Sabtu, 29 Juli 2017

Ketika Perbuatan, Pikiran, dan Hati Tak Lagi Selaras

http://universologi.blogspot.co.id

Sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang biasanya adalah sesuatu yang kasat mata. Bisa terlihat jelas. Suatu perbuatan seseorang bisa dilihat karena memang perbuatan itu dilakukannya menggunakan (hampir) seluruh inderanya. Baik itu penglihatan, pencium, pengecap, pendengaran, dan peraba. Bisa jadi seluruh indera itu digunakan untuk melakukan suatu perbuatan, atau hanya beberapa dari indera itu saja. Misal untuk makan, berlari, tidur, atau yang lainnya.

Namun, suatu perbuatan yang paling sederhana sekalipun, tidak berdiri sendiri. Ada sesuatu bernama pikiran yang memerintahkan tubuh untuk melakukan perbuatan tersebut. Tidak serta-merta suatu perbuatan terjadi tanpa ada pikiran yang memerintahkannya. Semisal seseorang merasa lapar, maka pikiran akan berkata kepada tubuh untuk kemudian mendorong orang tersebut untuk mengisi perutnya dengan makanan. Atau semisal seseorang merasa mengantuk, pikiran akan memunculkan keadaan yang mendorong orang itu untuk beristirahat atau tidur. Begitu normalnya.

Lantas, bagaimana dengan hati? Apa bagiannya dalam suatu perbuatan yang terlakukan?

Terkadang, hati ikut andil dalam suatu perbuatan tertentu. Utamanya, ketika kita melakukan suatu perbuatan yang berkaitan dengan moral. Jika kita melakukan sesuatu yang dirasa benar, baik oleh penilaian kita maupun penilaian publik, maka hati akan terasa damai. Sebaliknya, tatkala perbuatan yang terlakukan adalah sesuatu yang tidak benar, hati terasa tidak tenang. Begitu normalnya. 

Bagaimana kalau hati terasa damai, baik ketika melakukan suatu yang benar atau salah tanpa memandang perbuatan seperti apa itu? Kondisi itu (mungkin) terjadi pada sebagian orang. 

Lalu, kalau semua terbalik? Hati terasa damai ketika melakukan apa yang salah, dan hati terasa tidak tenang ketika melakukan suatu hal yang benar? Ini berbahaya.

Diperlukan keselarasan yang berkesinambungan di antara pikiran, perbuatan, dan hati, dalam kita menjalani kehidupan kita. Namun memang....

Tidak mudah menyelaraskan perbuatan, pikiran, dan hati. 

Seringkali pikiran kita menginginkan kita untuk melakukan sesuatu yang dirasanya benar, baik oleh penilaian pribadi maupun penilaian publik, namun yang terjadi pada akhirnya adalah kita melakukan sesuatu hal lain yang salah. Meskipun sempat terjadi pertempuran dalam pikiran kita, namun pada akhirnya sesuatu hal yang salah yang terlakukan oleh kita.

Di lain waktu, pikiran kita tidak menghendaki kita untuk melakukan sesuatu, namun kita justru melakukan perbuatan yang tidak dikehendaki pikiran kita tersebut. 

Lalu,pada akhirnya, hati pun menjadi tidak tenang (normalnya) ketika dua kondisi di atas terjadi. Berbeda kalau apa yang kita pikirkan dengan apa yang kita perbuat adalah selaras, biasanya hati akan ikut arus dengan menjadi tenang dan damai, tanpa terasa ada yang mengganjal. 
 Bagaimana supaya ketiganya selaras? 

Disiplin diri, konsistensi, dan kemauan kuat untuk menjadikan ketiganya selalu selaras dapat menjadi solusi untuk menyelaraskan ketiga. Jangan melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh pikiran kita, agar hati dapat terus terasah untuk menjadi baik. Pun juga selalu lakukan sesuatu yang memang benar, supaya hati tetap dapat peka menilai kebaikan yang ada.

Biasanya ketika ketiganya dibuat tidak selaras dalam satu atau dua kali kesempatan, akan ada perasaan yang aneh yang terasa dalam diri kita, karena apa yang terjadi atau apa yang kita perbuat adalah diluar yang benar atau yang seharusnya terjadi. Namun, kalau terus menerus dibiarkan, lama-lama pikiran bisa rusak karena terus menerus tidak dipatuhi, dan hati akan kehilangan kemampuannya membedakan mana yang memang benar dan mana yang seolah benar padahal sebenarnya tidak.

Memang tidak mudah. Saya pun masih berjuang untuk bisa selalu menyelaraskan ketiganya. Seringnya saya kalah dalam usaha menyelaraskan ketiganya, dan membuat saya merasa bersalah. Bersyukur saja kalau memang masih diberi kesempatan merasakan perasaan bersalah ketika melakukan sesuatu yang salah. Tandanya masih ada secercah 'petunjuk jalan' yang mengarahkan kita kepada sesuatu yang benar. 

