Sabtu, 30 Juli 2016

Perginya Sang Pemberi Inspirasi


Inspirasi. . . Sebuah kata yang penuh makna yang telah menjadi pengisi benak saya dalam beberapa waktu belakangan ini. Menjadi penggerak saya di dalam menjalani langkah demi langkah yang tertempuh untuk suatu yang diharapkan bisa menjadi kebaikan bagi saya maupun orang di sekitar saya. Bisa dibilang setiap apa yang saya kerjakan dalam aktivitas saya, memiliki inspirator tersendiri yang membuat saya betah melakukan hal tersebut. Baik dalam hal pekerjaan, keluarga, hobi, atau yang lainnya. Tiada berbeda dengan profesi yang saya tekuni saat ini. Profesi yang tergolong anyar dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang pekerja, yaitu sebagai seorang guru.

Sebagai seorang guru muda, tanpa pengalaman yang berarti di dalam dunia pendidikan, suatu kewajaran bila pada akhirnya saya mencari sosok yang dapat menginspirasi saya untuk menjadi seorang guru yang lebih baik. Karena begitu minimnya pengetahuan saya tentang dunia pendidikan, alam bawah sadar saya tanpa diberi komando pun berusaha menemukan figur 'idola' yang dapat saya teladani dan saya anut ilmu pengajarannya.

Saya beruntung Tuhan menempatkan saya di tengah kolega yang begitu mendukung perkembangan saya. Tidak ada keseganan yang saya temukan di setiap rekan yang saya kenal untuk memberikan bantuan dalam setiap kesulitan yang saya jumpai di pekerjaan saya. Dukungan, bantuan, maupun ajaran dan wejangan selalu saya dapatkan setiap waktu. Itu membuat saya semakin memahami dunia pendidikan yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan dunia perbankan yang sebelumnya saya kenal.

Di antara beberapa kolega yang saya kenal dan menginspirasi saya, bertemulah saya dengan seorang yang begitu menginspirasi saya melebihi yang saya bayangkan. Teladan yang saya serap darinya begitu mempengaruhi kemajuan saya sebagai guru. Banyak hal-hal positif yang saya temui darinya yang telah mengembangkan saya menjadi seorang pengajar yang semakin baik dari hari ke hari. Karena beberapa alasan itu, saya pun mengidolakannya.

Saya menyebutnya sang inspirator, karena darinya saya mendapatkan banyak inspirasi yang baik yang dapat saya pergunakan untuk mengembangkan kemampuan mengajar saya. Saya belajar banyak hal dari sang inspirator saya tersebut. Kehadirannya memberikan pengaruh baik dalam perjalanan karir saya sebagai seorang pengajar. Orang bilang, masa pertumbuhan yang terbaik bagi seorang anak dimana ia menyerap banyak ilmu pengetahuan adalah di usia dini. Begitu juga saya sebagai seorang guru yang masih "anak-anak", masa krusial untuk banyak belajar adalah di awal-awal saya menjalani profesi tersebut, di usia yang tergolong dini dalam perjalanan karir saya sebagai guru.

Sedikit cerita tentang inspirator saya, sebut saja Mr. JJR. Beliau bukan seorang pribumi. Dia hanya tinggal untuk bekerja saja di Indonesia, bukan untuk menetap. Saya tidak banyak mempunyai informasi tentang berapa lama sudah dia menetap di sini. Komunikasi yang dapat kami lakukan adalah dengan kata-kata berbahasa Inggris. Karena beberapa sebab, ada jarak yang tercipta antara kami dikarenakan perbedaan budaya, bahasa, dan pemikiran. Dengan posisi beliau sebagai seorang atasan, rasa hormat pun ikut andil dalam membentuk relasi saya dengan beliau. Bila ada pembicaraan yang terjadi di antara kami, mungkin itu sebatas urusan sekolah yang berhubungan dengan masalah murid, kurikulum, atau yang lain-lain. Sangat jarang tema pembicaraan kami tentang sesuatu hal yang bersifat santai. Meskipun demikian itu tidak mengurangi kekaguman saya terhadap beliau. Dengan kecerdasan pikiran yang terlihat dari setiap kegiatan mengajar yang dia pimpin, bukan suatu hal yang aneh jika dia menempati posisi yang kedua dari atas dalam struktur organisasi sekolah saya.

