Jumat, 09 Desember 2016

Bercerita Tentang UNAIR

Gedung Rektorat di Kampus C UNAIR (dokumentasi pribadi)


Bercerita secuplik kisah almamater saya, Universitas Airlangga, atau banyak juga dikenal UNAIR, menggugah hasrat dalam hati. Memori pun seolah terpanggil untuk menampilkan semua yang terekam dalam ingatan. Bukan, bukan tentang perkara akademis atau keorganisasian yang ada, tapi berikan saya perkenan untuk menceritakan pengalaman seru semasa menjadi mahasiswa. 

Sejenak mundur kembali pada saat saya berkesempatan belajar di perguruan tinggi, saya seolah merdeka dari tekanan studi yang bertubi-tubi di masa sekolah. Mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA. Digempur dengan berbagai macam pr (pekerjaan rumah), latihan, tes, ujian, dan sebangsanya, aduhhhh! Seakan tiada henti. Karena itu, euforia lulus dari tingkat sekolah begitu hebat terasa. 

Lepas dari itu semua, berubah status menjadi mahasiswa, saya merasa berstatus setengah pelajar, setengah penganggur. Lengangnya jadwal perkuliahan yang saya jalani sukses membawa saya terlena mengisi jam kosong tanpa ada kuliah untuk berkelana ke seluruh bagian dari universitas saya, UNAIR. Mulai dari kampus A, tempat para ahli kesehatan (baca : dokter) menempuh studi, kampus B, tempatnya para lulusan jurusan ilmu sosial di sekolah dulu (termasuk saya sendiri) menuntut ilmu, sampai ke tempat para pembelajar pengetahuan alam berkumpul, kampus C. 

Status pengelana yang saya nikmati di semester-semester awal saya berkuliah, memastikan status mahasiswa "NASAKOM" (nasib satu koma) berhasil saya genggam. Cukup menggelikan walaupun memalukan, tapi saya memang "sukses" mendapatkan IPK satu koma, karena terlalu asyik menikmati kelengangan jam kuliah dengan berkelana seisi UNAIR. Biar sajalah saya dapat IPK satu koma di awal perkuliahan, yang penting saya jadi kenal beberapa tempat di almamater saya. Sering saya mendapatkan teman dari berbagai fakultas yang ada di sana, mulai dari Fakultas Hukum (tempat saya menempuh studi), Fakultas Psikologi, Fakultas Ekonomi, Fakultas Farmasi, dll. Sambil berkelana, menjalin relasi, bekal dunia kerja nantinya.
Fakultas Hukum di Kampus B UNAIR (dokumentasi pribadi)

Satu lagi yang tidak terlupa adalah soal kuliner. Tentu setiap harinya saya perlu makanan yang bisa mengisi perut untuk bekal ikut kuliah. Berkuliah setiap hari rawan membuat lidah bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Maka dari itu saya bersekutu bersama beberapa kolega untuk berkeliling UNAIR, untuk mencicipi rasa dari berbagai makanan yang ada di daerah kampus, baik di luar maupun di dalam kampus. Beberapa makanan yang pernah jadi persinggahan pun masih terbayang selalu citarasa lezatnya. Mulai dari pangsit mie FIB (Fakultas Ilmu Budaya) yang murah namun porsinya banyak, juga soto ayamnya, manisnya waffle FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) yang (sepertinya) semanis para calon dokter dan dokter gigi disana, ataupun kesederhanaan nasi campur Fakultas Psikologi yang juga tak gampang terlupa. Semua punya tempat tersendiri di dalam ingatan.


Apapun itu semuanya punya makna yang tak lekang terhapus waktu. Tahun-tahun berlalu, hingga sekarang hampir 5 tahun saya lulus, selalu ada kerinduan untuk kembali. Bukan sekadar kembali, menjadi bagian dari salah satu universitas terbaik di Surabaya pun akan mengasyikkan. Menjadikan generasi penerus bangsa dapat beradab dan cemerlang dalam pencapaian prestasi dan masa depannya, sesuai slogan yang selalu terngiang dalam ingatan, "Excellent With Morality". Terima kasih, UNAIR!

Jumat, 11 November 2016

Guru Muda, Tawaran yang Diragukan, dan Cerianya Anak-Anak

Sedikit sekali langkah yang sudah tertempuh dalam perjalanan profesi saya sebagai guru. Masih banyak pribadi senior di dalam bidang yang saya tekuni ini. Biarpun demikian, bukan suatu kebetulan kalau saya pada akhirnya terus menapakkan langkah saya untuk terus bersepadan dengan liku-liku aktivitas yang ditawarkan profesi ini. Tidak pernah ada hal yang biasa di setiap harinya. Masalah kadang singgah untuk menanti diselesaikan, namun sukacita juga tiada absen untuk menampakkan kehadirannya. 

Saya percaya tidak ada pilihan dalam hidup saya yang keluar dari jalur baku rencana Tuhan. Sekalipun manusia diberikan kehendak bebas untuk menentukan pilihan akan arah kehidupannya sendiri, namun itu tidak akan pernah menghadirkan suatu rencana hidup yang benar-benar baru dan berbeda dari rencana Sang Khalik sendiri untuk hidup dan masa depan setiap umatNya. Tidak ada satu jengkal langkah yang kita ambil dengan semau kita akan mengejutkanNya. Semua sudah diketahuiNya dan sudah ditetapkan dari semula dalam koridor rencanaNya.

Menjelang dua tahun semenjak saya menerima tawaran menjalani profesi guru. Keraguan sempat bergelayut di dalam pikiran dan hati saya di awal, sebelum saya berteguh menjadi guru. Ketiadaan pengalaman di bidang ini membuat saya sempat diam di tempat sebelum memutuskan menerima tawaran menjadi guru. Datang dengan nihilnya pengalaman, kini setelah sekian waktu, saya mantap menjejakkan kaki untuk terus melangkah ke depan di dalam pias profesi ini. Saya meyakini bahwa:


Tuhan tidak memanggil pribadi yang siap untuk melakukan suatu hal, namun Dia akan memperlengkapi dan mempersiapkan pribadi yang Dia panggil untuk berkarya dalam rencanaNya. 







Tersisa bagaimana pilihan kita apakah mau percaya kepada rencanaNya yang sering kali melampaui segala akal, atau diam terkungkung dalam sikap realistis dan kecenderungan untuk pesimis.

2016 merupakan tahun kedua saya mengajar di kelas 4 SD. Serupa dengan tahun yang lalu, saya juga mengajar kelas 4 SD. Perbedaan pasti ada, antara angkatan terkini dengan yang terdahulu. Tidaklah perlu mendefinisikan mana yang terbaik di antara keduanya, semuanya anugerah. Bukan pilihan untuk diperbandingkan. Satu hal yang tetap sama, keceriaan mereka selalu mampu membawa senyum dalam bibir mengembang pasti. Keluguan, kesederhanaan bersikap, dan senyum lepas tanpa tertahan, semuanya mewarnai hari demi hari profesi saya sebagai guru. Sekali lagi, masalah pasti akan selalu ada. Pribadi penuh senyum bukanlah pribadi dengan kehidupan yang luput dari masalah. Namun lebih dari itu, hadirnya masalah menjadi batu pijakan untuk menjadi semakin dewasa, dan bijaksana di dalam menyikapi kejutan-kejutan dalam kehidupan.



Sabtu, 29 Oktober 2016

Kehilangan Tidak Selalu Berarti Kerugian

Suatu Minggu sore, saya lupa tanggal pastinya, saya berencana pergi beribadah di sebuah gereja di Sidoarjo. Saya membawa serta Alkitab saya dan meletakkannya di bagasi kecil motor saya yang ada di bagian depan. Sebenarnya saya tidak yakin bahwa bagasi itu akan mampu menyimpan dengan aman Alkitab saya yang umurnya mungkin seumur satu dasawarsa. Namun saya tetap memaksakan untuk meletakkannya disana. Sepanjang perjalanan saya mengendarai motor saya tanpa berawas-awas bahwa Alkitab saya bisa saja jatuh. Benar saja. Sebelum sampai di gereja yang saya tuju, Alkitab saya hilang entah kemana. Saya tidak berusaha berhenti untuk mencari di suatu tempat tertentu, karena saya menerima itu sebagai konsekuensi dari kecerobohan saya. Perasaan kecewa muncul dalam diri, karena itu adalah Alkitab yang sangat saya jaga. Ada tulisan doa dari mama saya tertulis disana. Terlebih, itu merupakan Alkitab saya yang pertama. Tentu banyak momen yang sudah terjadi dimana saya menggunakan Alkitab tersebut. Namun di sisi lain, saya merasa damai dalam hati saya, karena mendapat pemikiran bahwa mungkin orang yang "lebih membutuhkan" Alkitab tersebut yang menemukannya. Alkitab saya memang hilang, namun kerugian tidaklah mengiringinya. Tak berapa lama, tetap dalam perjalanan ke gereja, sebelum sampai di sana, saya merasakan ada sesuatu di dekat kaki saya. Ternyata, Alkitab pertama saya itu hanya terjatuh di bagian kaki pada sepeda motor saya. Saya merasa senang dan lega karena Alkitab kesayangan saya dapat ditemukan dan tidak hilang.

