Sabtu, 02 Juli 2016

Jangan Jadi Guru! Jika. . .

Pernahkah sekali waktu dalam momen kehidupan anda terlintas pikiran atau keinginan untuk berhenti dari pekerjaan yang anda jalani saat ini?

Terpikirkah kemudian ketika kejenuhan melanda dalam rutinitas pekerjaan anda tersebut, menjadi alasan untuk beralih haluan ke suatu bentuk rutinitas pekerjaan di lain bidang?

Dua pertanyaan di atas telah menemukan jawabannya dalam sepenggal episode kehidupan saya selama 26 tahun ke belakang. Tertulislah dalam sejarah kehidupan saya, saat dimana dengan yakin saya memberikan jawaban "YA" untuk dua pertanyaan tersebut. Suatu titik balik yang akan merubah cerita kehidupan saya sepenuhnya. Titik tersebut adalah ketika saya berhenti dari pekerjaan saya yang terdahulu, dan kemudian menetapkan profesi guru sebagai tujuan karier saya berikutnya. Padahal bisa dibilang, profesi sebagai guru adalah suatu profesi yang benar-benar anyar bagi saya.

Beberapa kali saya diberi pertanyaan oleh kolega saya, "Kenapa sekarang kok menjadi guru?" Melihat seringnya pertanyaan tersebut terlontar kepada saya, saya bisa yakinkan bahwa pertanyaan tersebut didasarkan pada keterkejutan mereka akan keputusan saya yang mendadak 'menceburkan diri' ke dalam profesi yang tiada pernah diduga-duga sebelumnya. Jangankan orang lain, saya sendiri pun tidak pernah mencita-citakan menjadi seorang guru di masa kecil, masa bertumbuh, maupun masa-masa saya mencari pekerjaan. Sehingga dapat dimengerti mengapa beberapa rekan yang saya temui mengajukan pertanyaan demikian. 

Pekerjaan saya yang pertama adalah seorang banker, dimana bagi sebagian orang, jika tidak bisa dibilang semuanya, merupakan 'lahan' yang sangat subur untuk mencari penghasilan yang jumlahnya tidak sedikit bagi kelangsungan kehidupan kedepannya. Saya sendiri mengakui itu. Bertahanlah dalam profesi sebagai banker dan penghasilan besar akan mendatangi anda. Selama anda mampu bertahan dengan tuntutan pekerjaan yang begitu besar, dan rutinitas aktivitas yang cukup sejenis setiap harinya, maka jenjang karier yang sekiranya mapan pasti akan dapat anda raih. Tapi, sekali lagi, bagi saya, kebahagiaan dalam pekerjaan tidak akan dapat ditentukan hanya sebatas dengan besarnya penghasilan berupa gaji yang saya terima dalam kantong saya setiap bulannya. Ada banyak faktor lain yang akan menciptakan suasana berkarier yang nyaman yang dengan sendirinya akan membuat kebahagiaan dalam bekerja berhasil diperoleh. 

Kembali ke pertanyaan sederhana yang saya peroleh setiap kali bertemu beberapa kolega lawas, saya sendiri pun tidak sepenuhnya dapat memberikan jawaban yang memuaskan mereka. Keputusan saya beralih profesi bukan merupakan hal yang sepenuhnya saya sadari akan seperti apa jadinya nanti. Semua itu sudah merupakan rencana Sang Pencipta. Jika bukan karenaNya, saya tidak akan mungkin dapat berada dalam posisi seperti saat ini. Jangankan masa depan yang begitu jauh, kurun waktu 1 menit ke depan saja saya tidak tahu hal apa yang akan dinyatakan olehNya dalam kehidupan saya.

Setahun menjalani profesi sebagai guru, saya pun menemukan kebahagiaan saya. Mungkin, ini bisa menjadi suatu hal yang sering disebut orang sebagai "passion" saya. Saya sendiri tidak tahu berapa lama saya akan bertahan dalam profesi ini. Selama waktu yang diperintahkan Tuhan untuk saya terus jalani sebagai guru, saya akan siap. Begitu pun ketika Dia katakan untuk berhenti, tidak bisa tidak, saya pun akan menerima hal tersebut. Karena pasti akan ada hal lain yang terbaik, yang sesuai dengan rencana mahabesar yang telah dirancang jauh sebelum saya diberi kehidupan olehNya di dunia ini.

Berbagai cerita saat menjadi guru telah saya alami. Pengalaman-pengalaman baru yang menjadi memori pun tidaklah sedikit. Apapun yang telah dan akan muncul kelak selalu dapat memberikan saya ilmu dan pembelajaran yang membawa saya menjadi pribadi yang semakin dewasa setiap harinya.

