubungan yang anda jalani bersama pasangan anda, berakhir dalam suatu pernikahan kudus, dengan motivasi dasarnya adalah untuk memuliakan Allah.

Adakah saya menginspirasi?

Berkriteria Untuk Berpendirian

Bertanya Mengapa

Menghormati Pemimpin

Jumat, 22 Februari 2019

Berkriteria untuk Berpendirian

Kita semua pernah berada dalam suatu kondisi harus memilih. Entah itu memilih sesuatu atau seseorang. Pun juga untuk hal yang besar maupun hal yang remeh. Tatkala kita berada dalam posisi tersebut, adakah kita memilih sesuatu maupun seseorang tersebut dengan serampangan? Atau sebaiknya perlu suatu pertimbangan yang matang?

Kita sebagai manusia diberikan kehendak bebas oleh Kreator kita. Tanpa ada penghalang, sesungguhnya kita bebas memilih apapun sesuai kehendak kita. Namun tendensi kita lebih gemar memilih sesuatu yang kurang baik. Karena apa yang secara nilai bersifat kurang baik, lazimnya mengenakkan untuk dipilih. Semisal, makanan yang tidak sehat biasanya lebih enak daripada makanan yang lebih sehat. Padahal untuk mendapat tubuh yang sehat, logikanya kita perlu untuk makan makanan yang sehat, namun tetap saja banyak sekali makanan yang tidak sehat banyak dipilih untuk dinikmati dan laris di pasaran.

Contoh lain dalam cara mendapatkan uang. Kita semua memahami dalam kehidupan kita memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Namun karena diperlukan suatu usaha untuk mendapatkan uang, kita terkadang menjadi enggan untuk berusaha mendapatkan uang dengan cara yang benar, yaitu bekerja. Sebagian orang yang memilih untuk menuruti keengganannya untuk berusaha mendapat uang dengan bekerja memilih jalan pintas dengan cara mencuri uang milik orang lain. Karena hal itu dianggap dapat menjadi sarana untuk mendapatkan uang dalam waktu yang singkat tanpa usaha yang terlalu keras.

Dari situ perlulah diatur sebuah patokan untuk kita agar dapat memilih sesuatu yang benar untuk dilakukan. Patokan tersebut perlu kita ikuti agar kita dapat selalu memilih sesuatu maupun seseorang dengan benar. Mengapa demikian? Karena sebelum kita membuat sebuah patokan yang disepakati untuk dipatuhi, tentu terdapat kriteria yang menjadi dasar. Kriteria tersebut menjadi ukuran bagi kita untuk membuat sebuah patokan yang kita yakini benar. Mengapa kita perlu adanya kriteria untuk menentukan sebuah patokan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Kriteria menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ukuran yg menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu. Untuk dapat menentukan sebuah kriteria yang tepat tentu diperlukan sebuah riset terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang akan kita tetapkan. Misalnya saja kita hendak memilih calon presiden. Maka kriteria yang kita perlukan tentu akan berkaitan dengan pribadi sang calon presiden yang sekiranya sesuai dengan pekerjaan yang nantinya harus dikerjakannya. Semisal, pengalamannya memimpin, kinerja selama jabatan terdahulu, atau visi misi sang calon untuk jabatan presiden tersebut. Tidak perlu kita memasukkan kriteria yang tidak berkaitan secara langsung dengan pekerjaannya sebagai presiden atau sekadar kriteria yang dangkal, seperti makanan favoritnya, warna kesukaannya, film kegemarannya, dll.

Dari situ kita dapat memahami bahwa kita memerlukan sebuah kriteria yang jelas dalam memilih sesuatu maupun seseorang. Namun mengapa kita perlu menetapkan suatu kriteria sebelum kita memilih sesuatu atau seseorang? Untuk menghindari sebuah kekecewaan dan penyesalan akibat salah dalam memilih sesuatu maupun seseorang. Kriteria menghindarkan kita dari sebuah kesalahan memilih yang bisa disebabkan karena kita secara serampangan memilih sesuatu atau seseorang, yang pada akhirnya membuat kita tidak setia pada pilihan kita.

bbsnews.co.id
Lalu apakah cukup kriteria yang kita sertakan adalah kriteria yang sederhana saja? Belum tentu. Seperti yang saya sampaikan di atas, kita memerlukan sebuah riset dalam menentukan kriteria apa yang cocok untuk kita jadikan patokan dalam memilih sesuatu atau seseorang. Bisa berasal dari pengalaman pribadi kita maupun dari berbagai sumber lainnya yang kita anggap sesuai dengan kebutuhan pun keinginan kita. Sehingga, bisa saja terdapat perbedaan kriteria yang ditetapkan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. 