Saya yakin bahwa kita semua pernah merasakan kehilangan. Entah itu kehilangan orang terkasih yang selalu ada bersama-sama kita dalam jangka waktu tertentu, ataupun kehilangan suatu benda yang sangat-sangat kita jaga, apapun itu. Ada satu rasa yang sama ketika kita kehilangan. Seolah ada yang berkurang dalam hidup kita.
http://www.hujanpelangi.com/wp-content/uploads/2014/05/lost.j
Apa saja yang ada pada kita maupun apa yang kita punyai, pasti akan mengalami masa dimana sesuatu itu rusak atau mungkin berpindah kepemilikan kepada orang lain. Karena berbagai macam alasan, kita tidak selalu bisa menjaga semua yang ada bersama kita untuk jangka waktu selamanya, atau seumur hidup kita. Tak ada yang abadi, kecuali Tuhan Allah. 

Ada pilihan bagi kita ketika mengalami kehilangan. Satu pilihan adalah meratapi kehilangan kita secara berkelanjutan. Atau, move on dan melanjutkan kehidupan kita tanpa terus mengenang kehilangan kitaMemang tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa ada sesuatu dari kehidupan kita yang harus pergi, tapi bukan berarti kita tidak bisa kuat menghadapi itu. Jika kita menanamkan dalam hati dan pikiran kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia tidaklah benar-benar kepunyaan kita, maka kita tidak akan merasakan kerugian ketika kehilangan itu terjadi. Anggap saja Tuhan telah memberikan kita kesempatan untuk menikmati kebersamaan bersama orang terkasih maupun untuk memiliki sesuatu, dan masa itu telah selesai. Sehingga kita harus mengalami kehilangan. Sesuatu yang tadinya adalah kepunyaan kita akan berpindah kepada orang lain yang "lebih membutuhkan". Pun juga dengan kehilangan orang terkasih, mereka sudah mendapat persinggahan yang lebih baik, sampai mereka bertemu dengan Sang Pencipta. 

Kehilangan pasti akan terjadi. Tidak bisa tidak. Namun, kehilangan tak selalu berarti ada kerugian yang mengiringi. Hanya sebuah bagian kecil dari keseluruhan perjalanan kehidupan. Bentuk kasih dari Sang Pencipta untuk mewujudkan rencana besarNya yang indah dalam kehidupan kita. 

Sabtu, 17 September 2016

Sekeping Makna Lima Ratus Rupiah

https://www.cleanipedia.com
Saya teringat kembali masa saya menempuh pendidikan sekolah dahulu. Termasuk ke dalam generasi 90an, saya memulai pendidikan saya di tahun 1994/1995. Seorang muda yang sedang berusaha mengenali dunia yang ditinggalinya. Menjejalkan berbagai macam ilmu ke dalam sempitnya ruang pikiran yang kala itu masih terus bertumbuh. Harapan yang terpinta adalah agar kelak saya dapat menjadi anak yang pandai, cerdas, dan juga bisa mandiri. Memang salah satu tujuan sampingannya yang bisa dianggap sebagai "bonus" dari kerja keras yang tertempuh adalah agar kelak saya dapat hidup berkecukupan dan berkelimpahan sehingga tidak harus mengalami masa kekurangan yang dialami ayah ibu saya. Alih-alih meminta, saya diharapkan dapat memberi lebih banyak.

Bertahun-tahun kemudian, status sebagai seorang anak kecil yang apa-apa belum bisa sendiri, telah jauh tertinggal di belakang. Kemandirian telah tercapai, walau belum utuh. Sekalipun demikian, satu hal yang tetap tinggal adalah mudahnya hati saya tergetar oleh menyedihkannya keadaan yang dialami sebagian orang yang sering mayoritas pihak beri label "kurang beruntung". Mudah saja mengiyakan label tersebut, jika melihat timpangnya kecukupan yang boleh ada pada saya dengan sedikit yang mereka punya. 

Saya selalu tergerak untuk memberi setiap kali saya bertemu dengan kesempatan tersebut. Tidaklah layak saya menutup mata dari kaum papa yang (mungkin) hidupnya hanya mengandalkan pemberian dari kelimpahan orang yang mapan. 

Suatu ketika dipertemukanlah saya dengan seorang ibu paruh baya yang meminta-minta di depan sebuah swalayan yang cukup terkenal. Berawal dari perhentian sejenak saya dari perjalanan pulang selepas mengajar, saya selalu melihat ibu tersebut duduk di jalan tanpa ubin dan hanya beralaskan kardus bekas, yang saya yakini bukan merupakan tempat yang terbaik untuk duduk. Kotor, berdebu, mungkin penuh kuman, namun menjadi tempat yang terlihat cukup baginya, jika tidak bisa dikatakan nyaman. Selayaknya kursi empuk yang menawarkan kenyamanan bagi tubuh. Sambil melihat ke dalam swalayan tersebut, dengan raut muka yang terlihat lelah dan kotor, ibu itu menanti uluran tangan para pembeli di sana. Satu waktu yang lain, ibu itu terlihat sedang menyapu halaman parkir swalayan tersebut. Motivasinya samar, namun pikiran saya mencetuskan bahwa ibu itu tetap melakukan hal tersebut walaupun upahnya mungkin hanya sekedar pemberian kecil dari para pengunjung swalayan tersebut.

Saya selalu usahakan untuk dapat memberi sedikit dari apa yang saya punya untuk ibu tua tersebut. Saya sadar bahwa apa yang saya peroleh dalam kehidupan, ada dan nyata untuk dapat dibagikan kepada sekitar, termasuk salah satunya kepada ibu itu. seratus rupiah, lima ratus rupiah, jumlahnya tidak tentu, namun saya selalu usahakan memberi, setiap kali saya singgah di swalayan itu.

Sampai suatu hari, seperti sore yang sudah-sudah, saya kembali ada keperluan di swalayan itu. Ibu tua itu ada disana. Dalam hati saya sudah bertekad untuk memberi kepada ibu itu, selepas keperluan saya di swalayan tersebut selesai nanti. Saya mulai siapkan sedikit uang, waktu itu jumlahnya lima ratus rupiah. Ketika saya mengulurkan tangan untuk memberikan sekeping lima ratus rupiah kepada ibu tua itu, saya tertegun sejenak melihat ibu itu sedang menghitung sejumlah uang logam yang dia punya. Jumlahnya mungkin tak banyak, namun dia cukup antusias menghitungnya. Satu demi satu, semuanya tidak terlewat. Pemandangan tersebut menyadarkan saya akan kenyataan bahwa di mata ibu tersebut, jumlah sekecil lima ratus rupiah pun bisa menjadi harta yang berharga layaknya emas. Sekeping lima ratus rupiah yang bagi saya hanya merupakan uang yang kadang memberatkan saku, dan tidak terlalu besar nilainya dibandingkan uang yang lain, bisa menjadi penghidupan bagi wanita paruh baya peminta-minta itu. Tidak semata-mata jumlah kecil yang nyaris tak bernilai yang diterimanya, namun adanya sikap syukur yang terus dipupuk terlepas dari apapun yang dia alami dan dia terima. 

Memberi tidak pernah membawa saya pada keadaan berkekurangan. Lebih dari itu, ada perasaan syukur yang bergaung dalam hati, karena berkesempatan berbagi kepada sekitar. Tidak melulu pemberian yang besar dan berharga, hal sederhana seperti sekeping lima ratus rupiah pun, telah mampu menghadirkan makna bagi kehidupan singkat yang saya miliki, yang (semoga) akan selalu saya abdikan bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk sekitar dan untuk Sang Pencipta hidup.

Sabtu, 06 Agustus 2016

Ketika banyak alasan untuk mengeluh, bersyukurlah.