Dengan semua kelebihan itu, Mr. JJR tidak segan untuk berbagi ilmu dan tips untuk mengajar dengan lebih baik. Pernah sekali waktu Mr. JJR datang ke kelas saya untuk melakukan supervisi atas cara saya mengajar. Satu yang saya suka dari dia adalah dia tidak hanya duduk diam dan mendengar saya mengajar, namun juga adakalanya dia akan memberi sugesti tentang apa yang patut juga untuk disampaikan kepada para murid. Hal tersebut sangat membantu saya untuk mengevaluasi apa yang perlu ditingkatkan dari cara saya mengajar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Dalam hal ini, saya pun memerlukan orang lain untuk memberikan penilaian akan apa yang saya kerjakan, dan itu sedikit banyak terpenuhi dengan kehadiran Mr. JJR.

Semakin lama saya menjalani profesi sebagai guru yang selalu memunculkan hal baru di setiap harinya, dengan dikelilingi oleh teman sejawat yang mampu menghadirkan atmosfer kerja yang menyemangati saya untuk selalu berkembang, telah menjadikan profesi ini menjadi primadona dalam hati dan pikiran saya. Saya merasa bahwa ini adalah suatu profesi yang sudah seharusnya saya pilih sejak dari awal saya terjun ke dunia pekerjaan. Ditambah dengan kehadiran para inspirator-inspirator dalam profesi tersebut, saya semakin memantapkan hati untuk bertahan dalam pilihan saya.

Momen terakhir bersama, Graduation Grade 6 

Sampailah saya pada suatu hari yang tenang, terlihat lazim, dan seperti tidak ada kejutan yang akan hadir, ternyata memunculkan sebuah kabar yang cukup menggetarkan hati ketika mendengarnya. Sang inspirator yang selama ini menjadi panutan saya itu akan segera meninggalkan pekerjaannya di tempat itu. Sore itu saya menerima kabar dari rekan kerja satu kelas paralel saya, dan fakta tersebut cukup menggoyahkan semangat saya. Mungkin memang, beliau hanya manusia biasa yang tidak bisa tidak, pasti memiliki kekurangan jua. Namun, terlepas dari semuanya itu, dia tetaplah sebuah tokoh yang menginspirasi saya. Terbayang dalam benak saya bahwa beberapa waktu lagi perpisahan akan terjadi, dan kebersamaan akan berakhir. Layaknya sebuah roda kehidupan yang berputar setiap waktu, setiap perjumpaan selalu lengkap dengan sebuah perpisahan.

Itulah hidup, tidak bisa selalu seperti apa yang jadi keinginan kita. Meratapi keadaan yang terasa menyedihkan pun tidak akan merubah kenyaataan bahwa keadaan itu nyata dan harus terjadi. Memilih untuk terus maju dan melakukan apa yang memang baik adalah pilihan bijak yang perlu diambil. Setiap hal yang terjadi pasti sudah ada yang mengatur dan merencanakannya. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa. Ada waktu untuk menanam, dan ada waktu untuk menuai hasil. Untuk segala sesuatu ada masanya (Pengkhotbah 3 : 1). Satu hal yang pasti, apapun yang kita butuhkan, kecil ataupun besar, hal sederhana maupun hal yang paling rumit sekalipun, pasti akan disediakan olehNya. Kita hanya perlu melakukan bagian kita dan mempercayakan hal-hal yang tampak mustahil untuk diwujudkan olehNya.

Seperti sebuah "salam perpisahan" yang disampaikan Mr. JJR dalam pertemuan persekutuan rutin antar para guru di sekolah kami, yang bertemakan waktu, bahwa waktu yang ada adalah terbatas dan tidak akan dapat diputar kembali. Manfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin karena kita tidak pernah tahu seberapa panjang waktu yang kita miliki. Hidup memang selalu memunculkan misteri untuk dijalani oleh manusia, namun yang jelas, semua akan menjadi indah pada waktunya.

- Di setiap sebuah pertemuan, perpisahan akan siap mengiringi. Namun tatkala perpisahan itu terasa cukup berat untuk dilalui, biarlah penghiburan melalui pengharapan akan perjumpaan di lain waktu dan tempat, mampu mengobati.-

Teruntuk : Sang Pemberi Inspirasi. . .

Thank you for your inspiration!

