Sabtu, 06 Agustus 2016

Ketika banyak alasan untuk mengeluh, bersyukurlah.

Terkadang kita diharuskan untuk mengalami suatu hal yang di luar dari rencana kita. Kita merencanakan segala sesuatunya dengan sangat baik, namun harus tidak terlaksana karena ada hal diluar perkiraan yang tiba-tiba saja terjadi. Demikian  pula yang saya alami. Suatu ketika saya pernah berada dalam suatu kondisi yang tidak saya inginkan. Saya harus berada dalam suatu kegiatan yang sesungguhnya tidak ingin saya ikuti, namun mau tidak mau harus saya hadiri. Kegiatan tersebut selain bukan kegiatan yang telah saya rencanakan sebelumnya, juga merupakan kegiatan yang sangat menyita waktu, tenaga, dan pikiran saya. Menyita waktu, karena selama 6 hari berturut-turut saya harus mengikuti keseluruhan rangkaian kegiatan tersebut. Meskipun saya sadar bahwa pasti ada sesuatu yang akan bisa saya dapatkan dari kegiatan tersebut, yang merupakan sebuah kegiatan pelatihan yang akan dapat meningkatkan kompetensi saya sebagai seorang guru.

Ada beberapa alasan yang mendasari ketidakinginan saya untuk menjalani kegiatan tersebut. Salah satunya, karena saya sebenarnya bisa menggunakan waktu yang terpakai untuk kegiatan pelatihan tersebut, untuk kegiatan lain yang bersifat santai. Ketika itu sebenarnya saya masih memiliki jatah hari libur sekolah yang masih belum berakhir. Namun terpaksa harus saya akhiri lebih cepat dari jadwal karena adanya kegiatan tersebut. Selain itu, saya terpaksa membatalkan beberapa rencana kegiatan yang lain yang telah saya rencanakan sebelumnya. Bahkan saya pun terpaksa membatalkan rencana pelesir yang telah saya jadwalkan bersama seorang sahabat lawas yang akan berkunjung ke Surabaya pada waktu yang bersamaan dengan kegiatan pelatihan itu. Di luar dua alasan tersebut, saya juga harus merelakan hari libur saya yang menjadi hari libur orang-orang pada umumnya dan juga merupakan hari libur dari hari kerja saya, yaitu hari sabtu dan minggu, untuk mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan tersebut yang memang berlangsung selama 6 hari mulai hari Selasa sampai dengan hari Minggu.

Alasan-alasan tersebut mampu membuat saya bermuram durja tatkala menjalani kegiatan pelatihan tersebut. Saya menjadi tiada bersemangat, tidak mampu tersenyum tulus, dan mungkin tingkat stress saya pun meningkat. Pada hari pertama kegiatan tersebut, saya secara jujur mengakui bahwa saya mengikuti kegiatan tersebut dengan setengah hati. Tubuh fisik saya mungkin memang berada di lokasi pelaksanaan kegiatan tersebut, namun hati dan pikiran saya berada di tempat lain. Seolah ingin menghibur diri dan merasa bahwa itu adalah hal wajar yang terjadi karena keadaan yang tidak menyenangkan tersebut, saya tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan tersebut. Saya melakukan pembiaran terhadap suasana hati dan pikiran saya yang mengeluh karena harus mengikuti pelatihan tersebut. Saya malah terpikir akan kegiatan lain yang sudah saya rencanakan. Padahal, seperti diketahui, dalam banyak hal, yang tersulit biasanya adalah pada saat kita akan memulai sesuatu. Dengan adanya kondisi awal diri saya yang murung dan mengeluh seperti itu, saya pun pesimis akan dapat mengikuti keseluruhan kegiatan tersebut dengan semangat maupun sukacita penuh.

Sedikit demi sedikit saya mencoba mengumpulkan semangat saya yang seharusnya tersedia untuk saya habiskan untuk menjalani kegiatan tersebut. Saya tanamkan dalam pikiran saya bahwa terkadang kondisi yang tidak menyenangkan bisa saja terjadi dalam hidup. Hidup tidak bisa melulu menjadi seperti apa yang saya inginkan. Kadang rencana-rencana paling mendetail yang telah saya buat dan rencanakan pun dapat berubah secara drastis ketika saya jalankan. Terlebih lagi ketika Tuhan melihat bahwa apa yang saya rencanakan tersebut tidak sesuai dengan kehendakNya, maka dengan mudahnya Dia akan merubahnya menjadi rencana yang sekiranya terbaik untuk saya. Sebaik-baiknya kesempurnaan rencana buatan saya sebagai manusia ciptaan, tidak akan mampu mengalahkan rencana Tuhan yang pasti terbaik untuk hidup saya.

