Jumat, 22 Februari 2019

Berkriteria untuk Berpendirian

Kita semua pernah berada dalam suatu kondisi harus memilih. Entah itu memilih sesuatu atau seseorang. Pun juga untuk hal yang besar maupun hal yang remeh. Tatkala kita berada dalam posisi tersebut, adakah kita memilih sesuatu maupun seseorang tersebut dengan serampangan? Atau sebaiknya perlu suatu pertimbangan yang matang?

Kita sebagai manusia diberikan kehendak bebas oleh Kreator kita. Tanpa ada penghalang, sesungguhnya kita bebas memilih apapun sesuai kehendak kita. Namun tendensi kita lebih gemar memilih sesuatu yang kurang baik. Karena apa yang secara nilai bersifat kurang baik, lazimnya mengenakkan untuk dipilih. Semisal, makanan yang tidak sehat biasanya lebih enak daripada makanan yang lebih sehat. Padahal untuk mendapat tubuh yang sehat, logikanya kita perlu untuk makan makanan yang sehat, namun tetap saja banyak sekali makanan yang tidak sehat banyak dipilih untuk dinikmati dan laris di pasaran.

Contoh lain dalam cara mendapatkan uang. Kita semua memahami dalam kehidupan kita memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Namun karena diperlukan suatu usaha untuk mendapatkan uang, kita terkadang menjadi enggan untuk berusaha mendapatkan uang dengan cara yang benar, yaitu bekerja. Sebagian orang yang memilih untuk menuruti keengganannya untuk berusaha mendapat uang dengan bekerja memilih jalan pintas dengan cara mencuri uang milik orang lain. Karena hal itu dianggap dapat menjadi sarana untuk mendapatkan uang dalam waktu yang singkat tanpa usaha yang terlalu keras.

Dari situ perlulah diatur sebuah patokan untuk kita agar dapat memilih sesuatu yang benar untuk dilakukan. Patokan tersebut perlu kita ikuti agar kita dapat selalu memilih sesuatu maupun seseorang dengan benar. Mengapa demikian? Karena sebelum kita membuat sebuah patokan yang disepakati untuk dipatuhi, tentu terdapat kriteria yang menjadi dasar. Kriteria tersebut menjadi ukuran bagi kita untuk membuat sebuah patokan yang kita yakini benar. Mengapa kita perlu adanya kriteria untuk menentukan sebuah patokan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Kriteria menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ukuran yg menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu. Untuk dapat menentukan sebuah kriteria yang tepat tentu diperlukan sebuah riset terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang akan kita tetapkan. Misalnya saja kita hendak memilih calon presiden. Maka kriteria yang kita perlukan tentu akan berkaitan dengan pribadi sang calon presiden yang sekiranya sesuai dengan pekerjaan yang nantinya harus dikerjakannya. Semisal, pengalamannya memimpin, kinerja selama jabatan terdahulu, atau visi misi sang calon untuk jabatan presiden tersebut. Tidak perlu kita memasukkan kriteria yang tidak berkaitan secara langsung dengan pekerjaannya sebagai presiden atau sekadar kriteria yang dangkal, seperti makanan favoritnya, warna kesukaannya, film kegemarannya, dll.

Dari situ kita dapat memahami bahwa kita memerlukan sebuah kriteria yang jelas dalam memilih sesuatu maupun seseorang. Namun mengapa kita perlu menetapkan suatu kriteria sebelum kita memilih sesuatu atau seseorang? Untuk menghindari sebuah kekecewaan dan penyesalan akibat salah dalam memilih sesuatu maupun seseorang. Kriteria menghindarkan kita dari sebuah kesalahan memilih yang bisa disebabkan karena kita secara serampangan memilih sesuatu atau seseorang, yang pada akhirnya membuat kita tidak setia pada pilihan kita.

bbsnews.co.id
Lalu apakah cukup kriteria yang kita sertakan adalah kriteria yang sederhana saja? Belum tentu. Seperti yang saya sampaikan di atas, kita memerlukan sebuah riset dalam menentukan kriteria apa yang cocok untuk kita jadikan patokan dalam memilih sesuatu atau seseorang. Bisa berasal dari pengalaman pribadi kita maupun dari berbagai sumber lainnya yang kita anggap sesuai dengan kebutuhan pun keinginan kita. Sehingga, bisa saja terdapat perbedaan kriteria yang ditetapkan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. 

