Minggu, 06 Januari 2019

Meratap Bukan Pilihan Melupakan Bukan Tujuan

Saya kembali. Kembali menceritakan sebuah cerita yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari saya atau pengalaman pribadi saya....

Sedemikian banyak peristiwa baik yang menggembirakan pun juga memunculkan isak dalam kehidupan saya selama tak kurang 6 bulan berjalan. Terlalu panjang jika harus menceritakan semuanya dalam satu tulisan, namun perkenankan saya menuturkan cerita tentang seorang karib. 

Kami dipertemukan dalam sebuah momen di salah satu perguruan tinggi negeri di surabaya. Saya seorang yang bisa dibilang penduduk asli kota Surabaya, bertemu dengan dia yang merupakan pendatang dari Banyuwangi. Awalnya tak dekat, namun tak butuh waktu lama untuk akrab. Bermula dari sekadar teman kuliah, berlanjut menuju seorang dekat yang banyak menghabiskan waktu bersama untuk sekadar bertemu, pun melakukan sesuatu yang memang perlu. 

Saya mengenalnya sebagai Jon, dari namanya yang adalah Yonatan Nanda Pratama. Sering kami dianggap mirip, kata orang karena sering menghabiskan waktu bersama. Jangan salah sangka, bukan berarti kami melakukan hal yang tidak-tidak. Kami hanya merasa cocok untuk saling bertukar cerita. Ditambah lagi, kami memiliki nama belakang yang sama, “Pratama”.

Kedekatan saya dengan Jon tidak sebatas teman kuliah saja. Saya sesekali mengajaknya untuk berkunjung ke rumah saya. Jika ada waktu, saya pun berkunjung ke rumahnya di Banyuwangi. Bahkan, saya pernah selama tiga kali berturut-turut dalam tiga tahun, berkunjung ke Banyuwangi. Karena memang suasana kota di ujung timur Pulau Jawa tersebut selalu mampu membuat saya rindu untuk kembali. Semakin banyak waktu yang terhabiskan bersama, membuat saya semakin akrab dengannya. Tidak lagi teman, saya pun mematenkan status sebagai seorang saudara untuk dia.

Selepas dari perkuliahan, kedekatan masih terjalin semasa kami mulai memasuki dunia pekerjaan. Dia yang dengan mantap menempuh jalur profesi sebagai news reporter masih sering berkomunikasi dan menyempatkan waktu bertemu dengan saya yang dulunya seorang pegawai bank. Pekerjaan itu merupakan passionnya, kala itu dia berkata. Mencari berita, membawakannya di depan kamera untuk dapat dinikmati oleh banyak mata, memunculkan kesenangan tersendiri baginya.

Namun itu tidak bertahan lama. Atas saran dari beberapa kolega, dan memperhatikan banyak aspek, dia pun resign dari pekerjaan di salah satu stasiun televisi swasta dan menerima pekerjaan sebagai abdi negara di salah satu badan pemerintahan. Alasannya karena penempatannya ada di Banyuwangi, di kampung halamannya. Saya mendukungnya, demi alasan keluarga dan kesehatan, karena jam kerja sebagai pegawai yang lebih tetap dibandingkan seorang pencari berita yang sewaktu-waktu harus siap untuk meliput sebuah berita.
Berat memang melepas sesuatu yang merupakan passion kita. Tak terkecuali bagi dia. Tatkala kita senang melakukan sesuatu pekerjaan, namun harus melepaskan itu, disitu terasa cukup berat. Saya pun mungkin akan merasa berat jika harus melepas pekerjaan saya sekarang sebagai seorang pengajar, karena saya menggemari pekerjaan tersebut. Namun, saya tetap memberikan dukungan kepadanya, supaya dia tetap bersemangat menjalani pekerjaannya.

Singkat cerita, beberapa tahun berselang, kabar tentang sakitnya Jon pun hadir. Cukup mengejutkan, mengingat dia yang selalu mampu memotivasi saya untuk bersemangat dalam mengerjakan segala sesuatu harus terbaring lemah melawan penyakitnya. Asam lambung akut, info yang saya dapatkan. Tak banyak yang dapat saya lakukan, mendoakan supaya dia dapat segera pulih.

Namun rencana Tuhan tidak selalu sama dengan kehendak manusia. Jon pada akhirnya harus berpulang di usia yang masih muda. Saya tidak henti menyesal karena tidak mampu berada dekat dengan dia untuk menghadirkan sosok karib yang berharap kesembuhan baginya. 6 November, tepat pada hari kelahiran saya, dia berpulang. Mungkin, dia ingin selalu diingat, sehingga dia berpulang pada momen yang seharusnya membahagiakan bagi saya. Tak perlu demikian pun saya akan selalu ingat.

Pada akhirnya, manusia tidak tahu kapan kesempatan berkehidupan di dunia ini akan berakhir. Ada yang singkat, pun juga ada yang lama. Bukan seberapa lama kita tinggal di dunia ini, namun apa yang kita lakukan selama kita tinggal di dunia ini. Karena dunia ini hanya sementara, persiapan untuk suatu kehidupan setelah kematian. Sedih, itu pasti. Kehilangan seorang yang dekat dengan kita tak selalu mudah diterima. Bagi saya, meratapi kepergian Jon bukan sebuah pilihan, namun, melupakan kenangan bersamanya pun juga bukan sebuah tujuan.


Terima kasih, Jon…