Sabtu, 04 November 2017

Naik Kelas itu Baik

http://www.tubasmedia.com
Sedikit waktu yang telah terjalani agaknya terasa begitu cepat. Secara hitung-hitungan tentu waktu 10 tahun tidak singkat. Jika dikonversikan ke bentuk hari, maka ada sekitar 3.650 hari dalam waktu 10 tahun, di luar tambahan hari di tahun kabisat. Sungguh suatu waktu yang sangat terasa lama jika dijalani hari demi hari.

Namun, waktu 10 tahun tersebut telah terjalani secara mengasyikkan bagi saya. Jika saya mengenang kembali masa saya menjadi seorang murid sekolah menengah atas, sekitar tahun 2006-2008, saya sempat mendapat kesempatan berkunjung ke Kota Bandung dalam sebuah kegiatan study tour. Bersama para guru, saya dan teman-teman mengunjungi beberapa tempat yang mengedukasi di sana. Sebut saja Saung Angklung Udjo, Waduk Jatiluhur, Institut Teknologi Bandung, dan yang lainnya. Semua itu menjadi pengalaman menarik bagi saya dan menjadi pembelajaran juga bagi saya dalam proses menapaki langkah menuju kedewasaan.

Lepas 10 tahun kemudian, waktu berjalan cepat. Saya kembali mendapatkan kesempatan mengunjungi kota Bandung, masih dalam rangkaian acara study tour, namun bedanya adalah saya bukan lagi datang sebagai seorang murid melainkan sebagai seorang guru. Tentu pengalaman saya kali ini akan berbeda dengan pengalaman saya yang terdahulu. Ketika saya sebagai guru maka ada murid-murid yang saya harus pandu untuk mengikuti kegiatan di sana untuk mempelajari sesuatu.

Menarik melihat proses yang saya alami dimana Sang Empunya hidup memproses saya sedemikian rupa untuk dapat “naik kelas”. Maksud saya adalah perubahan status secara drastis yang bisa saya alami tentu merupakan suatu anugerah yang diberikanNya kepada saya. Saya diijinkan untuk menjadi guru dan bukan lagi sebagai murid. Sungguh kebaikan yang memang sedikit bagiNya namun banyak dan besar bagi saya.

Kawan, kita perlu untuk naik kelas dalam hal yang kita jalani. Tentu untuk hal-hal yang positif. Mengapa demikian? Karena kita manusia memiliki kemampuan untuk itu. Kita bisa mencapai hal-hal besar yang bisa tercapai selama kita konsisten berusaha. Pencapaian saya pun tidak semudah memejamkan mata untuk beristirahat saat kita lelah. Ada keringat yang bercucuran, lelah yang melanda tubuh, tantangan yang membentang, dan bahkan tembok ketidakmungkinan yang harus diruntuhkan. Semua itu terangkai apik memproses saya untuk mencapai posisi naik kelas.

Ketika kita akhirnya mampu naik kelas, maka itu menandakan bahwa apa yang kita kerjakan dan usahakan telah mencapai suatu hasil yang baik. Pencapaian tersebut sekaligus sebagai motivator tanpa suara yang begitu lantang menyemangati kita untuk terus mencapai titik yang lebih tinggi dari posisi kita sekarang.

Jika kita belum juga mencapai titik dimana kita bisa naik kelas walaupun kita merasa telah memberikan (nyaris) segala yang kita mampu berikan, mungkin kita perlu melihat lagi posisi kita. Apakah benar kita berada di jalan yang memang harus kita tempuh? Apakah semua yang kita lakukan sudah sesuai dengan yang diperlukan? Jujur saya tidak memiliki jawaban atas pertanyaan tersebut. Kawan-kawan pembaca sendiri yang dapat menjawabnya, dengan melihat pengalaman kehidupan kawan masing-masing.

Pada akhirnya, naik kelas dalam segala hal yang baik itu baik (menurut saya). Karena dengan kita mencapai posisi naik kelas, dapat menjadi motivator keberhasilan ke depan untuk mencapai hal yang lebih besar lagi, dan juga indikator pencapaian kita apakah yang kita kerjakan sudah cukup tepat ataukah tidak. Supaya dari hal kecil nan sederhana yang kita lakukan di awal, bisa terus ditambahkan sesuatu yang besar dan makin kompleks yang dipercayakan kepada kita untuk kita kerjakan. Jadi, jangan patah semangat mengejar posisi naik kelas, karena naik kelas itu baik.

Apakah saya menginspirasi?