Meskipun terdapat banyak sumber yang dapat mengusulkan kriteria yang sekiranya baik, bukan berarti arah keputusan kita diatur oleh berbagai macam sumber tersebut sehingga kita tidak dapat memiliki pendirian kita sendiri. Tidak demikian. Justru kita perlu dan berwenang untuk menguji kriteria yang terusulkan oleh berbagai sumber tersebut apakah tetap selaras dengan pendirian kita.  Apakah setiap kriteria yang ada dapat kita jadikan kriteria yang kita jadikan patokan untuk memilih atau tidak. Jika memang sudah terlalu menyimpang, kita patut untuk tidak menjadikannya sebuah kriteria yang dapat menjadi patokan kita untuk memilih. Namun jika kriteria yang kita dapati ternyata selaras dan benar pun baik adanya, adalah patut kita jadikan sebuah patokan dalam memilih.

Di saat sebuah patokan yang bersanding dengan berbagai kriteria yang telah teruji telah nyata, niscaya kita akan dapat memilih secara hati-hati dan bertanggungjawab terhadap pilihan kita. Sebab kita telah sedemikian rupa menyusun dan menetapkan kriteria yang ada, dan dengan demikian kita pun dapat memiliki pendirian yang teguh dalam memilih. Kita tidak akan serampangan memilih sesuatu atau seseorang, mengorbankan pendirian kita hanya karena keinginan atau kebutuhan yang mendesak, namun tetap berpendirian teguh dengan adanya patokan berkriteria yang memang sesuai dengan kita. Karena kita berkriteria untuk berpendirian, sehingga kita pun dapat memilih secara benar. Selamat memilih!


Minggu, 17 Februari 2019

Bertanya Mengapa

Suatu ketika, pada sebuah sesi pelajaran yang saya ampu, di tengah proses pengerjaan tugas membuat sebuah presentasi dengan menggunakan i-Pad, saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada anak didik saya.

Menurut kalian, mengapa Mister memberikan tugas membuat presentasi dengan menggunakan aplikasi ini?

Saya ingin mengukur seberapa jauh pemahaman mereka terkait pemberian tugas tersebut. Mengenai apa yang menjadi latar belakang pemberian tugas tersebut. Beberapa jawaban yang terbersil dari pembicaraan dalam forum kelas tersebut di antaranya:

Untuk membuat kita belajar, Mister…
Untuk membuat kita memahami materi yang menjadi topik presentasi, Mister
Supaya kita bisa semakin paham ketika menggunakan aplikasi ini, Mister
Supaya kita mendapat nilai, Mister…

Cukup logis apa yang menjadi pemahaman anak didik saya dalam memahami makna atau alasan pemberian sebuah tugas yang saya persiapkan sebagai salah satu bagian dari pembelajaran mata pelajaran Teknologi Informasi. Dalam pemahaman mereka, masih berkutat dalam pemahaman yang terbatas yang langsung mengarah kepada sasaran jangka pendek terkait tujuan pemberian tugas yang mereka harus kerjakan.

Tentu saya tidak dapat mempersalahkan jawaban yang mereka lantunkan untuk menjawab pertanyaan saya tersebut. Sejauh yang saya pahami, pertanyaan yang saya ajukan adalah pertanyaan yang bersifat terbuka, yang membuka ruang seluas-luasnya bagi penerima pertanyaan untuk mengajukan pemikirannya dalam bentuk sebuah jawaban yang muncul atau lahir dari akal budi si penerima pertanyaan. Pertanyaan yang bukan mengharapkan jawaban sebatas ‘benar’ atau ‘salah’. Sehingga saya mengapresiasi setiap jawaban yang terberikan oleh anak didik saya, apapun jawaban mereka.

Sekarang, bagaimana jika kita mengambil intisari dari pertanyaan saya di atas untuk diterapkan dalam penggalan aktivitas rutin kita? Atau secara sederhana, pertanyaan saya di atas saya modifikasi menjadi:

‘Mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan?’

https://pixabay.com
Apa yang akan menjadi jawaban kita terhadap pertanyaan tersebut? Tentu tidak akan cukup hanya dengan satu atau dua jawaban saja., karena akan berbeda-beda setiap hal yang terlakukan oleh masing-masing kita. Kecuali kita seorang yang hanya memiliki aktivitas berupa diam saja di rumah tanpa suatu aktivitas rutin, yang kalau diselisik pun, kita masih bisa menanyakan, "Mengapa kita melakukan aktivitias diam saja di rumah?". 