Sedikit berbagi pengalaman saya selama menjadi guru. Dibandingkan pekerjaan lain, ada beberapa hal yang sebaiknya dimiliki oleh seorang guru, menurut pendapat saya. Belajar dari pengalaman saya setahun ini. Tidak ada niatan untuk menciutkan hati para calon guru yang telah memutuskan menjadikan profesi ini menjadi pilihan kariernya, maupun yang sekadar ingin mencoba untuk menjalani profesi ini. Profesi guru memiliki tanggung jawab yang besar melebihi profesi lainnya. Tidak sekadar menjadi profesi yang akan bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi ada tanggung jawab moral yang begitu besar di dalamnya, yang membuat profesi ini tidak bisa sekadar dijalani dengan setengah niat dan mengalir begitu saja tanpa ada kesungguhan hati dari sang pelakunya. 

Secuplik saran untuk para calon guru :

1. Jangan jadi guru! Jika anda malas untuk membaca.
Ini saran paling sederhana yang saya sendiri terus perjuangkan untuk dapat giat melakukannya. Membaca. Kegiatan sederhana, dan bisa dilakukan di waktu luang anda kapanpun itu. Namun kadang karena kesibukan yang mendera, membuat kegiatan tersebut tiada dapat terlaksana. Satu hal ini haruslah ada pada anda para calon guru, rajin membaca. Setiap harinya anda akan diperhadapkan pada tumpukan kertas maupun buku yang harus anda baca. Ada banyak manfaat dari kebiasaan anda untuk membaca, seperti yang saya telah alami selama ini. Baik itu untuk membantu saya mempersiapkan materi mengajar, sampai  juga untuk memeriksa hasil pekerjaan anak didik saya. Jikalau hal sederhana ini, yaitu membaca, tidak anda biasakan untuk menjadi rutinitas, maka anda akan kesulitan jika pada akhirnya memilih guru sebagai profesi anda.

2. Jangan jadi guru! Jika anda malas untuk belajar.
Apa sebenarnya tugas seorang murid yang anda pahami selama ini? Mungkin sebagian besar orang akan berkata bahwa tugas seorang murid adalah belajar. Tujuannya adalah supaya mereka pun bisa menguasai materi pelajaran yang seharusnya mereka pahami. Sepanjang proses mereka memahami materi pelajaran mereka, mungkin akan ada waktunya mereka mengalami kesulitan untuk memahami sebuah konsep dari mata pelajaran tertentu. Disitulah peranan seorang guru akan ternyatakan, untuk membantu murid-muridnya memahami pelajaran tersebut. Nah, untuk mampu mengisi peranan tersebut, tentu seorang guru haruslah juga memahami konsep dari mata pelajaran tersebut. Bagaimana caranya? Tentulah dengan cara belajar. Mempelajari setiap mata pelajaran yang harusnya diajarkan olehnya, akan membantu seorang guru untuk mendidik muridnya dengan baik. Sehingga dengan tidak menjadi malas untuk belajar, peranan seorang guru pun akan dapat diembannya dengan baik.

3. Jangan jadi guru! Jika anda tidak dapat mencintai diri anda sendiri.
Mungkin agak membingungkan, namun saya sampaikan bahwa jika anda ingin menjadi seorang guru, anda harus dapat mencintai diri anda sendiri dengan baik. Mengapa demikian? Profesi guru menuntut anda untuk memperhatikan proses tumbuh kembang setiap individu anak didik anda. Memahami karakteristik mereka, kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, dan mendidik mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Itu semua akan dapat tercapai saat anda sudah "utuh" dengan diri anda sendiri. Menjadi "utuh" dalam arti anda telah mampu mencintai diri anda sendiri sepenuhnya, merawat apa yang sudah Tuhan anugerahkan berupa kehidupan anda, kesehatan anda, waktu anda, dan semua yang ada pada anda. Karena sifat dasar manusia adalah egois atau lebih mencintai dirinya sendiri, maka adalah hal yang wajar ketika mereka ingin mencintai orang lain, haruslah sudah tercapai suatu kondisi dimana ia telah mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, barulah mereka dapat mencintai orang lain. Seorang guru pada dasarnya akan selalu termotivasi untuk mencintai setiap anak didiknya, dan demi terwujudnya hal tersebut akan lebih baik jika ada suatu usaha nyata darinya untuk mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, merawat dan memelihara segala apa yang ada padanya, untuk dapat kemudian mencintai setiap anak didiknya.

