Minggu, 19 Juni 2016

Menjadi Seorang Guru

Menjadi seorang guru bukanlah suatu hal yang pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya. Tidak pernah ada cita-cita sedikitpun untuk mengabdikan hidup saya sebagai seorang guru. Bisa dibilang, guru adalah suatu profesi yang saya abaikan dalam masa-masa pencarian saya akan suatu pekerjaan sebagai pegangan menapaki masa depan. Sekalipun saya menaruh hormat kepada profesi guru sebagai suatu profesi yang mulia, namun untuk menjadi seorang guru bukanlah prioritas dalam hidup saya.

"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN." (Yesaya 55:8)

Masa-masa kejenuhan
Pada akhirnya, rencana Tuhan bukanlah rencana manusia. Dia akan menyatakan rencanaNya pada waktu yang seturut kehendakNya. Sekalipun menjalani profesi sebagai guru tidak pernah ada dalam pikiran saya sebelumnya, bukan berarti itu tidak pernah ada dalam rencana Tuhan untuk kehidupan saya.

Saya terpanggil untuk menjalani profesi sebagai guru setelah mengalami kejenuhan dalam pekerjaan saya sebelumnya. Saya merasa bahwa pekerjaan saya terdahulu, membuat saya tidak dapat mengembangkan potensi yang saya miliki. Meskipun pasti ada hal-hal yang saya dapat pelajari dan saya jadikan pengalaman untuk ke depannya, namun karena alasan untuk lebih dapat mengembangkan diri, saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan tersebut. Tanpa ada ide pekerjaan seperti apa yang akan menjadi destinasi selanjutnya, saya memantapkan diri untuk masuk ke dalam status sebagai seorang “penganggur”. Sempat muncul kebingungan, kekhawatiran dan segala rasa frustasi ketika keadaan tanpa pekerjaan tetap harus dijalani. Namun bagaimanapun juga kondisi tersebut tetap harus saya jalani dan “nikmati” sebagai bagian dari konsekuensi keputusan saya sebelumnya.

Di tengah masa "desperate" yang saya alami, saya berdoa agar Tuhan berkenan memberikan pekerjaan yang baik bagi saya. Saya berdoa agar Tuhan memberikan sebuah pekerjaan yang membuat saya harus terus belajar, dan membuat saya mampu menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar saya. Sebuah keinginan sederhana yang muncul dari hasil perenungan saya akan pekerjaan baru yang saya perjuangkan. 

Pada saat itulah Tuhan melintaskan dalam pikiran saya tentang profesi ini, profesi guru. Dia membawa saya kembali mengingat akan kekaguman yang saya rasakan kepada dosen saya di masa perkuliahan dulu. Saya terkagum kepada profesi sebagai seorang dosen yang menurut saya mampu menambah wibawa bagi yang menyandangnya. Dengan keharusan untuk membagikan ilmu kepada para mahasiswanya, maka dapat dipastikan bahwa seorang dosen tentu harus mempersiapkan dirinya dengan sangat baik, dengan cara mempelajari materi yang akan dia sampaikan. Ditambah lagi apabila dia ingin meningkatkan tingkatan pencapaian studinya, maka dia harus melakukan suatu penelitian ilmiah yang membuatnya harus belajar dan terus belajar. Jika saya ingat kembali permintaan saya melalui doa yang saya naikkan kepada Tuhan, maka profesi dosen akan sangat cocok dengan yang apa saya inginkan.

Terganjal Pencapaian Sementara
Seketika saya merenungkan kembali permohonan saya kepada Tuhan untuk pekerjaan saya yang berikutnya. Permohonan sederhana yang berisikan keinginan hati untuk dapat terus belajar sembari saya menjalani pekerjaan tersebut. Hingga di tengah masa-masa menantikan jawaban akan permohonan saya tersebut, saat itulah timbul hasrat untuk menjadi seorang guru. Alasan yang terbersit sangat sederhana, yaitu untuk mencari pengalaman mengajar terlebih dahulu, sehingga saya dapat mulai mengenal dunia pendidikan yang memang adalah dunia yang baru bagi saya (dalam dunia karier). Memang, kondisi pada saat itu tidak memungkinkan saya untuk langsung menjadikan profesi dosen sebagai sasaran yang akan saya kejar. Status saya yang "hanya" sebagai seorang lulusan strata pertama menghalangi saya untuk menjadi seorang pengajar di perguruan tinggi. Berangkat dari fakta tersebut, saya pun menjadikan profesi guru menjadi tujuan saya berikutnya. Dengan harapan, saya akan dapat belajar untuk memahami dunia pendidikan, dan menjadi seorang pengajar yang akan dapat membagikan sebagian "harta" yang saya miliki, yaitu ilmu pengetahuan. Tanpa memadamkan semangat untuk menjadi seorang dosen sebagai pencapaian berikutnya yang nantinya akan saya perjuangkan.

