Selasa, 20 Juni 2017

MENABUR : Cara Sederhana Menjaga Semangat Kebaikan



Langit masih cukup terang petang itu. Menjelang malam, waktu berbuka puasa tinggal sedikit lagi tiba. Hari berpuasa yang kesekian kalinya dijalani oleh umat Muslim di Indonesia. Beberapa pemuda dan pemudi yang berkumpul di GKJW Rungkut kala itu bergegas untuk memacu kendaraan mereka. Sambil membawa beberapa kotak nasi dan sebungkus minuman buah garbis yang segar nan dingin. Setelah membagi dalam dua kelompok dan menyepakati rute pembagian nasi dan minuman, berangkatlah mereka untuk membagikan menu berbuka puasa bagi para umat Muslim yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Mereka menyasar orang yang tampak kurang beruntung. Memang, tidak banyak yang mereka dapat berikan, namun senyum lepas terpancar dalam ekspresi pemuda dan pemudi tersebut. Selepas senja pun mereka bergegas kembali pulang.

Gambaran tersebut merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang rutin diadakan oleh Komisi Pembinaan Pemuda dan Mahasiswa (KPPM) Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Rungkut setiap bulannya. Kegiatan tersebut bernama MENABUR. Idenya sederhana, yaitu untuk berbagi berkat dengan sesama yang membutuhkan, baik itu berupa makanan atau minuman, dan berkat lain yang sesuai dengan kebutuhan sesama. Karena sedang dalam nuansa Ramadan, mereka pun turut serta untuk berbagi makanan sebagai menu berbuka puasa bagi mereka yang menjalankannya.

Kegiatan yang digagas oleh seorang pemuda yang juga merupakan pengurus KPPM GKJW Rungkut ini sudah berumur sekitar 1,5 tahun. Sudah berkali-kali kegiatan ini diadakan. Sementara ini, kegiatan yang sudah terlaksana adalah berbagi makanan, dan juga bakti sosial di salah satu yayasan pendidikan milik GKJW di daerah Malang. Melalui kegiatan ini, KPPM GKJW Rungkut ingin mengajak rekan-rekan pemuda dan pemudi agar tidak larut dalam zona nyaman mereka, yaitu dalam lingkungan gereja saja beserta rekan-rekan sebaya yang seiman. Namun mereka juga diajak untuk memiliki kepekaan terhadap keadaan di sekitar, bahwa masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan mereka. Masih banyak orang yang tidak seberuntung mereka dalam hidupnya. Bahkan dengan yang berbeda keyakinan sekalipun. Karena itulah, melalui kegiatan MENABUR, rekan pemuda dan pemudi diajak untuk berinteraksi dengan “dunia” luar dan berbagi dengan sesama sekalipun berbeda keyakinan dengan mereka.

Dalam keadaan bangsa dan negara yang cukup mengkhawatirkan akhir-akhir ini, semangat toleransi menjadi suatu hal yang patut dijaga dan dikembangkan. Agar kita tidak larut dalam arus dunia yang menyuarakan intoleransi dari sebagian kalangan. Melalui kegiatan sosial semacam MENABUR, pemuda-pemudi GKJW Rungkut ingin turut serta dalam semangat menjaga kesatuan negara, melalui hal-hal kecil yang dapat mereka lakukan. Tidak perlu hal yang besar. Cukup melalui hal-hal sederhana, berbagi dengan sesama, membantu mereka yang kesusahan, dan tidak tinggal diam dalam zona nyaman. Semua itu diharapkan dapat menjadi bentuk nyata para rekan pemuda-pemudi, untuk memupuk semangat berbuat kebaikan kepada sesama. Menjadi garam dan terang, jika menggunakan istilah Kristiani.
Agar di depan nanti, para pemuda-pemudi tidak hanya berhenti disini saja, di lingkungan gereja saja, namun juga pada lingkup yang lebih luas lagi, seperti lingkungan profesi, keluarga, dan yang lain, agar mereka dapat membahanakan pesan bahwa kebaikan itu masih ada, nyata, dan juga patut untuk diperjuangkan. Tetap semangat MENABUR!

Adakah saya menginspirasi?

Selasa, 06 Juni 2017

Lupa (Bagaimana Supaya Tidak)

http://islamiceducation001.blogspot.co.id/2015/05/ingat-dan-lupa.html
Belakangan ini saya sedang bergumul dengan suatu keadaan yang (mungkin) manusiawi, dan pernah dialami setiap orang. Lupa. Beberapa kali dalam beberapa kejadian, saya mengalami keadaan dimana saya lupa akan sesuatu. Bisa lupa untuk membelikan sesuatu untuk keluarga, atau juga lupa untuk melakukan sesuatu dengan seseorang. Apapun bentuknya, lupa adalah keadaan yang selalu saya coba untuk hindari. Agar tidak terjadi suatu hal yang kurang mengenakkan sebagai efek samping dari lupa tersebut. 

