Kamis, 28 Juni 2018

Memperpanjang Masa Berlaku SIM Perseorangan

Perkembangan alat transportasi dewasa ini cukup pesat. Dari awalnya hanya ada alat transportasi yang bertenagakan hewan ataupun manusia yang terbatas hanya di darat, kini kita dapat dengan mudah memilih untuk menggunakan alat transportasi darat, laut, maupun udara yang sesuai dengan kebutuhan kita. Tentunya perkembangan transportasi harus di imbangi dengan regulasi yang mengatur ketertiban berlalu lintas dan juga menjamin keselamatan bagi para pengguna alat transportasi apapun.

Salah satu produk regulasi yang wajib dimiliki oleh pengemudi kendaraan bermotor di jalan adalah Surat Izin Mengemudi (SIM). Menurut Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2012 pasal 5 ayat 2, penggolongan SIM adalah SIM perseorangan dan SIM umum.

Untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi, calon pengemudi harus memiliki kompetensi mengemudi yang dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan atau belajar sendiri”. Sesuai pasal 77 ayat 3 Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Ada beberapa penggolongan SIM menurut undang-undang. SIM yang cukup banyak diajukan adalah SIM A perorangan dan SIM C. Menurut pasal 80 a Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009, “SIM A berlaku untuk mengemudikan mobil penumpang dan barang perseorangan dengan jumlah berat yang diperbolehkan tidak melebihi 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram”. Sedangkan menurut pasal 80 d Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009, “SIM C berlaku untuk mengemudikan sepeda motor”.           

Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya dalam memperpanjang masa berlaku SIM A perorangan maupun SIM C. Masa berlaku SIM adalah 5 tahun, yang dimulai dan akan berakhir pada tanggal dan bulan kelahiran pemilik SIM. Saya mengurus perpanjangan masa berlaku SIM A maupun SIM C saya tanpa melalui calo. Selain lebih murah, tentu bisa mendukung gerakan anti korupsi di Kepolisian Republik Indonesia.

Persyaratan Dokumen
Surat keterangan sehat dari PUSKESMAS
Untuk memperpanjang masa berlaku SIM A maupun SIM C, diperlukan dokumen-dokumen berikut:
ü  Fotokopi SIM yang akan diperpanjang.
ü  Fotokopi KTP elektronik pemilik SIM.
ü  Surat keterangan sehat dari Puskesmas atau klinik yang ditentukan pihak Kepolisian.
ü  Asli SIM yang akan diperpanjang.

Prosedur Perpanjangan
ü  Setelah persyaratan dokumen terlengkapi, bisa datang ke Polresta sesuai domisili di SIM. Dalam kasus saya, saya mengurus perpanjangan SIM di Polresta Sidoarjo.
ü  Silahkan beli map perpanjangan SIM dan lampirkan persyaratan dokumen-dokumen di dalam map.
ü  Lanjutkan menuju loket pertama untuk mendapatkan formulir perpanjangan SIM dan tanda bukti pembayaran bank.
ü  Berikutnya anda dapat melakukan pembayaran di bank yang ditunjuk pihak Kepolisian. Di tempat saya mengurus SIM, bank yang ditunjuk adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang hanya melayani pembayaran keperluan SIM sampai pukul 1 (satu) siang.

ü  Lalu anda dapat melanjutkan menuju ke loket pengumpulan berkas untuk mengumpulkan berkas.
ü  Setelah itu data anda akan diproses di loket entry data. Anda akan dipanggil untuk konfirmasi data.
ü  Setelah data sudah benar, perpanjangan SIM dilanjutkan dengan proses foto SIM dan pengambilan sidik jari maupun tanda tangan. Untuk perpanjangan SIM yang masih berlaku dan belum kedaluwarsa, tidak diharuskan mengikuti tes teori maupun praktek.
ü  Terakhir, tinggal menunggu SIM yang baru dicetak. Estimasi waktu sampai SIM dicetak tergantung dari antrian pemohon SIM.
 
Loket-loket pengurusan perpanjangan SIM
Estimasi Biaya
Biaya yang diperlukan untuk pengurusan perpanjangan SIM A adalah sebagai berikut:
ü  Map perpanjangan SIM A: 4.000 IDR
ü  Fotokopi SIM dan KTP: 1.000 IDR
ü  Surat Keterangan Sehat: 20.000 IDR
ü  Asuransi kecelakaan: 30.000 IDR
ü  Biaya perpanjangan SIM A/SIM C: 80.000 IDR / 75.000 IDR
Total 135.000 IDR untuk SIM A dan 130.000 IDR untuk SIM C.

Kepatuhan berlalu lintas tidak hanya dimulai ketika kita berkendara di jalan. Namun juga dengan ketaatan terhadap regulasi yang dibuktikan dengan memiliki dokumen yang dibutuhkan untuk dapat secara sah mengemudikan kendaraan di jalan. Adapun jika masa berlaku SIM akan segera jatuh tempo, segeralah diurus perpanjangannya. Jangan menunggu sampai lewat masa berlakunya, karena jika telah lewat masa berlakunya maka anda diharuskan mengikuti prosedur pembuatan baru SIM, dengan mengikuti ujian teori pun ujian praktik. Terakhir, hindari menggunakan calo, agar kita bisa turut mendukung pemberantasan budaya korup dan berkontribusi terhadap kemajuan Bangsa Indonesia melalui Kepolisian Republik Indonesia. Toh mengurus perpanjangan SIM sendiri lebih murah daripada mengurus melalui calo.

Adakah saya menginspirasi?