Menyadari kenyataan itu saya pun mulai menyusun alternatif rencana kegiatan saya dengan menambahkan kegiatan pelatihan yang harus saya jalani tersebut ke dalamnya. Saya pun menelpon seorang saudara, mengatakan bahwa saya harus membatalkan kedatangan saya ke dalam salah satu acara besar yang akan dia adakan. Memang sebelumnya saya telah menjadwalkan untuk dapat hadir dalam suatu acara yang direncanakan pada hari Sabtu yang bertepatan dengan kegiatan pelatihan yang saya ikuti. Begitu juga dengan sahabat saya yang akan berkunjung ke Surabaya, saya pun menginfokan kepadanya untuk merubah rencana kegiatan saya yang akan saya jalani untuk menemani dia selama berada di Surabaya. Saya pun menyampaikan kepadanya bahwa saya tidak dapat menemaninya untuk pelesir sesuai rencana yang kami buat sebelumnya. Kedua orang tersebut pun dapat mengerti alasan saya untuk tidak dapat memenuhi rencana saya yang terdahulu karena ada kegiatan pelatihan yang tidak dapat saya tinggalkan, dan saya juga menawarkan alternatif lain untuk menggantikan rencana awal yang tiada mungkin dapat saya penuhi.

Seketika itu saya pun mulai kembali menemukan sukacita saya yang sempat hilang. Tuhan menggantikan kesedihan saya dengan kebahagiaan dalam waktu yang relatif singkat. Sungguh luar biasa kuasaNya yang mampu mengembalikan antusiasme saya untuk mengikuti kegiatan yang akan berlangsung hampir seminggu lamanya. Saya pun menyadari bahwa kondisi saya yang semula penuh keluhan dan cenderung murung dipengaruhi oleh pikiran saya akan hal-hal yang belum tentu terjadi. Saya kecewa harus membatalkan beberapa jadwal acara yang sekiranya menyenangkan, namun Tuhan memberikan rencana lain yang juga dapat mengobati kesedihan saya. 

Di hari kedua pelatihan tersebut saya mulai bisa mengikutinya dengan antusias. Saya berusaha mengikuti setiap materi yang diberikan dengan penuh semangat. Begitu juga dengan aktivitas individu maupun kelompok yang saya harus kerjakan, saya kerjakan semampu saya. Saya berusaha memberikan yang terbaik yang mampu saya berikan. Mengeluh bukan pilihan karena tidak akan dapat merubah keadaan. Hanya akan membuatnya semakin runyam, dan semakin meruntuhkan semangat saya untuk menjalani pelatihan tersebut. Toh, saya tidak sendirian. Beberapa rekan dari sekolah saya maupun sekolah lain pun juga ikut merasakan kondisi yang sama dengan saya. Saya pun pada akhirnya dapat menyelesaikan keseluruhan rangkaian kegiatan pelatihan tersebut, memperoleh banyak ilmu baru, maupun rekan-rekan sejawat baru dari berbagai macam sekolah di Surabaya.

Sedikit pesan dari kegiatan yang saya ikuti saya coba tuliskan disini, melalui tulisan ini. Beratkah mengikuti pelatihan tersebut? Bisa dibilang demikian. Menjalani proses terkadang tidak mudah. Namun untuk banyak hal, sebuah proses menjadi lebih penting ketimbang hasil itu sendiri. Karena melalui proses itu kita dibentuk menjadi pribadi yang semakin baik. Apakah melelahkan mengikuti pelatihan tersebut? Pasti. Ada harga yang harus dibayar untuk mencapai suatu hasil yang ditargetkan. Ketika ingin target kegiatan pelatihan yang direncanakan dapat digapai, harga yang harus dibayarkan adalah waktu yang berjalan untuk mengikuti kegiatan, pikiran yang berlelah untuk terfokus pada aktivitas yang harus dikerjakan, dan tenaga yang tergunakan untuk menyelesaikan rangkaian kegiatan.

Terlepas dari itu semua, saya cukup bahagia dan bersyukur bisa mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan tersebut. Menjadi guru yang terpilih dari sekian banyaknya nama guru maupun sekolah di Surabaya yang bisa saja mengajukan diri untuk berusaha mendapatkan posisi sebagai peserta pelatihan yang saya dapatkan secara percuma, membuat saya begitu bersyukur. Seberat-beratnya kondisi yang saya alami, saya yakin ada jutaan atau miliaran orang di luar sana yang mengalami kondisi yang lebih berat dan bahkan sangat berat melebihi apa yang saya alami. Tetapi biar bagaimanapun, itu tidak melebihi kemampuan masing-masing pribadi untuk menghadapinya.

Ketika hidup terasa berat dan penuh dengan masalah, bersyukurlah. Karena dari sana anda diproses menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ketika anda harus mengubah rencana anda untuk suatu hal lain yang tidak anda inginkan atau prediksikan sebelumnya, bersyukurlah. Karena Tuhan telah menunjukkan sesuatu yang lebih baik melebihi rencana kita akan hidup kita.

Ketika ada banyak alasan atau masalah yang mendorong anda untuk mengeluh, bersyukurlah. Karena akan selalu lebih banyak alasan untuk bersyukur ketimbang sekadar mengeluhkan setiap permasalahan hidup.

Sebanyak-banyaknya alasan atau masalah yang ada dalam hidup kita, yang mendorong kita untuk mengeluh akan kehidupan kita, kita masih memiliki lebih banyak alasan yang mampu mendorong kita untuk bersyukur melebihi segala keluhan kita. Ingatlah selalu bahwa Tuhan pasti dan akan selalu memberikan segala yang terbaik menurut rencanaNya. Apapun yang ada dan terjadi dalam hidup kita, pasti adalah yang terbaik bagi kita dan sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan bukan melulu apa yang kita inginkan. Bersyukurlah!