Selasa, 19 Juli 2016

Ungkapan Rindu dari Sang Sulung

19 Juli 2012, selalu menjadi tanggal yang terkenang sebagai memori di dalam ingatan saya. Tepat pada tanggal tersebut, seorang anggota keluarga saya, yaitu papa saya, harus meninggalkan saya dan keluarga saya, kembali ke rumah Bapa di surga. Suatu peristiwa yang tidak pernah sedikitpun terbayang dalam benak saya dan keluarga. Bahkan untuk sekadar terpikirkan pun tidak. Namun mau tidak mau itu adalah kenyataan hidup yang harus diterima.

Jika menilik kembali kejadian pada waktu itu. Semua memang berlangsung begitu cepat. Tanpa ada satu tanda apapun yang mampu membuat kami bersiap diri. Kepergian beliau memang bagaikan petir di kala hujan datang, yang hadir begitu cepatnya. Dukacita terasa begitu mendalam, karena kami baru saja merasakan sukacita yang besar karena beroleh berkat Tuhan yang berlimpah dalam keluarga kami. Beliau pun masih sempat merayakan pertambahan usianya yang ke-47 tahun pada bulan sebelumnya. Sungguh, bagai menaiki roller coaster yang berjalan naik turun, seperti itulah yang keluarga kami rasakan tatkala harus menerima kenyataan pahit yang terjadi, yang mengiringi kebahagiaan hidup yang boleh hadir melengkapi.

Selang waktu berlalu, saya dan keluarga pun telah semakin kuat untuk melanjutkan kehidupan kami. Kami telah lila melihat beliau yang selama ini ada bersama kami, harus pergi meninggalkan kami. Memang tidak mudah pada awalnya. Bagaikan badai besar yang menerpa sebuah kapal, demikianlah kiranya guncangan yang mendera "bahtera" kehidupan keluarga kami, terombang-ambing dan bahkan mungkin nyaris tenggelam. Namun di tengah semuanya itu, kami bersyukur karena kami memiliki pegangan hidup kami, Tuhan Yesus, Allah yang Mahabesar dan selalu menjadi sahabat sejati kami di kala senang maupun susah.

Hari demi hari dalam kelanjutan kehidupan saya bersama keluarga saya, tiada satupun yang terlewati tanpa kerinduan akan hadirnya papa saya. Segala kenangan indah yang pernah saya lalui berdua bersama beliau tidak akan dapat terlupakan. Beliau bukan tipe orang yang memberi teladan melalui nasihat berupa kata-kata. Lebih sering berupa tindakan nyata. Mungkin dari sanalah diri saya terbentuk dan tertempa sehingga dapat menjadi seperti sekarang. Saya sendiri pun sama seperti papa saya, lebih banyak memberikan contoh kepada lingkungan sekitar saya dalam bentuk perbuatan konkret ketimbang melalui kata-kata bersifat basa-basi. Saya sadar kemampuan terbaik saya bukanlah berkomunikasi secara lisan, persis seperti papa saya. 

Beliau juga merupakan orang yang paling sabar yang pernah ada dalam hidup saya. Sangat jarang, jikalau tidak bisa dibilang tidak pernah, beliau marah kepada saya maupun keluarga saya. Selain itu beliau merupakan orang yang tidak segan untuk berbagi kepada siapa saja, baik itu kepada kami sebagai keluarga intinya, saudara-saudara, maupun rekan kerjanya. Mungkin itu salah satu cara beliau mengucap syukur atas berkat Tuhan yang berlimpah dalam kehidupannya. Terlepas dari segala kekurangan yang pasti ada dalam dirinya, saya bisa menjadi seperti saat ini pun tidak bisa dimungkiri juga karena ada pengaruh dari beliau dalam kehidupan saya. Seperti sebuah ungkapan, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.", begitulah saya dan papa saya.

Saya bukan tipe orang yang begitu mudah menunjukkan apa yang saya rasakan dalam hati saya. Begitu juga dengan kesedihan yang terasa ketika kepergian papa saya, tidak serta-merta saya tunjukkan melalui tetesan air mata atau muka yang muram. Bukan berarti saya tidak merasakan kesedihan, namun saya cenderung menyimpan itu di dalam batin saya, dan bisa tetap terlihat tegar walaupun peristiwa yang terjadi sungguh berat untuk diterima. Lebih sering, saya mampu mengungkapkan perasaan hati saya melalui sebuah tulisan yang terangkai menjadi sebuah puisi atau lagu atau mungkin tulisan seperti yang anda baca ini. Begitu pula yang saya alami tak lama setelah kepergian papa saya. Saya terinspirasi untuk menuliskan sebuah lagu sederhana, yang menceritakan tentang ungkapan terima kasih saya kepada segala teladan yang diberikan kepada saya oleh beliau. Berjudul "Ayah (mendewasakanku)", seperti inilah lirik dari lagu tersebut. . .

