Selasa, 05 September 2017

Tatkala Gagal Permulaanmu, Tak Berarti (pasti) Gagal Kesudahanmu


Setiap kita pasti pernah melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Entah apapun itu, namun saya pastikan anda pernah melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Dalam hal pendidikan, ada pertama kali anda membaca buku atau menulis. Dalam hal pekerjaan, ada pertama kali anda bekerja dan berinteraksi dengan rekan anda dengan status seorang karyawan/pekerja/pengusaha. Dan dalam sebuah hubungan, ada pertama kali anda tertarik kepada lawan jenis, dan menjalin hubungan yang serius dengan seseorang.

Untuk semua hal, ada pertama kalinya.

Tidak selalu apa yang menjadi kesempatan pertama kita melakukan sesuatu berjalan dengan lancar. Ada anggapan orang yang menyebut bahwa, "Yang tersulit dari sesuatu hal adalah memulainya", atau, "The beginning is the hardest". Setujukah anda?

Mengapa bisa muncul anggapan semacam itu? Saya coba menelaah. Ketika kita akan melakukan sesuatu untuk pertama kalinya, kita akan bertemu dengan suatu kondisi yang baru, keadaan yang baru, yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Karenanya, perlu adaptasi untuk dapat melancarkan usaha kita melakukan sesuatu tersebut. Meskipun sebenarnya itu hal yang sepele, tetap saja permulaan kita melakukannya tidak (selalu) mudah.

Dari situlah mungkin muncul anggapan orang seperti yang saya sebutkan di atas. Tidak semua orang mampu melakukan sesuatu untuk yang pertama kali dengan lancar dan sukses. Ada orang yang pada akhirnya mengalami kegagalan ketika menghadapi masa pertama dalam melakukan sesuatu.

Apakah kegagalan di awal selalu berarti kegagalan sampai akhir?
Ini menjadi suatu stigma yang melekat pada masyarakat. Kadang kita menilai kemungkinan keberhasilan seseorang hanya dari hasil di awal yang diperolehnya. Jika seseorang berhasil dengan baik di awal, kita sontak menganggap dia akan mencapai sesuatu yang besar di kemudian hari. Sebaliknya, saat kita menemukan seseorang yang belum apa-apa sudah mengalami kegagalan, kita langsung memberi cap pada orang tersebut sebagai orang yang gagal.

Padahal, tidak selalu orang yang berhasil adalah orang yang berhasil di awal, dan tidak selalu orang yang gagal adalah orang yang gagal di awal. Ada orang-orang besar dan terkenal di seluruh dunia yang mengalami kegagalan di awal. Berkali-kali malah. Namun mereka tidak menyerah sehingga dapat mencapai posisi yang berhasil, dan dikenang banyak orang.

Walt Disney pernah dipecat oleh editor surat kabar karena dianggap tidak memiliki ide dan imajinasi yang bagus. Namun dia berhasil membuat karyanya dinikmati anak-anak seluruh dunia.

Harland David Sanders pernah mengalami penolakan resep yang dibuatnya sekitar 1009 kali. Namun sekarang kita bisa menikmati ayam kreasinya yaitu KFC.

Thomas Alva Edison mengalami 1000 kali kegagalan dalam melakukan penemuannya. Namun sekarang dunia menjadi terang benderang karena bola lampu yang diciptakannya.

Masih banyak lagi tokoh besar dunia yang pernah gagal pada permulaan mereka. Kalau mereka bisa berhasil setelah mengalami kegagalan, maka pastinya anda juga bisa. Selamat mencoba!

Tatkala gagal permulaanmu, tak berarti (pasti) gagal kesudahanmu. 
Adakah saya menginspirasi?


Inpirasi lain:

Ketika Perbuatan, Pikiran, dan Hati Tak Lagi Selaras

Coban Rais : Spot Selfie Baru di Batu

Menabur : Cara Sederhana Menjaga Semangat Kebaikan