Sabtu, 29 Oktober 2016

Kehilangan Tidak Selalu Berarti Kerugian

Suatu Minggu sore, saya lupa tanggal pastinya, saya berencana pergi beribadah di sebuah gereja di Sidoarjo. Saya membawa serta Alkitab saya dan meletakkannya di bagasi kecil motor saya yang ada di bagian depan. Sebenarnya saya tidak yakin bahwa bagasi itu akan mampu menyimpan dengan aman Alkitab saya yang umurnya mungkin seumur satu dasawarsa. Namun saya tetap memaksakan untuk meletakkannya disana. Sepanjang perjalanan saya mengendarai motor saya tanpa berawas-awas bahwa Alkitab saya bisa saja jatuh. Benar saja. Sebelum sampai di gereja yang saya tuju, Alkitab saya hilang entah kemana. Saya tidak berusaha berhenti untuk mencari di suatu tempat tertentu, karena saya menerima itu sebagai konsekuensi dari kecerobohan saya. Perasaan kecewa muncul dalam diri, karena itu adalah Alkitab yang sangat saya jaga. Ada tulisan doa dari mama saya tertulis disana. Terlebih, itu merupakan Alkitab saya yang pertama. Tentu banyak momen yang sudah terjadi dimana saya menggunakan Alkitab tersebut. Namun di sisi lain, saya merasa damai dalam hati saya, karena mendapat pemikiran bahwa mungkin orang yang "lebih membutuhkan" Alkitab tersebut yang menemukannya. Alkitab saya memang hilang, namun kerugian tidaklah mengiringinya. Tak berapa lama, tetap dalam perjalanan ke gereja, sebelum sampai di sana, saya merasakan ada sesuatu di dekat kaki saya. Ternyata, Alkitab pertama saya itu hanya terjatuh di bagian kaki pada sepeda motor saya. Saya merasa senang dan lega karena Alkitab kesayangan saya dapat ditemukan dan tidak hilang.

Saya yakin bahwa kita semua pernah merasakan kehilangan. Entah itu kehilangan orang terkasih yang selalu ada bersama-sama kita dalam jangka waktu tertentu, ataupun kehilangan suatu benda yang sangat-sangat kita jaga, apapun itu. Ada satu rasa yang sama ketika kita kehilangan. Seolah ada yang berkurang dalam hidup kita.
http://www.hujanpelangi.com/wp-content/uploads/2014/05/lost.j
Apa saja yang ada pada kita maupun apa yang kita punyai, pasti akan mengalami masa dimana sesuatu itu rusak atau mungkin berpindah kepemilikan kepada orang lain. Karena berbagai macam alasan, kita tidak selalu bisa menjaga semua yang ada bersama kita untuk jangka waktu selamanya, atau seumur hidup kita. Tak ada yang abadi, kecuali Tuhan Allah. 

Ada pilihan bagi kita ketika mengalami kehilangan. Satu pilihan adalah meratapi kehilangan kita secara berkelanjutan. Atau, move on dan melanjutkan kehidupan kita tanpa terus mengenang kehilangan kitaMemang tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa ada sesuatu dari kehidupan kita yang harus pergi, tapi bukan berarti kita tidak bisa kuat menghadapi itu. Jika kita menanamkan dalam hati dan pikiran kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia tidaklah benar-benar kepunyaan kita, maka kita tidak akan merasakan kerugian ketika kehilangan itu terjadi. Anggap saja Tuhan telah memberikan kita kesempatan untuk menikmati kebersamaan bersama orang terkasih maupun untuk memiliki sesuatu, dan masa itu telah selesai. Sehingga kita harus mengalami kehilangan. Sesuatu yang tadinya adalah kepunyaan kita akan berpindah kepada orang lain yang "lebih membutuhkan". Pun juga dengan kehilangan orang terkasih, mereka sudah mendapat persinggahan yang lebih baik, sampai mereka bertemu dengan Sang Pencipta. 

Kehilangan pasti akan terjadi. Tidak bisa tidak. Namun, kehilangan tak selalu berarti ada kerugian yang mengiringi. Hanya sebuah bagian kecil dari keseluruhan perjalanan kehidupan. Bentuk kasih dari Sang Pencipta untuk mewujudkan rencana besarNya yang indah dalam kehidupan kita.