Meskipun terdapat banyak sumber yang dapat mengusulkan kriteria yang sekiranya baik, bukan berarti arah keputusan kita diatur oleh berbagai macam sumber tersebut sehingga kita tidak dapat memiliki pendirian kita sendiri. Tidak demikian. Justru kita perlu dan berwenang untuk menguji kriteria yang terusulkan oleh berbagai sumber tersebut apakah tetap selaras dengan pendirian kita.  Apakah setiap kriteria yang ada dapat kita jadikan kriteria yang kita jadikan patokan untuk memilih atau tidak. Jika memang sudah terlalu menyimpang, kita patut untuk tidak menjadikannya sebuah kriteria yang dapat menjadi patokan kita untuk memilih. Namun jika kriteria yang kita dapati ternyata selaras dan benar pun baik adanya, adalah patut kita jadikan sebuah patokan dalam memilih.

Di saat sebuah patokan yang bersanding dengan berbagai kriteria yang telah teruji telah nyata, niscaya kita akan dapat memilih secara hati-hati dan bertanggungjawab terhadap pilihan kita. Sebab kita telah sedemikian rupa menyusun dan menetapkan kriteria yang ada, dan dengan demikian kita pun dapat memiliki pendirian yang teguh dalam memilih. Kita tidak akan serampangan memilih sesuatu atau seseorang, mengorbankan pendirian kita hanya karena keinginan atau kebutuhan yang mendesak, namun tetap berpendirian teguh dengan adanya patokan berkriteria yang memang sesuai dengan kita. Karena kita berkriteria untuk berpendirian, sehingga kita pun dapat memilih secara benar. Selamat memilih!


Minggu, 17 Februari 2019

Bertanya Mengapa

Suatu ketika, pada sebuah sesi pelajaran yang saya ampu, di tengah proses pengerjaan tugas membuat sebuah presentasi dengan menggunakan i-Pad, saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada anak didik saya.

Menurut kalian, mengapa Mister memberikan tugas membuat presentasi dengan menggunakan aplikasi ini?

Saya ingin mengukur seberapa jauh pemahaman mereka terkait pemberian tugas tersebut. Mengenai apa yang menjadi latar belakang pemberian tugas tersebut. Beberapa jawaban yang terbersil dari pembicaraan dalam forum kelas tersebut di antaranya:

Untuk membuat kita belajar, Mister…
Untuk membuat kita memahami materi yang menjadi topik presentasi, Mister
Supaya kita bisa semakin paham ketika menggunakan aplikasi ini, Mister
Supaya kita mendapat nilai, Mister…

Cukup logis apa yang menjadi pemahaman anak didik saya dalam memahami makna atau alasan pemberian sebuah tugas yang saya persiapkan sebagai salah satu bagian dari pembelajaran mata pelajaran Teknologi Informasi. Dalam pemahaman mereka, masih berkutat dalam pemahaman yang terbatas yang langsung mengarah kepada sasaran jangka pendek terkait tujuan pemberian tugas yang mereka harus kerjakan.

Tentu saya tidak dapat mempersalahkan jawaban yang mereka lantunkan untuk menjawab pertanyaan saya tersebut. Sejauh yang saya pahami, pertanyaan yang saya ajukan adalah pertanyaan yang bersifat terbuka, yang membuka ruang seluas-luasnya bagi penerima pertanyaan untuk mengajukan pemikirannya dalam bentuk sebuah jawaban yang muncul atau lahir dari akal budi si penerima pertanyaan. Pertanyaan yang bukan mengharapkan jawaban sebatas ‘benar’ atau ‘salah’. Sehingga saya mengapresiasi setiap jawaban yang terberikan oleh anak didik saya, apapun jawaban mereka.

Sekarang, bagaimana jika kita mengambil intisari dari pertanyaan saya di atas untuk diterapkan dalam penggalan aktivitas rutin kita? Atau secara sederhana, pertanyaan saya di atas saya modifikasi menjadi:

‘Mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan?’

https://pixabay.com
Apa yang akan menjadi jawaban kita terhadap pertanyaan tersebut? Tentu tidak akan cukup hanya dengan satu atau dua jawaban saja., karena akan berbeda-beda setiap hal yang terlakukan oleh masing-masing kita. Kecuali kita seorang yang hanya memiliki aktivitas berupa diam saja di rumah tanpa suatu aktivitas rutin, yang kalau diselisik pun, kita masih bisa menanyakan, "Mengapa kita melakukan aktivitias diam saja di rumah?". 

