Sabtu, 09 Desember 2017

Manusia Pasti (Akan) Berbuat Salah

blog.objectiflune.com

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca sebuah status seorang rekan yang dia unggah di salah satu media sosial yang cukup populer yaitu facebook. Di sana dia mencurahkan unek-unek yang mungkin sudah lama dipendamnya dalam hati dan pikiran. Dengan membaca status rekan saya tersebut, saya dapat memahami secara sekilas permasalahan yang dihadapi oleh rekan saya tersebut. Tampaknya cukup berat, sampai-sampai tersurat bahwa rekan saya tersebut merasa sakit hati dengan perkataan seorang yang lain.

Saya pun sejenak bermenung, bagaimana sebuah masalah dapat membuat manusia menjadi sedemikian kecewa dan sedih, bahkan sakit hati. Sekadar informasi, rekan saya ini jarang saya dapati menulis di media sosial miliknya tentang sesuatu yang kurang mengenakkan - terutama masalah personalnya dengan orang lain - yang dialaminya. Jika dia sampai pada titik semacam ini, berarti permasalahan yang terjadi cukup besar, dalam, atau mungkin kompleks. Perkiraan saya. 

Hal ini kemudian mengundang saya untuk berkontemplasi mengenai keberadaan kita sebagai manusia yang tiada lepas dari salah. Keliru, tidak benar, cela, khilaf, atau apapun namanya merupakan satu keadaan yang lekat dengan manusia. Keberadaan manusia yang memang memiliki status "berdosa" sejak lahirnya - dalam artian masih bayi - adalah satu penyebab mengapa kita pasti akan berbuat salah. Baik besar atau kecil, kesalahan tetaplah kesalahan. 

Dampak dari kesalahan yang kita perbuat bisa mengarah hanya pada diri sendiri, pun bisa kepada orang sekitar kita. Apabila itu hanya mengarah pada diri sendiri, mungkin orang sekitar tidak akan terlalu terdampak dengan kesalahan kita, karena yang mengalami efek atau dampak dari kesalahan kita - yang biasanya merugikan - adalah diri kita sendiri. Namun lain cerita jika dampak dari kesalahan kita tersebut adalah menuju orang sekitar kita. Bisa saja orang sekitar menjadi kecewa atas kesalahan yang kita perbuat, dalam kasus yang lebih dalam, menjadi sakit hati. Kesalahan yang biasanya kita lakukan melalui pikiran, perkataan, atau perbuatan, secara sadar atau tidak bisa memberi dampak kepada orang sekitar. Dan kemungkinan besar, dampak yang tidak mengenakkan. 

Jika demikian, ketika kita sudah paham bahwa sebagai manusia kita sangat bisa melakukan kesalahan, yang bisa saja berdampak pada diri sendiri maupun orang lain, bagaimana sikap kita? 


Kita bisa membentengi diri kita sendiri untuk mencegah kekecewaan akibat kesalahan yang dilakukan orang lain. Membentengi diri yang seperti apa? Sebaiknya kita tidak menaruh harapan yang berlebihan kepada orang lain. Sebagaimana yang menjadi rahasia umum, bahwa semakin besar harapan akan sesuatu atau seseorang, maka semakin besar kekecewaan yang mungkin kita terima ketika harapan kita tidak terwujud. Dan sebagai makhluk yang terbatas, manusia sangat bisa mengecewakan sesamanya. Karena itu sebaiknya jangan berharap terlalu tinggi kepada rekan kita manusia apabila tidak ingin dikecewakan. Tanamkan kesadaran bahwa manusia pasti akan berbuat salah, sehingga kita harus selalu siap untuk mengalami keadaan orang lain yang bersalah kepada kita. Namun kita tidak berhak untuk menghukum dengan pembalasan seenak kita karena itu adalah hak Sang Empunya hidup saja untuk menuntut balas. 

Dari sisi kita, tatkala kita yang melakukan kesalahan, ada baiknya tidak meninggikan ego untuk menutupi kesalahan yang kita buat. Berbesar hati dan mengakui kesalahan yang kita buat akan lebih baik daripada terus mengelak dan bahkan melempar kesalahan kepada orang lain. Bukan pilihan yang bijak. Ingat selalu sekalipun manusia bisa luput untuk melihat kesalahan kita, namun Pribadi mahakuasa selalu tahu setiap detik perjalanan kehidupan ciptaannya. 

Kita makhluk yang terbatas adanya. Kesalahan bukan suatu hal yang jauh dari hidup kita. Ada masa dimana kita bisa selalu menjalani hidup seturut kebenaran yang baik adanya, namun lain waktu kita terjerembab dalam kubangan kesalahan. Semuanya proses kehidupan yang mungkin terjadi. Tinggal bagaimana kita kembali ke jalan yang benar setelah melakukan kesalahan, atau menerima keadaan orang lain yang bersalah kepada kita tanpa mengagungkan-agungkan emosi dalam diri, supaya kehidupan tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya. Karena manusia pasti (akan) berbuat salah.

Sabtu, 04 November 2017

Naik Kelas itu Baik

http://www.tubasmedia.com
Sedikit waktu yang telah terjalani agaknya terasa begitu cepat. Secara hitung-hitungan tentu waktu 10 tahun tidak singkat. Jika dikonversikan ke bentuk hari, maka ada sekitar 3.650 hari dalam waktu 10 tahun, di luar tambahan hari di tahun kabisat. Sungguh suatu waktu yang sangat terasa lama jika dijalani hari demi hari.

Namun, waktu 10 tahun tersebut telah terjalani secara mengasyikkan bagi saya. Jika saya mengenang kembali masa saya menjadi seorang murid sekolah menengah atas, sekitar tahun 2006-2008, saya sempat mendapat kesempatan berkunjung ke Kota Bandung dalam sebuah kegiatan study tour. Bersama para guru, saya dan teman-teman mengunjungi beberapa tempat yang mengedukasi di sana. Sebut saja Saung Angklung Udjo, Waduk Jatiluhur, Institut Teknologi Bandung, dan yang lainnya. Semua itu menjadi pengalaman menarik bagi saya dan menjadi pembelajaran juga bagi saya dalam proses menapaki langkah menuju kedewasaan.

Lepas 10 tahun kemudian, waktu berjalan cepat. Saya kembali mendapatkan kesempatan mengunjungi kota Bandung, masih dalam rangkaian acara study tour, namun bedanya adalah saya bukan lagi datang sebagai seorang murid melainkan sebagai seorang guru. Tentu pengalaman saya kali ini akan berbeda dengan pengalaman saya yang terdahulu. Ketika saya sebagai guru maka ada murid-murid yang saya harus pandu untuk mengikuti kegiatan di sana untuk mempelajari sesuatu.

Menarik melihat proses yang saya alami dimana Sang Empunya hidup memproses saya sedemikian rupa untuk dapat “naik kelas”. Maksud saya adalah perubahan status secara drastis yang bisa saya alami tentu merupakan suatu anugerah yang diberikanNya kepada saya. Saya diijinkan untuk menjadi guru dan bukan lagi sebagai murid. Sungguh kebaikan yang memang sedikit bagiNya namun banyak dan besar bagi saya.

Kawan, kita perlu untuk naik kelas dalam hal yang kita jalani. Tentu untuk hal-hal yang positif. Mengapa demikian? Karena kita manusia memiliki kemampuan untuk itu. Kita bisa mencapai hal-hal besar yang bisa tercapai selama kita konsisten berusaha. Pencapaian saya pun tidak semudah memejamkan mata untuk beristirahat saat kita lelah. Ada keringat yang bercucuran, lelah yang melanda tubuh, tantangan yang membentang, dan bahkan tembok ketidakmungkinan yang harus diruntuhkan. Semua itu terangkai apik memproses saya untuk mencapai posisi naik kelas.