4. Jangan jadi guru! Jika komunikasi yang baik enggan anda usahakan.
Sebagian manusia, jika tidak bisa dibilang semua manusia di dunia, dianugerahi kemampuan untuk menyampaikan pendapat mereka secara lisan maupun melalui tulisan atau dengan kata lain, berkomunikasi. Mungkin, kemampuan berkomunikasi yang dimiliki seseorang, tidak sama dengan yang dimiliki orang lain. Ada pribadi yang memang memiliki talenta untuk berkomunikasi, sehingga dia dapat menyampaikan ide maupun pemikirannya secara sangat baik. Namun, sebagian yang lain tidaklah demikian. Menurut pendapat saya, jika anda tidak memiliki kemampuan komunikasi yang hebat, tidak perlu berkecil hati atau bahkan merasa minder. Karena saya pun di awal-awal perjalanan karier saya sebagai guru, pernah juga merasa tidak percaya diri untuk berbicara/berkomunikasi di depan anak didik saya. Profesi guru memang mengharuskan anda untuk mengkomunikasikan ilmu yang anda ingin ajarkan, di depan anak didik anda yang mungkin tidak sedikit jumlahnya. Jika anda mengalami kesulitan untuk menjadi percaya diri untuk berkomunikasi di depan orang banyak, usahakanlah agar anda dapat mencapai kondisi yang mampu membuat anda dapat berkomunikasi dengan lebih baik. Berlatihlah untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun melalui tulisan, karena ini akan membantu anda untuk menyampaikan apa yang anda ingin bagikan kepada anak didik anda. Percaya dirilah dengan apa yang akan anda bagikan kepada anak didik anda, ketika anda sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Jika anda merasa bahwa anda bukanlah guru terpintar di antara rekan-rekan anda, milikilah kemampuan komunikasi yang baik, untuk dapat menyampaikan secara jelas ilmu yang anda miliki. Karena seseorang yang sangat cerdas, memiliki pemahaman akan suatu ilmu pengetahuan dengan sangat baik, dan bahkan mungkin cenderung genius, belum tentu bisa menjadi guru yang hebat. Jika semua hal tersebut tidak dibarengi dengan kemampuan untuk berkomunikasi yang baik, dia akan kesulitan untuk membagikan "kecerdasannya" kepada para anak didiknya.

5. Jangan jadi guru! Jika anda tidak suka diajar.
Menjadi guru harus suka diajar? Bukannya kita yang harusnya mengajar anak didik kita? Memang hal itu benar, namun sebelum anda mampu mengajar dengan baik, anda juga harus belajar, dan tak jarang harus juga siap untuk diajar. Oleh siapa? Oleh kolega guru yang lain yang sudah lebih berpengalaman dari anda. Jangan segan untuk mencari ilmu tentang mengajar dari rekan-rekan guru anda. Itu akan membantu anda untuk semakin memahami bagaimana menjadi pengajar yang mampu membagikan ilmu yang anda miliki dengan baik, kepada anak didik anda. Ketahuilah bahwa mereka yang sudah terlebih dahulu berkecimpung dalam profesi guru, tentu pernah berada dalam posisi yang sama dengan yang anda alami saat ini, menjadi seorang guru pemula yang minim pengalaman. Mereka akan mampu memberi sugesti dan tip untuk mengajar dan meresponi setiap situasi yang berbeda yang nantinya mungkin akan anda alami ketika anda mulai melangkahkan kaki menjadi seorang guru. Sehingga anda pun dapat menyerap ilmu yang anda dapatkan dari mereka, untuk anda kembangkan sendiri dalam proses anda menjadi seorang guru yang lebih baik lagi.

https://reversingverses.com/2013/06/08/colossians-323/
Sedikit pengalaman yang saya bagikan semoga bisa semakin memberikan gambaran bagi anda yang mulai berpikir untuk menjadi seorang guru. Mungkin masih banyak hal lain yang semestinya dimiliki oleh seorang guru seiring dengan perkembangan zaman. Sama seperti sebuah ilmu yang sifatnya dinamis, yang akan selalu mengalami perkembangan setiap waktu, begitu juga dengan profesi guru yang akan terus mengalami perubahan. Namun, terlepas dari itu, apapun profesi maupun pekerjaan anda, cintailah apa yang anda kerjakan, dan kerjakanlah apa yang anda cintai. Ketika anda bersungut-sungut dalam pekerjaan anda, bertanyalah dalam hati mengapa demikian. Tidak ada pekerjaan yang benar-benar utuh dapat memberikan kebahagiaan dalam bekerja secara sempurna. Namun ketika anda mampu tetap bersyukur di dalam setiap momen pekerjaan anda, bahkan ketika berada di dalam momen yang sekiranya memunculkan potensi untuk mengeluh namun anda mampu tetap bersukacita, maka tetaplah lakukan pekerjaan anda tersebut dengan sepenuh hati, penuh rasa syukur, seolah-olah anda melakukannya untuk Tuhan dan bukan hanya sekadar untuk manusia. Bukan untuk sekadar mendapatkan penghasilan, namun agar nama Tuhan dapat dipermuliakan melalui pekerjaan anda.