Beberapa contoh pertanyaan dan jawaban yang mungkin timbul antara lain:

“Mengapa kita makan?”. Untuk memenuhi kebutuhan kita akan makanan, atau karena kita lapar dan ingin dikenyangkan.

“Mengapa kita tidur?”. Untuk memenuhi kebutuhan kita akan energi untuk beraktivitas, atau karena kita mengantuk.

“Mengapa kita mandi?”. Untuk membersihkan badan kita dari keringat dan kotoran yang menempel di badan kita.

“Mengapa kita bekerja?”. Untuk mencukupi kebutuhan kita dengan upah yang kita dapatkan.

Serta masih banyak lagi pertanyaan dan jawaban yang akan mencuat dari setiap pribadi yang mendapatkan pertanyaan tersebut.

Lantas, apakah sesederhana itu jawaban yang selayaknya kita munculkan? Apakah manusia hanya merupakan objek dari kehidupan yang menyuguhkan rutinitas kegiatan yang sangat berpotensi monoton, ajek, dan begitu-begitu saja adanya? Saya rasa bisa untuk tidak demikian, tatkala kita mengingat siapa pemberi kesempatan kita untuk hidup dan beraktivitas.

Kita tidak lebih dari sebuah makhluk ciptaan. Tidak ada satu manusia yang bisa menganggap dirinya lebih tinggi derajatnya dari manusia lainnya. Adanya pembedaan antar manusia yang satu dengan yang lainnya adalah karena perspektif manusia itu sendiri yang memunculkan kasta-kasta dalam masyarakat. Padahal sebenarnya semua manusia setara di hadapan Sang Empunya.

Memang ada talenta yang disediakan bagi masing-masing pribadi dan talenta tersebut bersifat khas bagi setiap pribadi. Sang pribadi tersebut mempunyai pilihan untuk mengembangkan talenta tersebut untuk berguna bagi dirinya pun bagi sekitar, atau juga membiarkan talenta tersebut tidak berkembang dan mungkin membiarkan talenta tersebut lenyap karena tidak dikembangkan. Namun, itu tidak mengubah kondisi bahwa setiap manusia adalah setara di hadapan Sang Empunya hidup.

Dalam sebuah pestaka yang menjadi pedoman bagi salah satu din yang diakui secara sah di negara kita, ada tertulis, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Dalam versi lain tertulis, “Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia”.

Agaknya, tulisan tersebut dapat memberikan panduan bagi kita tentang mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Seharusnya, setiap apa yang kita lakukan, bukan semata kita lakukan untuk manusia saja. Manusia disini dapat berarti manusia sekitar kita, atau juga kita sendiri karena kita pun manusia. Misalnya, kalau kita makan, kita hanya untuk menyenangkan orang tua kita karena kita disuruh untuk makan. Atau sekadar karena kita lapar. Atau karena kita ingin mencoba makanan yang berharga mahal yang mungkin belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita. 

Sebaiknya juga untuk alasan kita bekerja tidak sekadar untuk mendapatkan upah yang kemudian kita habiskan untuk foya-foya. Atau untuk hanya memenuhi kebutuhan. Atau bahkan alasan yang paling sederhana supaya kita ada kegiatan dan tidak menganggur. Sebaiknya tidak demikian.

Tanamkan sebuah sikap dan pemikiran yang jelas dalam diri bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, baik itu adalah hal yang kita anggap remeh atau hal yang kita anggap sangat penting, adalah kita lakukan dan kerjakan untuk Tuhan, Sang Empunya hidup. Jika kita makan, tidur, mandi, bekerja, dan lainnya, semua untuk Tuhan. Untuk menunjukkan rasa syukur atas setiap kesempatan kita untuk dapat melakukan apa yang kita lakukan. Tidak sebatas karena alasan sederhana nan dangkal yang mengabaikan unsur keberadaan Sang Empunya hidup dalam kehidupan kita, melainkan karena suatu motivasi untuk selalu mengindahkan kehadiran Sang Empunya dalam setiap perjalanan kehidupan kita dan sebagai ungkapan terima kasih karena kita dapat melakukan apa yang kita lakukan. Selamat bertanya mengapa!

Adakah saya menginspirasi?