Ketika kita akhirnya mampu naik kelas, maka itu menandakan bahwa apa yang kita kerjakan dan usahakan telah mencapai suatu hasil yang baik. Pencapaian tersebut sekaligus sebagai motivator tanpa suara yang begitu lantang menyemangati kita untuk terus mencapai titik yang lebih tinggi dari posisi kita sekarang.

Jika kita belum juga mencapai titik dimana kita bisa naik kelas walaupun kita merasa telah memberikan (nyaris) segala yang kita mampu berikan, mungkin kita perlu melihat lagi posisi kita. Apakah benar kita berada di jalan yang memang harus kita tempuh? Apakah semua yang kita lakukan sudah sesuai dengan yang diperlukan? Jujur saya tidak memiliki jawaban atas pertanyaan tersebut. Kawan-kawan pembaca sendiri yang dapat menjawabnya, dengan melihat pengalaman kehidupan kawan masing-masing.

Pada akhirnya, naik kelas dalam segala hal yang baik itu baik (menurut saya). Karena dengan kita mencapai posisi naik kelas, dapat menjadi motivator keberhasilan ke depan untuk mencapai hal yang lebih besar lagi, dan juga indikator pencapaian kita apakah yang kita kerjakan sudah cukup tepat ataukah tidak. Supaya dari hal kecil nan sederhana yang kita lakukan di awal, bisa terus ditambahkan sesuatu yang besar dan makin kompleks yang dipercayakan kepada kita untuk kita kerjakan. Jadi, jangan patah semangat mengejar posisi naik kelas, karena naik kelas itu baik.

Apakah saya menginspirasi?

Jumat, 06 Oktober 2017

Jangan (Terlalu) Mengandalkan Logika

https://pbs.twimg.com


Manusia adalah makhluk yang luar biasa. Kita sebagai manusia diciptakan dengan kemampuan yang berbeda dari ciptaan Tuhan yang lain. Kita dibekali akal budi maupun pikiran yang sedemikian menakjubkan sehingga tidak satupun ciptaan Tuhan lainnya yang bisa melebihi maupun sekadar menyamai kemampuan manusia dalam berpikir. Sepanjang sejarah manusia hidup di dunia ini sudah banyak pemikir-pemikir hebat yang pemikirannya begitu mempengaruhi dunia. Sebut saja Socrates, Plato, maupun Aristoteles. Pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh tersebut begitu mendunia dan menjadikan mereka tokoh yang menggoreskan catatan sejarah.

Dengan kemampuan yang dimiliki, manusia memang sering menciptakan hal-hal baru yang (mungkin) tidak terbayangkan sebelumnya. Teknologi terus berkembang, ilmu pengetahuan selalu diperbarui setiap waktu, dan dunia kesehatan pun terus dikembangkan. Ini semua hasil dari kemampuan berpikir manusia yang (seolah) tiada batasnya. Jika diberikan waktu, maka akan banyak hal hebat yang belum pernah ada yang bisa dikreasikan oleh manusia. Saya meyakini hal tersebut. Hanya perlu waktu sampai mencapai titik tersebut

Permasalahan yang muncul adalah ketika kita dengan pikiran kita menjadi terlalu khawatir akan sesuatu yang seolah akan terjadi, padahal belum tentu terjadi dan mungkin tidak akan terjadi. Kita melihat suatu pola yang terjadi di sekitar kita yang membuat kita kemudian berpikir secara logis tentang keadaan tersebut sehingga menyimpulkan bahwa sesuatu akan terjadi sesuai pola yang kita lihat tersebut. Kita berlogika akan keadaan sekitar. Semisal kalau kita melihat uang di rekening kita habis dan tanggal kita mendapatkan gaji masih lama, pun juga tidak ada tambahan penghasilan di luar gaji kita tersebut, maka kita cenderung menyimpulkan bahwa kita tidak akan dapat tambahan uang di rekening kita sebelum tanggal gajian kita tiba. Itu contoh sederhana kejadian kita akan berlogika. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), logika adalah suatu jalan pikiran yang masuk akal. Sehingga kalau tidak masuk akal atau tidak sesuai penalaran kita, maka dianggap sesuatu tersebut tidak logis atau tidak sesuai logika. Sehingga dalam contoh sederhana mengenai rekening tadi, mendapat pemasukan secara tiba-tiba adalah suatu hal yang tidak logis atau tidak sesuai logika.

Salahkah jika kita berlogika?

Jawabannya sebenarnya tidak. Sebagai natur kita sebagai manusia, berlogika adalah hal yang biasa dan wajar. Justru aneh kalau kita tidak pernah berlogika karena kita diciptakan dengan kemampuan tersebut. Siapapun kita, pasti ada saat-saat kita akan mampu berlogika dalam keadaan tertentu. Entah itu disadari atau tidak. Manusia sangat bisa berlogika, hanya mungkin kadar kemampuan berlogika setiap orang berbeda-beda. Ada yang sangat pandai berlogika, namun ada pula yang perlu usaha keras untuk dapat berlogika.

Sekarang bagaimana kalau pertanyaannya saya ganti :

Salahkah jika kita terlalu mengandalkan logika?

Kalau pertanyaannya seperti di atas, apa pendapat anda? Kalau menurut saya (boleh setuju atau tidak) tidak semua hal bisa dipikirkan secara logis atau menggunakan logika. Terkadang, ada hal-hal tertentu di luar nalar atau diluar logika yang dapat terjadi dalam kehidupan kita masing-masing. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena ada Pribadi mahakuasa yang memungkinkan hal-hal di luar nalar manusia dapat terjadi. Sehingga saya kira kita akan salah jika kita terlalu mengandalkan logika. Pikiran kita terlalu kecil dan terbatas untuk menampung seabrek informasi yang ada di dunia. Terlalu naïf jika kita merasa kita akan mampu mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak atau belum dapat dijawab (atau mungkin tidak akan pernah terjawab) oleh manusia.

Saya adalah orang yang begitu sering berlogika atas sesuatu hal. Sekalipun sulit untuk tidak terlalu mengandalkan logika, namun saya tetap berusaha dan tetap mensyukuri keadaan saya tersebut. Biarpun demikian, saya selalu takjub atas hal-hal di luar nalar yang terjadi di sekitar saya, yang dijadikan oleh Pribadi mahakuasa yang saya yakini mengatur hidup saya sedemikian rupa. Ketika keadaan sudah sedemikian genting, pertolonganNya selalu tepat waktu, tidak pernah terlambat, dan selalu mampu mematahkan segala pemikiran logis yang sukses membuat kekhawatiran melanda. Mengingatkan saya untuk tidak hanya sekadar mengandalkan logika, namun juga berserah kepada Pribadi mahakuasa tersebut yang melebihi segala logika.

Sebagai pesan, ada waktu yang memang memberi kesempatan bagi kita untuk berlogika. Tidak salah ketika kita menggunakan pikiran kita untuk berlogika akan sesuatu, karena kita mempunyai kemampuan tersebut. Namun, ada masa lain di mana kita sebaiknya mengabaikan logika kita, untuk meredam kekhawatiran kita, karena ada Pribadi mahakuasa yang melampaui segala logika, yang mampu menjadikan segala sesuatu hal di luar pikiran logis kita menjadi seolah semuanya sederhana dan mungkin terjadi. Jadi, jangan (terlalu) mengandalkan logika.