Inspirasi lain:

Jumat, 15 Juni 2018

Dwiwarsa : Perjalanan 730 Hari Menginspirasi


Dua tahun lalu, tepat pada tanggal 15 Juni 2016, saya mencoba mengaplikasikan talenta saya dalam menulis melalui sebuah media yang (harapannya) dapat dibaca banyak orang. Singkat cerita, saya menenggelamkan diri dalam status sebagai seorang blogger melalui sebuah blog bertajuk "Ajaran Inspirasi". Tujuannya sederhana saja, yaitu membagikan berbagai macam pemikiran saya untuk sekiranya dapat menginspirasi para pembaca untuk dapat melakukan hal-hal positif yang tertuang dalam tulisan di blog "Ajaran Inspirasi". 

Tidak mudah menjadi produktif dalam menghasilkan sebuah inspirasi baru setiap hari, minggu, atau setiap bulannya. Terbukti, bahwa sejauh dwiwarsa perjalanan blog ini, baru 30-an tulisan yang telah rilis. Memang, saya berusaha konsisten untuk menghadirkan artikel baru setiap bulannya. Dari awalnya bercerita tentang profesi saya sebagai seorang guru yang telah sukses menghadirkan keceriaan dalam keseharian hidup saya, sekarang telah meluas dengan hadirnya beberapa rubrik yang berbeda-beda dan akan terus ditambah seiring dengan berjalannya waktu.

Cerita Perjalanan
Muncul pertama kali di tahun 2017 tepatnya pada bulan Juni, rubrik ini mengisahkan perjalanan saya dalam menyusuri tempat-tempat wisata yang menarik yang sekiranya dapat menjadi destinasi pembaca. Semoga dapat menjadi referensi bagi pembaca untuk ikut berkunjung ke tempat wisata tersebut.

Kupas Gawai
Rubrik yang tergolong baru ini akan mencoba memberikan ulasan mengenai gawai yang pernah saya pergunakan. Sehingga dapat memberi gambaran sederhana bagi pembaca tatkala ingin menggunakan pula gawai yang saya ulas tersebut.

Sedikit Cerita
Rubrik yang menceritakan pengalaman pribadi saya dalam mengikuti suatu kegiatan maupun mengurus suatu keperluan yang berkaitan dengan instansi tertentu. Sejauh ini merupakan rubrik dengan artikel yang cukup banyak dibaca, mungkin karena saya mendedikasikan beberapa tulisan ini untuk komunitas yang saya ikuti. Sehingga para pembacanya kemungkinan juga berasal dari komunitas yang bersangkutan.

Renungan Pribadi
Rubrik dengan tulisan terbanyak sejauh ini yang berawal dari perenungan saya dalam menjalani bagian tertentu dari kehidupan. Topik yang diulas kebanyakan merupakan topik yang menjadi pengalaman banyak pembaca termasuk saya. Sehingga rubrik ini terus memunculkan inspirasi bagi saya untuk menambahkan artikel baru setiap waktunya.

Tentang Guru 
Rubrik pertama yang ada dalam blog "Ajaran Inspirasi". Merupakan rubrik yang menceritakan banyak hal terkait profesi saya sebagai seorang guru yang harapannya dapat menginspirasi para pembaca yang berminat menjadi seorang guru atau mungkin sedang menjalani profesi sebagai seorang guru. Untuk dapat terus menginspirasi banyak anak didiknya menjadi generasi penerus bangsa.

Masih banyak inspirasi yang bermunculan dalam benak saya. Entah itu berupa artikel maupun rubrik-rubrik baru yang menarik. Semua tinggal menunggu waktu untuk hadir di dalam blog "Ajaran Inspirasi". Terima kasih untuk atensi yang diberikan selama 730 hari perjalanan blog ini menginspirasi. Semoga setiap tulisan yang rilis dapat memberikan ajaran yang berguna dan inspirasi yang menggerakkan pembaca untuk berkarya secara positif dalam setiap bidang kehidupan masing-masing. 

Adakah saya menginspirasi?


Inspirasi lain:
Belajar dari Penambal Ban
Merespons Intimidasi Media Sosial dengan Elegan
Keluar dari Zona Nyaman

Selasa, 12 Juni 2018

Belajar dari Penambal Ban

Seminggu ini saya dua kali mengalami kondisi di mana ban sepeda motor  bagian belakang saya bocor. Kondisi ban tubeless yang sudah rusak menjadikan ban belakang tersebut menjadi mudah kempis ketika mengalami kebocoran. Penyebab dari kebocoran adalah paku yang menimbulkan lubang pada ban bagian luar dan menembus ke dalam sampai ban bagian dalam. Dalam rentang waktu dua hari, tak kurang dua kali saya harus mampir ke tukang tambal ban. Kunjungan pertama akibat ban tertusuk paku, sedangkan kunjungan yang kedua juga karena tertusuk paku yang merupakan paku yang sama yang sebelumnya belum dicabut sehingga menyebabkan kebocoran di titik yang lain dari ban dalam bagian belakang. Biarpun demikian, saya tetap bersyukur tidak sampai harus menuntun sepeda motor saya sekian kilometer jauhnya, karena motor saya terasa oleng dan bocor bannya ketika saya berada di dekat tukang tambal ban.

Ban sepeda motor saya sedang ditambal
Kenapa saya harus bercerita tentang pengalaman pribadi saya menambal ban? Karena ternyata saya mendapat inspirasi untuk menuliskan tulisan ini dari pengalaman tersebut. Dari dua kali pengalaman menambal ban dalam rentang waktu yang berdekatan, saya boleh mempelajari sesuatu yang sederhana nan bermakna. Pelajaran yang menginspirasi saya muncul ketika saya berada pada kesempatan kedua kalinya menambal ban sepeda motor saya. Ketika itu saya hendak berangkat menuju ke gereja untuk beribadah sore, namun saya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah pasangan saya terlebih dahulu untuk beribadah bersamanya. Dari rumah saya sudah merasa ban sepeda motor saya kempis, namun saya coba terus mengendarainya dan sempat mengisi angin ban tersebut dengan harapan bahwa ban saya hanya kempis saja dan tidak bocor. Namun saya salah. Karena ban tersebut memang bocor dan saya pun harus menepi untuk menambalnya. 