Semoga anda bisa selalu berada dalam keselarasan antara perbuatan, pikiran, dan hati, supaya hidup bisa menjadi lebih bermakna dan berguna bagi sekitar.

Sabtu, 01 Juli 2017

Coban Rais : Spot Selfie Baru di Batu

Menyebut kota Batu sebagai destinasi wisata memang (seolah) tiada habisnya. Belum tuntas di memori tentang tempat wisata semacam Jatim Park (JTP) yang sudah memiliki dua tempat (JTP 1 & JTP 2), Batu Night Spectacular (BNS), Museum Angkut, Eco Green Park, Batu Secret Zoo, dan Museum Tubuh, sekarang muncul lokasi wisata baru yang lagi happening, Coban Rais.

dokumentasi pribadi
Coban Rais merupakan sebuah lokasi air terjun di daerah Batu yang menyimpan keindahan yang menarik  mata. Namun, selain wisata air terjun, jika anda merupakan seorang yang aktif di Instagram, mungkin sudah tidak asing dengan foto traveler yang naik ayunan di atas jurang. Ternyata, lokasi tersebut merupakan satu lokasi yang sama dengan air terjun Coban Rais.

http://www.lingkarmalang.com
Selain bisa berwisata ke air terjun, anda dapat menikmati berfoto selfie/wefie di beberapa spot yang disediakan disana. Selain ada ayunan di atas jurang, ada juga beberapa spot lain yang tidak kalah menarik, seperti :

Bukit bunga (Batu Flower Garden)
dokumentasi pribadi

Papan hati yang berada diatas sebuah pohon (bisa buat foto bersama pasangan atau keluarga)
http://travel.kompas.com

Ayunan gantung (hammock) baik yang hanya satu maupun yang bertumpuk
http://www.photomalang.com
https://armandfrezh.wordpress.com

Lokasi pohon pinus (ada papan bertuliskan I U dan semacam pos penjaga yang berbentuk papan kotak di atas ketinggian)

http://travel.kompas.com

http://www.dakatour.com

Terakhir, mau gowes di atas ketinggian? Bisa. Berdua juga bisa, kok.

https://ngalam.co
https://ngalam.co

Lokasi Coban Rais berada di Oro-Oro Ombo, Batu. Untuk masuk ke dalam wahana wisata, pengunjung akan dikenakan biaya tiket sebesar Rp10.000,00/orang. Kemudian, untuk mencapai lokasi berfoto, pengunjung perlu menempuh perjalanan berjalan kaki ke atas sekitar ± 1 kilometer. Tapi kalau itu dirasa terlalu jauh, tersedia ojek motor yang siap mengantarkan pengunjung mencapai lokasi berfoto. Biaya ojek per orang dikenakan sebesar Rp10.000,00 sekali jalan (naik saja atau turun saja, tidak sekaligus naik turun).

Setelah mencapai lokasi berfoto, pengunjung diwajibkan membeli tiket untuk spot mana yang akan dipilih untuk berfoto. Tiket rata-rata setiap spot dijual sebesar Rp20.000,00 – Rp30.000,00. Kebetulan saya berkunjung kesana pada saat libur panjang (Idul Fitri + kenaikan kelas anak sekolah), sehingga jumlah pengunjung yang berkunjung ke sana begitu banyak. Untuk sekadar membeli tiket berfoto, saya perlu mengantri sekitar setengah jam, itu pun tidak semua spot foto yang dibuka antriannya. Pengelola tempat wisata membatasi jumlah pengunjung yang membeli tiket pada beberapa spot dikarenakan kuota pengunjung yang membeludak. Saya pun hanya mendapatkan tiket pada spot bukit bunga dan papan hati di atas pohon.

Setelah mendapatkan tiket, pengunjung perlu antri kembali untuk mendapat nomer antrian giliran berfoto di masing-masing spot yang dipilih. Mungkin ini yang menyebabkan kuota masing-masing spot tidak sama, ada yang terus dibuka ada yang harus ditutup karena panjangnya antrian. Setelah mendapat giliran berfoto, file hasil foto dapat diambil untuk disalin ke dalam handphone (HP), sambil memilih mana hasil yang baik dan mana yang tidak di tempat yang disediakan, tanpa perlu membayar untuk jumlah tertentu. Jika melebihi jumlah yang ditetapkan pengelola, akan dikenakan biaya sebesar Rp5.000,00/file foto.

Jika sedang mencari lokasi liburan yang bisa menambah koleksi foto, bisa berkunjung ke tempat ini. Namun untuk menghindari antrian yang menumpuk, bisa dipertimbangkan mengunjungi tempat ini pada suasana akhir pekan di luar hari libur. Supaya tidak terlalu lama menunggu antrian, dan bisa mencoba (mungkin) semua spot foto yang tersedia. Selamat berwisata!

Adakah saya menginspirasi?