Adakah saya menginspirasi?


Inpirasi lain:

Tatkala Gagal Permulaanmu, Tak Berarti (Pasti) Gagal Kesudahanmu

Ketika Perbuatan, Pikiran, dan Hati Tak Lagi Selaras

Coban Rais : Spot Selfie Baru di Batu

Menabur : Cara Sederhana Menjaga Semangat Kebaikan

Selasa, 05 September 2017

Tatkala Gagal Permulaanmu, Tak Berarti (pasti) Gagal Kesudahanmu


Setiap kita pasti pernah melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Entah apapun itu, namun saya pastikan anda pernah melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Dalam hal pendidikan, ada pertama kali anda membaca buku atau menulis. Dalam hal pekerjaan, ada pertama kali anda bekerja dan berinteraksi dengan rekan anda dengan status seorang karyawan/pekerja/pengusaha. Dan dalam sebuah hubungan, ada pertama kali anda tertarik kepada lawan jenis, dan menjalin hubungan yang serius dengan seseorang.

Untuk semua hal, ada pertama kalinya.

Tidak selalu apa yang menjadi kesempatan pertama kita melakukan sesuatu berjalan dengan lancar. Ada anggapan orang yang menyebut bahwa, "Yang tersulit dari sesuatu hal adalah memulainya", atau, "The beginning is the hardest". Setujukah anda?

Mengapa bisa muncul anggapan semacam itu? Saya coba menelaah. Ketika kita akan melakukan sesuatu untuk pertama kalinya, kita akan bertemu dengan suatu kondisi yang baru, keadaan yang baru, yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Karenanya, perlu adaptasi untuk dapat melancarkan usaha kita melakukan sesuatu tersebut. Meskipun sebenarnya itu hal yang sepele, tetap saja permulaan kita melakukannya tidak (selalu) mudah.

Dari situlah mungkin muncul anggapan orang seperti yang saya sebutkan di atas. Tidak semua orang mampu melakukan sesuatu untuk yang pertama kali dengan lancar dan sukses. Ada orang yang pada akhirnya mengalami kegagalan ketika menghadapi masa pertama dalam melakukan sesuatu.

Apakah kegagalan di awal selalu berarti kegagalan sampai akhir?
Ini menjadi suatu stigma yang melekat pada masyarakat. Kadang kita menilai kemungkinan keberhasilan seseorang hanya dari hasil di awal yang diperolehnya. Jika seseorang berhasil dengan baik di awal, kita sontak menganggap dia akan mencapai sesuatu yang besar di kemudian hari. Sebaliknya, saat kita menemukan seseorang yang belum apa-apa sudah mengalami kegagalan, kita langsung memberi cap pada orang tersebut sebagai orang yang gagal.

Padahal, tidak selalu orang yang berhasil adalah orang yang berhasil di awal, dan tidak selalu orang yang gagal adalah orang yang gagal di awal. Ada orang-orang besar dan terkenal di seluruh dunia yang mengalami kegagalan di awal. Berkali-kali malah. Namun mereka tidak menyerah sehingga dapat mencapai posisi yang berhasil, dan dikenang banyak orang.

Walt Disney pernah dipecat oleh editor surat kabar karena dianggap tidak memiliki ide dan imajinasi yang bagus. Namun dia berhasil membuat karyanya dinikmati anak-anak seluruh dunia.

Harland David Sanders pernah mengalami penolakan resep yang dibuatnya sekitar 1009 kali. Namun sekarang kita bisa menikmati ayam kreasinya yaitu KFC.

Thomas Alva Edison mengalami 1000 kali kegagalan dalam melakukan penemuannya. Namun sekarang dunia menjadi terang benderang karena bola lampu yang diciptakannya.

Masih banyak lagi tokoh besar dunia yang pernah gagal pada permulaan mereka. Kalau mereka bisa berhasil setelah mengalami kegagalan, maka pastinya anda juga bisa. Selamat mencoba!

Tatkala gagal permulaanmu, tak berarti (pasti) gagal kesudahanmu. 
Adakah saya menginspirasi?


Inpirasi lain:

Ketika Perbuatan, Pikiran, dan Hati Tak Lagi Selaras

Coban Rais : Spot Selfie Baru di Batu

Menabur : Cara Sederhana Menjaga Semangat Kebaikan

Sabtu, 12 Agustus 2017

Hidup Kita Sekadar Pemberian

Dalam beberapa kesempatan saya coba merenungkan apa saja kisah menarik maupun menyedihkan yang menjadi bagian cerita hidup saya. Banyak sekali hal-hal yang sudah terjadi dalam 27 tahun perjalanan hidup saya. Ada yang membuat tersenyum, memunculkan tangisan, menghadirkan suka, atau membawa duka. Lengkap. Karena banyak cerita maka hidup itu indah.

Kalau coba diperbandingkan, tentu cerita hidup saya akan sangat berbeda dengan cerita anda masing-masing pembaca blog ini. Saya tidak bisa mengatakan cerita hidup saya paling indah, paling menarik, paling membahagiakan, atau paling yang lainnya. Siapa saya berani mengklaim seperti itu? Jika diperbandingkan dengan anda, ya tentu ada bagian yang lebih unggul di saya, dan sebagian lain lebih unggul di anda. Kalau dipermasalahkan atau terus-terusan diperbandingkan malah bikin pusing karena tidak akan ada habisnya.

Daripada habis tenaga untuk memperbandingkan hidup masing-masing, lebih baik kita secara pribadi merenungkan pemberian yang kita dapatkan. Pemberian dari siapa? Bisa dari siapa saja yang mau memberi kepada kita. Mau pemberian berupa barang, jasa, bantuan, motivasi, atau apalah bentuknya, semua yang berasal dari orang lain itu namanya pemberian. Jadi kalau kita diberi motivasi untuk maju mengambil suatu keputusan besar, walau tidak ada bentuk fisiknya, itu juga pemberian lo.

Kalau pemberian yang dari Tuhan, apa saja? Banyak juga. Kita bisa membuka mata selepas tidur, itu pemberian. Kita bisa menghirup udara segar tanpa harus bayar(karena banyak juga yang harus bayar untuk sekadar bernafas), itu pemberian. Kalau kita berdoa meminta sesuatu, lalu akhirnya doa kita dijawab Tuhan dan kita dapat apa yang kita doakan, itu juga pemberian. Terkadang, pemberian dari Tuhan sering disebut juga sebagai anugerah. Lalu apa sih yang bukan pemberian dalam hidup? Saya belum menemukan jawabannya. Kalau ada, mungkin bisa dibagikan ke saya, nanti bisa kita diskusikan bersama.

Sudah menikmati hidup sedemikian rupa, kita kadang lupa untuk menghargai setiap proses kehidupan sebagai sebuah pemberian. Sudah diberi tenaga dan badan yang sehat, kita kadang cuma ongkang-ongkang sambil malas-malasan dalam menjalani masa produktif. Padahal, waktu-waktu kita bisa diisi dengan berkarya di bidang pekerjaan atau yang lain yang lebih bermakna. Ini bisa dibilang menyia-nyiakan pemberian.

Sudah diberi kepintaran, cuma dipakai untuk ngapusi (Bahasa Jawa : membohongi) orang yang kurang pintar. Kadang-kadang, ngapusi untuk bisa dapat keuntungan, berupa duit biasanya. Biar tambah banyak duitnya, alasannya.

