Sabtu, 17 September 2016

Sekeping Makna Lima Ratus Rupiah

https://www.cleanipedia.com
Saya teringat kembali masa saya menempuh pendidikan sekolah dahulu. Termasuk ke dalam generasi 90an, saya memulai pendidikan saya di tahun 1994/1995. Seorang muda yang sedang berusaha mengenali dunia yang ditinggalinya. Menjejalkan berbagai macam ilmu ke dalam sempitnya ruang pikiran yang kala itu masih terus bertumbuh. Harapan yang terpinta adalah agar kelak saya dapat menjadi anak yang pandai, cerdas, dan juga bisa mandiri. Memang salah satu tujuan sampingannya yang bisa dianggap sebagai "bonus" dari kerja keras yang tertempuh adalah agar kelak saya dapat hidup berkecukupan dan berkelimpahan sehingga tidak harus mengalami masa kekurangan yang dialami ayah ibu saya. Alih-alih meminta, saya diharapkan dapat memberi lebih banyak.

Bertahun-tahun kemudian, status sebagai seorang anak kecil yang apa-apa belum bisa sendiri, telah jauh tertinggal di belakang. Kemandirian telah tercapai, walau belum utuh. Sekalipun demikian, satu hal yang tetap tinggal adalah mudahnya hati saya tergetar oleh menyedihkannya keadaan yang dialami sebagian orang yang sering mayoritas pihak beri label "kurang beruntung". Mudah saja mengiyakan label tersebut, jika melihat timpangnya kecukupan yang boleh ada pada saya dengan sedikit yang mereka punya. 

Saya selalu tergerak untuk memberi setiap kali saya bertemu dengan kesempatan tersebut. Tidaklah layak saya menutup mata dari kaum papa yang (mungkin) hidupnya hanya mengandalkan pemberian dari kelimpahan orang yang mapan. 

Suatu ketika dipertemukanlah saya dengan seorang ibu paruh baya yang meminta-minta di depan sebuah swalayan yang cukup terkenal. Berawal dari perhentian sejenak saya dari perjalanan pulang selepas mengajar, saya selalu melihat ibu tersebut duduk di jalan tanpa ubin dan hanya beralaskan kardus bekas, yang saya yakini bukan merupakan tempat yang terbaik untuk duduk. Kotor, berdebu, mungkin penuh kuman, namun menjadi tempat yang terlihat cukup baginya, jika tidak bisa dikatakan nyaman. Selayaknya kursi empuk yang menawarkan kenyamanan bagi tubuh. Sambil melihat ke dalam swalayan tersebut, dengan raut muka yang terlihat lelah dan kotor, ibu itu menanti uluran tangan para pembeli di sana. Satu waktu yang lain, ibu itu terlihat sedang menyapu halaman parkir swalayan tersebut. Motivasinya samar, namun pikiran saya mencetuskan bahwa ibu itu tetap melakukan hal tersebut walaupun upahnya mungkin hanya sekedar pemberian kecil dari para pengunjung swalayan tersebut.

Saya selalu usahakan untuk dapat memberi sedikit dari apa yang saya punya untuk ibu tua tersebut. Saya sadar bahwa apa yang saya peroleh dalam kehidupan, ada dan nyata untuk dapat dibagikan kepada sekitar, termasuk salah satunya kepada ibu itu. seratus rupiah, lima ratus rupiah, jumlahnya tidak tentu, namun saya selalu usahakan memberi, setiap kali saya singgah di swalayan itu.

Sampai suatu hari, seperti sore yang sudah-sudah, saya kembali ada keperluan di swalayan itu. Ibu tua itu ada disana. Dalam hati saya sudah bertekad untuk memberi kepada ibu itu, selepas keperluan saya di swalayan tersebut selesai nanti. Saya mulai siapkan sedikit uang, waktu itu jumlahnya lima ratus rupiah. Ketika saya mengulurkan tangan untuk memberikan sekeping lima ratus rupiah kepada ibu tua itu, saya tertegun sejenak melihat ibu itu sedang menghitung sejumlah uang logam yang dia punya. Jumlahnya mungkin tak banyak, namun dia cukup antusias menghitungnya. Satu demi satu, semuanya tidak terlewat. Pemandangan tersebut menyadarkan saya akan kenyataan bahwa di mata ibu tersebut, jumlah sekecil lima ratus rupiah pun bisa menjadi harta yang berharga layaknya emas. Sekeping lima ratus rupiah yang bagi saya hanya merupakan uang yang kadang memberatkan saku, dan tidak terlalu besar nilainya dibandingkan uang yang lain, bisa menjadi penghidupan bagi wanita paruh baya peminta-minta itu. Tidak semata-mata jumlah kecil yang nyaris tak bernilai yang diterimanya, namun adanya sikap syukur yang terus dipupuk terlepas dari apapun yang dia alami dan dia terima. 

Memberi tidak pernah membawa saya pada keadaan berkekurangan. Lebih dari itu, ada perasaan syukur yang bergaung dalam hati, karena berkesempatan berbagi kepada sekitar. Tidak melulu pemberian yang besar dan berharga, hal sederhana seperti sekeping lima ratus rupiah pun, telah mampu menghadirkan makna bagi kehidupan singkat yang saya miliki, yang (semoga) akan selalu saya abdikan bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk sekitar dan untuk Sang Pencipta hidup.