Jumat, 09 Desember 2016

Bercerita Tentang UNAIR

Gedung Rektorat di Kampus C UNAIR (dokumentasi pribadi)


Bercerita secuplik kisah almamater saya, Universitas Airlangga, atau banyak juga dikenal UNAIR, menggugah hasrat dalam hati. Memori pun seolah terpanggil untuk menampilkan semua yang terekam dalam ingatan. Bukan, bukan tentang perkara akademis atau keorganisasian yang ada, tapi berikan saya perkenan untuk menceritakan pengalaman seru semasa menjadi mahasiswa. 

Sejenak mundur kembali pada saat saya berkesempatan belajar di perguruan tinggi, saya seolah merdeka dari tekanan studi yang bertubi-tubi di masa sekolah. Mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA. Digempur dengan berbagai macam pr (pekerjaan rumah), latihan, tes, ujian, dan sebangsanya, aduhhhh! Seakan tiada henti. Karena itu, euforia lulus dari tingkat sekolah begitu hebat terasa. 

Lepas dari itu semua, berubah status menjadi mahasiswa, saya merasa berstatus setengah pelajar, setengah penganggur. Lengangnya jadwal perkuliahan yang saya jalani sukses membawa saya terlena mengisi jam kosong tanpa ada kuliah untuk berkelana ke seluruh bagian dari universitas saya, UNAIR. Mulai dari kampus A, tempat para ahli kesehatan (baca : dokter) menempuh studi, kampus B, tempatnya para lulusan jurusan ilmu sosial di sekolah dulu (termasuk saya sendiri) menuntut ilmu, sampai ke tempat para pembelajar pengetahuan alam berkumpul, kampus C. 

Status pengelana yang saya nikmati di semester-semester awal saya berkuliah, memastikan status mahasiswa "NASAKOM" (nasib satu koma) berhasil saya genggam. Cukup menggelikan walaupun memalukan, tapi saya memang "sukses" mendapatkan IPK satu koma, karena terlalu asyik menikmati kelengangan jam kuliah dengan berkelana seisi UNAIR. Biar sajalah saya dapat IPK satu koma di awal perkuliahan, yang penting saya jadi kenal beberapa tempat di almamater saya. Sering saya mendapatkan teman dari berbagai fakultas yang ada di sana, mulai dari Fakultas Hukum (tempat saya menempuh studi), Fakultas Psikologi, Fakultas Ekonomi, Fakultas Farmasi, dll. Sambil berkelana, menjalin relasi, bekal dunia kerja nantinya.
Fakultas Hukum di Kampus B UNAIR (dokumentasi pribadi)

Satu lagi yang tidak terlupa adalah soal kuliner. Tentu setiap harinya saya perlu makanan yang bisa mengisi perut untuk bekal ikut kuliah. Berkuliah setiap hari rawan membuat lidah bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Maka dari itu saya bersekutu bersama beberapa kolega untuk berkeliling UNAIR, untuk mencicipi rasa dari berbagai makanan yang ada di daerah kampus, baik di luar maupun di dalam kampus. Beberapa makanan yang pernah jadi persinggahan pun masih terbayang selalu citarasa lezatnya. Mulai dari pangsit mie FIB (Fakultas Ilmu Budaya) yang murah namun porsinya banyak, juga soto ayamnya, manisnya waffle FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) yang (sepertinya) semanis para calon dokter dan dokter gigi disana, ataupun kesederhanaan nasi campur Fakultas Psikologi yang juga tak gampang terlupa. Semua punya tempat tersendiri di dalam ingatan.


Apapun itu semuanya punya makna yang tak lekang terhapus waktu. Tahun-tahun berlalu, hingga sekarang hampir 5 tahun saya lulus, selalu ada kerinduan untuk kembali. Bukan sekadar kembali, menjadi bagian dari salah satu universitas terbaik di Surabaya pun akan mengasyikkan. Menjadikan generasi penerus bangsa dapat beradab dan cemerlang dalam pencapaian prestasi dan masa depannya, sesuai slogan yang selalu terngiang dalam ingatan, "Excellent With Morality". Terima kasih, UNAIR!