Lalu setelah banyak duitnya, diberi kekayaan berlimpah, cuma dipakai untuk berfoya-foya dan tidak menggunakan kesempatan diberi kekayaan untuk menolong orang-orang yang kesusahan yang bahkan untuk makan apa dalam sehari saja bingung. Kalau sudah begitu, hidupnya berfaedah tidak? Kok sepertinya belum.

Direnungkan secara mendalam, hidup kita sekadar pemberian. Kita ini bukan apa-apa, cuma debu tanah. Mau menyombongkan diri seperti apa juga percuma. Toh yang kita sombongkan juga pemberian. Masa iya kita menyombongkan sesuatu yang diberi ke kita? Kok ya kurang kerjaan. Kita pintar, karena pemberian. Kita berkecukupan, karena pemberian. Kita tampan, cantik, rupawan, ya juga pemberian, walau ada juga yang pakai perawatan tubuh, yang bikin tambah menarik, tetap saja itu pemberian juga uang yang dipakai untuk perawatannya. Nah, kalau kita tidak punya pemberian sama sekali, kita ini jadi apa?

Ini sekadar perenungan saya. Saya juga mau memberi sedikit kepada anda para pembaca. Kalau mungkin anda kurang berkenan ya monggo (Bahasa Jawa : silahkan), saya tidak memaksa anda harus setuju dengan saya. Hal yang dipaksakan juga tidak baik. Saya ingin sekadar berbagi hasil pemberian Gusti Yesus kepada saya, talenta menulis. Bisanya menulis ya hasilnya tulisan.

Semoga tulisan ini menginspirasi pembaca sekalian untuk berkenan menghitung pemberian yang diterima dari siapa saja dan bersyukur atas pemberian itu. Supaya nanti kalau berkesempatan untuk memberi ke orang lain, atau bahkan ke Tuhan, ya jangan ditahan-tahan. Nanti ada yang mengganjal kalau ditahan-tahan untuk memberi. Kalau sudah begitu nanti terbawa di pikiran lalu sakit. Sudah diberi sehat masa mau sakit? Yuk direnungkan, hidup kita sekadar pemberian.

Adakah saya menginspirasi?

Sabtu, 29 Juli 2017

Ketika Perbuatan, Pikiran, dan Hati Tak Lagi Selaras

http://universologi.blogspot.co.id

Sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang biasanya adalah sesuatu yang kasat mata. Bisa terlihat jelas. Suatu perbuatan seseorang bisa dilihat karena memang perbuatan itu dilakukannya menggunakan (hampir) seluruh inderanya. Baik itu penglihatan, pencium, pengecap, pendengaran, dan peraba. Bisa jadi seluruh indera itu digunakan untuk melakukan suatu perbuatan, atau hanya beberapa dari indera itu saja. Misal untuk makan, berlari, tidur, atau yang lainnya.

Namun, suatu perbuatan yang paling sederhana sekalipun, tidak berdiri sendiri. Ada sesuatu bernama pikiran yang memerintahkan tubuh untuk melakukan perbuatan tersebut. Tidak serta-merta suatu perbuatan terjadi tanpa ada pikiran yang memerintahkannya. Semisal seseorang merasa lapar, maka pikiran akan berkata kepada tubuh untuk kemudian mendorong orang tersebut untuk mengisi perutnya dengan makanan. Atau semisal seseorang merasa mengantuk, pikiran akan memunculkan keadaan yang mendorong orang itu untuk beristirahat atau tidur. Begitu normalnya.

Lantas, bagaimana dengan hati? Apa bagiannya dalam suatu perbuatan yang terlakukan?

Terkadang, hati ikut andil dalam suatu perbuatan tertentu. Utamanya, ketika kita melakukan suatu perbuatan yang berkaitan dengan moral. Jika kita melakukan sesuatu yang dirasa benar, baik oleh penilaian kita maupun penilaian publik, maka hati akan terasa damai. Sebaliknya, tatkala perbuatan yang terlakukan adalah sesuatu yang tidak benar, hati terasa tidak tenang. Begitu normalnya. 

Bagaimana kalau hati terasa damai, baik ketika melakukan suatu yang benar atau salah tanpa memandang perbuatan seperti apa itu? Kondisi itu (mungkin) terjadi pada sebagian orang. 

Lalu, kalau semua terbalik? Hati terasa damai ketika melakukan apa yang salah, dan hati terasa tidak tenang ketika melakukan suatu hal yang benar? Ini berbahaya.

Diperlukan keselarasan yang berkesinambungan di antara pikiran, perbuatan, dan hati, dalam kita menjalani kehidupan kita. Namun memang....

Tidak mudah menyelaraskan perbuatan, pikiran, dan hati. 

Seringkali pikiran kita menginginkan kita untuk melakukan sesuatu yang dirasanya benar, baik oleh penilaian pribadi maupun penilaian publik, namun yang terjadi pada akhirnya adalah kita melakukan sesuatu hal lain yang salah. Meskipun sempat terjadi pertempuran dalam pikiran kita, namun pada akhirnya sesuatu hal yang salah yang terlakukan oleh kita.

Di lain waktu, pikiran kita tidak menghendaki kita untuk melakukan sesuatu, namun kita justru melakukan perbuatan yang tidak dikehendaki pikiran kita tersebut. 

Lalu,pada akhirnya, hati pun menjadi tidak tenang (normalnya) ketika dua kondisi di atas terjadi. Berbeda kalau apa yang kita pikirkan dengan apa yang kita perbuat adalah selaras, biasanya hati akan ikut arus dengan menjadi tenang dan damai, tanpa terasa ada yang mengganjal. 
 Bagaimana supaya ketiganya selaras? 

Disiplin diri, konsistensi, dan kemauan kuat untuk menjadikan ketiganya selalu selaras dapat menjadi solusi untuk menyelaraskan ketiga. Jangan melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh pikiran kita, agar hati dapat terus terasah untuk menjadi baik. Pun juga selalu lakukan sesuatu yang memang benar, supaya hati tetap dapat peka menilai kebaikan yang ada.

Biasanya ketika ketiganya dibuat tidak selaras dalam satu atau dua kali kesempatan, akan ada perasaan yang aneh yang terasa dalam diri kita, karena apa yang terjadi atau apa yang kita perbuat adalah diluar yang benar atau yang seharusnya terjadi. Namun, kalau terus menerus dibiarkan, lama-lama pikiran bisa rusak karena terus menerus tidak dipatuhi, dan hati akan kehilangan kemampuannya membedakan mana yang memang benar dan mana yang seolah benar padahal sebenarnya tidak.

Memang tidak mudah. Saya pun masih berjuang untuk bisa selalu menyelaraskan ketiganya. Seringnya saya kalah dalam usaha menyelaraskan ketiganya, dan membuat saya merasa bersalah. Bersyukur saja kalau memang masih diberi kesempatan merasakan perasaan bersalah ketika melakukan sesuatu yang salah. Tandanya masih ada secercah 'petunjuk jalan' yang mengarahkan kita kepada sesuatu yang benar. 

Semoga anda bisa selalu berada dalam keselarasan antara perbuatan, pikiran, dan hati, supaya hidup bisa menjadi lebih bermakna dan berguna bagi sekitar.

