Sabtu, 30 Juli 2016

Perginya Sang Pemberi Inspirasi


Inspirasi. . . Sebuah kata yang penuh makna yang telah menjadi pengisi benak saya dalam beberapa waktu belakangan ini. Menjadi penggerak saya di dalam menjalani langkah demi langkah yang tertempuh untuk suatu yang diharapkan bisa menjadi kebaikan bagi saya maupun orang di sekitar saya. Bisa dibilang setiap apa yang saya kerjakan dalam aktivitas saya, memiliki inspirator tersendiri yang membuat saya betah melakukan hal tersebut. Baik dalam hal pekerjaan, keluarga, hobi, atau yang lainnya. Tiada berbeda dengan profesi yang saya tekuni saat ini. Profesi yang tergolong anyar dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang pekerja, yaitu sebagai seorang guru.

Sebagai seorang guru muda, tanpa pengalaman yang berarti di dalam dunia pendidikan, suatu kewajaran bila pada akhirnya saya mencari sosok yang dapat menginspirasi saya untuk menjadi seorang guru yang lebih baik. Karena begitu minimnya pengetahuan saya tentang dunia pendidikan, alam bawah sadar saya tanpa diberi komando pun berusaha menemukan figur 'idola' yang dapat saya teladani dan saya anut ilmu pengajarannya.

Saya beruntung Tuhan menempatkan saya di tengah kolega yang begitu mendukung perkembangan saya. Tidak ada keseganan yang saya temukan di setiap rekan yang saya kenal untuk memberikan bantuan dalam setiap kesulitan yang saya jumpai di pekerjaan saya. Dukungan, bantuan, maupun ajaran dan wejangan selalu saya dapatkan setiap waktu. Itu membuat saya semakin memahami dunia pendidikan yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan dunia perbankan yang sebelumnya saya kenal.

Di antara beberapa kolega yang saya kenal dan menginspirasi saya, bertemulah saya dengan seorang yang begitu menginspirasi saya melebihi yang saya bayangkan. Teladan yang saya serap darinya begitu mempengaruhi kemajuan saya sebagai guru. Banyak hal-hal positif yang saya temui darinya yang telah mengembangkan saya menjadi seorang pengajar yang semakin baik dari hari ke hari. Karena beberapa alasan itu, saya pun mengidolakannya.

Saya menyebutnya sang inspirator, karena darinya saya mendapatkan banyak inspirasi yang baik yang dapat saya pergunakan untuk mengembangkan kemampuan mengajar saya. Saya belajar banyak hal dari sang inspirator saya tersebut. Kehadirannya memberikan pengaruh baik dalam perjalanan karir saya sebagai seorang pengajar. Orang bilang, masa pertumbuhan yang terbaik bagi seorang anak dimana ia menyerap banyak ilmu pengetahuan adalah di usia dini. Begitu juga saya sebagai seorang guru yang masih "anak-anak", masa krusial untuk banyak belajar adalah di awal-awal saya menjalani profesi tersebut, di usia yang tergolong dini dalam perjalanan karir saya sebagai guru.

Sedikit cerita tentang inspirator saya, sebut saja Mr. JJR. Beliau bukan seorang pribumi. Dia hanya tinggal untuk bekerja saja di Indonesia, bukan untuk menetap. Saya tidak banyak mempunyai informasi tentang berapa lama sudah dia menetap di sini. Komunikasi yang dapat kami lakukan adalah dengan kata-kata berbahasa Inggris. Karena beberapa sebab, ada jarak yang tercipta antara kami dikarenakan perbedaan budaya, bahasa, dan pemikiran. Dengan posisi beliau sebagai seorang atasan, rasa hormat pun ikut andil dalam membentuk relasi saya dengan beliau. Bila ada pembicaraan yang terjadi di antara kami, mungkin itu sebatas urusan sekolah yang berhubungan dengan masalah murid, kurikulum, atau yang lain-lain. Sangat jarang tema pembicaraan kami tentang sesuatu hal yang bersifat santai. Meskipun demikian itu tidak mengurangi kekaguman saya terhadap beliau. Dengan kecerdasan pikiran yang terlihat dari setiap kegiatan mengajar yang dia pimpin, bukan suatu hal yang aneh jika dia menempati posisi yang kedua dari atas dalam struktur organisasi sekolah saya.