Memulai langkah
Singkat cerita, saya pun memantapkan hati dan mulai menapakkan kaki menuju jalan untuk menjadi seorang guru. Dengan satu harapan dan cita-cita untuk dapat mengembangkan diri agar bisa "naik kelas" menjadi seorang dosen di kemudian hari, saya pun menganggukkan kepala pertanda setuju, saat mendapatkan tawaran untuk menjadi seorang guru. Sekalipun ini adalah dunia yang baru bagi saya, dimana ketiadaan pengalaman sebagai pengajar cukup menghalangi dan menimbulkan kekhawatiran diri, namun itu tidak menyurutkan niat saya untuk berjalan ke dalam dunia pendidikan untuk menjadi seorang guru. Saya bersyukur, perjuangan saya untuk beradaptasi dalam pekerjaan ini tidak menemui halangan yang berarti. Membuat saya semakin antusias untuk menikmati profesi sebagai guru, untuk belajar dan terus belajar.

Setahun Menjadi Guru
Setahun menjadi guru, banyak sekali hal-hal yang baru yang saya temui. Tentunya banyak cerita, kebahagiaan, kedukaan, kesukaan dan hal lain yang saya alami dan temukan. Terkadang, semua itu mampu menyemangati saya untuk terus bertahan di bidang tersebut, namun tak jarang juga keadaan menjadi begitu menyulitkan dan menurunkan semangat saya. Namun, terlepas dari semuanya itu, saya bersyukur atas kesempatan yang saya miliki untuk dapat menjalani profesi ini. Segala cerita yang saya temukan disini, saya yakini tidak akan saya temukan di profesi lainnya yang tentunya memiliki ceritanya sendiri. Memang masih terlalu dini untuk berkata puas akan pencapaian saya. Hanya sebuah langkah yang pendek saja yang telah saya tempuh. Masih teramat banyak cerita yang bisa hadir disini. 

Euforia yang saya rasakan dalam menjalani hari demi hari profesi ini selalu saja bertambah setiap harinya. Melihat anak-anak yang ceria dan bersemangat ingin memahami hal-hal baru setiap harinya terkadang mampu membuat saya menjadi ikut bersemangat untuk belajar bersama mereka. Sedikit cerita ketika saya harus menjalani tes untuk dapat memperoleh posisi sebagai guru, dimana saya harus menjalani tes mengajar, membuat saya ketir-ketir untuk mempersiapkan diri. Bukan saja karena ini adalah tes untuk memperoleh profesi yang saya inginkan, namun juga karena saya belum pernah mempunyai pengalaman mengajar sebelumnya. Sempat ada ragu untuk menerima tawaran tes tersebut, yang pada akhirnya saya terima dan saya jalani seluruh rangkaiannya, hingga pada akhirnya saya dapat bercerita melalui tulisan sederhana ini dengan status sebagai seorang guru yang telah saya dapatkan. Pada akhirnya, anak-anak didik sayalah yang juga ikut berkontribusi memberikan saya sukacita dan semangat untuk terus menjadi guru.

Tanggung Jawab yang Tidak Kecil
Terlepas dari semua kisah yang telah saya jalani setahun belakangan, satu teguran kecil yang akan selalu saya pegang dalam menjalani profesi ini adalah, "guru harus selalu benar". Bukan karena guru adalah Tuhan yang pasti tidak bisa melakukan kesalahan, namun seorang guru adalah panutan bagi begitu banyak jiwa muda yang sedang  berkembang untuk mencari jati diri dan jalan hidupnya masing-masing.  Sekali saja "benih" yang ditabur salah, maka hasil yang dituai akan juga tidak baik. Sekali saja contoh yang diberikan oleh gurunya adalah contoh yang tidak baik, maka adalah suatu kebodohan jika kita berharap murid kita akan menjadi anak yang baik.