Inspirasi lain:

Menghormati Pemimpin

Usia 4: Semakin Matang Menjadi Guru

Mudah Menghakimi Tak Mudah Menjadi yang Terhakimi

Sabtu, 09 Februari 2019

Menghormati Pemimpin


Sebentar lagi negara kita akan mengalami sebuah momen untuk menentukan sosok-sosok yang akan menjadi pemegang kekuasaan untuk memerintah sebagai pemimpin negara. Sudah sejak tahun lalu gaung dari peristiwa Pemilihan Umum (Pemilu) bergema di seantero negeri. Bagi segelintir masyarakat, mungkin ada yang telah menentukan pilihannya dalam menyongsong momen Pemilu nanti. Namun, saya juga meyakini bahwa masih ada banyak pihak yang belum menentukan kepada siapa mereka mempercayakan pucuk kepemimpinan negeri ini. Bahkan mungkin ada juga sebagian pribadi yang telah mendeklarasikan diri untuk tergabung dalam golongan putih (golput), dimana mereka ini tidak akan mempergunakan hak suaranya untuk memilih calon manapun sebagai pemimpin dalam Pemilu nanti.

Memang tidak mudah untuk menentukan pilihan kita terkait pemimpin negara ini. Terlebih jika pilihan yang ada merupakan seorang calon pemimpin yang baru mengajukan diri dan tidak memiliki pengalaman yang mumpuni. Rekam jejak yang belum teruji, memunculkan pertanyaan dalam angan, apakah calon pemimpin tersebut kapabel untuk memimpin negara kita?

Kondisi lainnya yang mungkin tampil adalah sudah berpengalamannya calon pemimpin yang ada, namun kita secara pribadi tidak sreg terhadap sang calon pemimpin tersebut. Mungkin sang calon pemimpin merupakan calon yang mengajukan diri untuk kedua kalinya (petahana) sehingga dia sudah mempunyai rekam jejak yang jelas, namun karena kita pribadi mungkin memiliki kekecewaan terhadap kinerja dari sang calon pemimpin petahana tersebut menjadikan kita tidak sreg terhadapnya.

Pada akhirnya, tidak masalah siapapun yang menjadi pilihan kita. Setiap kita memiliki hak untuk menentukan pilihan kita untuk pemimpin negeri kita dengan bebas, tanpa paksaan dari pihak manapun. Meskipun demikian, siapapun pemimpin yang kita pilih sebagai pemimpin, belum tentu akan dapat terpilih. Karena penentuan terpilih tidaknya seseorang juga dilihat dari perolehan suara secara keseluruhan, baik tingkat kota atau kabupaten, provinsi, maupun nasional.

Lantas, bagaimana menyikapi keadaan dimana pemimpin yang kita pilih ternyata tidak dapat menjadi pemimpin negara kita?

https://www.dakwatuna.com
Anggap saja yang menjadi pemimpin negara kita pada akhirnya adalah rival dari calon pemimpin yang telah kita pilih, dimana kita pribadi tidak begitu sreg dan kurang merasa nyaman jika harus dipimpin oleh pribadi yang menjadi rival dari calon pemimpin pilihan kita. Hal yang dapat kita lakukan adalah:
Tanamkan dalam angan dan cita kita untuk tetap memberikan respek kepada pemimpin kita
Apapun perasaan yang kita rasai, entah itu kecewa, marah, ataupun yang lainnya, sebaiknya tidak menjadi pembenaran bagi kita untuk tidak patuh pun tidak respek kepada pemimpin kita tersebut. Tetaplah bersifat objektif dalam menilai setiap kinerja maupun kebijakan yang diambil dan diputuskan oleh pemimpin kita, supaya jika kita berniat untuk mengkritisi, itu berdasarkan hasil penilaian yang berdasarkan hasil kerja sang pemimpin dan bukan bersifat personal, berdasarkan ketidaksukaan terhadap pribadi sang pemimpin.