Semenjak berada dalam pekerjaan saya sebagai pengajar di salah satu sekolah swasta di Surabaya, saya membiasakan diri untuk mencatat hal-hal yang harus saya kerjakan/lakukan dalam waktu dekat. Tujuannya jelas, supaya saya tidak lupa untuk melakukan kegiatan tersebut. Selain itu, juga membantu saya untuk menentukan mana hal-hal yang merupakan prioritas dan perlu dikerjakan terlebih dahulu, dan mana hal-hal yang dapat menunggu untuk dikerjakan nanti. Kebiasaan tersebut sangat membantu untuk mencegah keadaan lupa yang bisa berdampak tidak terlaksananya suatu kewajiban pekerjaan saya. 

Beranjak dari sekolah, saya meninggalkan semua to-do-list pekerjaan saya dan mengganti isi pikiran saya dengan kegiatan di luar pekerjaan. Apa yang perlu dikerjakan di sekolah biarlah tinggal di sekolah, jangan sampai dibawa juga ke luar sekolah. Nanti kalau waktu bermain diisi juga dengan mengurus pekerjaan, lalu bermainnya kapan?

Nah, keadaan di luar sekolah inilah yang terkadang memunculkan kondisi lupa untuk melakukan sesuatu (dalam pengalaman saya). Saya tidak selalu sedia catatan kecil berupa kertas kosong atau buku agenda yang selalu siap menyimpan setiap tulisan to-do-list saya. Alhasil, saya lebih sering mendapati saya lupa akan sesuatu. Kasihan ya saya.

Saya coba menelaah kenapa ya saya bisa lupa? Ada banyak hal yang menyebabkannya, salah satunya ya karena tidak ada catatan kecil yang selalu setia menemani keseharian saya. Penyebab lainnya? Mungkin karena terlalu banyak pikiran, salah, terlalu banyak hal yang dipikir. Pernah sekali waktu dalam perjalanan pulang dari gereja bersama adik saya satu-satunya, kami berencana membeli bensin sepeda motor yang kami tumpangi. Saya yang menyetir kendaraan tersebut sudah mempersiapkan diri untuk berhenti di pom bensin terdekat. Namun hanya karena sekilas saja pikiran saya terisi dengan hal lain, di luar rencana awal, terlewat sudah pom bensin yang hendak dituju dan rencana untuk membeli bensin motor tersebut sirna. 

Itu tadi hanya gara-gara satu hal yang dipikirkan bisa membuat lupa, coba kalau yang dipikirkan ada banyak, lupanya berapa kali? Hitung sendiri ya, capek hitungnya nanti. 

Sedari tadi sudah membahas keadaan lupa terus, sekarang bagaimana caranya supaya tidak lupa? Mungkin bukan tidak lupa, tapi meminimalisir supaya keadaan lupa itu tidak sering terjadi. Lupa itu manusiawi kok, jangan dilawan terlalu keras, nanti lupa buat mengerjakan yang lainnya. Ada beberapa cara yang saya sudah coba lakukan, boleh kok ditiru, ndak ada larangan untuk menirunya.

1. Mencatat apa yang perlu disiapkan/dilakukan dalam waktu dekat
Seperti cerita saya tadi, mencatat hal-hal penting yang perlu disiapkan/dilakukan dalam waktu dekat bisa cukup membantu agar tidak lupa. Bisa dalam bentuk kertas kecil yang ditempel di tempat tertentu yang mudah ditemukan penglihatan kita, atau dalam suatu buku agenda yang berisi to-do-list kita. Tinggal dipilih yang mana yang bisa menyamankan diri.

2. Tidak mengiyakan semua permintaan
Kita tidak bisa mengiyakan semua permintaan dari banyak orang. Jika kita berusaha untuk mengiyakan semua permintaan dari banyak orang, kita akan melupakan apa yang harus dan wajib kita lakukan. Di awal, orang yang kita iyakan akan merasa senang karena permintaannya memperoleh respon positif dari kita, namun jikalau sampai kita melupakan permintaan tersebut karena kita terlalu banyak mengiyakan permintaan orang, bisa dibayangkan sendiri ya gimana jadinya.

3. Tidak menunda-nunda untuk mempersiapkan/melakukan sesuatu
Kalau yang satu ini, adalah cara sederhana untuk menghindari lupa. Dengan bersegera mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, kita bisa menghindarkan diri dari melupakan hal yang penting untuk dilakukan/dipersiapkan. Kalau bisa melakukan sekarang, kenapa harus ditunda besok-besok?

4. Jangan lupa untuk mengingat
Ini yang mungkin paling sulit. Teruslah mengingat apa yang perlu diingat. Kadang, kita lupa akan sesuatu karena kita tidak berusaha mengingat tentang hal itu. Kita terlalu fokus kepada hal lain yang (sebenarnya) juga penting. Ya tidak salah kalau yang membuat kita lupa adalah hal yang juga penting, tapi kalau yang membuat kita lupa (hanya) hal sepele, rugi toh?

Kalau sudah lupa ya memang tidak bisa diubah. Pasti ada konsekuensi yang mengikuti karena kita lupa sesuatu. Nah, bagaimana supaya tidak? Tidak hanya cara-cara di atas saja caranya, tapi semoga cara di atas bisa membantu ya. 

Adakah saya menginspirasi?