Begitu banyak hal yang kau ajarkan
Besar arti hadirmu di dalam hidupku
Kaulah penopang dan perlindunganku
Saat ku tak pernah memanggil kau Ayah

Seringkali ku sakiti hatimu
Tak jarang ku mengabaikan semua katamu
Namun kau tetap setia di sampingku
Menjagaku, menguatkan
Disaat aku terjatuh dan terpuruk

Reff:
T’'rima kasih untuk semua yang kau beri
T’'rima kasih untuk semua yang ku t’rima
Walau hanya singkat, setiap pengorbananmu
Kan s’lalu terkenang di dalam langkah hidupku

Maafkan ku yang tak bisa banggakanmu
Maafkan ku yang tak bisa buatmu tersenyum
Namun perjalanan ini, jujur telah mendewasakanku

Seringkali, karena inspirasi yang saya peroleh dari seseorang, lagu, puisi, maupun tulisan yang saya ciptakan akan saya bagikan kepada orang yang menjadi sumber inspirasi dari lagu tersebut. Hal tersebut saya lakukan sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih saya kepada mereka, sang inspirasi saya, karena telah membuat saya mampu menciptakan rangkaian kata hingga menjadi sebuah lagu yang dapat diperdengarkan, atau puisi dan tulisan yang dapat dibaca. Begitu juga kerinduan besar yang hanya dapat saya pendam adalah saya ingin memperdengarkan lagu sederhana tersebut kepada papa saya. Karena beliaulah, saya mampu menjadi seorang Adit yang dewasa, yang masih dan akan selalu berjuang untuk menjadi berkat dan inspirasi bagi siapapun. Namun saya sadar bahwa memperdengarkan lagu tersebut kepada beliau bukanlah suatu hal yang mungkin dicapai. Beliau sudah bahagia bersama Sang Pencipta kehidupan, dan tak ada kondisi yang lebih baik dibandingkan hal tersebut. 


Memori di Pulau Bali

4 tahun sudah beliau pergi. 4 tahun masa-masa kehidupan tanpa kehadiran beliau telah terlewati. Sekali lagi, tidak ada satu hari pun terlewat tanpa kerinduan akan hadirnya beliau. Begitu banyak cerita yang ingin saya bagi bersamanya. Begitu banyak momen yang ingin saya lewati bersamanya. Namun sebuah perjumpaan, pasti akan selalu diiringi oleh perpisahan. 47 Tahun bersama, serasa tidak cukup lama untuk dapat melewati kehidupan bersama-sama. Biarpun demikian, segala apa yang telah menjadi memori, tidak akan dengan mudah terhapuskan. Menuliskan tulisan ini pun membawa saya ke dalam suasana pilu yang tak terperikan. Tak ada air mata yang menetes, namun kesedihan dan kerinduan kepada beliau selalu ada dalam hati. Walaupun tidak dapat mengobati, biarlah sebuah "Ungkapan Rindu dari Sang Sulung" ini menjadi sebuah doa yang terucap dari seorang anak yang rindu akan kehadiran orang tua laki-lakinya.

Sabtu, 02 Juli 2016

Jangan Jadi Guru! Jika. . .

Pernahkah sekali waktu dalam momen kehidupan anda terlintas pikiran atau keinginan untuk berhenti dari pekerjaan yang anda jalani saat ini?

Terpikirkah kemudian ketika kejenuhan melanda dalam rutinitas pekerjaan anda tersebut, menjadi alasan untuk beralih haluan ke suatu bentuk rutinitas pekerjaan di lain bidang?

Dua pertanyaan di atas telah menemukan jawabannya dalam sepenggal episode kehidupan saya selama 26 tahun ke belakang. Tertulislah dalam sejarah kehidupan saya, saat dimana dengan yakin saya memberikan jawaban "YA" untuk dua pertanyaan tersebut. Suatu titik balik yang akan merubah cerita kehidupan saya sepenuhnya. Titik tersebut adalah ketika saya berhenti dari pekerjaan saya yang terdahulu, dan kemudian menetapkan profesi guru sebagai tujuan karier saya berikutnya. Padahal bisa dibilang, profesi sebagai guru adalah suatu profesi yang benar-benar anyar bagi saya.