Sore itu matahari masih setia memancarkan sinarnya, membuat udara terasa cukup hangat dan melelahkan bagi saudara-saudara yang menjalankan ibadah puasa. Begitu juga saya lihat dari penambal ban yang saya kunjungi. Tidak terlihat ada tanda-tanda beliau menyediakan botol minuman untuk melepas dahaga atau sedikit makanan untuk sarana mengenyangkan perut, sehingga saya berasumsi bahwa beliau sedang berpuasa. Dari kecepatan beliau mengerjakan pekerjaan menambal ban sepeda motor saya, di mana beliau terlihat tidak terlalu lekas dalam mengerjakannya, makin menguatkan asumsi saya bahwa beliau memang sedang berpuasa.

Penambal ban yang sedang mengerjakan pekerjaannya
Sembari menambal ban sepeda motor saya, beliau mencoba mengajak saya berbincang mengenai hal-hal sederhana. Waktu itu di mulai dengan menceritakan karakteristik ban luar jenis tubeless yang lebih keras dari ban biasa sehingga untuk penambal ban yang kurang berpengalaman, biasanya akan menolak untuk mengerjakannya karena merasa kesusahan. Atau, jika mereka terlalu memaksakan untuk mengerjakannya, bisa jadi ada kesalahan dalam proses mengeluarkan ban dalam yang bisa mengakibatkan goresan pada bagian dalam roda. Saya berusaha mengimbangi dengan mengiyakan perkataan beliau, karena saya juga diburu waktu sehingga saya tidak terlalu antusias dalam berbincang sore itu.

Satu momen yang membuat saya mempelajari sesuatu sore itu adalah ketika beberapa anak kecil yang bersepeda dengan tujuan memancing di suatu tempat (terlihat beberapa anak tersebut membawa alat pancing), berhenti dan meminta kepada penambal ban tersebut untuk menambah angin pada ban sepeda mereka. Sang penambal ban dengan ramah mempersilahkan mereka mengisi sendiri angin ban sepeda mereka, secara cuma-cuma alias tidak perlu membayar. Saya sedikit terkejut. Namun, saya melihat ketulusan dalam tindakan penambal tersebut, walaupun hanya sekadar angin yang bisa dibilang murah, namun bagi seorang penambal ban, angin tersebut dapat menjadi sumber penghasilan yang mungkin merupakan sumber penghasilan satu-satunya saja sehingga angin tersebut menjadi sangat berharga. Namun beliau masih berkenan untuk memberikan secara gratis tanpa dipungut biaya untuk anak-anak kecil tadi.
Mesin kompresor yang menghasilkan angin untuk ban
Dari sana saya belajar, kadang kita memberikan suatu harga bagi apa yang dapat kita berikan atau tawarkan kepada orang lain. Entah itu berupa jasa ataupun berupa barang. Mengapa? Karena kita menggunakan hal tersebut sebagai sumber penghasilan kita, sehingga kita seolah berlomba untuk memberikan yang terbaik dari kita, dengan harapan mendapatkan penghasilan yang terbaik pula dari orang lain yang menikmati jasa atau barang yang kita hasilkan. Namun sesekali kita juga perlu memberikan apa yang kita dapat hasilkan secara gratis kepada orang lain. Sebagai rasa syukur kita atas apa yang kita miliki. Karena pada dasarnya segala apa yang kita miliki adalah pemberian. Siapa yang memberi? Tentu Sang Empunya kehidupan. (baca juga: Hidup Kita Sekadar Pemberian) Jadi sesungguhnya, yang lebih memiliki hak menentukan harga dari apa yang kita mampu berikan atau hasilkan adalah Sang Empunya, karena semua yang kita miliki adalah milikNya. Namun kita diberikan kebebasan selama kita pun tidak lelah memberi dan berbagi kepada orang lain.

Dengan kita memberi, kita tidak akan berkekurangan. Justru apa yang kita anggap akan menjadi hilang karena kita berikan kepada orang lain, akan digantikan dengan sesuatu yang lain yang lebih dari apa yang sudah kita berikan. Penambal ban tersebut memberikan angin yang dijualnya kepada anak-anak yang membutuhkannya secara gratis. Sebagai gantinya saya yakin bahwa beliau akan memperoleh kebaikan lain yang tidak pernah terduga datangnya. Seperti seorang penambal ban yang selalu siap menambal ban kendaraan orang lain, Sang Empunya pun siap menambal segala kekurangan yang kita miliki, selama kita pun tanpa lelah berkarya sesuai talenta yang kita miliki, pun juga memberi sebagian kepunyaan kita kepada sesama yang membutuhkan.

Adakah saya menginspirasi?

Inspirasi lain: 



Rabu, 23 Mei 2018

Merespons Intimidasi Media Sosial dengan Elegan


www.gandengtangan.org

Dewasa ini, kondisi negara tempat kita tinggal ini menjadi agak ‘terpecah’. Mengapa saya katakan demikian? Tentu penyebab yang mendominasi adalah adanya ‘pesta demokrasi’ yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Dimulai dengan pemilihan kepala daerah di beberapa Provinsi, kota, maupun kabupaten di seluruh Indonesia, dan berujung pada Pemilihan Umum 2019 yang akan menentukan anggota-anggota legislatif yang akan mewakili rakyat serta memilih presiden dan wakil presiden yang akan menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan Indonesia.

