Sabtu, 04 Maret 2017

Pekerjaan : Untuk sekadar penghasilan besarkah?

http://bursakerja.kebumenkab.go.id/index.php/public/info/detail/34
Jika dalam sekali waktu, sebuah pertanyaan sederhana diajukan kepada anda, "Mau kerja apa nanti?", apa yang akan menjadi jawaban anda? Saya bisa pastikan bahwa akan banyak sekali jawaban yang dimunculkan. Ada yang mungkin sejenis, ada yang sangat berbeda masing-masingnya. Berbagai jawaban tersebut muncul karena begitu banyak pemahaman yang ada mengenai dunia kerja, maupun latar belakang kita masing-masing yang saling berbeda. Sebagian mungkin akan memberi jawaban yang didasarkan pada potensi penghasilan yang bisa didapatkan dalam pekerjaan tersebut, tanpa banyak mendalami seberapa setara pekerjaan yang akan dilakoni dengan penghasilan yang dianggap besar tersebut. Sedangkan sebagian yang lain akan memberikan jawaban yang merupakan sebuah cita-cita yang memang ingin dicapai semenjak lama, idealisme mungkin. 

Dari pengalaman pribadi saya mengamati pilihan bidang pekerjaan beberapa teman kuliah saya, beberapa dari mereka rela menjalani pekerjaan yang mengharuskan mereka jauh dari keluarga mereka. Tinggal sendirian di kota yang bukan merupakan kota kelahiran/domisili pribadinya, demi sebuah penghasilan dalam bentuk gaji yang diperkirakan sepadan besarnya dengan bobot pekerjaan yang dikerjakan. Mereka tidak masalah jika harus merantau demi suatu pekerjaan tertentu bergaji besar. Tidak, saya tidak mengatakan semua pekerja yang merantau hanya mengejar gaji yang besar. Saya tidak menafikan kenyataan bahwa ada juga pekerja yang harus merantau, dikarenakan prospek pekerjaan yang lebih baik di kota perantauannya tersebut ketimbang di kota asalnya. Namun, alasan pendapatan memang masih menjadi salah satu pertimbangan utama dalam latar belakang seseorang memilih untuk menjalani sebuah pekerjaan tertentu, setidaknya bagi sebagian besar orang.

Tidak jauh berbeda dengan apa yang saya alami ketika saya dihadapkan dalam situasi yang membawa saya ke dalam pilihan pekerjaan apa yang harus saya pilih. Jujur, saya tidak memiliki rencana matang yang saya susun jauh sebelum saya harus menemukan sebuah pekerjaan, karena rencana awal yang telah saya persiapkan adalah melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu jenjang magister, segera setelah mentas dari pendidikan strata pertama. Sehingga ketika saya secara mendadak harus merubah semua rencana awal saya tersebut, menundanya untuk (mungkin) diwujudkan di kemudian hari, saya pun memilih bidang pekerjaan secara spontan, tanpa pertimbangan yang matang, demi mewujudkan keadaan berstatus sebagai seorang pekerja atau karyawan.

Sebagai orang yang sejatinya penuh pertimbangan sebelum melakukan sesuatu, bahkan hal yang paling sederhana sekalipun, melakukan sesuatu secara spontan bukan suatu hal yang menyenangkan dan nyaman untuk saya lakukan. Dari aspek persiapan yang diperlukan sebelum melakukan sesuatu, tentu melakukan sesuatu secara spontan mengabaikan perencanaan yang matang, sehingga sesuatu yang saya lakukan itu terkadang hanya sebatas untuk pengambilan keputusan secara terpaksa saja dan bukan pilihan yang paling saya sukai atau yang paling mungkin saya pilih jika telah melalui sebuah perencanaan yang matang. Hal itu terbukti dalam pekerjaan saya yang pertama, yang saya pilih tanpa keutuhan perencaan akan prospek pekerjaan tersebut untuk ke depannya dan kesesuaian dengan karakteristik dan minat diri saya. Dengan segala hormat, tanpa mengurangi sisi positif yang saya dapatkan dari pekerjaan tersebut, keputusan untuk mengakhiri status sebagai karyawan dalam pekerjaan saya yang terdahulu, setelah menjalani masa kerja yang cukup lama, menyadarkan saya bahwa potensi saya kurang tereksplorasi ketika saya berada dalam pekerjaan tersebut. Ketidak-damaian hati seolah menjadi kawan setia dalam setiap rutinitas pekerjaan yang harus saya lalui setiap harinya. Keengganan untuk memberikan kontribusi maksimal begitu terasa dalam diri. Hingga akhirnya berdampak pada kehidupan pribadi yang mengalami tingkat stress dan kejenuhan yang cukup signifikan.