Beberapa kali saya diberi pertanyaan oleh kolega saya, "Kenapa sekarang kok menjadi guru?" Melihat seringnya pertanyaan tersebut terlontar kepada saya, saya bisa yakinkan bahwa pertanyaan tersebut didasarkan pada keterkejutan mereka akan keputusan saya yang mendadak 'menceburkan diri' ke dalam profesi yang tiada pernah diduga-duga sebelumnya. Jangankan orang lain, saya sendiri pun tidak pernah mencita-citakan menjadi seorang guru di masa kecil, masa bertumbuh, maupun masa-masa saya mencari pekerjaan. Sehingga dapat dimengerti mengapa beberapa rekan yang saya temui mengajukan pertanyaan demikian. 

Pekerjaan saya yang pertama adalah seorang banker, dimana bagi sebagian orang, jika tidak bisa dibilang semuanya, merupakan 'lahan' yang sangat subur untuk mencari penghasilan yang jumlahnya tidak sedikit bagi kelangsungan kehidupan kedepannya. Saya sendiri mengakui itu. Bertahanlah dalam profesi sebagai banker dan penghasilan besar akan mendatangi anda. Selama anda mampu bertahan dengan tuntutan pekerjaan yang begitu besar, dan rutinitas aktivitas yang cukup sejenis setiap harinya, maka jenjang karier yang sekiranya mapan pasti akan dapat anda raih. Tapi, sekali lagi, bagi saya, kebahagiaan dalam pekerjaan tidak akan dapat ditentukan hanya sebatas dengan besarnya penghasilan berupa gaji yang saya terima dalam kantong saya setiap bulannya. Ada banyak faktor lain yang akan menciptakan suasana berkarier yang nyaman yang dengan sendirinya akan membuat kebahagiaan dalam bekerja berhasil diperoleh. 

Kembali ke pertanyaan sederhana yang saya peroleh setiap kali bertemu beberapa kolega lawas, saya sendiri pun tidak sepenuhnya dapat memberikan jawaban yang memuaskan mereka. Keputusan saya beralih profesi bukan merupakan hal yang sepenuhnya saya sadari akan seperti apa jadinya nanti. Semua itu sudah merupakan rencana Sang Pencipta. Jika bukan karenaNya, saya tidak akan mungkin dapat berada dalam posisi seperti saat ini. Jangankan masa depan yang begitu jauh, kurun waktu 1 menit ke depan saja saya tidak tahu hal apa yang akan dinyatakan olehNya dalam kehidupan saya.

Setahun menjalani profesi sebagai guru, saya pun menemukan kebahagiaan saya. Mungkin, ini bisa menjadi suatu hal yang sering disebut orang sebagai "passion" saya. Saya sendiri tidak tahu berapa lama saya akan bertahan dalam profesi ini. Selama waktu yang diperintahkan Tuhan untuk saya terus jalani sebagai guru, saya akan siap. Begitu pun ketika Dia katakan untuk berhenti, tidak bisa tidak, saya pun akan menerima hal tersebut. Karena pasti akan ada hal lain yang terbaik, yang sesuai dengan rencana mahabesar yang telah dirancang jauh sebelum saya diberi kehidupan olehNya di dunia ini.

Berbagai cerita saat menjadi guru telah saya alami. Pengalaman-pengalaman baru yang menjadi memori pun tidaklah sedikit. Apapun yang telah dan akan muncul kelak selalu dapat memberikan saya ilmu dan pembelajaran yang membawa saya menjadi pribadi yang semakin dewasa setiap harinya.

Sedikit berbagi pengalaman saya selama menjadi guru. Dibandingkan pekerjaan lain, ada beberapa hal yang sebaiknya dimiliki oleh seorang guru, menurut pendapat saya. Belajar dari pengalaman saya setahun ini. Tidak ada niatan untuk menciutkan hati para calon guru yang telah memutuskan menjadikan profesi ini menjadi pilihan kariernya, maupun yang sekadar ingin mencoba untuk menjalani profesi ini. Profesi guru memiliki tanggung jawab yang besar melebihi profesi lainnya. Tidak sekadar menjadi profesi yang akan bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi ada tanggung jawab moral yang begitu besar di dalamnya, yang membuat profesi ini tidak bisa sekadar dijalani dengan setengah niat dan mengalir begitu saja tanpa ada kesungguhan hati dari sang pelakunya. 