Beberapa contoh pertanyaan dan jawaban yang mungkin timbul antara lain:

“Mengapa kita makan?”. Untuk memenuhi kebutuhan kita akan makanan, atau karena kita lapar dan ingin dikenyangkan.

“Mengapa kita tidur?”. Untuk memenuhi kebutuhan kita akan energi untuk beraktivitas, atau karena kita mengantuk.

“Mengapa kita mandi?”. Untuk membersihkan badan kita dari keringat dan kotoran yang menempel di badan kita.

“Mengapa kita bekerja?”. Untuk mencukupi kebutuhan kita dengan upah yang kita dapatkan.

Serta masih banyak lagi pertanyaan dan jawaban yang akan mencuat dari setiap pribadi yang mendapatkan pertanyaan tersebut.

Lantas, apakah sesederhana itu jawaban yang selayaknya kita munculkan? Apakah manusia hanya merupakan objek dari kehidupan yang menyuguhkan rutinitas kegiatan yang sangat berpotensi monoton, ajek, dan begitu-begitu saja adanya? Saya rasa bisa untuk tidak demikian, tatkala kita mengingat siapa pemberi kesempatan kita untuk hidup dan beraktivitas.

Kita tidak lebih dari sebuah makhluk ciptaan. Tidak ada satu manusia yang bisa menganggap dirinya lebih tinggi derajatnya dari manusia lainnya. Adanya pembedaan antar manusia yang satu dengan yang lainnya adalah karena perspektif manusia itu sendiri yang memunculkan kasta-kasta dalam masyarakat. Padahal sebenarnya semua manusia setara di hadapan Sang Empunya.

Memang ada talenta yang disediakan bagi masing-masing pribadi dan talenta tersebut bersifat khas bagi setiap pribadi. Sang pribadi tersebut mempunyai pilihan untuk mengembangkan talenta tersebut untuk berguna bagi dirinya pun bagi sekitar, atau juga membiarkan talenta tersebut tidak berkembang dan mungkin membiarkan talenta tersebut lenyap karena tidak dikembangkan. Namun, itu tidak mengubah kondisi bahwa setiap manusia adalah setara di hadapan Sang Empunya hidup.

Dalam sebuah pestaka yang menjadi pedoman bagi salah satu din yang diakui secara sah di negara kita, ada tertulis, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Dalam versi lain tertulis, “Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia”.

Agaknya, tulisan tersebut dapat memberikan panduan bagi kita tentang mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Seharusnya, setiap apa yang kita lakukan, bukan semata kita lakukan untuk manusia saja. Manusia disini dapat berarti manusia sekitar kita, atau juga kita sendiri karena kita pun manusia. Misalnya, kalau kita makan, kita hanya untuk menyenangkan orang tua kita karena kita disuruh untuk makan. Atau sekadar karena kita lapar. Atau karena kita ingin mencoba makanan yang berharga mahal yang mungkin belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita. 

Sebaiknya juga untuk alasan kita bekerja tidak sekadar untuk mendapatkan upah yang kemudian kita habiskan untuk foya-foya. Atau untuk hanya memenuhi kebutuhan. Atau bahkan alasan yang paling sederhana supaya kita ada kegiatan dan tidak menganggur. Sebaiknya tidak demikian.

Tanamkan sebuah sikap dan pemikiran yang jelas dalam diri bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, baik itu adalah hal yang kita anggap remeh atau hal yang kita anggap sangat penting, adalah kita lakukan dan kerjakan untuk Tuhan, Sang Empunya hidup. Jika kita makan, tidur, mandi, bekerja, dan lainnya, semua untuk Tuhan. Untuk menunjukkan rasa syukur atas setiap kesempatan kita untuk dapat melakukan apa yang kita lakukan. Tidak sebatas karena alasan sederhana nan dangkal yang mengabaikan unsur keberadaan Sang Empunya hidup dalam kehidupan kita, melainkan karena suatu motivasi untuk selalu mengindahkan kehadiran Sang Empunya dalam setiap perjalanan kehidupan kita dan sebagai ungkapan terima kasih karena kita dapat melakukan apa yang kita lakukan. Selamat bertanya mengapa!