Terkadang kita diharuskan untuk mengalami suatu hal yang di luar dari rencana kita. Kita merencanakan segala sesuatunya dengan sangat baik, namun harus tidak terlaksana karena ada hal diluar perkiraan yang tiba-tiba saja terjadi. Demikian  pula yang saya alami. Suatu ketika saya pernah berada dalam suatu kondisi yang tidak saya inginkan. Saya harus berada dalam suatu kegiatan yang sesungguhnya tidak ingin saya ikuti, namun mau tidak mau harus saya hadiri. Kegiatan tersebut selain bukan kegiatan yang telah saya rencanakan sebelumnya, juga merupakan kegiatan yang sangat menyita waktu, tenaga, dan pikiran saya. Menyita waktu, karena selama 6 hari berturut-turut saya harus mengikuti keseluruhan rangkaian kegiatan tersebut. Meskipun saya sadar bahwa pasti ada sesuatu yang akan bisa saya dapatkan dari kegiatan tersebut, yang merupakan sebuah kegiatan pelatihan yang akan dapat meningkatkan kompetensi saya sebagai seorang guru.

Ada beberapa alasan yang mendasari ketidakinginan saya untuk menjalani kegiatan tersebut. Salah satunya, karena saya sebenarnya bisa menggunakan waktu yang terpakai untuk kegiatan pelatihan tersebut, untuk kegiatan lain yang bersifat santai. Ketika itu sebenarnya saya masih memiliki jatah hari libur sekolah yang masih belum berakhir. Namun terpaksa harus saya akhiri lebih cepat dari jadwal karena adanya kegiatan tersebut. Selain itu, saya terpaksa membatalkan beberapa rencana kegiatan yang lain yang telah saya rencanakan sebelumnya. Bahkan saya pun terpaksa membatalkan rencana pelesir yang telah saya jadwalkan bersama seorang sahabat lawas yang akan berkunjung ke Surabaya pada waktu yang bersamaan dengan kegiatan pelatihan itu. Di luar dua alasan tersebut, saya juga harus merelakan hari libur saya yang menjadi hari libur orang-orang pada umumnya dan juga merupakan hari libur dari hari kerja saya, yaitu hari sabtu dan minggu, untuk mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan tersebut yang memang berlangsung selama 6 hari mulai hari Selasa sampai dengan hari Minggu.

Alasan-alasan tersebut mampu membuat saya bermuram durja tatkala menjalani kegiatan pelatihan tersebut. Saya menjadi tiada bersemangat, tidak mampu tersenyum tulus, dan mungkin tingkat stress saya pun meningkat. Pada hari pertama kegiatan tersebut, saya secara jujur mengakui bahwa saya mengikuti kegiatan tersebut dengan setengah hati. Tubuh fisik saya mungkin memang berada di lokasi pelaksanaan kegiatan tersebut, namun hati dan pikiran saya berada di tempat lain. Seolah ingin menghibur diri dan merasa bahwa itu adalah hal wajar yang terjadi karena keadaan yang tidak menyenangkan tersebut, saya tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan tersebut. Saya melakukan pembiaran terhadap suasana hati dan pikiran saya yang mengeluh karena harus mengikuti pelatihan tersebut. Saya malah terpikir akan kegiatan lain yang sudah saya rencanakan. Padahal, seperti diketahui, dalam banyak hal, yang tersulit biasanya adalah pada saat kita akan memulai sesuatu. Dengan adanya kondisi awal diri saya yang murung dan mengeluh seperti itu, saya pun pesimis akan dapat mengikuti keseluruhan kegiatan tersebut dengan semangat maupun sukacita penuh.

Sedikit demi sedikit saya mencoba mengumpulkan semangat saya yang seharusnya tersedia untuk saya habiskan untuk menjalani kegiatan tersebut. Saya tanamkan dalam pikiran saya bahwa terkadang kondisi yang tidak menyenangkan bisa saja terjadi dalam hidup. Hidup tidak bisa melulu menjadi seperti apa yang saya inginkan. Kadang rencana-rencana paling mendetail yang telah saya buat dan rencanakan pun dapat berubah secara drastis ketika saya jalankan. Terlebih lagi ketika Tuhan melihat bahwa apa yang saya rencanakan tersebut tidak sesuai dengan kehendakNya, maka dengan mudahnya Dia akan merubahnya menjadi rencana yang sekiranya terbaik untuk saya. Sebaik-baiknya kesempurnaan rencana buatan saya sebagai manusia ciptaan, tidak akan mampu mengalahkan rencana Tuhan yang pasti terbaik untuk hidup saya.

Menyadari kenyataan itu saya pun mulai menyusun alternatif rencana kegiatan saya dengan menambahkan kegiatan pelatihan yang harus saya jalani tersebut ke dalamnya. Saya pun menelpon seorang saudara, mengatakan bahwa saya harus membatalkan kedatangan saya ke dalam salah satu acara besar yang akan dia adakan. Memang sebelumnya saya telah menjadwalkan untuk dapat hadir dalam suatu acara yang direncanakan pada hari Sabtu yang bertepatan dengan kegiatan pelatihan yang saya ikuti. Begitu juga dengan sahabat saya yang akan berkunjung ke Surabaya, saya pun menginfokan kepadanya untuk merubah rencana kegiatan saya yang akan saya jalani untuk menemani dia selama berada di Surabaya. Saya pun menyampaikan kepadanya bahwa saya tidak dapat menemaninya untuk pelesir sesuai rencana yang kami buat sebelumnya. Kedua orang tersebut pun dapat mengerti alasan saya untuk tidak dapat memenuhi rencana saya yang terdahulu karena ada kegiatan pelatihan yang tidak dapat saya tinggalkan, dan saya juga menawarkan alternatif lain untuk menggantikan rencana awal yang tiada mungkin dapat saya penuhi.

Seketika itu saya pun mulai kembali menemukan sukacita saya yang sempat hilang. Tuhan menggantikan kesedihan saya dengan kebahagiaan dalam waktu yang relatif singkat. Sungguh luar biasa kuasaNya yang mampu mengembalikan antusiasme saya untuk mengikuti kegiatan yang akan berlangsung hampir seminggu lamanya. Saya pun menyadari bahwa kondisi saya yang semula penuh keluhan dan cenderung murung dipengaruhi oleh pikiran saya akan hal-hal yang belum tentu terjadi. Saya kecewa harus membatalkan beberapa jadwal acara yang sekiranya menyenangkan, namun Tuhan memberikan rencana lain yang juga dapat mengobati kesedihan saya. 

Di hari kedua pelatihan tersebut saya mulai bisa mengikutinya dengan antusias. Saya berusaha mengikuti setiap materi yang diberikan dengan penuh semangat. Begitu juga dengan aktivitas individu maupun kelompok yang saya harus kerjakan, saya kerjakan semampu saya. Saya berusaha memberikan yang terbaik yang mampu saya berikan. Mengeluh bukan pilihan karena tidak akan dapat merubah keadaan. Hanya akan membuatnya semakin runyam, dan semakin meruntuhkan semangat saya untuk menjalani pelatihan tersebut. Toh, saya tidak sendirian. Beberapa rekan dari sekolah saya maupun sekolah lain pun juga ikut merasakan kondisi yang sama dengan saya. Saya pun pada akhirnya dapat menyelesaikan keseluruhan rangkaian kegiatan pelatihan tersebut, memperoleh banyak ilmu baru, maupun rekan-rekan sejawat baru dari berbagai macam sekolah di Surabaya.

Sedikit pesan dari kegiatan yang saya ikuti saya coba tuliskan disini, melalui tulisan ini. Beratkah mengikuti pelatihan tersebut? Bisa dibilang demikian. Menjalani proses terkadang tidak mudah. Namun untuk banyak hal, sebuah proses menjadi lebih penting ketimbang hasil itu sendiri. Karena melalui proses itu kita dibentuk menjadi pribadi yang semakin baik. Apakah melelahkan mengikuti pelatihan tersebut? Pasti. Ada harga yang harus dibayar untuk mencapai suatu hasil yang ditargetkan. Ketika ingin target kegiatan pelatihan yang direncanakan dapat digapai, harga yang harus dibayarkan adalah waktu yang berjalan untuk mengikuti kegiatan, pikiran yang berlelah untuk terfokus pada aktivitas yang harus dikerjakan, dan tenaga yang tergunakan untuk menyelesaikan rangkaian kegiatan.