Sabtu, 01 Juli 2017

Coban Rais : Spot Selfie Baru di Batu

Menyebut kota Batu sebagai destinasi wisata memang (seolah) tiada habisnya. Belum tuntas di memori tentang tempat wisata semacam Jatim Park (JTP) yang sudah memiliki dua tempat (JTP 1 & JTP 2), Batu Night Spectacular (BNS), Museum Angkut, Eco Green Park, Batu Secret Zoo, dan Museum Tubuh, sekarang muncul lokasi wisata baru yang lagi happening, Coban Rais.

dokumentasi pribadi
Coban Rais merupakan sebuah lokasi air terjun di daerah Batu yang menyimpan keindahan yang menarik  mata. Namun, selain wisata air terjun, jika anda merupakan seorang yang aktif di Instagram, mungkin sudah tidak asing dengan foto traveler yang naik ayunan di atas jurang. Ternyata, lokasi tersebut merupakan satu lokasi yang sama dengan air terjun Coban Rais.

http://www.lingkarmalang.com
Selain bisa berwisata ke air terjun, anda dapat menikmati berfoto selfie/wefie di beberapa spot yang disediakan disana. Selain ada ayunan di atas jurang, ada juga beberapa spot lain yang tidak kalah menarik, seperti :

Bukit bunga (Batu Flower Garden)
dokumentasi pribadi

Papan hati yang berada diatas sebuah pohon (bisa buat foto bersama pasangan atau keluarga)
http://travel.kompas.com

Ayunan gantung (hammock) baik yang hanya satu maupun yang bertumpuk
http://www.photomalang.com
https://armandfrezh.wordpress.com

Lokasi pohon pinus (ada papan bertuliskan I U dan semacam pos penjaga yang berbentuk papan kotak di atas ketinggian)

http://travel.kompas.com

http://www.dakatour.com

Terakhir, mau gowes di atas ketinggian? Bisa. Berdua juga bisa, kok.

https://ngalam.co
https://ngalam.co

Lokasi Coban Rais berada di Oro-Oro Ombo, Batu. Untuk masuk ke dalam wahana wisata, pengunjung akan dikenakan biaya tiket sebesar Rp10.000,00/orang. Kemudian, untuk mencapai lokasi berfoto, pengunjung perlu menempuh perjalanan berjalan kaki ke atas sekitar ± 1 kilometer. Tapi kalau itu dirasa terlalu jauh, tersedia ojek motor yang siap mengantarkan pengunjung mencapai lokasi berfoto. Biaya ojek per orang dikenakan sebesar Rp10.000,00 sekali jalan (naik saja atau turun saja, tidak sekaligus naik turun).

Setelah mencapai lokasi berfoto, pengunjung diwajibkan membeli tiket untuk spot mana yang akan dipilih untuk berfoto. Tiket rata-rata setiap spot dijual sebesar Rp20.000,00 – Rp30.000,00. Kebetulan saya berkunjung kesana pada saat libur panjang (Idul Fitri + kenaikan kelas anak sekolah), sehingga jumlah pengunjung yang berkunjung ke sana begitu banyak. Untuk sekadar membeli tiket berfoto, saya perlu mengantri sekitar setengah jam, itu pun tidak semua spot foto yang dibuka antriannya. Pengelola tempat wisata membatasi jumlah pengunjung yang membeli tiket pada beberapa spot dikarenakan kuota pengunjung yang membeludak. Saya pun hanya mendapatkan tiket pada spot bukit bunga dan papan hati di atas pohon.

Setelah mendapatkan tiket, pengunjung perlu antri kembali untuk mendapat nomer antrian giliran berfoto di masing-masing spot yang dipilih. Mungkin ini yang menyebabkan kuota masing-masing spot tidak sama, ada yang terus dibuka ada yang harus ditutup karena panjangnya antrian. Setelah mendapat giliran berfoto, file hasil foto dapat diambil untuk disalin ke dalam handphone (HP), sambil memilih mana hasil yang baik dan mana yang tidak di tempat yang disediakan, tanpa perlu membayar untuk jumlah tertentu. Jika melebihi jumlah yang ditetapkan pengelola, akan dikenakan biaya sebesar Rp5.000,00/file foto.

Jika sedang mencari lokasi liburan yang bisa menambah koleksi foto, bisa berkunjung ke tempat ini. Namun untuk menghindari antrian yang menumpuk, bisa dipertimbangkan mengunjungi tempat ini pada suasana akhir pekan di luar hari libur. Supaya tidak terlalu lama menunggu antrian, dan bisa mencoba (mungkin) semua spot foto yang tersedia. Selamat berwisata!

Adakah saya menginspirasi?

Selasa, 20 Juni 2017

MENABUR : Cara Sederhana Menjaga Semangat Kebaikan



Langit masih cukup terang petang itu. Menjelang malam, waktu berbuka puasa tinggal sedikit lagi tiba. Hari berpuasa yang kesekian kalinya dijalani oleh umat Muslim di Indonesia. Beberapa pemuda dan pemudi yang berkumpul di GKJW Rungkut kala itu bergegas untuk memacu kendaraan mereka. Sambil membawa beberapa kotak nasi dan sebungkus minuman buah garbis yang segar nan dingin. Setelah membagi dalam dua kelompok dan menyepakati rute pembagian nasi dan minuman, berangkatlah mereka untuk membagikan menu berbuka puasa bagi para umat Muslim yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Mereka menyasar orang yang tampak kurang beruntung. Memang, tidak banyak yang mereka dapat berikan, namun senyum lepas terpancar dalam ekspresi pemuda dan pemudi tersebut. Selepas senja pun mereka bergegas kembali pulang.

Gambaran tersebut merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang rutin diadakan oleh Komisi Pembinaan Pemuda dan Mahasiswa (KPPM) Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Rungkut setiap bulannya. Kegiatan tersebut bernama MENABUR. Idenya sederhana, yaitu untuk berbagi berkat dengan sesama yang membutuhkan, baik itu berupa makanan atau minuman, dan berkat lain yang sesuai dengan kebutuhan sesama. Karena sedang dalam nuansa Ramadan, mereka pun turut serta untuk berbagi makanan sebagai menu berbuka puasa bagi mereka yang menjalankannya.

Kegiatan yang digagas oleh seorang pemuda yang juga merupakan pengurus KPPM GKJW Rungkut ini sudah berumur sekitar 1,5 tahun. Sudah berkali-kali kegiatan ini diadakan. Sementara ini, kegiatan yang sudah terlaksana adalah berbagi makanan, dan juga bakti sosial di salah satu yayasan pendidikan milik GKJW di daerah Malang. Melalui kegiatan ini, KPPM GKJW Rungkut ingin mengajak rekan-rekan pemuda dan pemudi agar tidak larut dalam zona nyaman mereka, yaitu dalam lingkungan gereja saja beserta rekan-rekan sebaya yang seiman. Namun mereka juga diajak untuk memiliki kepekaan terhadap keadaan di sekitar, bahwa masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan mereka. Masih banyak orang yang tidak seberuntung mereka dalam hidupnya. Bahkan dengan yang berbeda keyakinan sekalipun. Karena itulah, melalui kegiatan MENABUR, rekan pemuda dan pemudi diajak untuk berinteraksi dengan “dunia” luar dan berbagi dengan sesama sekalipun berbeda keyakinan dengan mereka.

