Selasa, 19 Juli 2016

Ungkapan Rindu dari Sang Sulung

19 Juli 2012, selalu menjadi tanggal yang terkenang sebagai memori di dalam ingatan saya. Tepat pada tanggal tersebut, seorang anggota keluarga saya, yaitu papa saya, harus meninggalkan saya dan keluarga saya, kembali ke rumah Bapa di surga. Suatu peristiwa yang tidak pernah sedikitpun terbayang dalam benak saya dan keluarga. Bahkan untuk sekadar terpikirkan pun tidak. Namun mau tidak mau itu adalah kenyataan hidup yang harus diterima.

Jika menilik kembali kejadian pada waktu itu. Semua memang berlangsung begitu cepat. Tanpa ada satu tanda apapun yang mampu membuat kami bersiap diri. Kepergian beliau memang bagaikan petir di kala hujan datang, yang hadir begitu cepatnya. Dukacita terasa begitu mendalam, karena kami baru saja merasakan sukacita yang besar karena beroleh berkat Tuhan yang berlimpah dalam keluarga kami. Beliau pun masih sempat merayakan pertambahan usianya yang ke-47 tahun pada bulan sebelumnya. Sungguh, bagai menaiki roller coaster yang berjalan naik turun, seperti itulah yang keluarga kami rasakan tatkala harus menerima kenyataan pahit yang terjadi, yang mengiringi kebahagiaan hidup yang boleh hadir melengkapi.

Selang waktu berlalu, saya dan keluarga pun telah semakin kuat untuk melanjutkan kehidupan kami. Kami telah lila melihat beliau yang selama ini ada bersama kami, harus pergi meninggalkan kami. Memang tidak mudah pada awalnya. Bagaikan badai besar yang menerpa sebuah kapal, demikianlah kiranya guncangan yang mendera "bahtera" kehidupan keluarga kami, terombang-ambing dan bahkan mungkin nyaris tenggelam. Namun di tengah semuanya itu, kami bersyukur karena kami memiliki pegangan hidup kami, Tuhan Yesus, Allah yang Mahabesar dan selalu menjadi sahabat sejati kami di kala senang maupun susah.

Hari demi hari dalam kelanjutan kehidupan saya bersama keluarga saya, tiada satupun yang terlewati tanpa kerinduan akan hadirnya papa saya. Segala kenangan indah yang pernah saya lalui berdua bersama beliau tidak akan dapat terlupakan. Beliau bukan tipe orang yang memberi teladan melalui nasihat berupa kata-kata. Lebih sering berupa tindakan nyata. Mungkin dari sanalah diri saya terbentuk dan tertempa sehingga dapat menjadi seperti sekarang. Saya sendiri pun sama seperti papa saya, lebih banyak memberikan contoh kepada lingkungan sekitar saya dalam bentuk perbuatan konkret ketimbang melalui kata-kata bersifat basa-basi. Saya sadar kemampuan terbaik saya bukanlah berkomunikasi secara lisan, persis seperti papa saya. 

Beliau juga merupakan orang yang paling sabar yang pernah ada dalam hidup saya. Sangat jarang, jikalau tidak bisa dibilang tidak pernah, beliau marah kepada saya maupun keluarga saya. Selain itu beliau merupakan orang yang tidak segan untuk berbagi kepada siapa saja, baik itu kepada kami sebagai keluarga intinya, saudara-saudara, maupun rekan kerjanya. Mungkin itu salah satu cara beliau mengucap syukur atas berkat Tuhan yang berlimpah dalam kehidupannya. Terlepas dari segala kekurangan yang pasti ada dalam dirinya, saya bisa menjadi seperti saat ini pun tidak bisa dimungkiri juga karena ada pengaruh dari beliau dalam kehidupan saya. Seperti sebuah ungkapan, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.", begitulah saya dan papa saya.