Ada kebenaran dalam Firman Tuhan yang tertulis dalam Surat Yakobus 3:1, yang berbunyi, "Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat." Ayat Alkitab tersebut saya resapi sedemikian rupa untuk selalu memberikan yang terbaik dalam pekerjaan saya. Karena begitu besarnya tanggung jawab yang harus dipikul seorang guru, dimana peranan yang dipegangnya dalam pengajaran yang diterima murid-muridnya sangat besar pengaruhnya. Yakobus, penulis surat Yakobus pun menyadari hal tersebut, bahwa menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Ada tanggung jawab yang besar yang mengawali penghakiman yang lebih berat tersebut. Karena setiap perkataan, perbuatan, bahkan mungkin pemikiran seorang guru akan dipertanggungjawabkannya suatu hari nanti. Bukan di hadapan manusia, namun di hadapan Sang Hakim Agung, di hari penghakiman terakhir kelak. Mengetahui semua itu, semoga saya sebagai seorang guru akan selalu dapat menghayati apa yang menjadi tanggung jawab saya ketika terus menikmati profesi saya sebagai guru, dan biarlah semakin banyak jiwa yang akan memperoleh pengajaran yang benar dan bisa menjadi garam dan terang di kehidupan masa depan nanti.

Menjadi seorang guru bukanlah sekadar pekerjaan sederhana yang dilakukan untuk memperoleh penghasilan. Menjadi seorang guru adalah sebuah panggilan. Bukan sekedar keinginan hati yang muncul sesaat namun gampang saja berubah, melainkan adalah rencana Tuhan yang ditanamkan ke dalam hati dan pikiran manusia. Seorang guru (diharapkan) mampu menjadi terang di tengah kegelapan, jawaban atas segala pertanyaan, dan kepastian dalam kekhawatiran.

Rabu, 15 Juni 2016

Inspirasi Pertama

Salam Inspirasi! 

Cukup lama saya tidak menuangkan pemikiran saya dalam bentuk sebuah tulisan dan mempostingnya ke dalam sebuah blog yang (harapannya) bisa dinikmati banyak orang. Beberapa waktu yang lalu saya pernah membuat sebuah blog yang berisi beberapa karya pribadi saya maupun karya-karya pelaku seni yang cukup menginspirasi saya, berupa lagu dan cerpen (cerita pendek) di dalam blog saya lainnya. Selang waktu berjalan, saya mulai menemukan keasyikan tersendiri dalam menulis sebuah artikel yang berdasarkan pada pengalaman pribadi maupun hal lain yang menarik untuk saya bagikan. Berangkat dari hal tersebut, maka di blog saya kali ini akan menjadi sebuah media untuk mengekspresikan tulisan-tulisan saya dalam bentuk artikel maupun cerita-cerita yang sekiranya menarik untuk saya publikasikan.

Butuh waktu setahun lebih sejak ide untuk membuat blog ini tercetus, karena saya perlu untuk menggarap beberapa tema tulisan yang muncul dalam benak saya, dan mewujudkannya ke dalam sebuah tulisan yang dapat dinikmati. Setelah cukup waktu untuk membuat beberapa karya yang saya rasa menarik, saya memberanikan diri untuk kembali mengasah kemampuan menulis saya dengan membuat blog sederhana ini. Sekaligus juga menjadi wadah saya berinteraksi dengan para blogger lain yang sudah terlebih dahulu berkecimpung dalam dunia penulisan artikel. Ya! ajaraninspirasi.blogspot.com. Idenya sederhana, menceritakan hal-hal menarik yang saya alami sendiri, maupun  dari inspirasi yang muncul melalui orang-orang di sekitar saya. 

Mengapa ajaran inspirasi? Satu keinginan saya melalui adanya blog ini adalah agar apa yang saya bagikan, bisa menjadi inspirasi  untuk berkarya dalam hal yang positif bagi para penikmat blog, maupun sebuah media untuk memperoleh ajaran bagi siapa saja yang telah meluangkan waktu untuk membacanya. Meskipun demikian, sedikitpun tidak ada maksud dari saya selaku penulis, untuk mencoba menggurui para penikmat blog ini. Hanya sekedar ingin membawa anda untuk larut ke dalam setiap cerita yang saya bagikan, dan menginspirasi untuk suatu hal yang positif dan berguna bagi sekitar anda. 

Akhir kata, besar harapan saya bahwa apa yang tertulis dalam blog ini tidak hanya menjadi artikel yang sekedar terbaca, sekedar mengisi waktu luang anda namun kemudian hilang, namun lebih dari itu, saya berharap agar tulisan saya dapat menjadi sebuah ajaran sekaligus inspirasi bagi kehidupan anda sekalian. Salam..