Siklus lima tahunan ini telah berlangsung beberapa kali, dan ke depannya akan kembali terulang dalam ‘pesta demokrasi’ mendatang. Perbedaan yang cukup signifikan dari ‘pesta demokrasi’ saat ini dengan yang terdahulu adalah adanya media sosial sebagai sarana komunikasi pun sarana kampanye yang cukup efektif untuk menyebarluaskan paham politik yang diyakini oleh para calon yang akan maju untuk bersaing dalam Pilkada maupun Pemilu. Jika anda bersedia meluangkan waktu untuk berselancar di dunia maya, akan banyak sekali informasi politik terkait para calon yang terlibat dalam ‘pesta demokrasi’ tersebut. Tidak sedikit pula yang menawarkan gagasan, visi, misi, maupun program kerja mereka melalui media sosial terkenal semacam Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, BBM, dll.

Permasalahan yang kemudian mengemuka adalah layaknya dua sisi mata uang, media sosial selain dapat digunakan secara benar dan bijaksana, juga dapat mengakomodasi pengguna yang menggunakan media sosial secara tidak bijak dan digunakan untuk mengintimidasi sesama pengguna media sosial. Mengapa kemudian muncul pengguna media sosial yang tidak bijak seperti demikian? Tentu tujuannya untuk memaksakan kehendak mereka dengan cara yang tidak baik.

Saya pernah mendapat sebuah komentar yang bernada mengintimidasi di akun Instagram saya (@dityatama89). Komentarnya menyasar postingan saya yang sudah cukup lama, sekitar tahun lalu di bulan Juli (foto terlampir). Dari analisis saya, sang pemberi komentar menyasar media publik yang menjadi tempat saya menulis artikel bergenre politik, dan bukan tentang postingan saya itu sendiri. Kemungkinan sang pemberi komentar merupakan pihak oposisi dari pihak yang didukung oleh media publik yang termaksud dan tidak menyukai artikel-artikel yang tercantum disana yang memang selalu konsisten untuk mendukung pemerintahan yang sah saat ini, atau dalam hal ini adalah pemerintahan Presiden Joko Widodo. Tergerak oleh postingan saya yang menandakan bahwa saya juga merupakan salah satu penulis di sana, membuat sang pemberi komentar memberikan komentar bernada intimidasi yang menurut saya tidak pantas diucapkan di media sosial sekelas Instagram yang memiliki begitu banyak pengguna.

 
Pemilik akun saya samarkan
Lantas, bagaimana respon kita menyikapi hal-hal seperti itu jika terjadi pada kita? Perlu diketahui bahwa saat ini sudah ada peraturan hukum yang berlaku untuk ranah media sosial, yaitu Undang-Undang (UU) nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Sehingga kita dapat melapor kepada pihak yang berwajib tatkala kita merasa menjadi korban intimidasi di media sosial.

Selain itu, dalam bersikap, kita dapat melakukan beberapa hal berikut, guna menghindarkan kita dari hal-hal yang dapat menyulitkan kita ketika menggunakan media sosial secara tidak bijaksana:

1. Pahami bahwa media sosial bisa bermanfaat bagi kita dan orang lain
Media sosial saat ini sudah menjadi tempat kita bertukar informasi secara cepat. Kita dapat menjadi pelaku pertukaran informasi tersebut atau sekadar menjadi penerima informasi yang beredar di dunia maya. Jika kita telah memutuskan untuk menjadi pelaku pertukaran informasi, pastikan informasi yang kita berikan adalah benar dan bukan hoax, sehingga kita pun dapat menjadikan media sosial menjadi sarana pertukaran informasi yang bermanfaat bagi banyak orang.

2. Tanamkan sikap berpikir sebelum berkomentar di media sosial
‘Mulutmu harimaumu’. Ungkapan tersebut mungkin pernah kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Namun jika digunakan untuk media sosial, mungkin bisa diganti menjadi, ‘gawaimu harimaumu’. Karena sekali kita mengeluarkan komentar yang kurang bijak di media sosial, bisa jadi itu menjadi bumerang bagi kita yang dapat merugikan kita sendiri. Karena itu berpikir sebelum berkomentar itu perlu.

3. Tidak perlu merespons intimidasi pengguna media sosial lain secara berlebihan
Dalam kejadian yang saya alami, saya tidak membalas komentar yang saya terima tersebut dengan komentar apapun. Saya memilih melakukan laporan kepada pihak Instagram agar mengusut akun sang pemberi komentar sesuai prosedur yang berlaku. Cara tersebut dapat juga anda lakukan tatkala mendapatkan intimidasi dari pengguna media sosial lain. Tidak perlu meresponi intimidasi yang dilakukan terhadap anda karena komentar media sosial tersebut berada dalam sebuah dunia maya yang sesungguhnya tidak benar-benar nyata adanya, dan tidak akan berpengaruh apa-apa jika anda mengabaikannya. Berikan respons secara elegan, niscaya intimidasi itu tidak akan berdampak kepada kehidupan anda.

Media sosial adalah sarana yang baik untuk dipergunakan menyebarkan hal-hal yang benar. Meskipun demikian, kita perlu juga membentengi diri dari penggunaan media sosial yang keliru yang dapat mempertemukan kita dengan intimidasi-intimidasi tidak penting yang sangat dapat kita abaikan dan kita respons secara elegan.

Kamis, 17 Mei 2018

Keluar dari Zona Nyaman

www.kreativa.co.id
Mungkin sebagian kita sudah sering mendengarkan, membaca, atau mungkin merasakan langsung judul dari tulisan saya kali ini. Memang, dalam kehidupan kita, kalimat ‘keluar dari zona nyaman’ bukan suatu kondisi yang sulit ditemui. Kita masing-masing mungkin mempunyai pengalaman tersendiri dengan apa yang disebut ‘zona nyaman’. Pun juga dengan saya. Pernah dan mungkin masih akan mengalami keadaan dimana saya harus keluar dari ‘zona nyaman’ saya.