Terlepas dari itu semua, saya cukup bahagia dan bersyukur bisa mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan tersebut. Menjadi guru yang terpilih dari sekian banyaknya nama guru maupun sekolah di Surabaya yang bisa saja mengajukan diri untuk berusaha mendapatkan posisi sebagai peserta pelatihan yang saya dapatkan secara percuma, membuat saya begitu bersyukur. Seberat-beratnya kondisi yang saya alami, saya yakin ada jutaan atau miliaran orang di luar sana yang mengalami kondisi yang lebih berat dan bahkan sangat berat melebihi apa yang saya alami. Tetapi biar bagaimanapun, itu tidak melebihi kemampuan masing-masing pribadi untuk menghadapinya.

Ketika hidup terasa berat dan penuh dengan masalah, bersyukurlah. Karena dari sana anda diproses menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ketika anda harus mengubah rencana anda untuk suatu hal lain yang tidak anda inginkan atau prediksikan sebelumnya, bersyukurlah. Karena Tuhan telah menunjukkan sesuatu yang lebih baik melebihi rencana kita akan hidup kita.

Ketika ada banyak alasan atau masalah yang mendorong anda untuk mengeluh, bersyukurlah. Karena akan selalu lebih banyak alasan untuk bersyukur ketimbang sekadar mengeluhkan setiap permasalahan hidup.

Sebanyak-banyaknya alasan atau masalah yang ada dalam hidup kita, yang mendorong kita untuk mengeluh akan kehidupan kita, kita masih memiliki lebih banyak alasan yang mampu mendorong kita untuk bersyukur melebihi segala keluhan kita. Ingatlah selalu bahwa Tuhan pasti dan akan selalu memberikan segala yang terbaik menurut rencanaNya. Apapun yang ada dan terjadi dalam hidup kita, pasti adalah yang terbaik bagi kita dan sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan bukan melulu apa yang kita inginkan. Bersyukurlah!

Sabtu, 30 Juli 2016

Perginya Sang Pemberi Inspirasi


Inspirasi. . . Sebuah kata yang penuh makna yang telah menjadi pengisi benak saya dalam beberapa waktu belakangan ini. Menjadi penggerak saya di dalam menjalani langkah demi langkah yang tertempuh untuk suatu yang diharapkan bisa menjadi kebaikan bagi saya maupun orang di sekitar saya. Bisa dibilang setiap apa yang saya kerjakan dalam aktivitas saya, memiliki inspirator tersendiri yang membuat saya betah melakukan hal tersebut. Baik dalam hal pekerjaan, keluarga, hobi, atau yang lainnya. Tiada berbeda dengan profesi yang saya tekuni saat ini. Profesi yang tergolong anyar dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang pekerja, yaitu sebagai seorang guru.

Sebagai seorang guru muda, tanpa pengalaman yang berarti di dalam dunia pendidikan, suatu kewajaran bila pada akhirnya saya mencari sosok yang dapat menginspirasi saya untuk menjadi seorang guru yang lebih baik. Karena begitu minimnya pengetahuan saya tentang dunia pendidikan, alam bawah sadar saya tanpa diberi komando pun berusaha menemukan figur 'idola' yang dapat saya teladani dan saya anut ilmu pengajarannya.

Saya beruntung Tuhan menempatkan saya di tengah kolega yang begitu mendukung perkembangan saya. Tidak ada keseganan yang saya temukan di setiap rekan yang saya kenal untuk memberikan bantuan dalam setiap kesulitan yang saya jumpai di pekerjaan saya. Dukungan, bantuan, maupun ajaran dan wejangan selalu saya dapatkan setiap waktu. Itu membuat saya semakin memahami dunia pendidikan yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan dunia perbankan yang sebelumnya saya kenal.

Di antara beberapa kolega yang saya kenal dan menginspirasi saya, bertemulah saya dengan seorang yang begitu menginspirasi saya melebihi yang saya bayangkan. Teladan yang saya serap darinya begitu mempengaruhi kemajuan saya sebagai guru. Banyak hal-hal positif yang saya temui darinya yang telah mengembangkan saya menjadi seorang pengajar yang semakin baik dari hari ke hari. Karena beberapa alasan itu, saya pun mengidolakannya.

Saya menyebutnya sang inspirator, karena darinya saya mendapatkan banyak inspirasi yang baik yang dapat saya pergunakan untuk mengembangkan kemampuan mengajar saya. Saya belajar banyak hal dari sang inspirator saya tersebut. Kehadirannya memberikan pengaruh baik dalam perjalanan karir saya sebagai seorang pengajar. Orang bilang, masa pertumbuhan yang terbaik bagi seorang anak dimana ia menyerap banyak ilmu pengetahuan adalah di usia dini. Begitu juga saya sebagai seorang guru yang masih "anak-anak", masa krusial untuk banyak belajar adalah di awal-awal saya menjalani profesi tersebut, di usia yang tergolong dini dalam perjalanan karir saya sebagai guru.

Sedikit cerita tentang inspirator saya, sebut saja Mr. JJR. Beliau bukan seorang pribumi. Dia hanya tinggal untuk bekerja saja di Indonesia, bukan untuk menetap. Saya tidak banyak mempunyai informasi tentang berapa lama sudah dia menetap di sini. Komunikasi yang dapat kami lakukan adalah dengan kata-kata berbahasa Inggris. Karena beberapa sebab, ada jarak yang tercipta antara kami dikarenakan perbedaan budaya, bahasa, dan pemikiran. Dengan posisi beliau sebagai seorang atasan, rasa hormat pun ikut andil dalam membentuk relasi saya dengan beliau. Bila ada pembicaraan yang terjadi di antara kami, mungkin itu sebatas urusan sekolah yang berhubungan dengan masalah murid, kurikulum, atau yang lain-lain. Sangat jarang tema pembicaraan kami tentang sesuatu hal yang bersifat santai. Meskipun demikian itu tidak mengurangi kekaguman saya terhadap beliau. Dengan kecerdasan pikiran yang terlihat dari setiap kegiatan mengajar yang dia pimpin, bukan suatu hal yang aneh jika dia menempati posisi yang kedua dari atas dalam struktur organisasi sekolah saya.

Dengan semua kelebihan itu, Mr. JJR tidak segan untuk berbagi ilmu dan tips untuk mengajar dengan lebih baik. Pernah sekali waktu Mr. JJR datang ke kelas saya untuk melakukan supervisi atas cara saya mengajar. Satu yang saya suka dari dia adalah dia tidak hanya duduk diam dan mendengar saya mengajar, namun juga adakalanya dia akan memberi sugesti tentang apa yang patut juga untuk disampaikan kepada para murid. Hal tersebut sangat membantu saya untuk mengevaluasi apa yang perlu ditingkatkan dari cara saya mengajar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Dalam hal ini, saya pun memerlukan orang lain untuk memberikan penilaian akan apa yang saya kerjakan, dan itu sedikit banyak terpenuhi dengan kehadiran Mr. JJR.

Semakin lama saya menjalani profesi sebagai guru yang selalu memunculkan hal baru di setiap harinya, dengan dikelilingi oleh teman sejawat yang mampu menghadirkan atmosfer kerja yang menyemangati saya untuk selalu berkembang, telah menjadikan profesi ini menjadi primadona dalam hati dan pikiran saya. Saya merasa bahwa ini adalah suatu profesi yang sudah seharusnya saya pilih sejak dari awal saya terjun ke dunia pekerjaan. Ditambah dengan kehadiran para inspirator-inspirator dalam profesi tersebut, saya semakin memantapkan hati untuk bertahan dalam pilihan saya.

Momen terakhir bersama, Graduation Grade 6 

Sampailah saya pada suatu hari yang tenang, terlihat lazim, dan seperti tidak ada kejutan yang akan hadir, ternyata memunculkan sebuah kabar yang cukup menggetarkan hati ketika mendengarnya. Sang inspirator yang selama ini menjadi panutan saya itu akan segera meninggalkan pekerjaannya di tempat itu. Sore itu saya menerima kabar dari rekan kerja satu kelas paralel saya, dan fakta tersebut cukup menggoyahkan semangat saya. Mungkin memang, beliau hanya manusia biasa yang tidak bisa tidak, pasti memiliki kekurangan jua. Namun, terlepas dari semuanya itu, dia tetaplah sebuah tokoh yang menginspirasi saya. Terbayang dalam benak saya bahwa beberapa waktu lagi perpisahan akan terjadi, dan kebersamaan akan berakhir. Layaknya sebuah roda kehidupan yang berputar setiap waktu, setiap perjumpaan selalu lengkap dengan sebuah perpisahan.

