Selasa, 02 Mei 2017

Meredam Keinginan : Mencukupkan Diri

Belakangan ini pikiran saya disibukkan oleh keinginan untuk memiliki sesuatu. Lebih tepatnya sebuah alat musik. Memang ini bukan hal baru dalam pikiran saya, namun setidaknya cukup sukses untuk menyita perhatian saya. Sudah cukup lama saya menginginkannya, mungkin ada sekitar 1-2 tahun semenjak keinginan itu muncul. Sejak saya mulai menginginkan hal tersebut, paling tidak ada sekian waktu tidak produktif yang saya habiskan hanya untuk melihat browser handphone dengan halaman pencarian google menampilkan tentang alat musik keinginan saya tersebut. Jika waktu-waktu tersebut datang, maka segala hal yang lain seolah akan terlupakan oleh saya, karena fokus yang sudah berpusat pada keinginan saya yang belum terwujud tersebut.

Sekian waktu berjalan, baru bulan lalu saya mampu mewujudkan keinginan saya tersebut. Setelah melalui perdebatan pikiran yang cukup sengit akan alat musik yang mana yang akan saya beli, disertai dengan berulang kali mendengarkan dan melihat video di kanal Youtube yang menampilkan review alat musik yang akan saya beli, disertai juga dengan pengumpulan dana untuk dapat membayar harga alat musik tersebut, pembelian alat musik pun dapat terlaksana. Sehingga, segala waktu-waktu tidak produktif yang terakumulasi, dapat diakhiri.
Jika saya melihat waktu-waktu tersebut, dimana saya bisa begitu terfokus akan keinginan saya yang telah lama terpupuk hingga semakin tumbuh untuk menanti dipenuhi, saya menyadari bahwa setiap manusia mempunyai keinginan yang bisa menjadi suatu medan gravitasi terhadap fokus kita. Kita seolah menjadi begitu terfokus untuk memenuhi keinginan kita tersebut. Seakan-akan tidak ada hal lain yang penting untuk dijalani. Padahal, jika dipikirkan secara mendalam, tanpa keinginan kita terpenuhi pun, kita tidak akan tidak hidup. Saya tidak akan tidak hidup jika alat musik keinginan saya tidak terbeli. Pun juga keinginan apapun. Karena ini bukanlah suatu kebutuhan, melainkan hanya sebuah keinginan.

Jika demikian keadaannya:

Mengapa setiap kita memiliki suatu keinginan yang begitu besar akan sesuatu, seolah-olah itu adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi?

Perkembangan zaman tentulah membawa kebaikan dan tidak luput juga dari keburukan. Kita pun sering terpengaruh segala macam perkembangan zaman tersebut agar tidak dibilang kudet (kurang update). Walau tidak semua orang begitu, namun sebagian besar orang mengingini sesuatu karena perkembangan zaman yang begitu pesat. Hingga membuat keinginan pun muncul tanpa terkendali. Biarpun banyak orang yang terpengaruh perkembangan zaman, namun ada juga yang menginginkan sesuatu dengan didasari motivasi yang baik. Semisal untuk membantu orang lain, ataupun untuk menyalurkan bakat dan minat. Dalam hal ini, mungkin saya termasuk di dalamnya, karena saya menginginkan alat musik tersebut untuk menyalurkan bakat dan minat saya di bidang musik. Apapun alasan yang muncul sebaiknya untuk dasar yang kuat. Tidak hanya sekadar untuk mengikuti perkembangan zaman saja. Namun karena ada alasan yang worth it sehingga pemenuhan keinginan kita masing-masing tidak bersifat sementara. Sehingga kelak tidak akan muncul keinginan baru lagi yang berbeda dari yang sudah terpenuhi sekarang.

Jikalau keinginan itu memang harus dipenuhi, bagaimana sikap diri yang tepat untuk tetap mampu mengontrol diri agar tidak menjadi terlalu terfokus akan keinginan tersebut?

Jika sudah sedemikian besarnya keinginan untuk mendapatkan sesuatu, ada baiknya kita tetap mampu menaruh perhatian sesuai porsinya kepada keinginan tersebut. Tidak sampai memunculkan waktu-waktu tidak produktif seperti yang saya alami di atas. Karena saya sadar, menginginkan sesuatu secara berlebihan juga tidak baik. Hanya akan membawa kita pada keadaan tidak berfokus pada hal yang lebih penting. Seluruh pikiran kita menjadi tersita karena terlalu mengingini apa yang kita inginkan dan kita menghabiskan waktu kita untuk larut dalam angan tentang keinginan kita tersebut. Jangan sampai hal tersebut terjadi sehingga membuat kacau aktivitas yang lainnya.

Mungkin kita tidak bisa memenuhi sesuai keinginan, namun bisa mendapatkan sedikit lebih rendah dari yang kita inginkan.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Tidak selalu kita mendapatkan yang kita inginkan sama persis dengan keinginan kita. Kadang kita harus merelakan bahwa kita hanya bisa mendapat sedikit lebih rendah dari yang kita harapkan, namun tetap dapat memiliki fungsi yang sama dengan yang kita inginkan di awal. Tak mengapa, karena dari setiap keinginan pun, kita bisa belajar mencukupkan diri. Mencukupkan diri dengan pemenuhan keinginan yang tidak benar-benar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Saya pun tidak mendapat yang termahal dari alat musik saya. Hanya jenis yang lebih murah dari alat musik yang sama yang banyak ditawarkan di pasaran. Namun saya berusaha mencukupkan diri dengan apa yang saya dapatkan. Karena pada dasarnya semuanya sama saja, dapat menghasilkan suara musik yang bisa dinikmati. Berlarut-larut kecewa pun tak ada gunanya, hanya memunculkan kembali waktu-waktu tidak produktif yang pernah ada sebelumnya.
http://www.blissb4laundry.com


Keinginan akan sesuatu akan selalu muncul dalam diri kita. Mencukupkan diri akan sangat berguna untuk meredamnya. Entah ketika kita mampu memenuhi keinginan kita, dengan tidak harus benar-benar sesuai harapan, ataupun ketika kita tidak mampu memenuhi keinginan kita. Apapun pilihannya, sebaiknya tetap bagi fokus sesuai porsi kepada hal yang memang penting. Supaya tidak muncul waktu-waktu tidak produktif yang tersita hanya untuk berusaha mewujudkan keinginan kita.