Singkat cerita, kata-kata ‘keluar dari zona nyaman’ terlintas dalam benak saya setelah saya terlibat suatu percakapan dengan seorang rekan. Saya sekilas disadarkan untuk terus meningkatkan pencapaian saya di dalam profesi yang saya jalani. Supaya tidak hanya berada dalam posisi yang sekarang, atau bisa dibilang, berada dalam ‘zona nyaman’. Sejenak saya pun merenungkan pembicaraan kami dan berpikir bahwa memang semenjak saya menjalani profesi saya yang sekarang, saya belum lagi bertemu dengan pengalaman ‘keluar dari zona nyaman’.

Apa sebenarnya yang dimaksud ‘zona nyaman’? Banyak definisi yang bisa digunakan untuk menjelaskannya. Kita bisa menyebut ‘zona nyaman’ sebagai suatu keadaan yang telah lama kita capai dan perjuangkan, dimana kita sangat menikmati keadaan tersebut dan sulit jika diminta untuk beranjak dari keadaan tersebut. Baik itu untuk sesuatu yang lebih baik, atau bahkan untuk sesuatu yang lebih buruk. Misalnya, dalam pengalaman saya, menjadi guru adalah ‘zona nyaman’ saya. Mengapa? Karena saya merasa menjadi guru adalah profesi yang sesuai dengan hasrat dan talenta saya, sehingga saya sangat menikmati bahkan sangat berbahagia menjalani profesi sebagai guru. Bagi anda para pembaca, pastilah mempunyai ‘zona nyaman’ masing-masing yang akan berbeda dengan ‘zona nyaman’ saya.

Kalau begitu apa permasalahan yang timbul jika kita terus berada dalam ‘zona nyaman’ kita? Bukannya kita perlu untuk mencintai apa yang kita kerjakan dan perlu menyamankan diri dalam pekerjaan kita? Iya, itu perlu. Permasalahannya adalah, ketika kita terlalu lama berada dalam ‘zona nyaman’ kita, kita tidak akan bisa bertumbuh ke arah yang lebih baik secara maksimal. Bukan berarti kita sama sekali tidak dapat mengembangkan diri di dalam ‘zona nyaman’ kita, namun akan ada titik dimana kita mencapai kesudahan pengembangan diri kita yang hanya akan dapat lebih bertambah lagi jika kita beranjak dari ‘zona nyaman’ kita. Ibarat seekor burung yang terlalu lama berada dalam sebuah sangkar. Lama kelamaan mungkin dia akan malas untuk mengepakkan sayapnya kuat-kuat, karena dengan sangkarnya yang kecil, kepakan sayap sedikit saja sudah cukup baginya. Tatkala dia dilepaskan ke alam bebas, mungkin dia akan kesulitan untuk terbang, pun juga untuk mencari makan. Karena selama ini dia selalu mendapatkan makanan tanpa harus mengusahakannya.

Demikian dengan kita. Tatkala kita terlalu asyik tinggal di dalam ‘zona nyaman’ kita, kita akan lupa bahwa sesungguhnya potensi kita lebih dari yang sudah terlihat. Sekali lagi, bukan berarti kita tidak perlu menyamankan diri di dalam suatu pencapaian dalam bidang profesi apapun yang memang akan mendukung kita untuk bersetia melakukan kewajiban kita di dalam pekerjaan tersebut, namun tatkala ada kesempatan untuk melangkah maju meninggalkan ‘zona nyaman’ kita, cobalah untuk jangan ragu menjalaninya. Bukankah ketika kita setia dengan perkara kecil maka Sang Empunya hidup akan menambahkan terus bagian kita untuk dapat juga melakukan perkara besar? Karena itu jangan takut untuk keluar dari ‘zona nyaman’.

Setiap orang mempunyai ‘zona nyaman’ masing-masing. Sebagian akan ‘membangun tempat tinggal’ permanen mereka dalam ‘zona nyaman’ tersebut, dan sebagian yang lain akan ‘mengemasi barang-barang’ mereka untuk melangkah maju mengembangkan potensi yang dapat terus terasah setiap waktu. Tidak jadi soal mana yang mereka pilih. Semua pilihan dapat menjadi pilihan yang baik selama itu dilakukan untuk memuliakan Sang Pencipta. Jadi, siap keluar dari ‘zona nyaman’ anda?

Rabu, 02 Mei 2018

Sony Xperia SP : Pertama yang Bikin Susah Move On


Berawal dari hasil riset ala kadarnya yang saya lakukan sebelum memutuskan beli handphone android pertama saya sekitar 5 tahun lalu, saya akhirnya menjatuhkan pilihan pada Sony Xperia SP. Waktu itu Sony memang sedang gencar membuat hp android untuk bersaing dengan merek kenamaan lain semacam Samsung dan Apple. Kalau Samsung punya deretan produk Galaxy, lalu Apple dengan produk iPhone, maka Sony punya Xperia.

Waktu itu budget saya terbatas di angka 4 juta kurang sedikit. Pilihannya antara Xperia SP atau Lenovo P780 dimana P780 memiliki baterai yang super gede yaitu 4000 mAh. Tapi setelah dibandingkan satu sama lain, pilihan pun jatuh kepada Xperia SP yang masih bertahan bisa berfungsi sampai sekarang.
Penampakan Xperia SP

Fitur-fiturnya apa aja sih? Sebagai hp android pertama saya, saya cukup puas dengan performanya. Memang secara spesifikasi masih banyak hp lain yang lebih canggih dibanding si SP, tapi prosesor Qualcomm MSM8960T Snapdragon S4 Pro ini cukup buat aktivitas saya yang memerlukan handphone pintar sebagai sarana komunikasi. Memori RAM yang hanya 1GB membuat saya harus pintar-pintar mengatur aplikasi apa saja yang diinstal ke dalam si SP, mengingat memori internalnya juga hanya 8GB, yang sudah terpakai sekitar 2.2GB untuk sistem operasinya, jadi tidak akan bisa terlalu banyak memuat aplikasi berat. Tapi si SP bisa ditambah dengan memori external menggunakan Micro SD maksimal 32GB.