Itulah hidup, tidak bisa selalu seperti apa yang jadi keinginan kita. Meratapi keadaan yang terasa menyedihkan pun tidak akan merubah kenyaataan bahwa keadaan itu nyata dan harus terjadi. Memilih untuk terus maju dan melakukan apa yang memang baik adalah pilihan bijak yang perlu diambil. Setiap hal yang terjadi pasti sudah ada yang mengatur dan merencanakannya. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa. Ada waktu untuk menanam, dan ada waktu untuk menuai hasil. Untuk segala sesuatu ada masanya (Pengkhotbah 3 : 1). Satu hal yang pasti, apapun yang kita butuhkan, kecil ataupun besar, hal sederhana maupun hal yang paling rumit sekalipun, pasti akan disediakan olehNya. Kita hanya perlu melakukan bagian kita dan mempercayakan hal-hal yang tampak mustahil untuk diwujudkan olehNya.

Seperti sebuah "salam perpisahan" yang disampaikan Mr. JJR dalam pertemuan persekutuan rutin antar para guru di sekolah kami, yang bertemakan waktu, bahwa waktu yang ada adalah terbatas dan tidak akan dapat diputar kembali. Manfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin karena kita tidak pernah tahu seberapa panjang waktu yang kita miliki. Hidup memang selalu memunculkan misteri untuk dijalani oleh manusia, namun yang jelas, semua akan menjadi indah pada waktunya.

- Di setiap sebuah pertemuan, perpisahan akan siap mengiringi. Namun tatkala perpisahan itu terasa cukup berat untuk dilalui, biarlah penghiburan melalui pengharapan akan perjumpaan di lain waktu dan tempat, mampu mengobati.-

Teruntuk : Sang Pemberi Inspirasi. . .

Thank you for your inspiration!

Selasa, 19 Juli 2016

Ungkapan Rindu dari Sang Sulung

19 Juli 2012, selalu menjadi tanggal yang terkenang sebagai memori di dalam ingatan saya. Tepat pada tanggal tersebut, seorang anggota keluarga saya, yaitu papa saya, harus meninggalkan saya dan keluarga saya, kembali ke rumah Bapa di surga. Suatu peristiwa yang tidak pernah sedikitpun terbayang dalam benak saya dan keluarga. Bahkan untuk sekadar terpikirkan pun tidak. Namun mau tidak mau itu adalah kenyataan hidup yang harus diterima.

Jika menilik kembali kejadian pada waktu itu. Semua memang berlangsung begitu cepat. Tanpa ada satu tanda apapun yang mampu membuat kami bersiap diri. Kepergian beliau memang bagaikan petir di kala hujan datang, yang hadir begitu cepatnya. Dukacita terasa begitu mendalam, karena kami baru saja merasakan sukacita yang besar karena beroleh berkat Tuhan yang berlimpah dalam keluarga kami. Beliau pun masih sempat merayakan pertambahan usianya yang ke-47 tahun pada bulan sebelumnya. Sungguh, bagai menaiki roller coaster yang berjalan naik turun, seperti itulah yang keluarga kami rasakan tatkala harus menerima kenyataan pahit yang terjadi, yang mengiringi kebahagiaan hidup yang boleh hadir melengkapi.

Selang waktu berlalu, saya dan keluarga pun telah semakin kuat untuk melanjutkan kehidupan kami. Kami telah lila melihat beliau yang selama ini ada bersama kami, harus pergi meninggalkan kami. Memang tidak mudah pada awalnya. Bagaikan badai besar yang menerpa sebuah kapal, demikianlah kiranya guncangan yang mendera "bahtera" kehidupan keluarga kami, terombang-ambing dan bahkan mungkin nyaris tenggelam. Namun di tengah semuanya itu, kami bersyukur karena kami memiliki pegangan hidup kami, Tuhan Yesus, Allah yang Mahabesar dan selalu menjadi sahabat sejati kami di kala senang maupun susah.

Hari demi hari dalam kelanjutan kehidupan saya bersama keluarga saya, tiada satupun yang terlewati tanpa kerinduan akan hadirnya papa saya. Segala kenangan indah yang pernah saya lalui berdua bersama beliau tidak akan dapat terlupakan. Beliau bukan tipe orang yang memberi teladan melalui nasihat berupa kata-kata. Lebih sering berupa tindakan nyata. Mungkin dari sanalah diri saya terbentuk dan tertempa sehingga dapat menjadi seperti sekarang. Saya sendiri pun sama seperti papa saya, lebih banyak memberikan contoh kepada lingkungan sekitar saya dalam bentuk perbuatan konkret ketimbang melalui kata-kata bersifat basa-basi. Saya sadar kemampuan terbaik saya bukanlah berkomunikasi secara lisan, persis seperti papa saya. 

Beliau juga merupakan orang yang paling sabar yang pernah ada dalam hidup saya. Sangat jarang, jikalau tidak bisa dibilang tidak pernah, beliau marah kepada saya maupun keluarga saya. Selain itu beliau merupakan orang yang tidak segan untuk berbagi kepada siapa saja, baik itu kepada kami sebagai keluarga intinya, saudara-saudara, maupun rekan kerjanya. Mungkin itu salah satu cara beliau mengucap syukur atas berkat Tuhan yang berlimpah dalam kehidupannya. Terlepas dari segala kekurangan yang pasti ada dalam dirinya, saya bisa menjadi seperti saat ini pun tidak bisa dimungkiri juga karena ada pengaruh dari beliau dalam kehidupan saya. Seperti sebuah ungkapan, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.", begitulah saya dan papa saya.

Saya bukan tipe orang yang begitu mudah menunjukkan apa yang saya rasakan dalam hati saya. Begitu juga dengan kesedihan yang terasa ketika kepergian papa saya, tidak serta-merta saya tunjukkan melalui tetesan air mata atau muka yang muram. Bukan berarti saya tidak merasakan kesedihan, namun saya cenderung menyimpan itu di dalam batin saya, dan bisa tetap terlihat tegar walaupun peristiwa yang terjadi sungguh berat untuk diterima. Lebih sering, saya mampu mengungkapkan perasaan hati saya melalui sebuah tulisan yang terangkai menjadi sebuah puisi atau lagu atau mungkin tulisan seperti yang anda baca ini. Begitu pula yang saya alami tak lama setelah kepergian papa saya. Saya terinspirasi untuk menuliskan sebuah lagu sederhana, yang menceritakan tentang ungkapan terima kasih saya kepada segala teladan yang diberikan kepada saya oleh beliau. Berjudul "Ayah (mendewasakanku)", seperti inilah lirik dari lagu tersebut. . .

Begitu banyak hal yang kau ajarkan
Besar arti hadirmu di dalam hidupku
Kaulah penopang dan perlindunganku
Saat ku tak pernah memanggil kau Ayah

Seringkali ku sakiti hatimu
Tak jarang ku mengabaikan semua katamu
Namun kau tetap setia di sampingku
Menjagaku, menguatkan
Disaat aku terjatuh dan terpuruk

Reff:
T’'rima kasih untuk semua yang kau beri
T’'rima kasih untuk semua yang ku t’rima
Walau hanya singkat, setiap pengorbananmu
Kan s’lalu terkenang di dalam langkah hidupku

Maafkan ku yang tak bisa banggakanmu
Maafkan ku yang tak bisa buatmu tersenyum
Namun perjalanan ini, jujur telah mendewasakanku

Seringkali, karena inspirasi yang saya peroleh dari seseorang, lagu, puisi, maupun tulisan yang saya ciptakan akan saya bagikan kepada orang yang menjadi sumber inspirasi dari lagu tersebut. Hal tersebut saya lakukan sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih saya kepada mereka, sang inspirasi saya, karena telah membuat saya mampu menciptakan rangkaian kata hingga menjadi sebuah lagu yang dapat diperdengarkan, atau puisi dan tulisan yang dapat dibaca. Begitu juga kerinduan besar yang hanya dapat saya pendam adalah saya ingin memperdengarkan lagu sederhana tersebut kepada papa saya. Karena beliaulah, saya mampu menjadi seorang Adit yang dewasa, yang masih dan akan selalu berjuang untuk menjadi berkat dan inspirasi bagi siapapun. Namun saya sadar bahwa memperdengarkan lagu tersebut kepada beliau bukanlah suatu hal yang mungkin dicapai. Beliau sudah bahagia bersama Sang Pencipta kehidupan, dan tak ada kondisi yang lebih baik dibandingkan hal tersebut. 