Adakah saya menginspirasi?



Inspirasi lain:

Menghormati Pemimpin

Usia 4: Semakin Matang Menjadi Guru

Mudah Menghakimi Tak Mudah Menjadi yang Terhakimi

Sabtu, 09 Februari 2019

Menghormati Pemimpin


Sebentar lagi negara kita akan mengalami sebuah momen untuk menentukan sosok-sosok yang akan menjadi pemegang kekuasaan untuk memerintah sebagai pemimpin negara. Sudah sejak tahun lalu gaung dari peristiwa Pemilihan Umum (Pemilu) bergema di seantero negeri. Bagi segelintir masyarakat, mungkin ada yang telah menentukan pilihannya dalam menyongsong momen Pemilu nanti. Namun, saya juga meyakini bahwa masih ada banyak pihak yang belum menentukan kepada siapa mereka mempercayakan pucuk kepemimpinan negeri ini. Bahkan mungkin ada juga sebagian pribadi yang telah mendeklarasikan diri untuk tergabung dalam golongan putih (golput), dimana mereka ini tidak akan mempergunakan hak suaranya untuk memilih calon manapun sebagai pemimpin dalam Pemilu nanti.

Memang tidak mudah untuk menentukan pilihan kita terkait pemimpin negara ini. Terlebih jika pilihan yang ada merupakan seorang calon pemimpin yang baru mengajukan diri dan tidak memiliki pengalaman yang mumpuni. Rekam jejak yang belum teruji, memunculkan pertanyaan dalam angan, apakah calon pemimpin tersebut kapabel untuk memimpin negara kita?

Kondisi lainnya yang mungkin tampil adalah sudah berpengalamannya calon pemimpin yang ada, namun kita secara pribadi tidak sreg terhadap sang calon pemimpin tersebut. Mungkin sang calon pemimpin merupakan calon yang mengajukan diri untuk kedua kalinya (petahana) sehingga dia sudah mempunyai rekam jejak yang jelas, namun karena kita pribadi mungkin memiliki kekecewaan terhadap kinerja dari sang calon pemimpin petahana tersebut menjadikan kita tidak sreg terhadapnya.

Pada akhirnya, tidak masalah siapapun yang menjadi pilihan kita. Setiap kita memiliki hak untuk menentukan pilihan kita untuk pemimpin negeri kita dengan bebas, tanpa paksaan dari pihak manapun. Meskipun demikian, siapapun pemimpin yang kita pilih sebagai pemimpin, belum tentu akan dapat terpilih. Karena penentuan terpilih tidaknya seseorang juga dilihat dari perolehan suara secara keseluruhan, baik tingkat kota atau kabupaten, provinsi, maupun nasional.

Lantas, bagaimana menyikapi keadaan dimana pemimpin yang kita pilih ternyata tidak dapat menjadi pemimpin negara kita?

https://www.dakwatuna.com
Anggap saja yang menjadi pemimpin negara kita pada akhirnya adalah rival dari calon pemimpin yang telah kita pilih, dimana kita pribadi tidak begitu sreg dan kurang merasa nyaman jika harus dipimpin oleh pribadi yang menjadi rival dari calon pemimpin pilihan kita. Hal yang dapat kita lakukan adalah:
Tanamkan dalam angan dan cita kita untuk tetap memberikan respek kepada pemimpin kita
Apapun perasaan yang kita rasai, entah itu kecewa, marah, ataupun yang lainnya, sebaiknya tidak menjadi pembenaran bagi kita untuk tidak patuh pun tidak respek kepada pemimpin kita tersebut. Tetaplah bersifat objektif dalam menilai setiap kinerja maupun kebijakan yang diambil dan diputuskan oleh pemimpin kita, supaya jika kita berniat untuk mengkritisi, itu berdasarkan hasil penilaian yang berdasarkan hasil kerja sang pemimpin dan bukan bersifat personal, berdasarkan ketidaksukaan terhadap pribadi sang pemimpin.