Ketahui bahwa ketidakpatuhan kita hanya akan membuat ketidaknyamanan dalam hidup
Bagaimanapun juga, sang pemimpin yang terpilih sesuai prosedur yang sah berhak untuk memimpin negara kita. Terlepas dari caci maki, keberatan, maupun penolakan dari sebagian pihak yang berada pada pihak oposisi dari sang pemimpin, pribadi terpilih tersebut akan tetap menjadi pemimpin negara. Jika kita memilih untuk berada pada pihak oposisi, sebaiknya kita tetap mematuhi setiap kebijakan yang terambil oleh sang pemimpin. Karena kebijakan-kebijakan yang bersifat mengikat bisa menjadi seperti sebuah ketentuan hukum yang wajib dipatuhi oleh rakyat yang dipimpin. Mau tidak mau, suka tidak suka, kebijakan yang ada tetap akan berlaku. Ketidakpatuhan terhadap kebijakan yang ada hanya akan membuat ketidaknyamanan dalam kehidupan kita sebagai warga negara. Karena kita akan menerima konsekuensi dari ketidakpatuhan kita tersebut, yang mungkin berupa hukuman.

Dukung kinerja positifnya, dan kritisi dengan cerdas dan konstruktif setiap kelemahan sang pemimpin
Adalah sebuah hal yang mustahil untuk mengharapkan pemimpin kita tanpa cela sedikitpun. Karena pemimpin kita adalah manusia yang sama seperti kita. Terbatas adanya. Karena itu, sang pemimpin tentu membutuhkan input dari kita sebagai masyarakat yang dipimpinnya. Jika kinerja yang ditunjukkannya adalah positif, sudah sepantasnya kita dukung. Terlepas kita berada di pihak oposisi maupun koalisi. Jika ada kelemahan yang menyebabkan kinerja sang pemimpin kurang maksimal, maka kita berhak dan wajib untuk mengkritisi. Namun tidak sekadar mengkritisi tanpa solusi, namun kritisi dengan cerdas dan konstruktif, kelemahan sang pemimpin.

Sebuah tulisan dalam sebuah pestaka menyebut, “Setiap orang haruslah taat kepada pemerintah, sebab tidak ada pemerintah yang tidak mendapat kekuasaannya dari Allah. Dan pemerintah yang ada sekarang ini, menjalankan kekuasaannya atas perintah dari Allah”. Tanpa perlu ada penjelasan lebih lanjut, jelas sekali sikap yang seharusnya kita ambil dalam kehidupan bernegara, yaitu menghormati pemimpin atau pemerintah kita. Karena setiap pribadi yang terpilih sebagai pemimpin, dipilih dan ditentukan untuk menjadi pemimpin oleh Allah. Mungkin melalui kita sebagai rakyat, namun tetap Allah yang berkuasa menentukan ‘perwakilanNya’ di dunia. Jika kita menentang pemimpin maka, “Itu sebabnya orang yang menentang pemerintah sama saja dengan menentang apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dan orang yang berbuat begitu akan menerima hukuman”. Jadi, sudahkah anda menghormati pemerintah?

Adakah saya menginspirasi?

Inspirasi lain:

Belajar tentang Masalah

Mudah Menghakimi Tak Mudah Menjadi yang Terhakimi


Sabtu, 02 Februari 2019

Usia 4: Semakin Matang Menjadi Guru



2015              : Wali kelas 5 pengganti selama 3 bulan
2015 -2016 : Wali kelas 4 (kelas pertama yang dipercayakan)
2016-2017  : Wali kelas 4 (angkatan yang 3 tahun kedepan saya ajar)
2017-2018  : Wali kelas 5 (bersama sebagian murid yang saya ajar di kelas 4)
2018-2019  : Guru mata pelajaran Musik dan Komputer kelas 5 dan 6
2019-2020  : ……………………………………………………………………

Di atas adalah seberkas riwayat perjalanan saya sebagai seorang pengajar di salah satu sekolah swasta di Surabaya. Saya bersyukur bisa berkesempatan untuk berkarya di bidang pekerjaan saya saat ini. Tidak semata karena upah yang konsisten saya terima setiap bulannya, namun juga karena kesempatan untuk berkembang yang begitu luas sesuai dengan minat dan talenta yang saya punya.

Berawal dari sebuah keinginan sekilas yang muncul pada waktu saya masih menjadi mahasiswa, akhirnya saya memberanikan diri untuk berkecimpung dalam dunia pendidikan, terkhusus menjadi seorang guru. Memang awalnya tidak mudah, terlebih saya tidak memiliki pengalaman yang memadai untuk menjadi seorang pengajar. Namun saya tetap memberanikan diri untuk menapaki alur perjalanan pekerjaan saya sebagai seorang guru. Saya percaya bahwa kalau saya diperkenan Tuhan mendapatkan pekerjaan saya, maka Dia akan memperlengkapi saya dan mempersiapkan saya untuk setia berkarya di jalur tersebut.

