Selasa, 12 Juni 2018

Belajar dari Penambal Ban

Seminggu ini saya dua kali mengalami kondisi di mana ban sepeda motor  bagian belakang saya bocor. Kondisi ban tubeless yang sudah rusak menjadikan ban belakang tersebut menjadi mudah kempis ketika mengalami kebocoran. Penyebab dari kebocoran adalah paku yang menimbulkan lubang pada ban bagian luar dan menembus ke dalam sampai ban bagian dalam. Dalam rentang waktu dua hari, tak kurang dua kali saya harus mampir ke tukang tambal ban. Kunjungan pertama akibat ban tertusuk paku, sedangkan kunjungan yang kedua juga karena tertusuk paku yang merupakan paku yang sama yang sebelumnya belum dicabut sehingga menyebabkan kebocoran di titik yang lain dari ban dalam bagian belakang. Biarpun demikian, saya tetap bersyukur tidak sampai harus menuntun sepeda motor saya sekian kilometer jauhnya, karena motor saya terasa oleng dan bocor bannya ketika saya berada di dekat tukang tambal ban.

Ban sepeda motor saya sedang ditambal
Kenapa saya harus bercerita tentang pengalaman pribadi saya menambal ban? Karena ternyata saya mendapat inspirasi untuk menuliskan tulisan ini dari pengalaman tersebut. Dari dua kali pengalaman menambal ban dalam rentang waktu yang berdekatan, saya boleh mempelajari sesuatu yang sederhana nan bermakna. Pelajaran yang menginspirasi saya muncul ketika saya berada pada kesempatan kedua kalinya menambal ban sepeda motor saya. Ketika itu saya hendak berangkat menuju ke gereja untuk beribadah sore, namun saya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah pasangan saya terlebih dahulu untuk beribadah bersamanya. Dari rumah saya sudah merasa ban sepeda motor saya kempis, namun saya coba terus mengendarainya dan sempat mengisi angin ban tersebut dengan harapan bahwa ban saya hanya kempis saja dan tidak bocor. Namun saya salah. Karena ban tersebut memang bocor dan saya pun harus menepi untuk menambalnya. 

Sore itu matahari masih setia memancarkan sinarnya, membuat udara terasa cukup hangat dan melelahkan bagi saudara-saudara yang menjalankan ibadah puasa. Begitu juga saya lihat dari penambal ban yang saya kunjungi. Tidak terlihat ada tanda-tanda beliau menyediakan botol minuman untuk melepas dahaga atau sedikit makanan untuk sarana mengenyangkan perut, sehingga saya berasumsi bahwa beliau sedang berpuasa. Dari kecepatan beliau mengerjakan pekerjaan menambal ban sepeda motor saya, di mana beliau terlihat tidak terlalu lekas dalam mengerjakannya, makin menguatkan asumsi saya bahwa beliau memang sedang berpuasa.

Penambal ban yang sedang mengerjakan pekerjaannya
Sembari menambal ban sepeda motor saya, beliau mencoba mengajak saya berbincang mengenai hal-hal sederhana. Waktu itu di mulai dengan menceritakan karakteristik ban luar jenis tubeless yang lebih keras dari ban biasa sehingga untuk penambal ban yang kurang berpengalaman, biasanya akan menolak untuk mengerjakannya karena merasa kesusahan. Atau, jika mereka terlalu memaksakan untuk mengerjakannya, bisa jadi ada kesalahan dalam proses mengeluarkan ban dalam yang bisa mengakibatkan goresan pada bagian dalam roda. Saya berusaha mengimbangi dengan mengiyakan perkataan beliau, karena saya juga diburu waktu sehingga saya tidak terlalu antusias dalam berbincang sore itu.

Satu momen yang membuat saya mempelajari sesuatu sore itu adalah ketika beberapa anak kecil yang bersepeda dengan tujuan memancing di suatu tempat (terlihat beberapa anak tersebut membawa alat pancing), berhenti dan meminta kepada penambal ban tersebut untuk menambah angin pada ban sepeda mereka. Sang penambal ban dengan ramah mempersilahkan mereka mengisi sendiri angin ban sepeda mereka, secara cuma-cuma alias tidak perlu membayar. Saya sedikit terkejut. Namun, saya melihat ketulusan dalam tindakan penambal tersebut, walaupun hanya sekadar angin yang bisa dibilang murah, namun bagi seorang penambal ban, angin tersebut dapat menjadi sumber penghasilan yang mungkin merupakan sumber penghasilan satu-satunya saja sehingga angin tersebut menjadi sangat berharga. Namun beliau masih berkenan untuk memberikan secara gratis tanpa dipungut biaya untuk anak-anak kecil tadi.
Mesin kompresor yang menghasilkan angin untuk ban
Dari sana saya belajar, kadang kita memberikan suatu harga bagi apa yang dapat kita berikan atau tawarkan kepada orang lain. Entah itu berupa jasa ataupun berupa barang. Mengapa? Karena kita menggunakan hal tersebut sebagai sumber penghasilan kita, sehingga kita seolah berlomba untuk memberikan yang terbaik dari kita, dengan harapan mendapatkan penghasilan yang terbaik pula dari orang lain yang menikmati jasa atau barang yang kita hasilkan. Namun sesekali kita juga perlu memberikan apa yang kita dapat hasilkan secara gratis kepada orang lain. Sebagai rasa syukur kita atas apa yang kita miliki. Karena pada dasarnya segala apa yang kita miliki adalah pemberian. Siapa yang memberi? Tentu Sang Empunya kehidupan. (baca juga: Hidup Kita Sekadar Pemberian) Jadi sesungguhnya, yang lebih memiliki hak menentukan harga dari apa yang kita mampu berikan atau hasilkan adalah Sang Empunya, karena semua yang kita miliki adalah milikNya. Namun kita diberikan kebebasan selama kita pun tidak lelah memberi dan berbagi kepada orang lain.

Dengan kita memberi, kita tidak akan berkekurangan. Justru apa yang kita anggap akan menjadi hilang karena kita berikan kepada orang lain, akan digantikan dengan sesuatu yang lain yang lebih dari apa yang sudah kita berikan. Penambal ban tersebut memberikan angin yang dijualnya kepada anak-anak yang membutuhkannya secara gratis. Sebagai gantinya saya yakin bahwa beliau akan memperoleh kebaikan lain yang tidak pernah terduga datangnya. Seperti seorang penambal ban yang selalu siap menambal ban kendaraan orang lain, Sang Empunya pun siap menambal segala kekurangan yang kita miliki, selama kita pun tanpa lelah berkarya sesuai talenta yang kita miliki, pun juga memberi sebagian kepunyaan kita kepada sesama yang membutuhkan.

Adakah saya menginspirasi?

Inspirasi lain: