Sabtu, 09 Desember 2017

Manusia Pasti (Akan) Berbuat Salah

blog.objectiflune.com

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca sebuah status seorang rekan yang dia unggah di salah satu media sosial yang cukup populer yaitu facebook. Di sana dia mencurahkan unek-unek yang mungkin sudah lama dipendamnya dalam hati dan pikiran. Dengan membaca status rekan saya tersebut, saya dapat memahami secara sekilas permasalahan yang dihadapi oleh rekan saya tersebut. Tampaknya cukup berat, sampai-sampai tersurat bahwa rekan saya tersebut merasa sakit hati dengan perkataan seorang yang lain.

Saya pun sejenak bermenung, bagaimana sebuah masalah dapat membuat manusia menjadi sedemikian kecewa dan sedih, bahkan sakit hati. Sekadar informasi, rekan saya ini jarang saya dapati menulis di media sosial miliknya tentang sesuatu yang kurang mengenakkan - terutama masalah personalnya dengan orang lain - yang dialaminya. Jika dia sampai pada titik semacam ini, berarti permasalahan yang terjadi cukup besar, dalam, atau mungkin kompleks. Perkiraan saya. 

Hal ini kemudian mengundang saya untuk berkontemplasi mengenai keberadaan kita sebagai manusia yang tiada lepas dari salah. Keliru, tidak benar, cela, khilaf, atau apapun namanya merupakan satu keadaan yang lekat dengan manusia. Keberadaan manusia yang memang memiliki status "berdosa" sejak lahirnya - dalam artian masih bayi - adalah satu penyebab mengapa kita pasti akan berbuat salah. Baik besar atau kecil, kesalahan tetaplah kesalahan. 

Dampak dari kesalahan yang kita perbuat bisa mengarah hanya pada diri sendiri, pun bisa kepada orang sekitar kita. Apabila itu hanya mengarah pada diri sendiri, mungkin orang sekitar tidak akan terlalu terdampak dengan kesalahan kita, karena yang mengalami efek atau dampak dari kesalahan kita - yang biasanya merugikan - adalah diri kita sendiri. Namun lain cerita jika dampak dari kesalahan kita tersebut adalah menuju orang sekitar kita. Bisa saja orang sekitar menjadi kecewa atas kesalahan yang kita perbuat, dalam kasus yang lebih dalam, menjadi sakit hati. Kesalahan yang biasanya kita lakukan melalui pikiran, perkataan, atau perbuatan, secara sadar atau tidak bisa memberi dampak kepada orang sekitar. Dan kemungkinan besar, dampak yang tidak mengenakkan. 

Jika demikian, ketika kita sudah paham bahwa sebagai manusia kita sangat bisa melakukan kesalahan, yang bisa saja berdampak pada diri sendiri maupun orang lain, bagaimana sikap kita? 


Kita bisa membentengi diri kita sendiri untuk mencegah kekecewaan akibat kesalahan yang dilakukan orang lain. Membentengi diri yang seperti apa? Sebaiknya kita tidak menaruh harapan yang berlebihan kepada orang lain. Sebagaimana yang menjadi rahasia umum, bahwa semakin besar harapan akan sesuatu atau seseorang, maka semakin besar kekecewaan yang mungkin kita terima ketika harapan kita tidak terwujud. Dan sebagai makhluk yang terbatas, manusia sangat bisa mengecewakan sesamanya. Karena itu sebaiknya jangan berharap terlalu tinggi kepada rekan kita manusia apabila tidak ingin dikecewakan. Tanamkan kesadaran bahwa manusia pasti akan berbuat salah, sehingga kita harus selalu siap untuk mengalami keadaan orang lain yang bersalah kepada kita. Namun kita tidak berhak untuk menghukum dengan pembalasan seenak kita karena itu adalah hak Sang Empunya hidup saja untuk menuntut balas. 

Dari sisi kita, tatkala kita yang melakukan kesalahan, ada baiknya tidak meninggikan ego untuk menutupi kesalahan yang kita buat. Berbesar hati dan mengakui kesalahan yang kita buat akan lebih baik daripada terus mengelak dan bahkan melempar kesalahan kepada orang lain. Bukan pilihan yang bijak. Ingat selalu sekalipun manusia bisa luput untuk melihat kesalahan kita, namun Pribadi mahakuasa selalu tahu setiap detik perjalanan kehidupan ciptaannya. 

Kita makhluk yang terbatas adanya. Kesalahan bukan suatu hal yang jauh dari hidup kita. Ada masa dimana kita bisa selalu menjalani hidup seturut kebenaran yang baik adanya, namun lain waktu kita terjerembab dalam kubangan kesalahan. Semuanya proses kehidupan yang mungkin terjadi. Tinggal bagaimana kita kembali ke jalan yang benar setelah melakukan kesalahan, atau menerima keadaan orang lain yang bersalah kepada kita tanpa mengagungkan-agungkan emosi dalam diri, supaya kehidupan tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya. Karena manusia pasti (akan) berbuat salah.