Dalam keadaan bangsa dan negara yang cukup mengkhawatirkan akhir-akhir ini, semangat toleransi menjadi suatu hal yang patut dijaga dan dikembangkan. Agar kita tidak larut dalam arus dunia yang menyuarakan intoleransi dari sebagian kalangan. Melalui kegiatan sosial semacam MENABUR, pemuda-pemudi GKJW Rungkut ingin turut serta dalam semangat menjaga kesatuan negara, melalui hal-hal kecil yang dapat mereka lakukan. Tidak perlu hal yang besar. Cukup melalui hal-hal sederhana, berbagi dengan sesama, membantu mereka yang kesusahan, dan tidak tinggal diam dalam zona nyaman. Semua itu diharapkan dapat menjadi bentuk nyata para rekan pemuda-pemudi, untuk memupuk semangat berbuat kebaikan kepada sesama. Menjadi garam dan terang, jika menggunakan istilah Kristiani.
Agar di depan nanti, para pemuda-pemudi tidak hanya berhenti disini saja, di lingkungan gereja saja, namun juga pada lingkup yang lebih luas lagi, seperti lingkungan profesi, keluarga, dan yang lain, agar mereka dapat membahanakan pesan bahwa kebaikan itu masih ada, nyata, dan juga patut untuk diperjuangkan. Tetap semangat MENABUR!

Adakah saya menginspirasi?

Selasa, 06 Juni 2017

Lupa (Bagaimana Supaya Tidak)

http://islamiceducation001.blogspot.co.id/2015/05/ingat-dan-lupa.html
Belakangan ini saya sedang bergumul dengan suatu keadaan yang (mungkin) manusiawi, dan pernah dialami setiap orang. Lupa. Beberapa kali dalam beberapa kejadian, saya mengalami keadaan dimana saya lupa akan sesuatu. Bisa lupa untuk membelikan sesuatu untuk keluarga, atau juga lupa untuk melakukan sesuatu dengan seseorang. Apapun bentuknya, lupa adalah keadaan yang selalu saya coba untuk hindari. Agar tidak terjadi suatu hal yang kurang mengenakkan sebagai efek samping dari lupa tersebut. 

Semenjak berada dalam pekerjaan saya sebagai pengajar di salah satu sekolah swasta di Surabaya, saya membiasakan diri untuk mencatat hal-hal yang harus saya kerjakan/lakukan dalam waktu dekat. Tujuannya jelas, supaya saya tidak lupa untuk melakukan kegiatan tersebut. Selain itu, juga membantu saya untuk menentukan mana hal-hal yang merupakan prioritas dan perlu dikerjakan terlebih dahulu, dan mana hal-hal yang dapat menunggu untuk dikerjakan nanti. Kebiasaan tersebut sangat membantu untuk mencegah keadaan lupa yang bisa berdampak tidak terlaksananya suatu kewajiban pekerjaan saya. 

Beranjak dari sekolah, saya meninggalkan semua to-do-list pekerjaan saya dan mengganti isi pikiran saya dengan kegiatan di luar pekerjaan. Apa yang perlu dikerjakan di sekolah biarlah tinggal di sekolah, jangan sampai dibawa juga ke luar sekolah. Nanti kalau waktu bermain diisi juga dengan mengurus pekerjaan, lalu bermainnya kapan?

Nah, keadaan di luar sekolah inilah yang terkadang memunculkan kondisi lupa untuk melakukan sesuatu (dalam pengalaman saya). Saya tidak selalu sedia catatan kecil berupa kertas kosong atau buku agenda yang selalu siap menyimpan setiap tulisan to-do-list saya. Alhasil, saya lebih sering mendapati saya lupa akan sesuatu. Kasihan ya saya.

Saya coba menelaah kenapa ya saya bisa lupa? Ada banyak hal yang menyebabkannya, salah satunya ya karena tidak ada catatan kecil yang selalu setia menemani keseharian saya. Penyebab lainnya? Mungkin karena terlalu banyak pikiran, salah, terlalu banyak hal yang dipikir. Pernah sekali waktu dalam perjalanan pulang dari gereja bersama adik saya satu-satunya, kami berencana membeli bensin sepeda motor yang kami tumpangi. Saya yang menyetir kendaraan tersebut sudah mempersiapkan diri untuk berhenti di pom bensin terdekat. Namun hanya karena sekilas saja pikiran saya terisi dengan hal lain, di luar rencana awal, terlewat sudah pom bensin yang hendak dituju dan rencana untuk membeli bensin motor tersebut sirna. 

Itu tadi hanya gara-gara satu hal yang dipikirkan bisa membuat lupa, coba kalau yang dipikirkan ada banyak, lupanya berapa kali? Hitung sendiri ya, capek hitungnya nanti. 

Sedari tadi sudah membahas keadaan lupa terus, sekarang bagaimana caranya supaya tidak lupa? Mungkin bukan tidak lupa, tapi meminimalisir supaya keadaan lupa itu tidak sering terjadi. Lupa itu manusiawi kok, jangan dilawan terlalu keras, nanti lupa buat mengerjakan yang lainnya. Ada beberapa cara yang saya sudah coba lakukan, boleh kok ditiru, ndak ada larangan untuk menirunya.

1. Mencatat apa yang perlu disiapkan/dilakukan dalam waktu dekat
Seperti cerita saya tadi, mencatat hal-hal penting yang perlu disiapkan/dilakukan dalam waktu dekat bisa cukup membantu agar tidak lupa. Bisa dalam bentuk kertas kecil yang ditempel di tempat tertentu yang mudah ditemukan penglihatan kita, atau dalam suatu buku agenda yang berisi to-do-list kita. Tinggal dipilih yang mana yang bisa menyamankan diri.

2. Tidak mengiyakan semua permintaan
Kita tidak bisa mengiyakan semua permintaan dari banyak orang. Jika kita berusaha untuk mengiyakan semua permintaan dari banyak orang, kita akan melupakan apa yang harus dan wajib kita lakukan. Di awal, orang yang kita iyakan akan merasa senang karena permintaannya memperoleh respon positif dari kita, namun jikalau sampai kita melupakan permintaan tersebut karena kita terlalu banyak mengiyakan permintaan orang, bisa dibayangkan sendiri ya gimana jadinya.

3. Tidak menunda-nunda untuk mempersiapkan/melakukan sesuatu
Kalau yang satu ini, adalah cara sederhana untuk menghindari lupa. Dengan bersegera mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, kita bisa menghindarkan diri dari melupakan hal yang penting untuk dilakukan/dipersiapkan. Kalau bisa melakukan sekarang, kenapa harus ditunda besok-besok?

4. Jangan lupa untuk mengingat
Ini yang mungkin paling sulit. Teruslah mengingat apa yang perlu diingat. Kadang, kita lupa akan sesuatu karena kita tidak berusaha mengingat tentang hal itu. Kita terlalu fokus kepada hal lain yang (sebenarnya) juga penting. Ya tidak salah kalau yang membuat kita lupa adalah hal yang juga penting, tapi kalau yang membuat kita lupa (hanya) hal sepele, rugi toh?

Kalau sudah lupa ya memang tidak bisa diubah. Pasti ada konsekuensi yang mengikuti karena kita lupa sesuatu. Nah, bagaimana supaya tidak? Tidak hanya cara-cara di atas saja caranya, tapi semoga cara di atas bisa membantu ya. 

Adakah saya menginspirasi?