Saya bukan tipe orang yang begitu mudah menunjukkan apa yang saya rasakan dalam hati saya. Begitu juga dengan kesedihan yang terasa ketika kepergian papa saya, tidak serta-merta saya tunjukkan melalui tetesan air mata atau muka yang muram. Bukan berarti saya tidak merasakan kesedihan, namun saya cenderung menyimpan itu di dalam batin saya, dan bisa tetap terlihat tegar walaupun peristiwa yang terjadi sungguh berat untuk diterima. Lebih sering, saya mampu mengungkapkan perasaan hati saya melalui sebuah tulisan yang terangkai menjadi sebuah puisi atau lagu atau mungkin tulisan seperti yang anda baca ini. Begitu pula yang saya alami tak lama setelah kepergian papa saya. Saya terinspirasi untuk menuliskan sebuah lagu sederhana, yang menceritakan tentang ungkapan terima kasih saya kepada segala teladan yang diberikan kepada saya oleh beliau. Berjudul "Ayah (mendewasakanku)", seperti inilah lirik dari lagu tersebut. . .

Begitu banyak hal yang kau ajarkan
Besar arti hadirmu di dalam hidupku
Kaulah penopang dan perlindunganku
Saat ku tak pernah memanggil kau Ayah

Seringkali ku sakiti hatimu
Tak jarang ku mengabaikan semua katamu
Namun kau tetap setia di sampingku
Menjagaku, menguatkan
Disaat aku terjatuh dan terpuruk

Reff:
T’'rima kasih untuk semua yang kau beri
T’'rima kasih untuk semua yang ku t’rima
Walau hanya singkat, setiap pengorbananmu
Kan s’lalu terkenang di dalam langkah hidupku

Maafkan ku yang tak bisa banggakanmu
Maafkan ku yang tak bisa buatmu tersenyum
Namun perjalanan ini, jujur telah mendewasakanku

Seringkali, karena inspirasi yang saya peroleh dari seseorang, lagu, puisi, maupun tulisan yang saya ciptakan akan saya bagikan kepada orang yang menjadi sumber inspirasi dari lagu tersebut. Hal tersebut saya lakukan sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih saya kepada mereka, sang inspirasi saya, karena telah membuat saya mampu menciptakan rangkaian kata hingga menjadi sebuah lagu yang dapat diperdengarkan, atau puisi dan tulisan yang dapat dibaca. Begitu juga kerinduan besar yang hanya dapat saya pendam adalah saya ingin memperdengarkan lagu sederhana tersebut kepada papa saya. Karena beliaulah, saya mampu menjadi seorang Adit yang dewasa, yang masih dan akan selalu berjuang untuk menjadi berkat dan inspirasi bagi siapapun. Namun saya sadar bahwa memperdengarkan lagu tersebut kepada beliau bukanlah suatu hal yang mungkin dicapai. Beliau sudah bahagia bersama Sang Pencipta kehidupan, dan tak ada kondisi yang lebih baik dibandingkan hal tersebut. 


Memori di Pulau Bali

4 tahun sudah beliau pergi. 4 tahun masa-masa kehidupan tanpa kehadiran beliau telah terlewati. Sekali lagi, tidak ada satu hari pun terlewat tanpa kerinduan akan hadirnya beliau. Begitu banyak cerita yang ingin saya bagi bersamanya. Begitu banyak momen yang ingin saya lewati bersamanya. Namun sebuah perjumpaan, pasti akan selalu diiringi oleh perpisahan. 47 Tahun bersama, serasa tidak cukup lama untuk dapat melewati kehidupan bersama-sama. Biarpun demikian, segala apa yang telah menjadi memori, tidak akan dengan mudah terhapuskan. Menuliskan tulisan ini pun membawa saya ke dalam suasana pilu yang tak terperikan. Tak ada air mata yang menetes, namun kesedihan dan kerinduan kepada beliau selalu ada dalam hati. Walaupun tidak dapat mengobati, biarlah sebuah "Ungkapan Rindu dari Sang Sulung" ini menjadi sebuah doa yang terucap dari seorang anak yang rindu akan kehadiran orang tua laki-lakinya.