Dari segi grafis, saya puas dengan performa si SP. Karena dengan layar yang cukup kecil, yakni 4.6”, kerapatan layar yang dimiliki sangat tinggi, yaitu di angka 319 ppi dan sudah dilapisi corning gorilla glass. Angka itu setara dengan Sony Xperia Z series dengan harga yang lebih mahal. Karena Xperia SP sudah dibekali Bravia Engine 2, sehingga kualitas layar patut diacungi jempol.

Untuk fitur kamera, bukan yang terbaik tapi cukup untuk saya. Kamera belakang dibekali kamera dengan resolusi 8MP, sedangkan kamera depan kualitasnya hanya VGA. Biarpun kualitas kamera depan agak payah, si SP sudah dibekali dengan kemampuan face unlock untuk membuka kuncinya. Tinggal arahkan muka ganteng atau cantik anda ke hadapan kamera, maka si SP bisa terbuka dari mode lock. Kereeen kan?

Baterai yang dibenamkan untuk si SP tergolong kecil, hanya 2370 mAh. Namun itu sudah cukup untuk bekal beraktivitas seharian bareng si SP, terutama untuk browsing, chatting, atau aktivitas lainnya. Kalau untuk nge-game, bisa, tapi jangan lama-lama. Nanti baterainya habis.

Dua fitur lain yang sangat keren dari Xperia SP adalah fitur MHL pada USBnya, dan sebuah lampu notifikasi yang dilapisi kaca transparan yang tampak elegan. Fitur MHL memungkinkan kita untuk menampilkan layar SP ke lcd proyektor. Ini sangat berguna jika kita ingin menampilkan presentasi pada saat bekerja, atau sekadar menikmati video yang ada di dalam si SP. Sedangkan lampu notifikasi membuat tampilan si SP sangat keren. Karena lampu tersebut bisa diatur dengan warna-warna yang berbeda sesuai pesan apa yang masuk ke dalam nomer kita, apakah itu sms, telpon, atau chatting dari aplikasi seperti Whatsapp, BBM, atau Line. Pun jika kita mendengarkan musik, lampu notifikasi bisa berkedip mengikuti irama musik yang kita putar.

Fitur lampu notifikasi yang super keren

Dari semua kelebihan itu, tentu ada kekurangan yang tersemat. Seperti, perpindahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain cukup lambat, apalagi kalau si SP baru di update, sehingga memakan memory RAM yang lebih besar dari sebelumnya. Selain itu juga kalau digunakan untuk browsing atau bermain game, akan terasa hangat di bagian belakang, mungkin dari grafisnya yang diforsir.

Biar bagaimana juga, Xperia SP tergolong bandel. Sejak pertama beli sampai sekarang, sekitar 5 tahunan, si SP belum pernah sampai rusak. Sempet ngadat tidak bisa menyala dan kadang hanya menyala sebentar lalu mati tanpa bisa dinyalakan, akhirnya si SP bisa berfungsi lagi seperti biasa setelah diutak-atik sedikit. Agar tidak sampai rusak, sekarang si SP hanya difungsikan untuk telpon, sms, dan ngegame sederhana. Online pun untuk aplikasi yang umum, seperti Whatsapp, Line, atau Instagram, maklum si SP sudah tua. Tapi biarpun tua, sukses bikin susah move on.

Adakah saya menginspirasi?


Inspirasi lain:

WarKoP : Mencoba Bersahaja untuk Memberi Makna

Pengalaman Meneriakkan Reputasi Baik

Berniat Menginspirasi Malar-Malar Terinspirasi

Minggu, 15 April 2018

WarKoP : Mencoba Bersahaja untuk Memberi Makna

Siang itu matahari bersinar terang. Membuat udara terasa cukup terik. Namun itu tiada menyurutkan langkah beberapa orang untuk melaksanakan niat membagikan kebaikan. Terkhusus kepada saudara-saudari di sebuah panti asuhan. Ada yang membawa bahan makanan, pun juga membawa beberapa barang lain untuk disumbangkan. Semua berpadu untuk mewujudkan kasih dalam tindakan berbagi kepada sesama. Tidak mewah, tidak megah, namun dengan didasari kasih, semua itu terasa berarti bagi saudara-saudari yang menerimanya.


Sedikit rangkaian cerita yang menggambarkan kegiatan sebuah komunitas yang menamakan diri sebagai WarKoP (Warga Kota Pena), menceritakan keinginan nyata dari para anggota untuk tidak sekadar bersenang-senang dalam kehidupan, namun juga membagikan kasih dan kelimpahan yang dimiliki kepada sesama yang kurang beruntung. Dengan kegiatan sederhana berupa berbagi dan mendengarkan cerita, terasa cukup untuk mengembangkan senyuman para penghuni panti. Mulai dari anak-anak dengan segala penyakit yang diderita, pun juga lansia yang gemar membagikan cerita mereka. 



Berangkat dari rasa peduli para anggota yang ingin membagikan kelimpahan yang mereka terima, digagaslah kegiatan “WarKoP Berbagi”. Tidak perlu besar, tidak perlu mewah, namun mengena sesuai dengan kebutuhan sesama yang membutuhkan. Memang tidak mudah untuk bisa mengumpulkan para anggotanya sehingga bisa turut serta dalam kegiatan tersebut, namun dengan seberapa pun orang yang ada, kegiatan tersebut dapat terlaksana.