Jika saya menilik ke belakang, kepada momen- momen saat saya mulai merintis karir sebagai pengajar, banyak hal yang saya pelajari dan saya serap dari berbagai macam pribadi pun peristiwa, baik besar maupun kecil. Saya belajar untuk dapat percaya diri untuk berkomunikasi di hadapan para murid maupun orang tuanya, juga belajar disiplin untuk selalu belajar atau melakukan persiapan sebelum mengajar. Selain itu, saya juga belajar untuk bersikap tegas terhadap apa yang seharusnya dilakukan maupun dijadikan. Walau kadang ada keadaan yang membuat saya berada dalam keharusan untuk berkompromi, namun semua itu dapat teratasi. Memang, tidak setiap pribadi yang saya jumpai pun setiap momen yang saya rasai dapat terkenang secara kekal dalam angan, namun selalu ada makna yang tertinggal yang dapat saya pelajari darinya.

Memasuki tahun ketiga saya berprofesi sebagai pengajar, saya merasakan sedikit kejenuhan dalam pekerjaan saya yang mulai menjadi sebuah hal yang bersifat rutin. Memang, saya akui bahwa ada rasa bosan dalam menjadi wali kelas. Bukan berarti saya telah bosan untuk menjadi seorang pengajar, tidak seperti itu. Namun saya pribadi mengakui bahwa saya tidak dapat berada dalam satu kondisi yang monoton, berulang-ulang, dan harus selalu ada pembaruan. Mungkin hal tersebut yang membuat saya jenuh terhadap pekerjaan saya saat itu.

Merasai hal tersebut, saya tidak secara langsung atau terang-terangan berujar kepada majikan saya di sekolah bahwa saya ingin menjadi guru mata pelajaran dan tidak lagi menjadi wali kelas untuk tahun pelajaran berikutnya. Namun, kepada beberapa rekan sejawat, saya menyiratkan keinginan tersebut. Saya lebih banyak berujar dalam angan dan cita saya tentang keinginan untuk mendapatkan posisi sebagai guru mata pelajaran.

Pada akhirnya Sang Empunya kehidupan selalu tahu apa yang saya butuhkan dan saya minati. Tatkala pengumuman posisi mengajar saya untuk tahun ajaran yang baru telah tiba, saya pun gembira karena mendapat posisi yang saya harapkan, yakni sebagai seorang guru mata pelajaran. Meskipun demikian, ada sedikit kecemasan karena saya harus mengajar dua mata pelajaran sekaligus, yaitu musik dan komputer. Kadang, keharusan untuk menjalani suatu hal yang sama sekali baru memunculkan rasa minder terhadap kemampuan diri. Sesungguhnya kemampuan dan potensi ada namun seolah lenyap karena tidak tenteramnya hati maupun asumsi yang negatif. Sekadar menguatkan diri, saya berusaha menutupi kecemasan dengan euforia saya karena mendapatkan posisi baru yang berbeda dengan yang sebelumnya.

Hampir semusim berjalan menjadi seorang guru komputer dan musik, saya menikmati posisi saya saat ini. Awalnya kebutaan tentang menjadi seorang guru mata pelajaran begitu menghalangi langkah untuk mengembangkan diri. Namun dengan sokongan dari rekan sejawat, keluarga, pun tak tertinggal dari Sang Kreator kehidupan, saya semakin mantap menjejakkan langkah dalam posisi sebagai seorang guru mata pelajaran, dan berharap akan tetap dapat berposisi seperti sekarang.

Kini, menapaki usia empat tahun saya mengajar, saya merasa semakin matang dalam menjadi pengajar. Segala kekurangan masih menanti untuk mendapatkan perbaikannya. Namun setiap kesempatan yang datang saya anggap sebagai tantangan untuk dapat ‘naik kelas’ menuju posisi yang semakin meningkat. Ambisi tetap ada. Banyak harapan yang masih menanti untuk diwujudkan di hari depan. Semoga saya dapat semakin mampu menginspirasi dan membagikan ilmu yang saya miliki, kepada setiap anak didik yang telah dipercayakan kepada saya. Sehingga saya pun dapat menjadi bagian dari sekelumit pribadi yang ikut memberikan andil mencerdaskan kehidupan bangsa.


Adakah saya menginspirasi?

gambar dari : http://cerpen-online-indonesia.blogspot.com