Sabtu, 12 Agustus 2017

Hidup Kita Sekadar Pemberian

Dalam beberapa kesempatan saya coba merenungkan apa saja kisah menarik maupun menyedihkan yang menjadi bagian cerita hidup saya. Banyak sekali hal-hal yang sudah terjadi dalam 27 tahun perjalanan hidup saya. Ada yang membuat tersenyum, memunculkan tangisan, menghadirkan suka, atau membawa duka. Lengkap. Karena banyak cerita maka hidup itu indah.

Kalau coba diperbandingkan, tentu cerita hidup saya akan sangat berbeda dengan cerita anda masing-masing pembaca blog ini. Saya tidak bisa mengatakan cerita hidup saya paling indah, paling menarik, paling membahagiakan, atau paling yang lainnya. Siapa saya berani mengklaim seperti itu? Jika diperbandingkan dengan anda, ya tentu ada bagian yang lebih unggul di saya, dan sebagian lain lebih unggul di anda. Kalau dipermasalahkan atau terus-terusan diperbandingkan malah bikin pusing karena tidak akan ada habisnya.

Daripada habis tenaga untuk memperbandingkan hidup masing-masing, lebih baik kita secara pribadi merenungkan pemberian yang kita dapatkan. Pemberian dari siapa? Bisa dari siapa saja yang mau memberi kepada kita. Mau pemberian berupa barang, jasa, bantuan, motivasi, atau apalah bentuknya, semua yang berasal dari orang lain itu namanya pemberian. Jadi kalau kita diberi motivasi untuk maju mengambil suatu keputusan besar, walau tidak ada bentuk fisiknya, itu juga pemberian lo.

Kalau pemberian yang dari Tuhan, apa saja? Banyak juga. Kita bisa membuka mata selepas tidur, itu pemberian. Kita bisa menghirup udara segar tanpa harus bayar(karena banyak juga yang harus bayar untuk sekadar bernafas), itu pemberian. Kalau kita berdoa meminta sesuatu, lalu akhirnya doa kita dijawab Tuhan dan kita dapat apa yang kita doakan, itu juga pemberian. Terkadang, pemberian dari Tuhan sering disebut juga sebagai anugerah. Lalu apa sih yang bukan pemberian dalam hidup? Saya belum menemukan jawabannya. Kalau ada, mungkin bisa dibagikan ke saya, nanti bisa kita diskusikan bersama.

Sudah menikmati hidup sedemikian rupa, kita kadang lupa untuk menghargai setiap proses kehidupan sebagai sebuah pemberian. Sudah diberi tenaga dan badan yang sehat, kita kadang cuma ongkang-ongkang sambil malas-malasan dalam menjalani masa produktif. Padahal, waktu-waktu kita bisa diisi dengan berkarya di bidang pekerjaan atau yang lain yang lebih bermakna. Ini bisa dibilang menyia-nyiakan pemberian.

Sudah diberi kepintaran, cuma dipakai untuk ngapusi (Bahasa Jawa : membohongi) orang yang kurang pintar. Kadang-kadang, ngapusi untuk bisa dapat keuntungan, berupa duit biasanya. Biar tambah banyak duitnya, alasannya.

Lalu setelah banyak duitnya, diberi kekayaan berlimpah, cuma dipakai untuk berfoya-foya dan tidak menggunakan kesempatan diberi kekayaan untuk menolong orang-orang yang kesusahan yang bahkan untuk makan apa dalam sehari saja bingung. Kalau sudah begitu, hidupnya berfaedah tidak? Kok sepertinya belum.

Direnungkan secara mendalam, hidup kita sekadar pemberian. Kita ini bukan apa-apa, cuma debu tanah. Mau menyombongkan diri seperti apa juga percuma. Toh yang kita sombongkan juga pemberian. Masa iya kita menyombongkan sesuatu yang diberi ke kita? Kok ya kurang kerjaan. Kita pintar, karena pemberian. Kita berkecukupan, karena pemberian. Kita tampan, cantik, rupawan, ya juga pemberian, walau ada juga yang pakai perawatan tubuh, yang bikin tambah menarik, tetap saja itu pemberian juga uang yang dipakai untuk perawatannya. Nah, kalau kita tidak punya pemberian sama sekali, kita ini jadi apa?

Ini sekadar perenungan saya. Saya juga mau memberi sedikit kepada anda para pembaca. Kalau mungkin anda kurang berkenan ya monggo (Bahasa Jawa : silahkan), saya tidak memaksa anda harus setuju dengan saya. Hal yang dipaksakan juga tidak baik. Saya ingin sekadar berbagi hasil pemberian Gusti Yesus kepada saya, talenta menulis. Bisanya menulis ya hasilnya tulisan.

Semoga tulisan ini menginspirasi pembaca sekalian untuk berkenan menghitung pemberian yang diterima dari siapa saja dan bersyukur atas pemberian itu. Supaya nanti kalau berkesempatan untuk memberi ke orang lain, atau bahkan ke Tuhan, ya jangan ditahan-tahan. Nanti ada yang mengganjal kalau ditahan-tahan untuk memberi. Kalau sudah begitu nanti terbawa di pikiran lalu sakit. Sudah diberi sehat masa mau sakit? Yuk direnungkan, hidup kita sekadar pemberian.

Adakah saya menginspirasi?