Sabtu, 09 Februari 2019

Menghormati Pemimpin


Sebentar lagi negara kita akan mengalami sebuah momen untuk menentukan sosok-sosok yang akan menjadi pemegang kekuasaan untuk memerintah sebagai pemimpin negara. Sudah sejak tahun lalu gaung dari peristiwa Pemilihan Umum (Pemilu) bergema di seantero negeri. Bagi segelintir masyarakat, mungkin ada yang telah menentukan pilihannya dalam menyongsong momen Pemilu nanti. Namun, saya juga meyakini bahwa masih ada banyak pihak yang belum menentukan kepada siapa mereka mempercayakan pucuk kepemimpinan negeri ini. Bahkan mungkin ada juga sebagian pribadi yang telah mendeklarasikan diri untuk tergabung dalam golongan putih (golput), dimana mereka ini tidak akan mempergunakan hak suaranya untuk memilih calon manapun sebagai pemimpin dalam Pemilu nanti.

Memang tidak mudah untuk menentukan pilihan kita terkait pemimpin negara ini. Terlebih jika pilihan yang ada merupakan seorang calon pemimpin yang baru mengajukan diri dan tidak memiliki pengalaman yang mumpuni. Rekam jejak yang belum teruji, memunculkan pertanyaan dalam angan, apakah calon pemimpin tersebut kapabel untuk memimpin negara kita?

Kondisi lainnya yang mungkin tampil adalah sudah berpengalamannya calon pemimpin yang ada, namun kita secara pribadi tidak sreg terhadap sang calon pemimpin tersebut. Mungkin sang calon pemimpin merupakan calon yang mengajukan diri untuk kedua kalinya (petahana) sehingga dia sudah mempunyai rekam jejak yang jelas, namun karena kita pribadi mungkin memiliki kekecewaan terhadap kinerja dari sang calon pemimpin petahana tersebut menjadikan kita tidak sreg terhadapnya.

Pada akhirnya, tidak masalah siapapun yang menjadi pilihan kita. Setiap kita memiliki hak untuk menentukan pilihan kita untuk pemimpin negeri kita dengan bebas, tanpa paksaan dari pihak manapun. Meskipun demikian, siapapun pemimpin yang kita pilih sebagai pemimpin, belum tentu akan dapat terpilih. Karena penentuan terpilih tidaknya seseorang juga dilihat dari perolehan suara secara keseluruhan, baik tingkat kota atau kabupaten, provinsi, maupun nasional.

Lantas, bagaimana menyikapi keadaan dimana pemimpin yang kita pilih ternyata tidak dapat menjadi pemimpin negara kita?

https://www.dakwatuna.com
Anggap saja yang menjadi pemimpin negara kita pada akhirnya adalah rival dari calon pemimpin yang telah kita pilih, dimana kita pribadi tidak begitu sreg dan kurang merasa nyaman jika harus dipimpin oleh pribadi yang menjadi rival dari calon pemimpin pilihan kita. Hal yang dapat kita lakukan adalah:
Tanamkan dalam angan dan cita kita untuk tetap memberikan respek kepada pemimpin kita
Apapun perasaan yang kita rasai, entah itu kecewa, marah, ataupun yang lainnya, sebaiknya tidak menjadi pembenaran bagi kita untuk tidak patuh pun tidak respek kepada pemimpin kita tersebut. Tetaplah bersifat objektif dalam menilai setiap kinerja maupun kebijakan yang diambil dan diputuskan oleh pemimpin kita, supaya jika kita berniat untuk mengkritisi, itu berdasarkan hasil penilaian yang berdasarkan hasil kerja sang pemimpin dan bukan bersifat personal, berdasarkan ketidaksukaan terhadap pribadi sang pemimpin.

Ketahui bahwa ketidakpatuhan kita hanya akan membuat ketidaknyamanan dalam hidup
Bagaimanapun juga, sang pemimpin yang terpilih sesuai prosedur yang sah berhak untuk memimpin negara kita. Terlepas dari caci maki, keberatan, maupun penolakan dari sebagian pihak yang berada pada pihak oposisi dari sang pemimpin, pribadi terpilih tersebut akan tetap menjadi pemimpin negara. Jika kita memilih untuk berada pada pihak oposisi, sebaiknya kita tetap mematuhi setiap kebijakan yang terambil oleh sang pemimpin. Karena kebijakan-kebijakan yang bersifat mengikat bisa menjadi seperti sebuah ketentuan hukum yang wajib dipatuhi oleh rakyat yang dipimpin. Mau tidak mau, suka tidak suka, kebijakan yang ada tetap akan berlaku. Ketidakpatuhan terhadap kebijakan yang ada hanya akan membuat ketidaknyamanan dalam kehidupan kita sebagai warga negara. Karena kita akan menerima konsekuensi dari ketidakpatuhan kita tersebut, yang mungkin berupa hukuman.

Dukung kinerja positifnya, dan kritisi dengan cerdas dan konstruktif setiap kelemahan sang pemimpin
Adalah sebuah hal yang mustahil untuk mengharapkan pemimpin kita tanpa cela sedikitpun. Karena pemimpin kita adalah manusia yang sama seperti kita. Terbatas adanya. Karena itu, sang pemimpin tentu membutuhkan input dari kita sebagai masyarakat yang dipimpinnya. Jika kinerja yang ditunjukkannya adalah positif, sudah sepantasnya kita dukung. Terlepas kita berada di pihak oposisi maupun koalisi. Jika ada kelemahan yang menyebabkan kinerja sang pemimpin kurang maksimal, maka kita berhak dan wajib untuk mengkritisi. Namun tidak sekadar mengkritisi tanpa solusi, namun kritisi dengan cerdas dan konstruktif, kelemahan sang pemimpin.

Sebuah tulisan dalam sebuah pestaka menyebut, “Setiap orang haruslah taat kepada pemerintah, sebab tidak ada pemerintah yang tidak mendapat kekuasaannya dari Allah. Dan pemerintah yang ada sekarang ini, menjalankan kekuasaannya atas perintah dari Allah”. Tanpa perlu ada penjelasan lebih lanjut, jelas sekali sikap yang seharusnya kita ambil dalam kehidupan bernegara, yaitu menghormati pemimpin atau pemerintah kita. Karena setiap pribadi yang terpilih sebagai pemimpin, dipilih dan ditentukan untuk menjadi pemimpin oleh Allah. Mungkin melalui kita sebagai rakyat, namun tetap Allah yang berkuasa menentukan ‘perwakilanNya’ di dunia. Jika kita menentang pemimpin maka, “Itu sebabnya orang yang menentang pemerintah sama saja dengan menentang apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dan orang yang berbuat begitu akan menerima hukuman”. Jadi, sudahkah anda menghormati pemerintah?

Adakah saya menginspirasi?

Inspirasi lain:

Belajar tentang Masalah

Mudah Menghakimi Tak Mudah Menjadi yang Terhakimi