Secuplik saran untuk para calon guru :

1. Jangan jadi guru! Jika anda malas untuk membaca.
Ini saran paling sederhana yang saya sendiri terus perjuangkan untuk dapat giat melakukannya. Membaca. Kegiatan sederhana, dan bisa dilakukan di waktu luang anda kapanpun itu. Namun kadang karena kesibukan yang mendera, membuat kegiatan tersebut tiada dapat terlaksana. Satu hal ini haruslah ada pada anda para calon guru, rajin membaca. Setiap harinya anda akan diperhadapkan pada tumpukan kertas maupun buku yang harus anda baca. Ada banyak manfaat dari kebiasaan anda untuk membaca, seperti yang saya telah alami selama ini. Baik itu untuk membantu saya mempersiapkan materi mengajar, sampai  juga untuk memeriksa hasil pekerjaan anak didik saya. Jikalau hal sederhana ini, yaitu membaca, tidak anda biasakan untuk menjadi rutinitas, maka anda akan kesulitan jika pada akhirnya memilih guru sebagai profesi anda.

2. Jangan jadi guru! Jika anda malas untuk belajar.
Apa sebenarnya tugas seorang murid yang anda pahami selama ini? Mungkin sebagian besar orang akan berkata bahwa tugas seorang murid adalah belajar. Tujuannya adalah supaya mereka pun bisa menguasai materi pelajaran yang seharusnya mereka pahami. Sepanjang proses mereka memahami materi pelajaran mereka, mungkin akan ada waktunya mereka mengalami kesulitan untuk memahami sebuah konsep dari mata pelajaran tertentu. Disitulah peranan seorang guru akan ternyatakan, untuk membantu murid-muridnya memahami pelajaran tersebut. Nah, untuk mampu mengisi peranan tersebut, tentu seorang guru haruslah juga memahami konsep dari mata pelajaran tersebut. Bagaimana caranya? Tentulah dengan cara belajar. Mempelajari setiap mata pelajaran yang harusnya diajarkan olehnya, akan membantu seorang guru untuk mendidik muridnya dengan baik. Sehingga dengan tidak menjadi malas untuk belajar, peranan seorang guru pun akan dapat diembannya dengan baik.

3. Jangan jadi guru! Jika anda tidak dapat mencintai diri anda sendiri.
Mungkin agak membingungkan, namun saya sampaikan bahwa jika anda ingin menjadi seorang guru, anda harus dapat mencintai diri anda sendiri dengan baik. Mengapa demikian? Profesi guru menuntut anda untuk memperhatikan proses tumbuh kembang setiap individu anak didik anda. Memahami karakteristik mereka, kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, dan mendidik mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Itu semua akan dapat tercapai saat anda sudah "utuh" dengan diri anda sendiri. Menjadi "utuh" dalam arti anda telah mampu mencintai diri anda sendiri sepenuhnya, merawat apa yang sudah Tuhan anugerahkan berupa kehidupan anda, kesehatan anda, waktu anda, dan semua yang ada pada anda. Karena sifat dasar manusia adalah egois atau lebih mencintai dirinya sendiri, maka adalah hal yang wajar ketika mereka ingin mencintai orang lain, haruslah sudah tercapai suatu kondisi dimana ia telah mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, barulah mereka dapat mencintai orang lain. Seorang guru pada dasarnya akan selalu termotivasi untuk mencintai setiap anak didiknya, dan demi terwujudnya hal tersebut akan lebih baik jika ada suatu usaha nyata darinya untuk mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, merawat dan memelihara segala apa yang ada padanya, untuk dapat kemudian mencintai setiap anak didiknya.