Memori di Pulau Bali

4 tahun sudah beliau pergi. 4 tahun masa-masa kehidupan tanpa kehadiran beliau telah terlewati. Sekali lagi, tidak ada satu hari pun terlewat tanpa kerinduan akan hadirnya beliau. Begitu banyak cerita yang ingin saya bagi bersamanya. Begitu banyak momen yang ingin saya lewati bersamanya. Namun sebuah perjumpaan, pasti akan selalu diiringi oleh perpisahan. 47 Tahun bersama, serasa tidak cukup lama untuk dapat melewati kehidupan bersama-sama. Biarpun demikian, segala apa yang telah menjadi memori, tidak akan dengan mudah terhapuskan. Menuliskan tulisan ini pun membawa saya ke dalam suasana pilu yang tak terperikan. Tak ada air mata yang menetes, namun kesedihan dan kerinduan kepada beliau selalu ada dalam hati. Walaupun tidak dapat mengobati, biarlah sebuah "Ungkapan Rindu dari Sang Sulung" ini menjadi sebuah doa yang terucap dari seorang anak yang rindu akan kehadiran orang tua laki-lakinya.

Sabtu, 02 Juli 2016

Jangan Jadi Guru! Jika. . .

Pernahkah sekali waktu dalam momen kehidupan anda terlintas pikiran atau keinginan untuk berhenti dari pekerjaan yang anda jalani saat ini?

Terpikirkah kemudian ketika kejenuhan melanda dalam rutinitas pekerjaan anda tersebut, menjadi alasan untuk beralih haluan ke suatu bentuk rutinitas pekerjaan di lain bidang?

Dua pertanyaan di atas telah menemukan jawabannya dalam sepenggal episode kehidupan saya selama 26 tahun ke belakang. Tertulislah dalam sejarah kehidupan saya, saat dimana dengan yakin saya memberikan jawaban "YA" untuk dua pertanyaan tersebut. Suatu titik balik yang akan merubah cerita kehidupan saya sepenuhnya. Titik tersebut adalah ketika saya berhenti dari pekerjaan saya yang terdahulu, dan kemudian menetapkan profesi guru sebagai tujuan karier saya berikutnya. Padahal bisa dibilang, profesi sebagai guru adalah suatu profesi yang benar-benar anyar bagi saya.

Beberapa kali saya diberi pertanyaan oleh kolega saya, "Kenapa sekarang kok menjadi guru?" Melihat seringnya pertanyaan tersebut terlontar kepada saya, saya bisa yakinkan bahwa pertanyaan tersebut didasarkan pada keterkejutan mereka akan keputusan saya yang mendadak 'menceburkan diri' ke dalam profesi yang tiada pernah diduga-duga sebelumnya. Jangankan orang lain, saya sendiri pun tidak pernah mencita-citakan menjadi seorang guru di masa kecil, masa bertumbuh, maupun masa-masa saya mencari pekerjaan. Sehingga dapat dimengerti mengapa beberapa rekan yang saya temui mengajukan pertanyaan demikian. 

Pekerjaan saya yang pertama adalah seorang banker, dimana bagi sebagian orang, jika tidak bisa dibilang semuanya, merupakan 'lahan' yang sangat subur untuk mencari penghasilan yang jumlahnya tidak sedikit bagi kelangsungan kehidupan kedepannya. Saya sendiri mengakui itu. Bertahanlah dalam profesi sebagai banker dan penghasilan besar akan mendatangi anda. Selama anda mampu bertahan dengan tuntutan pekerjaan yang begitu besar, dan rutinitas aktivitas yang cukup sejenis setiap harinya, maka jenjang karier yang sekiranya mapan pasti akan dapat anda raih. Tapi, sekali lagi, bagi saya, kebahagiaan dalam pekerjaan tidak akan dapat ditentukan hanya sebatas dengan besarnya penghasilan berupa gaji yang saya terima dalam kantong saya setiap bulannya. Ada banyak faktor lain yang akan menciptakan suasana berkarier yang nyaman yang dengan sendirinya akan membuat kebahagiaan dalam bekerja berhasil diperoleh. 

Kembali ke pertanyaan sederhana yang saya peroleh setiap kali bertemu beberapa kolega lawas, saya sendiri pun tidak sepenuhnya dapat memberikan jawaban yang memuaskan mereka. Keputusan saya beralih profesi bukan merupakan hal yang sepenuhnya saya sadari akan seperti apa jadinya nanti. Semua itu sudah merupakan rencana Sang Pencipta. Jika bukan karenaNya, saya tidak akan mungkin dapat berada dalam posisi seperti saat ini. Jangankan masa depan yang begitu jauh, kurun waktu 1 menit ke depan saja saya tidak tahu hal apa yang akan dinyatakan olehNya dalam kehidupan saya.

Setahun menjalani profesi sebagai guru, saya pun menemukan kebahagiaan saya. Mungkin, ini bisa menjadi suatu hal yang sering disebut orang sebagai "passion" saya. Saya sendiri tidak tahu berapa lama saya akan bertahan dalam profesi ini. Selama waktu yang diperintahkan Tuhan untuk saya terus jalani sebagai guru, saya akan siap. Begitu pun ketika Dia katakan untuk berhenti, tidak bisa tidak, saya pun akan menerima hal tersebut. Karena pasti akan ada hal lain yang terbaik, yang sesuai dengan rencana mahabesar yang telah dirancang jauh sebelum saya diberi kehidupan olehNya di dunia ini.

Berbagai cerita saat menjadi guru telah saya alami. Pengalaman-pengalaman baru yang menjadi memori pun tidaklah sedikit. Apapun yang telah dan akan muncul kelak selalu dapat memberikan saya ilmu dan pembelajaran yang membawa saya menjadi pribadi yang semakin dewasa setiap harinya.

Sedikit berbagi pengalaman saya selama menjadi guru. Dibandingkan pekerjaan lain, ada beberapa hal yang sebaiknya dimiliki oleh seorang guru, menurut pendapat saya. Belajar dari pengalaman saya setahun ini. Tidak ada niatan untuk menciutkan hati para calon guru yang telah memutuskan menjadikan profesi ini menjadi pilihan kariernya, maupun yang sekadar ingin mencoba untuk menjalani profesi ini. Profesi guru memiliki tanggung jawab yang besar melebihi profesi lainnya. Tidak sekadar menjadi profesi yang akan bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi ada tanggung jawab moral yang begitu besar di dalamnya, yang membuat profesi ini tidak bisa sekadar dijalani dengan setengah niat dan mengalir begitu saja tanpa ada kesungguhan hati dari sang pelakunya. 

Secuplik saran untuk para calon guru :

1. Jangan jadi guru! Jika anda malas untuk membaca.
Ini saran paling sederhana yang saya sendiri terus perjuangkan untuk dapat giat melakukannya. Membaca. Kegiatan sederhana, dan bisa dilakukan di waktu luang anda kapanpun itu. Namun kadang karena kesibukan yang mendera, membuat kegiatan tersebut tiada dapat terlaksana. Satu hal ini haruslah ada pada anda para calon guru, rajin membaca. Setiap harinya anda akan diperhadapkan pada tumpukan kertas maupun buku yang harus anda baca. Ada banyak manfaat dari kebiasaan anda untuk membaca, seperti yang saya telah alami selama ini. Baik itu untuk membantu saya mempersiapkan materi mengajar, sampai  juga untuk memeriksa hasil pekerjaan anak didik saya. Jikalau hal sederhana ini, yaitu membaca, tidak anda biasakan untuk menjadi rutinitas, maka anda akan kesulitan jika pada akhirnya memilih guru sebagai profesi anda.

2. Jangan jadi guru! Jika anda malas untuk belajar.
Apa sebenarnya tugas seorang murid yang anda pahami selama ini? Mungkin sebagian besar orang akan berkata bahwa tugas seorang murid adalah belajar. Tujuannya adalah supaya mereka pun bisa menguasai materi pelajaran yang seharusnya mereka pahami. Sepanjang proses mereka memahami materi pelajaran mereka, mungkin akan ada waktunya mereka mengalami kesulitan untuk memahami sebuah konsep dari mata pelajaran tertentu. Disitulah peranan seorang guru akan ternyatakan, untuk membantu murid-muridnya memahami pelajaran tersebut. Nah, untuk mampu mengisi peranan tersebut, tentu seorang guru haruslah juga memahami konsep dari mata pelajaran tersebut. Bagaimana caranya? Tentulah dengan cara belajar. Mempelajari setiap mata pelajaran yang harusnya diajarkan olehnya, akan membantu seorang guru untuk mendidik muridnya dengan baik. Sehingga dengan tidak menjadi malas untuk belajar, peranan seorang guru pun akan dapat diembannya dengan baik.