Panti asuhan yang menjadi lokasi kunjungan WarKop adalah Panti Asuhan Bhakti Luhur di daerah Tropodo. Penghuni panti ada yang merupakan anak-anak usia balita hingga remaja yang mengalami sakit seperti hidrocepalus, kanker, dll. Selain itu ada juga para lansia yang menjadi penghuni di sana. Meskipun mungkin mereka tinggal jauh dari keluarganya, atau bahkan mungkin ada yang sudah tidak mengetahui keberadaan keluarganya, namun senyum lepas masih dapat kami temukan dalam wajah mereka. Sungguh menenangkan hati.


Selepas mengunjungi beberapa unit yang ada disana dan berinteraksi dengan para penghuni panti, kami pun tidak lupa membagikan sumbangan berupa bahan makanan seperti sembako dan lain-lain yang telah kami persiapkan sebelumnya. Semoga dapat membantu dan berguna bagi para penghuni panti.


Pada akhirnya apa yang kami perbuat hanya sekelumit. Namun semangat untuk terus berbagi tidak akan padam. Di kemudian hari, kami berharap kebaikan yang terwujud nyata dalam tindakan akan selalu dapat kami lakukan, sehingga akan banyak yang dapat merasakan semangat kami untuk berkarya dalam berbagi kebaikan. Sebagaimana niat kami, mencoba bersahaja untuk memberi makna.


Senin, 12 Maret 2018

Pengalaman Meneriakkan Reputasi Baik

www.tulisbaca.com
Dalam setiap bidang kegiatan, baik itu tentang profesi maupun yang lainnya, tidak mudah untuk menjadi yang paling terbaik. Perlu usaha keras dan kadang tidak singkat, untuk sekadar sampai di posisi yang dipandang orang sebagai suatu pilihan yang patut dipertimbangkan. 

Mungkin anda pernah berada dalam keadaan yang mana anda ingin menawarkan suatu kemampuan yang anda miliki kepada suatu pihak yang membutuhkan pertolongan, yang anda yakini cukup untuk memenuhi ekspektasi pihak tersebut, namun anda tidak dapat kesempatan untuk menolong pihak tersebut, karena anda tidak menjadi yang terpilih untuk memberikan kemampuan anda kepadanya. Pada akhirnya, sekalipun anda merasa mampu melakukannya, anda tetap tidak menjadi yang terpilih karena anda kalah reputasi dengan partner atau kompetitor anda.

Apa pertimbangan seseorang dalam memilih salah satu pilihan ketimbang pilihan yang lain?  
Terkadang jawabannya karena pengalaman yang menjadi bukti sejarah pencapaian yang baik, yang menjadi pertimbangan seseorang memilih pilihan tersebut. Pun juga dalam memilih satu pihak atau pribadi tertentu untuk menjadi pilihannya. Anda bisa saja memiliki jiwa muda yang potensial, energi yang nyaris tidak kenal lelah, dan semangat yang berkobar, dan memiliki kesiapan untuk menjadi yang terpilih, namun semua itu bisa saja kalah dengan pengalaman pribadi atau pihak lain yang menjadi kompetitor anda yang meneriakkan reputasi baiknya dengan sendirinya. Memang ada kalanya pilihan yang gres menang telak dalam sesuatu hal, namun di waktu lain, pengalaman memberi ketenangan dan rasa aman yang dibutuhkan bagi sang pemilih, untuk dapat memilih seseorang sebagai pilihannya yang tepat.


Untuk dapat memiliki pengalaman yang beragam dan membangun reputasi yang baik tidaklah datang begitu saja. Butuh waktu, usaha, dan kerja keras untuk dapat secara konsisten melakukan suatu hal yang terlihat biasa dan sederhana, secara rutin. Dengan demikian, kita akan terbiasa untuk melakukan hal tersebut, dan bahkan memperoleh status sebagai ahli dalam bidang tersebut, sehingga akan menjadikan kita pilihan yang unggul dalam bidang tersebut. Seorang ahli dalam Matematika pada waktu dulu hanya seorang yang biasa saja. Namun karena terbiasa berkutat dengan Matematika, waktu akan menjadikan dia menjadi ahli Matematika. 

Setelah pengalaman kita mencukupkan kita untuk berada dalam status sebagai ahli, maka dengan sendirinya, reputasi kita akan terbangun, dan tanpa perlu usaha yang keras, orang akan memandang kita sebagai pilihan yang sangat patut untuk dipertimbangkan. Reputasi yang baik akan dapat memberikan kita sarana “publikasi” secara cuma-cuma tanpa kita harus usahakan, sehingga orang lain dapat mengenal kita sebagai suatu opsi yang sangat potensial dan dapat diandalkan untuk melakukan suatu hal tertentu. Karena dengan memilih kita untuk melakukan sesuatu, akan dapat memberikan ketenangan pun rasa aman bagi pihak yang memilih kita tersebut. Sang pemilih tidak akan khawatir karena tahu kita sudah memiliki pengalaman dan akan sangat kecil kemungkinan kita untuk gagal.

Dengan adanya pengalaman yang kita miliki, sesungguhnya kita tidak perlu banyak berceloteh tentang pesona diri kita untuk mendapatkan perhatian orang lain. Cukup dengan mencoba mengumpulkan pengalaman sebanyak-banyaknya, dengan cara melakukan sesuatu hal yang kecil nan sederhana sesuai bidang kita, baik itu pekerjaan, hobi, atau yang lainnya. Kemudian, lakukan itu secara konsisten dan sepenuh hati, dengan menggemari apa yang kita lakukan tersebut. Dengan begitu, kita akan mampu memiliki penguasaan akan bidang tersebut, dan dengan sendirinya pengalaman yang cukup akan terkumpul, sehingga reputasi baik akan terbangun. Karena dengan sendirinya, pengalaman kita akan meneriakkan reputasi kita, yang diharapkan baik. Namun, apakah reputasi itu akan baik atau menjadi buruk semua juga tergantung bagaimana usaha kita.