Ketahui bahwa ketidakpatuhan kita hanya akan membuat ketidaknyamanan dalam hidup
Bagaimanapun juga, sang pemimpin yang terpilih sesuai prosedur yang sah berhak untuk memimpin negara kita. Terlepas dari caci maki, keberatan, maupun penolakan dari sebagian pihak yang berada pada pihak oposisi dari sang pemimpin, pribadi terpilih tersebut akan tetap menjadi pemimpin negara. Jika kita memilih untuk berada pada pihak oposisi, sebaiknya kita tetap mematuhi setiap kebijakan yang terambil oleh sang pemimpin. Karena kebijakan-kebijakan yang bersifat mengikat bisa menjadi seperti sebuah ketentuan hukum yang wajib dipatuhi oleh rakyat yang dipimpin. Mau tidak mau, suka tidak suka, kebijakan yang ada tetap akan berlaku. Ketidakpatuhan terhadap kebijakan yang ada hanya akan membuat ketidaknyamanan dalam kehidupan kita sebagai warga negara. Karena kita akan menerima konsekuensi dari ketidakpatuhan kita tersebut, yang mungkin berupa hukuman.

Dukung kinerja positifnya, dan kritisi dengan cerdas dan konstruktif setiap kelemahan sang pemimpin
Adalah sebuah hal yang mustahil untuk mengharapkan pemimpin kita tanpa cela sedikitpun. Karena pemimpin kita adalah manusia yang sama seperti kita. Terbatas adanya. Karena itu, sang pemimpin tentu membutuhkan input dari kita sebagai masyarakat yang dipimpinnya. Jika kinerja yang ditunjukkannya adalah positif, sudah sepantasnya kita dukung. Terlepas kita berada di pihak oposisi maupun koalisi. Jika ada kelemahan yang menyebabkan kinerja sang pemimpin kurang maksimal, maka kita berhak dan wajib untuk mengkritisi. Namun tidak sekadar mengkritisi tanpa solusi, namun kritisi dengan cerdas dan konstruktif, kelemahan sang pemimpin.

Sebuah tulisan dalam sebuah pestaka menyebut, “Setiap orang haruslah taat kepada pemerintah, sebab tidak ada pemerintah yang tidak mendapat kekuasaannya dari Allah. Dan pemerintah yang ada sekarang ini, menjalankan kekuasaannya atas perintah dari Allah”. Tanpa perlu ada penjelasan lebih lanjut, jelas sekali sikap yang seharusnya kita ambil dalam kehidupan bernegara, yaitu menghormati pemimpin atau pemerintah kita. Karena setiap pribadi yang terpilih sebagai pemimpin, dipilih dan ditentukan untuk menjadi pemimpin oleh Allah. Mungkin melalui kita sebagai rakyat, namun tetap Allah yang berkuasa menentukan ‘perwakilanNya’ di dunia. Jika kita menentang pemimpin maka, “Itu sebabnya orang yang menentang pemerintah sama saja dengan menentang apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dan orang yang berbuat begitu akan menerima hukuman”. Jadi, sudahkah anda menghormati pemerintah?

Adakah saya menginspirasi?

Inspirasi lain:

Belajar tentang Masalah

Mudah Menghakimi Tak Mudah Menjadi yang Terhakimi


Sabtu, 02 Februari 2019

Usia 4: Semakin Matang Menjadi Guru



2015              : Wali kelas 5 pengganti selama 3 bulan
2015 -2016 : Wali kelas 4 (kelas pertama yang dipercayakan)
2016-2017  : Wali kelas 4 (angkatan yang 3 tahun kedepan saya ajar)
2017-2018  : Wali kelas 5 (bersama sebagian murid yang saya ajar di kelas 4)
2018-2019  : Guru mata pelajaran Musik dan Komputer kelas 5 dan 6
2019-2020  : ……………………………………………………………………

Di atas adalah seberkas riwayat perjalanan saya sebagai seorang pengajar di salah satu sekolah swasta di Surabaya. Saya bersyukur bisa berkesempatan untuk berkarya di bidang pekerjaan saya saat ini. Tidak semata karena upah yang konsisten saya terima setiap bulannya, namun juga karena kesempatan untuk berkembang yang begitu luas sesuai dengan minat dan talenta yang saya punya.

Berawal dari sebuah keinginan sekilas yang muncul pada waktu saya masih menjadi mahasiswa, akhirnya saya memberanikan diri untuk berkecimpung dalam dunia pendidikan, terkhusus menjadi seorang guru. Memang awalnya tidak mudah, terlebih saya tidak memiliki pengalaman yang memadai untuk menjadi seorang pengajar. Namun saya tetap memberanikan diri untuk menapaki alur perjalanan pekerjaan saya sebagai seorang guru. Saya percaya bahwa kalau saya diperkenan Tuhan mendapatkan pekerjaan saya, maka Dia akan memperlengkapi saya dan mempersiapkan saya untuk setia berkarya di jalur tersebut.