3. Jangan jadi guru! Jika anda tidak dapat mencintai diri anda sendiri.
Mungkin agak membingungkan, namun saya sampaikan bahwa jika anda ingin menjadi seorang guru, anda harus dapat mencintai diri anda sendiri dengan baik. Mengapa demikian? Profesi guru menuntut anda untuk memperhatikan proses tumbuh kembang setiap individu anak didik anda. Memahami karakteristik mereka, kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, dan mendidik mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Itu semua akan dapat tercapai saat anda sudah "utuh" dengan diri anda sendiri. Menjadi "utuh" dalam arti anda telah mampu mencintai diri anda sendiri sepenuhnya, merawat apa yang sudah Tuhan anugerahkan berupa kehidupan anda, kesehatan anda, waktu anda, dan semua yang ada pada anda. Karena sifat dasar manusia adalah egois atau lebih mencintai dirinya sendiri, maka adalah hal yang wajar ketika mereka ingin mencintai orang lain, haruslah sudah tercapai suatu kondisi dimana ia telah mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, barulah mereka dapat mencintai orang lain. Seorang guru pada dasarnya akan selalu termotivasi untuk mencintai setiap anak didiknya, dan demi terwujudnya hal tersebut akan lebih baik jika ada suatu usaha nyata darinya untuk mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, merawat dan memelihara segala apa yang ada padanya, untuk dapat kemudian mencintai setiap anak didiknya.

4. Jangan jadi guru! Jika komunikasi yang baik enggan anda usahakan.
Sebagian manusia, jika tidak bisa dibilang semua manusia di dunia, dianugerahi kemampuan untuk menyampaikan pendapat mereka secara lisan maupun melalui tulisan atau dengan kata lain, berkomunikasi. Mungkin, kemampuan berkomunikasi yang dimiliki seseorang, tidak sama dengan yang dimiliki orang lain. Ada pribadi yang memang memiliki talenta untuk berkomunikasi, sehingga dia dapat menyampaikan ide maupun pemikirannya secara sangat baik. Namun, sebagian yang lain tidaklah demikian. Menurut pendapat saya, jika anda tidak memiliki kemampuan komunikasi yang hebat, tidak perlu berkecil hati atau bahkan merasa minder. Karena saya pun di awal-awal perjalanan karier saya sebagai guru, pernah juga merasa tidak percaya diri untuk berbicara/berkomunikasi di depan anak didik saya. Profesi guru memang mengharuskan anda untuk mengkomunikasikan ilmu yang anda ingin ajarkan, di depan anak didik anda yang mungkin tidak sedikit jumlahnya. Jika anda mengalami kesulitan untuk menjadi percaya diri untuk berkomunikasi di depan orang banyak, usahakanlah agar anda dapat mencapai kondisi yang mampu membuat anda dapat berkomunikasi dengan lebih baik. Berlatihlah untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun melalui tulisan, karena ini akan membantu anda untuk menyampaikan apa yang anda ingin bagikan kepada anak didik anda. Percaya dirilah dengan apa yang akan anda bagikan kepada anak didik anda, ketika anda sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Jika anda merasa bahwa anda bukanlah guru terpintar di antara rekan-rekan anda, milikilah kemampuan komunikasi yang baik, untuk dapat menyampaikan secara jelas ilmu yang anda miliki. Karena seseorang yang sangat cerdas, memiliki pemahaman akan suatu ilmu pengetahuan dengan sangat baik, dan bahkan mungkin cenderung genius, belum tentu bisa menjadi guru yang hebat. Jika semua hal tersebut tidak dibarengi dengan kemampuan untuk berkomunikasi yang baik, dia akan kesulitan untuk membagikan "kecerdasannya" kepada para anak didiknya.

5. Jangan jadi guru! Jika anda tidak suka diajar.
Menjadi guru harus suka diajar? Bukannya kita yang harusnya mengajar anak didik kita? Memang hal itu benar, namun sebelum anda mampu mengajar dengan baik, anda juga harus belajar, dan tak jarang harus juga siap untuk diajar. Oleh siapa? Oleh kolega guru yang lain yang sudah lebih berpengalaman dari anda. Jangan segan untuk mencari ilmu tentang mengajar dari rekan-rekan guru anda. Itu akan membantu anda untuk semakin memahami bagaimana menjadi pengajar yang mampu membagikan ilmu yang anda miliki dengan baik, kepada anak didik anda. Ketahuilah bahwa mereka yang sudah terlebih dahulu berkecimpung dalam profesi guru, tentu pernah berada dalam posisi yang sama dengan yang anda alami saat ini, menjadi seorang guru pemula yang minim pengalaman. Mereka akan mampu memberi sugesti dan tip untuk mengajar dan meresponi setiap situasi yang berbeda yang nantinya mungkin akan anda alami ketika anda mulai melangkahkan kaki menjadi seorang guru. Sehingga anda pun dapat menyerap ilmu yang anda dapatkan dari mereka, untuk anda kembangkan sendiri dalam proses anda menjadi seorang guru yang lebih baik lagi.

https://reversingverses.com/2013/06/08/colossians-323/
Sedikit pengalaman yang saya bagikan semoga bisa semakin memberikan gambaran bagi anda yang mulai berpikir untuk menjadi seorang guru. Mungkin masih banyak hal lain yang semestinya dimiliki oleh seorang guru seiring dengan perkembangan zaman. Sama seperti sebuah ilmu yang sifatnya dinamis, yang akan selalu mengalami perkembangan setiap waktu, begitu juga dengan profesi guru yang akan terus mengalami perubahan. Namun, terlepas dari itu, apapun profesi maupun pekerjaan anda, cintailah apa yang anda kerjakan, dan kerjakanlah apa yang anda cintai. Ketika anda bersungut-sungut dalam pekerjaan anda, bertanyalah dalam hati mengapa demikian. Tidak ada pekerjaan yang benar-benar utuh dapat memberikan kebahagiaan dalam bekerja secara sempurna. Namun ketika anda mampu tetap bersyukur di dalam setiap momen pekerjaan anda, bahkan ketika berada di dalam momen yang sekiranya memunculkan potensi untuk mengeluh namun anda mampu tetap bersukacita, maka tetaplah lakukan pekerjaan anda tersebut dengan sepenuh hati, penuh rasa syukur, seolah-olah anda melakukannya untuk Tuhan dan bukan hanya sekadar untuk manusia. Bukan untuk sekadar mendapatkan penghasilan, namun agar nama Tuhan dapat dipermuliakan melalui pekerjaan anda.

Minggu, 19 Juni 2016

Menjadi Seorang Guru

Menjadi seorang guru bukanlah suatu hal yang pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya. Tidak pernah ada cita-cita sedikitpun untuk mengabdikan hidup saya sebagai seorang guru. Bisa dibilang, guru adalah suatu profesi yang saya abaikan dalam masa-masa pencarian saya akan suatu pekerjaan sebagai pegangan menapaki masa depan. Sekalipun saya menaruh hormat kepada profesi guru sebagai suatu profesi yang mulia, namun untuk menjadi seorang guru bukanlah prioritas dalam hidup saya.

"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN." (Yesaya 55:8)

Masa-masa kejenuhan
Pada akhirnya, rencana Tuhan bukanlah rencana manusia. Dia akan menyatakan rencanaNya pada waktu yang seturut kehendakNya. Sekalipun menjalani profesi sebagai guru tidak pernah ada dalam pikiran saya sebelumnya, bukan berarti itu tidak pernah ada dalam rencana Tuhan untuk kehidupan saya.

Saya terpanggil untuk menjalani profesi sebagai guru setelah mengalami kejenuhan dalam pekerjaan saya sebelumnya. Saya merasa bahwa pekerjaan saya terdahulu, membuat saya tidak dapat mengembangkan potensi yang saya miliki. Meskipun pasti ada hal-hal yang saya dapat pelajari dan saya jadikan pengalaman untuk ke depannya, namun karena alasan untuk lebih dapat mengembangkan diri, saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan tersebut. Tanpa ada ide pekerjaan seperti apa yang akan menjadi destinasi selanjutnya, saya memantapkan diri untuk masuk ke dalam status sebagai seorang “penganggur”. Sempat muncul kebingungan, kekhawatiran dan segala rasa frustasi ketika keadaan tanpa pekerjaan tetap harus dijalani. Namun bagaimanapun juga kondisi tersebut tetap harus saya jalani dan “nikmati” sebagai bagian dari konsekuensi keputusan saya sebelumnya.