4. Jangan jadi guru! Jika komunikasi yang baik enggan anda usahakan.
Sebagian manusia, jika tidak bisa dibilang semua manusia di dunia, dianugerahi kemampuan untuk menyampaikan pendapat mereka secara lisan maupun melalui tulisan atau dengan kata lain, berkomunikasi. Mungkin, kemampuan berkomunikasi yang dimiliki seseorang, tidak sama dengan yang dimiliki orang lain. Ada pribadi yang memang memiliki talenta untuk berkomunikasi, sehingga dia dapat menyampaikan ide maupun pemikirannya secara sangat baik. Namun, sebagian yang lain tidaklah demikian. Menurut pendapat saya, jika anda tidak memiliki kemampuan komunikasi yang hebat, tidak perlu berkecil hati atau bahkan merasa minder. Karena saya pun di awal-awal perjalanan karier saya sebagai guru, pernah juga merasa tidak percaya diri untuk berbicara/berkomunikasi di depan anak didik saya. Profesi guru memang mengharuskan anda untuk mengkomunikasikan ilmu yang anda ingin ajarkan, di depan anak didik anda yang mungkin tidak sedikit jumlahnya. Jika anda mengalami kesulitan untuk menjadi percaya diri untuk berkomunikasi di depan orang banyak, usahakanlah agar anda dapat mencapai kondisi yang mampu membuat anda dapat berkomunikasi dengan lebih baik. Berlatihlah untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun melalui tulisan, karena ini akan membantu anda untuk menyampaikan apa yang anda ingin bagikan kepada anak didik anda. Percaya dirilah dengan apa yang akan anda bagikan kepada anak didik anda, ketika anda sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Jika anda merasa bahwa anda bukanlah guru terpintar di antara rekan-rekan anda, milikilah kemampuan komunikasi yang baik, untuk dapat menyampaikan secara jelas ilmu yang anda miliki. Karena seseorang yang sangat cerdas, memiliki pemahaman akan suatu ilmu pengetahuan dengan sangat baik, dan bahkan mungkin cenderung genius, belum tentu bisa menjadi guru yang hebat. Jika semua hal tersebut tidak dibarengi dengan kemampuan untuk berkomunikasi yang baik, dia akan kesulitan untuk membagikan "kecerdasannya" kepada para anak didiknya.

5. Jangan jadi guru! Jika anda tidak suka diajar.
Menjadi guru harus suka diajar? Bukannya kita yang harusnya mengajar anak didik kita? Memang hal itu benar, namun sebelum anda mampu mengajar dengan baik, anda juga harus belajar, dan tak jarang harus juga siap untuk diajar. Oleh siapa? Oleh kolega guru yang lain yang sudah lebih berpengalaman dari anda. Jangan segan untuk mencari ilmu tentang mengajar dari rekan-rekan guru anda. Itu akan membantu anda untuk semakin memahami bagaimana menjadi pengajar yang mampu membagikan ilmu yang anda miliki dengan baik, kepada anak didik anda. Ketahuilah bahwa mereka yang sudah terlebih dahulu berkecimpung dalam profesi guru, tentu pernah berada dalam posisi yang sama dengan yang anda alami saat ini, menjadi seorang guru pemula yang minim pengalaman. Mereka akan mampu memberi sugesti dan tip untuk mengajar dan meresponi setiap situasi yang berbeda yang nantinya mungkin akan anda alami ketika anda mulai melangkahkan kaki menjadi seorang guru. Sehingga anda pun dapat menyerap ilmu yang anda dapatkan dari mereka, untuk anda kembangkan sendiri dalam proses anda menjadi seorang guru yang lebih baik lagi.

https://reversingverses.com/2013/06/08/colossians-323/
Sedikit pengalaman yang saya bagikan semoga bisa semakin memberikan gambaran bagi anda yang mulai berpikir untuk menjadi seorang guru. Mungkin masih banyak hal lain yang semestinya dimiliki oleh seorang guru seiring dengan perkembangan zaman. Sama seperti sebuah ilmu yang sifatnya dinamis, yang akan selalu mengalami perkembangan setiap waktu, begitu juga dengan profesi guru yang akan terus mengalami perubahan. Namun, terlepas dari itu, apapun profesi maupun pekerjaan anda, cintailah apa yang anda kerjakan, dan kerjakanlah apa yang anda cintai. Ketika anda bersungut-sungut dalam pekerjaan anda, bertanyalah dalam hati mengapa demikian. Tidak ada pekerjaan yang benar-benar utuh dapat memberikan kebahagiaan dalam bekerja secara sempurna. Namun ketika anda mampu tetap bersyukur di dalam setiap momen pekerjaan anda, bahkan ketika berada di dalam momen yang sekiranya memunculkan potensi untuk mengeluh namun anda mampu tetap bersukacita, maka tetaplah lakukan pekerjaan anda tersebut dengan sepenuh hati, penuh rasa syukur, seolah-olah anda melakukannya untuk Tuhan dan bukan hanya sekadar untuk manusia. Bukan untuk sekadar mendapatkan penghasilan, namun agar nama Tuhan dapat dipermuliakan melalui pekerjaan anda.