Jika saya menilik ke belakang, kepada momen- momen saat saya mulai merintis karir sebagai pengajar, banyak hal yang saya pelajari dan saya serap dari berbagai macam pribadi pun peristiwa, baik besar maupun kecil. Saya belajar untuk dapat percaya diri untuk berkomunikasi di hadapan para murid maupun orang tuanya, juga belajar disiplin untuk selalu belajar atau melakukan persiapan sebelum mengajar. Selain itu, saya juga belajar untuk bersikap tegas terhadap apa yang seharusnya dilakukan maupun dijadikan. Walau kadang ada keadaan yang membuat saya berada dalam keharusan untuk berkompromi, namun semua itu dapat teratasi. Memang, tidak setiap pribadi yang saya jumpai pun setiap momen yang saya rasai dapat terkenang secara kekal dalam angan, namun selalu ada makna yang tertinggal yang dapat saya pelajari darinya.

Memasuki tahun ketiga saya berprofesi sebagai pengajar, saya merasakan sedikit kejenuhan dalam pekerjaan saya yang mulai menjadi sebuah hal yang bersifat rutin. Memang, saya akui bahwa ada rasa bosan dalam menjadi wali kelas. Bukan berarti saya telah bosan untuk menjadi seorang pengajar, tidak seperti itu. Namun saya pribadi mengakui bahwa saya tidak dapat berada dalam satu kondisi yang monoton, berulang-ulang, dan harus selalu ada pembaruan. Mungkin hal tersebut yang membuat saya jenuh terhadap pekerjaan saya saat itu.

Merasai hal tersebut, saya tidak secara langsung atau terang-terangan berujar kepada majikan saya di sekolah bahwa saya ingin menjadi guru mata pelajaran dan tidak lagi menjadi wali kelas untuk tahun pelajaran berikutnya. Namun, kepada beberapa rekan sejawat, saya menyiratkan keinginan tersebut. Saya lebih banyak berujar dalam angan dan cita saya tentang keinginan untuk mendapatkan posisi sebagai guru mata pelajaran.

Pada akhirnya Sang Empunya kehidupan selalu tahu apa yang saya butuhkan dan saya minati. Tatkala pengumuman posisi mengajar saya untuk tahun ajaran yang baru telah tiba, saya pun gembira karena mendapat posisi yang saya harapkan, yakni sebagai seorang guru mata pelajaran. Meskipun demikian, ada sedikit kecemasan karena saya harus mengajar dua mata pelajaran sekaligus, yaitu musik dan komputer. Kadang, keharusan untuk menjalani suatu hal yang sama sekali baru memunculkan rasa minder terhadap kemampuan diri. Sesungguhnya kemampuan dan potensi ada namun seolah lenyap karena tidak tenteramnya hati maupun asumsi yang negatif. Sekadar menguatkan diri, saya berusaha menutupi kecemasan dengan euforia saya karena mendapatkan posisi baru yang berbeda dengan yang sebelumnya.

Hampir semusim berjalan menjadi seorang guru komputer dan musik, saya menikmati posisi saya saat ini. Awalnya kebutaan tentang menjadi seorang guru mata pelajaran begitu menghalangi langkah untuk mengembangkan diri. Namun dengan sokongan dari rekan sejawat, keluarga, pun tak tertinggal dari Sang Kreator kehidupan, saya semakin mantap menjejakkan langkah dalam posisi sebagai seorang guru mata pelajaran, dan berharap akan tetap dapat berposisi seperti sekarang.

Kini, menapaki usia empat tahun saya mengajar, saya merasa semakin matang dalam menjadi pengajar. Segala kekurangan masih menanti untuk mendapatkan perbaikannya. Namun setiap kesempatan yang datang saya anggap sebagai tantangan untuk dapat ‘naik kelas’ menuju posisi yang semakin meningkat. Ambisi tetap ada. Banyak harapan yang masih menanti untuk diwujudkan di hari depan. Semoga saya dapat semakin mampu menginspirasi dan membagikan ilmu yang saya miliki, kepada setiap anak didik yang telah dipercayakan kepada saya. Sehingga saya pun dapat menjadi bagian dari sekelumit pribadi yang ikut memberikan andil mencerdaskan kehidupan bangsa.


Adakah saya menginspirasi?

gambar dari : http://cerpen-online-indonesia.blogspot.com