Seorang pemula yang sangat mungkin untuk dipandang dengan sebelah mata memiliki juga kesempatan besar untuk membangun reputasinya sendiri. Sekilas tidak mungkin, namun itu sangat mungkin jika diiringi dengan kerja keras, konsistensi, dan permohonan yang tiada henti kepada Sang Empunya. Karena dari suatu yang kecil, jika dikerjakan secara konsisten, akan terus ditambahkan kepada kita, secara terus menerus, sampai tiba waktunya menjadi besar, dan pada akhirnya sampai pada waktu untuk berhenti berkarya. 

Adakah saya menginspirasi?


Jumat, 02 Februari 2018

Berniat Menginspirasi Malar-Malar Terinspirasi

https://pbs.twimg.com
Saya sempat mencapai titik di mana saya seolah kehabisan ide untuk tulisan terbaru di blog Ajaran Inspirasi. Pada saat saya membuat blog ini, saya bertekad untuk selalu sedia minimal satu buah tulisan untuk waktu satu bulan. Sehingga setiap bulan para pembaca blog ini akan selalu punya pendorong untuk kembali tertarik membuka blog ini untuk membaca setiap artikel baru yang saya publikasikan.

Karenanya, saya mencoba 'meringankan' topik tulisan saya, setidaknya untuk masa sekarang. Sampai inspirasi kembali mengalir deras dalam angan. Nah, karena di beberapa tulisan yang sudah-sudah saya sempat 'menyingkirkan' topik tentang pekerjaan saya sebagai guru yang selalu menarik untuk dibahas, dan menulis tentang topik-topik umum yang harapannya dekat dengan pembaca blog ini, sekarang saya akan kembali membahas tentang profesi saya sebagai seorang guru dalam tulisan ini. Tidak, tidak akan membosankan dan atau sama dengan tulisan-tulisan terdahulu, karena profesi ini selalu punya cerita untuk dibagikan.

Jika anda berkenan, bolehlah membaca kutipan yang ada pada gambar yang saya cantumkan di atas. Secara pemilihan kata, dapat dibaca dengan jelas memang kutipan tersebut teruntuk para guru atau pengajar. Karena tercantum kata students yang dalam bahasa Indonesia berarti murid, sehingga gambar tersebut memang teruntuk para guru. Ketika saya menemukan kutipan tersebut dalam suatu kesempatan, saya tanpa paksaan langsung mengiyakan kutipan tersebut di dalam pikiran saya, tanda persetujuan. Karena saya yang memang sudah cukup memiliki pengalaman menjadi seorang guru, sehingga saya sedikit banyak pernah berada dalam situasi tersebut. Situasi di mana saya yang sebagai pengajar, seorang yang wajib membagikan ilmu pada anak didik saya, dengan kata lain menginspirasi anak didik saya untuk memahami atau melakukan sesuatu yang baik tentunya, malar-malar berada dalam kondisi terinspirasi oleh anak didik saya. Mengapa bisa demikian? Saya terheran.

Namun, hal tersebut sangat-sangat mungkin terjadi. Saya sebagai pengajar tidak jarang terkadang terlalu fokus pada apa yang harus saya berikan kepada anak didik saya, topic oriented kalau bisa dibilang, sebisa mungkin mempergunakan waktu yang ada (yang kadang terbatas) untuk memberikan materi pelajaran sesuai rencana pembelajaran. Juga sebisa mungkin meminimalisir hal-hal di luar rencana yang bisa mengurangi waktu efektif untuk penyampaian materi. Mungkin tidak hanya saya namun juga kalau anda yang membaca tulisan ini adalah seorang guru, mungkin pernah atau sering mengalami seperti demikian?

Tatkala saya berpatokan pada rencana, kadang anak didik saya memberikan sedikit pembelokan atau pengubahan rencana. Namun entah bagaimana, tujuan pembelajaran tetap tercapai. Anak-anak dengan segala pemikiran yang luas dan kreatifitas yang (mungkin) tanpa batas, dapat memberikan warna dalam hitam putihnya suasana pembelajaran yang bisa saja monoton, hanya ada saya yang menjelaskan materi dan anak didik yang mendengarkan penjelasan saya. Membosankan.

Saya selalu takjub dengan perbedaan antara rencana pembelajaran dengan fakta yang terjadi di dalam kelas. Dan saya tidak berhenti terinspirasi akan hal tersebut. Apa yang kadang saya pikir akan terasa biasa, dapat dibuat menarik dengan hadirnya peranan anak-anak didik sebagai peserta pembelajaran. Karenanya, saya yang tadinya berniat dan bertekad untuk menginspirasi, malar-malar terinspirasi dan semakin menggemari profesi ini. Tidak pernah ada cerita yang sama di setiap harinya. Tidak selalu anak yang sama yang menghadirkan senyum lepas dalam satu momen. Atau juga kegemasan penuh tanya mengapa seperti ini dan itu. Semua bergantian menghadirkan cerita, menambah semangat, dan menginspirasi saya untuk terus menapaki langkah demi langkah perjalanan menjadi seorang pengajar. Tiga tahun menjadi guru adalah titik dimana saya menjadi lebih dewasa dalam profesi ini sekaligus tetap merunduk untuk menerima pengajaran dari kehidupan yang tidak pernah berhenti memberikan ilmunya untuk dibagikan kepada siapa saja yang membutuhkan.