Selasa, 02 Mei 2017

Meredam Keinginan : Mencukupkan Diri

Belakangan ini pikiran saya disibukkan oleh keinginan untuk memiliki sesuatu. Lebih tepatnya sebuah alat musik. Memang ini bukan hal baru dalam pikiran saya, namun setidaknya cukup sukses untuk menyita perhatian saya. Sudah cukup lama saya menginginkannya, mungkin ada sekitar 1-2 tahun semenjak keinginan itu muncul. Sejak saya mulai menginginkan hal tersebut, paling tidak ada sekian waktu tidak produktif yang saya habiskan hanya untuk melihat browser handphone dengan halaman pencarian google menampilkan tentang alat musik keinginan saya tersebut. Jika waktu-waktu tersebut datang, maka segala hal yang lain seolah akan terlupakan oleh saya, karena fokus yang sudah berpusat pada keinginan saya yang belum terwujud tersebut.

Sekian waktu berjalan, baru bulan lalu saya mampu mewujudkan keinginan saya tersebut. Setelah melalui perdebatan pikiran yang cukup sengit akan alat musik yang mana yang akan saya beli, disertai dengan berulang kali mendengarkan dan melihat video di kanal Youtube yang menampilkan review alat musik yang akan saya beli, disertai juga dengan pengumpulan dana untuk dapat membayar harga alat musik tersebut, pembelian alat musik pun dapat terlaksana. Sehingga, segala waktu-waktu tidak produktif yang terakumulasi, dapat diakhiri.
Jika saya melihat waktu-waktu tersebut, dimana saya bisa begitu terfokus akan keinginan saya yang telah lama terpupuk hingga semakin tumbuh untuk menanti dipenuhi, saya menyadari bahwa setiap manusia mempunyai keinginan yang bisa menjadi suatu medan gravitasi terhadap fokus kita. Kita seolah menjadi begitu terfokus untuk memenuhi keinginan kita tersebut. Seakan-akan tidak ada hal lain yang penting untuk dijalani. Padahal, jika dipikirkan secara mendalam, tanpa keinginan kita terpenuhi pun, kita tidak akan tidak hidup. Saya tidak akan tidak hidup jika alat musik keinginan saya tidak terbeli. Pun juga keinginan apapun. Karena ini bukanlah suatu kebutuhan, melainkan hanya sebuah keinginan.

Jika demikian keadaannya:

Mengapa setiap kita memiliki suatu keinginan yang begitu besar akan sesuatu, seolah-olah itu adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi?

Perkembangan zaman tentulah membawa kebaikan dan tidak luput juga dari keburukan. Kita pun sering terpengaruh segala macam perkembangan zaman tersebut agar tidak dibilang kudet (kurang update). Walau tidak semua orang begitu, namun sebagian besar orang mengingini sesuatu karena perkembangan zaman yang begitu pesat. Hingga membuat keinginan pun muncul tanpa terkendali. Biarpun banyak orang yang terpengaruh perkembangan zaman, namun ada juga yang menginginkan sesuatu dengan didasari motivasi yang baik. Semisal untuk membantu orang lain, ataupun untuk menyalurkan bakat dan minat. Dalam hal ini, mungkin saya termasuk di dalamnya, karena saya menginginkan alat musik tersebut untuk menyalurkan bakat dan minat saya di bidang musik. Apapun alasan yang muncul sebaiknya untuk dasar yang kuat. Tidak hanya sekadar untuk mengikuti perkembangan zaman saja. Namun karena ada alasan yang worth it sehingga pemenuhan keinginan kita masing-masing tidak bersifat sementara. Sehingga kelak tidak akan muncul keinginan baru lagi yang berbeda dari yang sudah terpenuhi sekarang.

Jikalau keinginan itu memang harus dipenuhi, bagaimana sikap diri yang tepat untuk tetap mampu mengontrol diri agar tidak menjadi terlalu terfokus akan keinginan tersebut?

Jika sudah sedemikian besarnya keinginan untuk mendapatkan sesuatu, ada baiknya kita tetap mampu menaruh perhatian sesuai porsinya kepada keinginan tersebut. Tidak sampai memunculkan waktu-waktu tidak produktif seperti yang saya alami di atas. Karena saya sadar, menginginkan sesuatu secara berlebihan juga tidak baik. Hanya akan membawa kita pada keadaan tidak berfokus pada hal yang lebih penting. Seluruh pikiran kita menjadi tersita karena terlalu mengingini apa yang kita inginkan dan kita menghabiskan waktu kita untuk larut dalam angan tentang keinginan kita tersebut. Jangan sampai hal tersebut terjadi sehingga membuat kacau aktivitas yang lainnya.

Mungkin kita tidak bisa memenuhi sesuai keinginan, namun bisa mendapatkan sedikit lebih rendah dari yang kita inginkan.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Tidak selalu kita mendapatkan yang kita inginkan sama persis dengan keinginan kita. Kadang kita harus merelakan bahwa kita hanya bisa mendapat sedikit lebih rendah dari yang kita harapkan, namun tetap dapat memiliki fungsi yang sama dengan yang kita inginkan di awal. Tak mengapa, karena dari setiap keinginan pun, kita bisa belajar mencukupkan diri. Mencukupkan diri dengan pemenuhan keinginan yang tidak benar-benar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Saya pun tidak mendapat yang termahal dari alat musik saya. Hanya jenis yang lebih murah dari alat musik yang sama yang banyak ditawarkan di pasaran. Namun saya berusaha mencukupkan diri dengan apa yang saya dapatkan. Karena pada dasarnya semuanya sama saja, dapat menghasilkan suara musik yang bisa dinikmati. Berlarut-larut kecewa pun tak ada gunanya, hanya memunculkan kembali waktu-waktu tidak produktif yang pernah ada sebelumnya.
http://www.blissb4laundry.com


Keinginan akan sesuatu akan selalu muncul dalam diri kita. Mencukupkan diri akan sangat berguna untuk meredamnya. Entah ketika kita mampu memenuhi keinginan kita, dengan tidak harus benar-benar sesuai harapan, ataupun ketika kita tidak mampu memenuhi keinginan kita. Apapun pilihannya, sebaiknya tetap bagi fokus sesuai porsi kepada hal yang memang penting. Supaya tidak muncul waktu-waktu tidak produktif yang tersita hanya untuk berusaha mewujudkan keinginan kita.

Sabtu, 01 April 2017

Sebuah Tulisan untuk para Perokok

Sebuah pemandangan yang lazim saya temui di setiap perjalanan saya menuju suatu tempat tertentu, bertemu dengan asap yang mengepul dari mulut beberapa orang. Saya yakin pemandangan tersebut adalah suatu pemandangan yang juga disaksikan oleh banyak orang di seluruh dunia. Miris rasanya melihat orang-orang yang dengan nyamannya mengonsumsi asap tersebut. Tanpa terlihat takut akan dampak yang akan dihasilkan, tanpa kepedulian kepada orang sekitar, mereka terus saja menghisap asap tersebut. Tua, muda, dewasa, bahkan anak-anak, lelaki juga perempuan, tak luput dari pengalaman menghisap asap tersebut, yang dihasilkan dari sebuah benda kecil yang begitu banyak diburu dan dikonsumsi, yang seolah-olah telah menjadi salah satu kebutuhan hidup, rokok.

Pernahkah anda mengalami pengalaman yang sama seperti saya? Atau bahkan ada anggota keluarga anda menjadi salah satu bagian darinya?
http://rizwanhamdi.com/remaja-rokok/

Saya bersyukur, saya pribadi bukanlah seorang penghisap asap rokok yang aktif. Dalam artian saya bukanlah seorang perokok. Meskipun kadangkala saya juga menghisap asap rokok ketika berada di sekitar para perokok. Saya memiliki beberapa anggota keluarga yang merupakan perokok aktif. Tidak perlu jauh-jauh, ayah saya sendiri. Beliau telah menjadi perokok aktif sejak masa mudanya. Barulah di kisaran usia 40an, beliau mampu berhenti dari kebiasaannya yang merusak tersebut. Namun kebiasaannya tersebut ikut andil dalam kesehatannya yang menurun selepas berhenti dari kebiasaan merokok maupun selama menjalani kebiasaan tersebut.

