Minggu, 17 Februari 2019

Bertanya Mengapa

Suatu ketika, pada sebuah sesi pelajaran yang saya ampu, di tengah proses pengerjaan tugas membuat sebuah presentasi dengan menggunakan i-Pad, saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada anak didik saya.

Menurut kalian, mengapa Mister memberikan tugas membuat presentasi dengan menggunakan aplikasi ini?

Saya ingin mengukur seberapa jauh pemahaman mereka terkait pemberian tugas tersebut. Mengenai apa yang menjadi latar belakang pemberian tugas tersebut. Beberapa jawaban yang terbersil dari pembicaraan dalam forum kelas tersebut di antaranya:

Untuk membuat kita belajar, Mister…
Untuk membuat kita memahami materi yang menjadi topik presentasi, Mister
Supaya kita bisa semakin paham ketika menggunakan aplikasi ini, Mister
Supaya kita mendapat nilai, Mister…

Cukup logis apa yang menjadi pemahaman anak didik saya dalam memahami makna atau alasan pemberian sebuah tugas yang saya persiapkan sebagai salah satu bagian dari pembelajaran mata pelajaran Teknologi Informasi. Dalam pemahaman mereka, masih berkutat dalam pemahaman yang terbatas yang langsung mengarah kepada sasaran jangka pendek terkait tujuan pemberian tugas yang mereka harus kerjakan.

Tentu saya tidak dapat mempersalahkan jawaban yang mereka lantunkan untuk menjawab pertanyaan saya tersebut. Sejauh yang saya pahami, pertanyaan yang saya ajukan adalah pertanyaan yang bersifat terbuka, yang membuka ruang seluas-luasnya bagi penerima pertanyaan untuk mengajukan pemikirannya dalam bentuk sebuah jawaban yang muncul atau lahir dari akal budi si penerima pertanyaan. Pertanyaan yang bukan mengharapkan jawaban sebatas ‘benar’ atau ‘salah’. Sehingga saya mengapresiasi setiap jawaban yang terberikan oleh anak didik saya, apapun jawaban mereka.

Sekarang, bagaimana jika kita mengambil intisari dari pertanyaan saya di atas untuk diterapkan dalam penggalan aktivitas rutin kita? Atau secara sederhana, pertanyaan saya di atas saya modifikasi menjadi:

‘Mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan?’

https://pixabay.com
Apa yang akan menjadi jawaban kita terhadap pertanyaan tersebut? Tentu tidak akan cukup hanya dengan satu atau dua jawaban saja., karena akan berbeda-beda setiap hal yang terlakukan oleh masing-masing kita. Kecuali kita seorang yang hanya memiliki aktivitas berupa diam saja di rumah tanpa suatu aktivitas rutin, yang kalau diselisik pun, kita masih bisa menanyakan, "Mengapa kita melakukan aktivitias diam saja di rumah?". 

Beberapa contoh pertanyaan dan jawaban yang mungkin timbul antara lain:

“Mengapa kita makan?”. Untuk memenuhi kebutuhan kita akan makanan, atau karena kita lapar dan ingin dikenyangkan.

“Mengapa kita tidur?”. Untuk memenuhi kebutuhan kita akan energi untuk beraktivitas, atau karena kita mengantuk.

“Mengapa kita mandi?”. Untuk membersihkan badan kita dari keringat dan kotoran yang menempel di badan kita.

“Mengapa kita bekerja?”. Untuk mencukupi kebutuhan kita dengan upah yang kita dapatkan.

Serta masih banyak lagi pertanyaan dan jawaban yang akan mencuat dari setiap pribadi yang mendapatkan pertanyaan tersebut.

Lantas, apakah sesederhana itu jawaban yang selayaknya kita munculkan? Apakah manusia hanya merupakan objek dari kehidupan yang menyuguhkan rutinitas kegiatan yang sangat berpotensi monoton, ajek, dan begitu-begitu saja adanya? Saya rasa bisa untuk tidak demikian, tatkala kita mengingat siapa pemberi kesempatan kita untuk hidup dan beraktivitas.

Kita tidak lebih dari sebuah makhluk ciptaan. Tidak ada satu manusia yang bisa menganggap dirinya lebih tinggi derajatnya dari manusia lainnya. Adanya pembedaan antar manusia yang satu dengan yang lainnya adalah karena perspektif manusia itu sendiri yang memunculkan kasta-kasta dalam masyarakat. Padahal sebenarnya semua manusia setara di hadapan Sang Empunya.

Memang ada talenta yang disediakan bagi masing-masing pribadi dan talenta tersebut bersifat khas bagi setiap pribadi. Sang pribadi tersebut mempunyai pilihan untuk mengembangkan talenta tersebut untuk berguna bagi dirinya pun bagi sekitar, atau juga membiarkan talenta tersebut tidak berkembang dan mungkin membiarkan talenta tersebut lenyap karena tidak dikembangkan. Namun, itu tidak mengubah kondisi bahwa setiap manusia adalah setara di hadapan Sang Empunya hidup.

Dalam sebuah pestaka yang menjadi pedoman bagi salah satu din yang diakui secara sah di negara kita, ada tertulis, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Dalam versi lain tertulis, “Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia”.

Agaknya, tulisan tersebut dapat memberikan panduan bagi kita tentang mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Seharusnya, setiap apa yang kita lakukan, bukan semata kita lakukan untuk manusia saja. Manusia disini dapat berarti manusia sekitar kita, atau juga kita sendiri karena kita pun manusia. Misalnya, kalau kita makan, kita hanya untuk menyenangkan orang tua kita karena kita disuruh untuk makan. Atau sekadar karena kita lapar. Atau karena kita ingin mencoba makanan yang berharga mahal yang mungkin belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita. 

Sebaiknya juga untuk alasan kita bekerja tidak sekadar untuk mendapatkan upah yang kemudian kita habiskan untuk foya-foya. Atau untuk hanya memenuhi kebutuhan. Atau bahkan alasan yang paling sederhana supaya kita ada kegiatan dan tidak menganggur. Sebaiknya tidak demikian.

Tanamkan sebuah sikap dan pemikiran yang jelas dalam diri bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, baik itu adalah hal yang kita anggap remeh atau hal yang kita anggap sangat penting, adalah kita lakukan dan kerjakan untuk Tuhan, Sang Empunya hidup. Jika kita makan, tidur, mandi, bekerja, dan lainnya, semua untuk Tuhan. Untuk menunjukkan rasa syukur atas setiap kesempatan kita untuk dapat melakukan apa yang kita lakukan. Tidak sebatas karena alasan sederhana nan dangkal yang mengabaikan unsur keberadaan Sang Empunya hidup dalam kehidupan kita, melainkan karena suatu motivasi untuk selalu mengindahkan kehadiran Sang Empunya dalam setiap perjalanan kehidupan kita dan sebagai ungkapan terima kasih karena kita dapat melakukan apa yang kita lakukan. Selamat bertanya mengapa!

Adakah saya menginspirasi?



Inspirasi lain:

Menghormati Pemimpin

Usia 4: Semakin Matang Menjadi Guru

Mudah Menghakimi Tak Mudah Menjadi yang Terhakimi