Rabu, 23 Mei 2018

Merespons Intimidasi Media Sosial dengan Elegan


www.gandengtangan.org

Dewasa ini, kondisi negara tempat kita tinggal ini menjadi agak ‘terpecah’. Mengapa saya katakan demikian? Tentu penyebab yang mendominasi adalah adanya ‘pesta demokrasi’ yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Dimulai dengan pemilihan kepala daerah di beberapa Provinsi, kota, maupun kabupaten di seluruh Indonesia, dan berujung pada Pemilihan Umum 2019 yang akan menentukan anggota-anggota legislatif yang akan mewakili rakyat serta memilih presiden dan wakil presiden yang akan menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan Indonesia.

Siklus lima tahunan ini telah berlangsung beberapa kali, dan ke depannya akan kembali terulang dalam ‘pesta demokrasi’ mendatang. Perbedaan yang cukup signifikan dari ‘pesta demokrasi’ saat ini dengan yang terdahulu adalah adanya media sosial sebagai sarana komunikasi pun sarana kampanye yang cukup efektif untuk menyebarluaskan paham politik yang diyakini oleh para calon yang akan maju untuk bersaing dalam Pilkada maupun Pemilu. Jika anda bersedia meluangkan waktu untuk berselancar di dunia maya, akan banyak sekali informasi politik terkait para calon yang terlibat dalam ‘pesta demokrasi’ tersebut. Tidak sedikit pula yang menawarkan gagasan, visi, misi, maupun program kerja mereka melalui media sosial terkenal semacam Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, BBM, dll.

Permasalahan yang kemudian mengemuka adalah layaknya dua sisi mata uang, media sosial selain dapat digunakan secara benar dan bijaksana, juga dapat mengakomodasi pengguna yang menggunakan media sosial secara tidak bijak dan digunakan untuk mengintimidasi sesama pengguna media sosial. Mengapa kemudian muncul pengguna media sosial yang tidak bijak seperti demikian? Tentu tujuannya untuk memaksakan kehendak mereka dengan cara yang tidak baik.

Saya pernah mendapat sebuah komentar yang bernada mengintimidasi di akun Instagram saya (@dityatama89). Komentarnya menyasar postingan saya yang sudah cukup lama, sekitar tahun lalu di bulan Juli (foto terlampir). Dari analisis saya, sang pemberi komentar menyasar media publik yang menjadi tempat saya menulis artikel bergenre politik, dan bukan tentang postingan saya itu sendiri. Kemungkinan sang pemberi komentar merupakan pihak oposisi dari pihak yang didukung oleh media publik yang termaksud dan tidak menyukai artikel-artikel yang tercantum disana yang memang selalu konsisten untuk mendukung pemerintahan yang sah saat ini, atau dalam hal ini adalah pemerintahan Presiden Joko Widodo. Tergerak oleh postingan saya yang menandakan bahwa saya juga merupakan salah satu penulis di sana, membuat sang pemberi komentar memberikan komentar bernada intimidasi yang menurut saya tidak pantas diucapkan di media sosial sekelas Instagram yang memiliki begitu banyak pengguna.

 
Pemilik akun saya samarkan
Lantas, bagaimana respon kita menyikapi hal-hal seperti itu jika terjadi pada kita? Perlu diketahui bahwa saat ini sudah ada peraturan hukum yang berlaku untuk ranah media sosial, yaitu Undang-Undang (UU) nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Sehingga kita dapat melapor kepada pihak yang berwajib tatkala kita merasa menjadi korban intimidasi di media sosial.

Selain itu, dalam bersikap, kita dapat melakukan beberapa hal berikut, guna menghindarkan kita dari hal-hal yang dapat menyulitkan kita ketika menggunakan media sosial secara tidak bijaksana:

1. Pahami bahwa media sosial bisa bermanfaat bagi kita dan orang lain
Media sosial saat ini sudah menjadi tempat kita bertukar informasi secara cepat. Kita dapat menjadi pelaku pertukaran informasi tersebut atau sekadar menjadi penerima informasi yang beredar di dunia maya. Jika kita telah memutuskan untuk menjadi pelaku pertukaran informasi, pastikan informasi yang kita berikan adalah benar dan bukan hoax, sehingga kita pun dapat menjadikan media sosial menjadi sarana pertukaran informasi yang bermanfaat bagi banyak orang.

2. Tanamkan sikap berpikir sebelum berkomentar di media sosial
‘Mulutmu harimaumu’. Ungkapan tersebut mungkin pernah kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Namun jika digunakan untuk media sosial, mungkin bisa diganti menjadi, ‘gawaimu harimaumu’. Karena sekali kita mengeluarkan komentar yang kurang bijak di media sosial, bisa jadi itu menjadi bumerang bagi kita yang dapat merugikan kita sendiri. Karena itu berpikir sebelum berkomentar itu perlu.

3. Tidak perlu merespons intimidasi pengguna media sosial lain secara berlebihan
Dalam kejadian yang saya alami, saya tidak membalas komentar yang saya terima tersebut dengan komentar apapun. Saya memilih melakukan laporan kepada pihak Instagram agar mengusut akun sang pemberi komentar sesuai prosedur yang berlaku. Cara tersebut dapat juga anda lakukan tatkala mendapatkan intimidasi dari pengguna media sosial lain. Tidak perlu meresponi intimidasi yang dilakukan terhadap anda karena komentar media sosial tersebut berada dalam sebuah dunia maya yang sesungguhnya tidak benar-benar nyata adanya, dan tidak akan berpengaruh apa-apa jika anda mengabaikannya. Berikan respons secara elegan, niscaya intimidasi itu tidak akan berdampak kepada kehidupan anda.

Media sosial adalah sarana yang baik untuk dipergunakan menyebarkan hal-hal yang benar. Meskipun demikian, kita perlu juga membentengi diri dari penggunaan media sosial yang keliru yang dapat mempertemukan kita dengan intimidasi-intimidasi tidak penting yang sangat dapat kita abaikan dan kita respons secara elegan.