Sepanjang yang saya ketahui, tidak ada sedikitpun manfaat dari menjadi seorang perokok aktifSegala pandangan yang (seolah-olah) positif untuk menjadi pecandu rokok yang ada selama ini, sebenarnya dapat dipatahkan dengan fakta bahwa "Merokok membunuhmu" (mengikuti peringatan dari bungkus rokok dan iklan-iklan yang selama ini sudah ada). Jika mau dijabarkan, "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin." Dari sini saja sudah terlihat tidak ada sedikitpun unsur positif dari merokok. Mau membantah seperti apapun tetap tidak ada. Tapi yang mengherankan, fakta tersebut tidak malah mengurangi jumlah perokok di seluruh dunia, malah jumlah perokok selalu bertambah setiap harinya. Di tahun 2014 saja, jumlah perokok di seluruh dunia bahkan hampir mencapai satu miliar orang, entah kalau di tahun 2017 ini. 

Beberapa contoh perokok yang sering saya temui: 

Perokok di dekat anak atau pasangannya
http://2.bp.blogspot.com
Jujur, saya kasihan melihat anak kecil atau seorang pasangan (istri/suami) yang harus menghisap asap rokok dari ayah, ibu, atau pasangan mereka, yang adalah seorang perokok. Mereka sebenarnya tidak menjadi perokok aktif, namun terpaksa merasakan asap rokok yang berbahaya. Dalam pandangan saya, jika anda mengasihi keluarga anda, anda akan berhenti merokok, demi kesehatan anda dan juga keluarga anda. Bukan sekadar merokok di tempat dimana anda tidak bersama keluarga anda, karena tetap saja anda sendiri yang akan mengalami dampak negatif dari rokok tersebut. Jika sudah terlihat dampak buruk berupa penyakit akibat merokok tersebut, siapa yang akan menanggungnya? Tentu anda dan orang-orang terdekat anda, yang mana salah satunya keluarga anda. 

Perokok pada waktu berkendara
http://assets-a2.kompasiana.com
Pernahkah anda melihat dalam perjalanan anda menuju suatu tempat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, pengemudi dari kendaraan yang ada di depan anda terlihat mengemudi sambil merokok? Bagaimana perasaan anda melihat pemandangan tersebut? Kalau saya pribadi sangat-sangat tergangguPertama, dari asap rokok itu sendiri biasanya akan mengepul keluar dari kendaraan tersebut, bila itu mobil, atau ke arah belakang, jika itu sepeda motor. Hal itulah yang sangat mengganggu saya jika saya berada tepat di belakang orang tersebut.
Kedua, abu dari sisa pembakaran rokok tersebut sangat mudah beterbangan kemanapun, apabila terkena angin. Apakah si perokok pernah membayangkan tidak enaknya berkendara dengan kecepatan yang cukup, dan di tengah perjalanan yang memang sudah pasti banyak debu beterbangan, ditambahkan lagi dengan abu rokok yang jelas-jelas tidak sehat jika sampai terhirup tubuh manusia?
Ketiga, dari sisi pengendara itu sendiri. Sudah saya tuliskan di atas bahwa merokok dapat menyebabkan serangan jantung. Bagaimana jika tiba-tiba si pengendara yang merokok itu terkena serangan jantung di tengah-tengah dia mengemudikan kendaraannya? Bisa jadi akan ada kecelakaan lalu lintas yang mengiringi.

Perokok di tempat yang dilarang merokok
https://klinikstopmerokok.wordpress.com
Mungkin saya perlu bertanya kepada perokok yang melakukan hal ini, "Apakah mereka tidak dapat membaca?". Beberapa kali saya sering menemukannya. Walau sudah terpampang papan petunjuk yang menegaskan larangan merokok, tetap saja ada para perokok yang tidak mengindahkan larangan tersebut dan dengan egoisnya tetap merokok. Mungkin, mereka perlu belajar membaca sampai bisa memahami apa yang dimaksudkan dalam larangan tersebut.

Perokok yang masih berusia muda (tergolong anak-anak)
https://mbakambon.wordpress.com
Ini salah satu fakta yang membuat saya merasa miris. Karena di usia yang masih sangat dini, anak-anak sudah mengenal dan bahkan kecanduan merokok. Bisa jadi, orang tua dari sang anak tersebut kurang menaruh perhatian yang cukup terhadap sang anak, sehingga sang anak mencari perhatian dari pihak lain, yang sayangnya, tanpa bertanggung jawab, memperkenalkan sang anak kepada rokok. Anak-anak yang memang rasa ingin tahunya begitu besar, tanpa filter yang memadai, mencoba saja rokok yang baru dikenalnya, dan kadang menjadi pecandu jika tidak segera dihentikan. Jika saja orang tua sang anak benar-benar peduli kepada anaknya, saya yakin hal tersebut tidak akan sampai terjadi.

Perokok yang merupakan seorang wanita
http://fakta.co.id/2016/03/16
Setahu saya, para wanita yang menjadi pecandu rokok tidak hanya akan merusak tubuhnya sendiri, namun juga akan berdampak buruk kepada janinnya. Jika sang wanita sedang dalam keadaan mengandung, tentu bukan suatu hal yang baik untuk merokok. Saya sangat menyayangkan hal itu, dimana sang wanita tidak lagi peduli akan kesehatan tubuh dan janinnya, dan terus-menerus menikmati menjadi pecandu rokok.

Perokok di tempat umum
https://kitadankota.wordpress.com
Ini yang paling sering saya alami di antara semua macam perokok yang saya sebutkan di atas. Mungkin anda sendiri juga sering mengalaminya. Kadang kita terlalu takut atau sungkan untuk menegur orang tersebut. Banyak alasan yang muncul untuk mengurungkan niat kita menegur sang perokok. Takut membuat sang perokok marah, takut membuat keributan di tempat tersebut, dll. Namun pada dasarnya, jika sang perokok bisa dengan bebas menikmati asap rokok yang dia nyalakan, kita sebagai bukan perokok juga (seharusnya) bebas untuk menikmati udara yang bersih tanpa asap rokok. 

Sebuah tulisan sederhana ini semoga dapat menyadarkan para perokok dimanapun, bahwa apa yang anda nikmati melalui rokok tersebut tidak ada faedahnya sedikitpun. Saya tidak membenci kalian para perokok, karena keluarga saya pun juga ada sebagian yang merokok. Saya hanya tidak menggemari kebiasaan merokok kalian dan hanya mengingatkan saja bahwa, hidup terlalu singkat untuk dirusak hanya oleh rokok. Setiap batang rokok yang anda nyalakan dan anda konsumsi, hanya akan merusak tubuh yang telah Tuhan anugerahkan kepada anda. Mungkin dampak negatifnya tidak anda rasakan dalam masa muda anda, namun bisa saja pada masa dewasa anda dan masa tua anda, dampak tersebut menampakkan diri. Mungkin juga bukan sekadar pada diri anda yang merasakan kerugian menjadi pecandu rokok, namun keluarga kecil pun besar anda juga mengalami dampak yang tidak menguntungkan tersebut. Jadi, kapan berhenti merokok?

Salam hidup sehat!