Di tengah masa "desperate" yang saya alami, saya berdoa agar Tuhan berkenan memberikan pekerjaan yang baik bagi saya. Saya berdoa agar Tuhan memberikan sebuah pekerjaan yang membuat saya harus terus belajar, dan membuat saya mampu menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar saya. Sebuah keinginan sederhana yang muncul dari hasil perenungan saya akan pekerjaan baru yang saya perjuangkan. 

Pada saat itulah Tuhan melintaskan dalam pikiran saya tentang profesi ini, profesi guru. Dia membawa saya kembali mengingat akan kekaguman yang saya rasakan kepada dosen saya di masa perkuliahan dulu. Saya terkagum kepada profesi sebagai seorang dosen yang menurut saya mampu menambah wibawa bagi yang menyandangnya. Dengan keharusan untuk membagikan ilmu kepada para mahasiswanya, maka dapat dipastikan bahwa seorang dosen tentu harus mempersiapkan dirinya dengan sangat baik, dengan cara mempelajari materi yang akan dia sampaikan. Ditambah lagi apabila dia ingin meningkatkan tingkatan pencapaian studinya, maka dia harus melakukan suatu penelitian ilmiah yang membuatnya harus belajar dan terus belajar. Jika saya ingat kembali permintaan saya melalui doa yang saya naikkan kepada Tuhan, maka profesi dosen akan sangat cocok dengan yang apa saya inginkan.

Terganjal Pencapaian Sementara
Seketika saya merenungkan kembali permohonan saya kepada Tuhan untuk pekerjaan saya yang berikutnya. Permohonan sederhana yang berisikan keinginan hati untuk dapat terus belajar sembari saya menjalani pekerjaan tersebut. Hingga di tengah masa-masa menantikan jawaban akan permohonan saya tersebut, saat itulah timbul hasrat untuk menjadi seorang guru. Alasan yang terbersit sangat sederhana, yaitu untuk mencari pengalaman mengajar terlebih dahulu, sehingga saya dapat mulai mengenal dunia pendidikan yang memang adalah dunia yang baru bagi saya (dalam dunia karier). Memang, kondisi pada saat itu tidak memungkinkan saya untuk langsung menjadikan profesi dosen sebagai sasaran yang akan saya kejar. Status saya yang "hanya" sebagai seorang lulusan strata pertama menghalangi saya untuk menjadi seorang pengajar di perguruan tinggi. Berangkat dari fakta tersebut, saya pun menjadikan profesi guru menjadi tujuan saya berikutnya. Dengan harapan, saya akan dapat belajar untuk memahami dunia pendidikan, dan menjadi seorang pengajar yang akan dapat membagikan sebagian "harta" yang saya miliki, yaitu ilmu pengetahuan. Tanpa memadamkan semangat untuk menjadi seorang dosen sebagai pencapaian berikutnya yang nantinya akan saya perjuangkan.

Memulai langkah
Singkat cerita, saya pun memantapkan hati dan mulai menapakkan kaki menuju jalan untuk menjadi seorang guru. Dengan satu harapan dan cita-cita untuk dapat mengembangkan diri agar bisa "naik kelas" menjadi seorang dosen di kemudian hari, saya pun menganggukkan kepala pertanda setuju, saat mendapatkan tawaran untuk menjadi seorang guru. Sekalipun ini adalah dunia yang baru bagi saya, dimana ketiadaan pengalaman sebagai pengajar cukup menghalangi dan menimbulkan kekhawatiran diri, namun itu tidak menyurutkan niat saya untuk berjalan ke dalam dunia pendidikan untuk menjadi seorang guru. Saya bersyukur, perjuangan saya untuk beradaptasi dalam pekerjaan ini tidak menemui halangan yang berarti. Membuat saya semakin antusias untuk menikmati profesi sebagai guru, untuk belajar dan terus belajar.

Setahun Menjadi Guru
Setahun menjadi guru, banyak sekali hal-hal yang baru yang saya temui. Tentunya banyak cerita, kebahagiaan, kedukaan, kesukaan dan hal lain yang saya alami dan temukan. Terkadang, semua itu mampu menyemangati saya untuk terus bertahan di bidang tersebut, namun tak jarang juga keadaan menjadi begitu menyulitkan dan menurunkan semangat saya. Namun, terlepas dari semuanya itu, saya bersyukur atas kesempatan yang saya miliki untuk dapat menjalani profesi ini. Segala cerita yang saya temukan disini, saya yakini tidak akan saya temukan di profesi lainnya yang tentunya memiliki ceritanya sendiri. Memang masih terlalu dini untuk berkata puas akan pencapaian saya. Hanya sebuah langkah yang pendek saja yang telah saya tempuh. Masih teramat banyak cerita yang bisa hadir disini. 

Euforia yang saya rasakan dalam menjalani hari demi hari profesi ini selalu saja bertambah setiap harinya. Melihat anak-anak yang ceria dan bersemangat ingin memahami hal-hal baru setiap harinya terkadang mampu membuat saya menjadi ikut bersemangat untuk belajar bersama mereka. Sedikit cerita ketika saya harus menjalani tes untuk dapat memperoleh posisi sebagai guru, dimana saya harus menjalani tes mengajar, membuat saya ketir-ketir untuk mempersiapkan diri. Bukan saja karena ini adalah tes untuk memperoleh profesi yang saya inginkan, namun juga karena saya belum pernah mempunyai pengalaman mengajar sebelumnya. Sempat ada ragu untuk menerima tawaran tes tersebut, yang pada akhirnya saya terima dan saya jalani seluruh rangkaiannya, hingga pada akhirnya saya dapat bercerita melalui tulisan sederhana ini dengan status sebagai seorang guru yang telah saya dapatkan. Pada akhirnya, anak-anak didik sayalah yang juga ikut berkontribusi memberikan saya sukacita dan semangat untuk terus menjadi guru.

Tanggung Jawab yang Tidak Kecil
Terlepas dari semua kisah yang telah saya jalani setahun belakangan, satu teguran kecil yang akan selalu saya pegang dalam menjalani profesi ini adalah, "guru harus selalu benar". Bukan karena guru adalah Tuhan yang pasti tidak bisa melakukan kesalahan, namun seorang guru adalah panutan bagi begitu banyak jiwa muda yang sedang  berkembang untuk mencari jati diri dan jalan hidupnya masing-masing.  Sekali saja "benih" yang ditabur salah, maka hasil yang dituai akan juga tidak baik. Sekali saja contoh yang diberikan oleh gurunya adalah contoh yang tidak baik, maka adalah suatu kebodohan jika kita berharap murid kita akan menjadi anak yang baik.

Ada kebenaran dalam Firman Tuhan yang tertulis dalam Surat Yakobus 3:1, yang berbunyi, "Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat." Ayat Alkitab tersebut saya resapi sedemikian rupa untuk selalu memberikan yang terbaik dalam pekerjaan saya. Karena begitu besarnya tanggung jawab yang harus dipikul seorang guru, dimana peranan yang dipegangnya dalam pengajaran yang diterima murid-muridnya sangat besar pengaruhnya. Yakobus, penulis surat Yakobus pun menyadari hal tersebut, bahwa menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Ada tanggung jawab yang besar yang mengawali penghakiman yang lebih berat tersebut. Karena setiap perkataan, perbuatan, bahkan mungkin pemikiran seorang guru akan dipertanggungjawabkannya suatu hari nanti. Bukan di hadapan manusia, namun di hadapan Sang Hakim Agung, di hari penghakiman terakhir kelak. Mengetahui semua itu, semoga saya sebagai seorang guru akan selalu dapat menghayati apa yang menjadi tanggung jawab saya ketika terus menikmati profesi saya sebagai guru, dan biarlah semakin banyak jiwa yang akan memperoleh pengajaran yang benar dan bisa menjadi garam dan terang di kehidupan masa depan nanti.

Menjadi seorang guru bukanlah sekadar pekerjaan sederhana yang dilakukan untuk memperoleh penghasilan. Menjadi seorang guru adalah sebuah panggilan. Bukan sekedar keinginan hati yang muncul sesaat namun gampang saja berubah, melainkan adalah rencana Tuhan yang ditanamkan ke dalam hati dan pikiran manusia. Seorang guru (diharapkan) mampu menjadi terang di tengah kegelapan, jawaban atas segala pertanyaan, dan kepastian dalam kekhawatiran.