Dengan semua kelebihan itu, Mr. JJR tidak segan untuk berbagi ilmu dan tips untuk mengajar dengan lebih baik. Pernah sekali waktu Mr. JJR datang ke kelas saya untuk melakukan supervisi atas cara saya mengajar. Satu yang saya suka dari dia adalah dia tidak hanya duduk diam dan mendengar saya mengajar, namun juga adakalanya dia akan memberi sugesti tentang apa yang patut juga untuk disampaikan kepada para murid. Hal tersebut sangat membantu saya untuk mengevaluasi apa yang perlu ditingkatkan dari cara saya mengajar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Dalam hal ini, saya pun memerlukan orang lain untuk memberikan penilaian akan apa yang saya kerjakan, dan itu sedikit banyak terpenuhi dengan kehadiran Mr. JJR.

Semakin lama saya menjalani profesi sebagai guru yang selalu memunculkan hal baru di setiap harinya, dengan dikelilingi oleh teman sejawat yang mampu menghadirkan atmosfer kerja yang menyemangati saya untuk selalu berkembang, telah menjadikan profesi ini menjadi primadona dalam hati dan pikiran saya. Saya merasa bahwa ini adalah suatu profesi yang sudah seharusnya saya pilih sejak dari awal saya terjun ke dunia pekerjaan. Ditambah dengan kehadiran para inspirator-inspirator dalam profesi tersebut, saya semakin memantapkan hati untuk bertahan dalam pilihan saya.

Momen terakhir bersama, Graduation Grade 6 

Sampailah saya pada suatu hari yang tenang, terlihat lazim, dan seperti tidak ada kejutan yang akan hadir, ternyata memunculkan sebuah kabar yang cukup menggetarkan hati ketika mendengarnya. Sang inspirator yang selama ini menjadi panutan saya itu akan segera meninggalkan pekerjaannya di tempat itu. Sore itu saya menerima kabar dari rekan kerja satu kelas paralel saya, dan fakta tersebut cukup menggoyahkan semangat saya. Mungkin memang, beliau hanya manusia biasa yang tidak bisa tidak, pasti memiliki kekurangan jua. Namun, terlepas dari semuanya itu, dia tetaplah sebuah tokoh yang menginspirasi saya. Terbayang dalam benak saya bahwa beberapa waktu lagi perpisahan akan terjadi, dan kebersamaan akan berakhir. Layaknya sebuah roda kehidupan yang berputar setiap waktu, setiap perjumpaan selalu lengkap dengan sebuah perpisahan.

Itulah hidup, tidak bisa selalu seperti apa yang jadi keinginan kita. Meratapi keadaan yang terasa menyedihkan pun tidak akan merubah kenyaataan bahwa keadaan itu nyata dan harus terjadi. Memilih untuk terus maju dan melakukan apa yang memang baik adalah pilihan bijak yang perlu diambil. Setiap hal yang terjadi pasti sudah ada yang mengatur dan merencanakannya. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa. Ada waktu untuk menanam, dan ada waktu untuk menuai hasil. Untuk segala sesuatu ada masanya (Pengkhotbah 3 : 1). Satu hal yang pasti, apapun yang kita butuhkan, kecil ataupun besar, hal sederhana maupun hal yang paling rumit sekalipun, pasti akan disediakan olehNya. Kita hanya perlu melakukan bagian kita dan mempercayakan hal-hal yang tampak mustahil untuk diwujudkan olehNya.

Seperti sebuah "salam perpisahan" yang disampaikan Mr. JJR dalam pertemuan persekutuan rutin antar para guru di sekolah kami, yang bertemakan waktu, bahwa waktu yang ada adalah terbatas dan tidak akan dapat diputar kembali. Manfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin karena kita tidak pernah tahu seberapa panjang waktu yang kita miliki. Hidup memang selalu memunculkan misteri untuk dijalani oleh manusia, namun yang jelas, semua akan menjadi indah pada waktunya.

- Di setiap sebuah pertemuan, perpisahan akan siap mengiringi. Namun tatkala perpisahan itu terasa cukup berat untuk dilalui, biarlah penghiburan melalui pengharapan akan perjumpaan di lain waktu dan tempat, mampu mengobati.-

Teruntuk : Sang Pemberi Inspirasi. . .

Thank you for your inspiration!