Senin, 01 Januari 2018

Mengurus SIM Kena Tilang

Anda pernah kena tilang? Memang tidak menyenangkan ketika di suatu waktu kita harus merelakan Surat Izin Mengemudi (SIM) milik kita untuk ditahan sementara waktu sampai kita mengikuti prosedur hukum yang berlaku untuk dapat mendapatkan kembali SIM tersebut. Namun sebagai warga negara yang baik, kita wajib mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Semua itu guna menciptakan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat, terkhusus dalam berlalu lintas.

Nah, pada beberapa waktu yang lalu saya sempat terkena tilang ketika mengendarai kendaraan roda empat, di daerah Surabaya Barat. Peraturan yang saya langgar adalah rambu lalu lintas yang mengharuskan kendaraan untuk berbelok ke arah kiri dan tidak diperbolehkan mengambil arah lurus.  Pada waktu itu karena terlalu berfokus kepada global positioning system (GPS), saya tidak terlalu memperhatikan rambu perintah berbelok ke arah kiri tersebut, dan begitu saja mengambil arah lurus.

Pada saat yang bersamaan saya berpapasan dengan mobil polisi yang kemudian mengharuskan saya untuk menepikan kendaraan yang saya tumpangi. Sesaat kemudian, terjadi dialog dengan salah seorang polisi yang menanyakan kelengkapan surat-surat kendaraan dan surat izin mengemudi saya. Polisi tersebut juga menanyakan kepada saya tentang kesalahan saya (rambu apa yang saya langgar). Sekalipun surat-surat berkendara saya lengkap dan masih belaku, namun karena saya jelas-jelas melanggar sebuah rambu, maka saya pun dinyatakan bersalah.

http://jateng.tribunnews.com
Kira-kira seperti ini rambu yang saya langgar
Singkat cerita, saya pun terkena tilang dan SIM A saya pun ditahan pihak kepolisian. Saya diharuskan mengikuti persidangan pada jadwal yang telah ditentukan dalam surat tilang yang diberikan kepada saya. Sempat ditawarkan kepada saya antara Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) mobil yang saya tumpangi ataukah SIM A saya yang ditahan, namun saya memilih SIM A saya saja yang ditahan, karena memang kendaraan yang saya kendarai bukan merupakan milik saya, supaya tidak merepotkan pemilik kendaraan yang mungkin masih membutuhkan mengendarai mobil tersebut.

Setelah menunggu sejenak, Polisi yang menilang saya pun memberi surat tilang seperti di bawah ini :

beberapa bagian saya samarkan

Informasi dari bapak Polisi tersebut, SIM A saya dapat diambil di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya di Jalan Arjuno. Setelah saya coba menelaah isi surat tilang saya, dan saya lihat di undang-undang yang berlaku, maka kira-kira ini pasal yang saya langgar :

Pasal 287 ayat 1 (ancaman hukuman pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak lima ratus ribu rupiah)
Di pasal tersebut tertulis pasal 106 ayat (4) huruf a atau b, dan inilah isi pasal tersebut :


Oke, setelah cukup jelas peraturan apa yang saya langgar, saya pun mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh Kepolisian, yaitu mengikuti persidangan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Setelah meminta izin untuk mengikuti persidangan ke atasan saya di kantor, saya pun berangkat menuju PN Arjuno atau disebut juga PN Surabaya. Disebut PN Arjuno karena lokasinya yang berada di Jalan Arjuno, Surabaya.

Namun sesampainya di sana, saya tidak bisa mengambil SIM A saya. Saya hanya mendapatkan informasi singkat dari seorang petugas di sana bahwa pengambilan SIM yang ditilang sudah dialihkan di Kejaksaan Negeri Surabaya.

Saya diberi secarik kertas kecil ini
Mendapat informasi tersebut, saya pun bergegas berangkat menuju lokasi yang diberikan, yaitu Kejaksaan Negeri (KEJARI ) Surabaya sesuai alamat tersebut.


Sesampainya disana saya menanyakan ke loket informasi, loket mana yang harus saya datangi untuk mengambil SIM A yang ditilang. Saya sempat diberitahu bahwa antrian pengambilan SIM yang ditilang cukup padat, dan ditawarkan untuk mengambil di hari lain atau dapat menggunakan layanan delivery tilang. Namun saya ingin mencoba melihat seberapa padat antriannya. Jadi saya tetap menuju ke loket yang diberitahukan kepada saya. Benar saja seperti yang diinfokan mengenai kepadatan antrian pengambilan SIM, bahwa antrian yang ada memang tidak memungkinkan bagi saya untuk mengambil SIM A saya dalam waktu singkat.





Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan layanan delivery tilang. Biaya jasa pengiriman SIM yang ditilang hanya sebesar Rp20.000 saja. Pembayaran tilang juga dapat dilakukan pada saat petugas pengantar SIM tersebut tiba ke alamat yang diberikan. Untuk SIM A, besaran biaya tilang sekitar Rp80.000 sampai Rp100.000. Sedangkan untuk SIM C, sekitar Rp40.000 sampai Rp60.000.

Lama pengiriman kira-kira sekitar seminggu dari tanggal tersebut. SIM saya akan diantarkan ke alamat yang diberikan (bisa alamat rumah atau alamat kantor) yang berada di area Kota Surabaya. Saya memilih alamat kantor karena pengiriman SIM akan dilaksanakan pada jam kerja, sehingga saya hanya dapat ditemui di kantor saya pada saat hari dan jam kerja.

Setelah menunggu sekitar dua minggu, akhirnya petugas yang mengantarkan SIM A saya pun tiba. Cukup lama, mungkin karena banyak SIM yang harus diantarkan. Tidak masalah, karena dengan menggunakan delivery tilang, dapat menghemat waktu dan tenaga jika dibandingkan dengan saya harus mengantri sendiri untuk mengambil SIM A saya. Total denda tilang yang saya harus bayarkan ternyata jauh lebih murah dari perkiraan. Masih di bawah Rp100.000, itu pun sudah termasuk ongkos kirim SIM yang harus saya bayarkan. Petugas yang mengantarkan SIM pun memberi saya tanda terima pembayaran berikut :


SIM A saya pun kembali dapat digunakan, dan saya pun sudah mengikuti prosedur hukum yang berlaku sehingga kewajiban sebagai warga negara dapat terlakukan.

Jika anda pembaca sekalian sedang tertilang, baik itu SIM A atau SIM C, atau jenis SIM yang lain, jangan takut atau ragu untuk mengurus pengambilan SIM anda. Ikuti prosedur yang disediakan, supaya SIM yang ditilang dapat segera diambil. Bayarlah denda tilang sesuai yang ditetapkan oleh negara, dalam hal ini pihak Kepolisian, dan jangan memberikan suap kepada Polisi yang menilang anda. Dengan begitu, anda dapat turut serta mematuhi peraturan yang berlaku, tidak melanggengkan budaya korupsi, dan ikut dalam usaha membangun negara dengan membayar denda tilang anda.

Adakah saya menginspirasi?



Coban Rais : Spot Selfie Baru di Batu