Bagi sebagian orang, mungkin, tempat saya bekerja pertama kali tersebut adalah sebuah tempat yang cukup potensial untuk mendapatkan penghasilan yang besar. Tidak jauh-jauh, dari 6 rekan kuliah yang cukup dekat dengan saya dan menjadi partner dalam menempuh pendidikan bersama-sama, 3 diantaranya memilih bidang pekerjaan yang sama dengan apa yang saya pilih. Hal ini menandakan bahwa bidang tersebut sebenarnya cukup menjanjikan apabila ditekuni sebagai karier dan sumber penghasilan. Saya tidak mengatakan bahwa ketiga teman saya tersebut hanya mengejar penghasilan atau materi semata. Tentu ada alasan lain yang menjadi dasar mereka mampu bertahan dalam bidang tersebut, sementara saya sendiri memutuskan untuk berhenti menekuninya. Kenyataan yang perlu disadari adalah apa yang tidak cocok bagi saya, belum tentu tidak cocok juga bagi orang lain. Begitu juga pekerjaan saya yang terdahulu tersebut, meskipun ada potensi untuk menghasilkan penghasilan yang besar, nyatanya tidak cukup untuk membuat saya bertekad untuk terus setia dalam pekerjaan tersebut.

"Lalu apa sebenarnya hal yang utama dalam menentukan bentuk pekerjaan yang akan kita jalani?"

Suatu hal yang indah tidak selalu bisa diraih dengan mudah. Semuanya butuh proses untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Untuk dapat berada dalam suatu keadaan yang dianggap mapan, membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mencapainya. Sekuntum bunga yang paling indah pun membutuhkan proses untuk mencapai keindahannya. Mulai dari sebuah tunas yang seperti tidak ada artinya, muncul daun, bertumbuh setiap waktu, hingga akhirnya sang bunga mekar dan menunjukkan keindahannya yang memesona mata.

Sama halnya seperti menjalani suatu pekerjaan. Pekerjaan adalah suatu aktivitas seumur hidup. Setidaknya dimulai pada saat anda selesai menempuh pendidikan, hingga anda mencapai usia pensiun, yang mana sekitar usia 55 atau 60 tahun. Bisa lebih, bisa kurang dari itu. Melihat begitu panjangnya waktu yang akan anda jalani dengan suatu pekerjaan tertentu, potensi kejenuhan dalam pekerjaan yang anda pilih sangatlah besar, apapun pilihan anda. Jika anda hanya sekadar mengejar gaji atau penghasilan yang besar, anda bisa saja berakhir dalam kondisi jenuh atau lelah ketika keadaan berpenghasilan besar itu tidak kunjung anda capai. Sifat dasar manusia salah satunya adalah tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Katakanlah anda berhasil mencapai kondisi berpenghasilan besar seperti target awal anda bekerja di suatu tempat, akan muncul keinginan untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar lagi melebihi yang anda miliki sekarang. Begitu seterusnya, mungkin tidak ada habisnya. Saya menemukan beberapa rekan yang berpindah-pindah tempat bekerja, demi kondisi yang saya sebutkan sebelumnya, kondisi berpenghasilan besar. Sebelum sempat mendalami secara detail pekerjaan yang harusnya mereka jalani, mereka sudah dipenuhi pikiran untuk mencari pekerjaan baru, karena penerimaan gaji yang tidak sesuai ekspektasi.

Bekerjalah seolah anda bekerja untuk Tuhan. Inilah yang akan membuat anda puas dengan pekerjaan anda, apapun itu. Bukan sekadar untuk penghasilan yang besar saja, pun juga bukan untuk sekadar suatu keadaan yang mapan, namun untuk Sang Empunya kehidupan semata. Kita memang butuh uang, hal yang tidak bisa dimungkiri, tapi bukan berarti uang adalah segalanya yang perlu kita kejar. Jangan lupakan siapa sang Pemberi pekerjaan kepada kita. Jangan abaikan fakta bahwa semua kehidupan kita adalah milikNya. Jalani pekerjaan yang kita miliki saat ini, berapapun penghasilan yang kita terima, selama itu cukup untuk memenuhi apa yang kita butuhkan. Akan ada waktunya ditambahkan kepada kita suatu penghasilan sebagai "hadiah" atas kerja keras kita, tapi jangan jadikan itu sebagai fokus utama. Tetap fokuskan diri kepada Sang Khalik, niscaya kita akan merasakan kepuasan dalam hati, semangat dalam melakukan pekerjaan, dan terlebih, semesta akan berkonspirasi mendukung segala ikhtiar kita menjalani pekerjaan kita, untuk mencukupkan diri dan berkarya bagi kemuliaan namaNya.


Pekerjaan anda untuk sekadar penghasilan besarkah?