Minggu, 27 Januari 2019

Mudah Menghakimi Tak Mudah Menjadi yang Terhakimi



Orang yang mengadili perkara. Juri, penilai, ketua pengadilan, ketua sidang, pengadil, wasit.

Beberapa pengertian di atas adalah hasil pencarian saya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk kata "hakim". Secara kasatmata, kita dapat memahami bahwa seorang hakim selayaknya bersifat netral akan suatu perkara tertentu yang harus dihakiminya. Tidak memihak salah satu pihak yang bersengketa di dalam pengadilan. Dalam dunia hukum, ada sebuah asas praduga tak bersalah, di mana seseorang dianggap tidak bersalah hingga pengadilan menyatakan bersalah. Jadi sekalipun status tersangka telah melekat kepada seseorang, pribadi tersebut harus tetap dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (incraht). Hal tersebut membuat seorang hakim harus tetap bersikap netral di dalam menangani sebuah perkara hukum, tidak peduli bagaimanapun kondisi dari pribadi yang dia hakimi.

Dewasa ini, kita disuguhi perkembangan teknologi yang begitu pesat. Tidak hanya orang yang cukup umur yang dapat mengakses pembaruan informasi secara cepat, sodorkan gawai dengan akses internet yang memadai kepada seorang anak usia sekolah dasar atau lebih muda lagi, niscaya informasi terbaru akan dapat diakses juga oleh anak tersebut. Mungkin butuh waktu, namun arah menuju bisa sangat terbuka lebar.

Tentu ada manfaat positif dari kondisi perkembangan teknologi yang pesat tersebut. Kita menjadi mudah mendapat pembaruan informasi akan suatu kejadian yang tengah terjadi di belahan dunia yang jauh dari domisili kita. Pun juga di bidang ilmu yang terus berkembang, teknologi sangat bermanfaat untuk pengembangan sebuah ilmu, semisal ilmu kesehatan, ilmu pengetahuan, maupun ilmu yang lainnya.

Imbas yang lain dari perkembangan teknologi adalah media sosial yang semakin beragam. Sebut saja InstagramFacebookTwitter, WhatsappLinePinterest, Quora, Youtube, dll. Kita dapat membangun eksistensi kita dengan menggunakan salah satu media sosial tersebut sebagai sarananya. Sesuaikan saja minat kita dengan salah satu media sosial yang tersedia, maka kita akan dapat membangun eksistensi kita dengan konsisten. Bahkan seorang yang berada di suatu tempat yang bukan merupakan kota besar, yang jauh dari ingar-bingar kehidupan khas perkotaan, dapat membangun eksistensinya dalam dunia sosial selama ia memiliki akses internet dan media sosial yang memadai.

Di sisi lain, selain penggiat eksistensi melalui media sosial, ada juga kalangan yang merupakan penikmat informasi melalui media sosial. Mereka tidak memiliki ketertarikan untuk menjadi terkenal, namun mereka hanya tertarik untuk menikmati konten di media sosial yang ditampilkan oleh para penggiat eksistensi. Jika menggunakan istilah dalam media sosial tertentu, bisa disebut follower, friend, subscriber, dll. Mereka ini adalah penikmat setiap kegiatan di media sosial yang siap dengan komentar mereka yang bisa apresiatif nan memotivasi maupun mencerca pun menghakimi. 

Kebebasan dalam media sosial dapat dengan mudah disalahgunakan. Kreatifitas para penggiat eksistensi dalam membuat sebuah konten dituntut untuk siap mendapat pujian pun cercaan dari pihak-pihak penikmatnya. Saya tidak mempermasalahkan setiap pujian yang diterima oleh para kreator konten yang apresiatif. Itu akan dapat memberikan motivasi maupun ide bagi para penggiat eksistensi untuk membuat konten yang lebih baik lagi. Namun kadang yang tidak mengeenakkan adalah ketika ada sebagian orang yang hanya bisa mencerca dan mencela sang kreator yang telah susah payah membuat konten, tanpa ada input yang dapat membangun sang penggiat eksistensi sehingga dapat lebih baik lagi ke depannya. 

Saya mengamati banyak sekali pihak yang hanya dapat menghakimi sebuah karya atau hasil pekerjaan orang lain. Mereka dengan mudahnya berujar menghakimi dalam hal apapun yang mereka tidak sukai. Lebih susah lagi jika sudah ada perasaan pribadi yang mana sang 'hakim' tidak menyukai pribadi sang terhakimi. Jika sudah demikian, sebagus apapun hasil karya atau pekerjaan sang terhakimi, akan selalu dihakimi dengan celaan, cercaan, dan selalu akan dianggap tidak ada bagus-bagusnya. Mengapa dewasa ini marak muncul 'hakim-hakim' dadakan yang seolah-olah merupakan kaum paling benar di dunia ini? Bisa jadi, mereka ini hanya memiliki satu pekerjaan saja dalam aktivitas mereka. Mencari segala macam bentuk informasi dari seorang pribadi yang tersohor, dan memutarbalikkan fakta tentang kinerja sang pribadi tersebut yang adalah baik, menjadi seolah-olah tidak ada bagus-bagusnya. 

Padahal, jika sang 'hakim-hakim' tersebut diposisikan sebagai seorang yang terhakimi, dan melakukan seperti yang harus dilakukan oleh sang terhakimi, saya pribadi tidak yakin bahwa sang 'hakim-hakim' akan dapat menghasilkan karya atau hasil pekerjaan yang minimal sama baiknya dengan sang terhakimi. Syukur-syukur kalau dapat lebih baik lagi. Namun, melihat peluangnya, kemungkinan apa yang dihasilkan oleh 'hakim-hakim' tadi lebih buruk dari yang telah dihasilkan oleh sang terhakimi.

Sebaiknya kita tidak mudah menghakimi apapun hasil yang dicapai oleh orang lain. Karena kita mungkin tidak pernah dapat melihat dari keseluruhan sisi, bagaimana perjuangan orang tersebut untuk mencapai hasil yang demikian. Untuk para penggiat eksistensi, apresiasi sederhana akan cukup membuat kreator konten bersemangat untuk terus dapat menghasilkan karya yang semakin baik hari ke hari. Kritisi dengan kritis, hadirkan solusi untuk perbaikan, dan tidak gampang menghakimi, akan jauh lebih elegan ketimbang sekadar berujar seenaknya hanya karena ketidaksukaan terhadap pribadi seorang kreator konten atau pribadi tertentu. Ingatlah bahwa tidak mudah untuk mencapai posisi seperti pribadi tersebut, dan belum tentu kita dapat menyamai pencapaiannya. Jangan sampai kita berucap, "Ternyata, mudah menghakimi tak mudah menjadi yang terhakimi."

Adakah saya menginspirasi?

gambar dari :https://www.jesuschristformuslims.com