Sabtu, 02 Februari 2019

Usia 4: Semakin Matang Menjadi Guru



2015              : Wali kelas 5 pengganti selama 3 bulan
2015 -2016 : Wali kelas 4 (kelas pertama yang dipercayakan)
2016-2017  : Wali kelas 4 (angkatan yang 3 tahun kedepan saya ajar)
2017-2018  : Wali kelas 5 (bersama sebagian murid yang saya ajar di kelas 4)
2018-2019  : Guru mata pelajaran Musik dan Komputer kelas 5 dan 6
2019-2020  : ……………………………………………………………………

Di atas adalah seberkas riwayat perjalanan saya sebagai seorang pengajar di salah satu sekolah swasta di Surabaya. Saya bersyukur bisa berkesempatan untuk berkarya di bidang pekerjaan saya saat ini. Tidak semata karena upah yang konsisten saya terima setiap bulannya, namun juga karena kesempatan untuk berkembang yang begitu luas sesuai dengan minat dan talenta yang saya punya.

Berawal dari sebuah keinginan sekilas yang muncul pada waktu saya masih menjadi mahasiswa, akhirnya saya memberanikan diri untuk berkecimpung dalam dunia pendidikan, terkhusus menjadi seorang guru. Memang awalnya tidak mudah, terlebih saya tidak memiliki pengalaman yang memadai untuk menjadi seorang pengajar. Namun saya tetap memberanikan diri untuk menapaki alur perjalanan pekerjaan saya sebagai seorang guru. Saya percaya bahwa kalau saya diperkenan Tuhan mendapatkan pekerjaan saya, maka Dia akan memperlengkapi saya dan mempersiapkan saya untuk setia berkarya di jalur tersebut.

Jika saya menilik ke belakang, kepada momen- momen saat saya mulai merintis karir sebagai pengajar, banyak hal yang saya pelajari dan saya serap dari berbagai macam pribadi pun peristiwa, baik besar maupun kecil. Saya belajar untuk dapat percaya diri untuk berkomunikasi di hadapan para murid maupun orang tuanya, juga belajar disiplin untuk selalu belajar atau melakukan persiapan sebelum mengajar. Selain itu, saya juga belajar untuk bersikap tegas terhadap apa yang seharusnya dilakukan maupun dijadikan. Walau kadang ada keadaan yang membuat saya berada dalam keharusan untuk berkompromi, namun semua itu dapat teratasi. Memang, tidak setiap pribadi yang saya jumpai pun setiap momen yang saya rasai dapat terkenang secara kekal dalam angan, namun selalu ada makna yang tertinggal yang dapat saya pelajari darinya.

Memasuki tahun ketiga saya berprofesi sebagai pengajar, saya merasakan sedikit kejenuhan dalam pekerjaan saya yang mulai menjadi sebuah hal yang bersifat rutin. Memang, saya akui bahwa ada rasa bosan dalam menjadi wali kelas. Bukan berarti saya telah bosan untuk menjadi seorang pengajar, tidak seperti itu. Namun saya pribadi mengakui bahwa saya tidak dapat berada dalam satu kondisi yang monoton, berulang-ulang, dan harus selalu ada pembaruan. Mungkin hal tersebut yang membuat saya jenuh terhadap pekerjaan saya saat itu.

Merasai hal tersebut, saya tidak secara langsung atau terang-terangan berujar kepada majikan saya di sekolah bahwa saya ingin menjadi guru mata pelajaran dan tidak lagi menjadi wali kelas untuk tahun pelajaran berikutnya. Namun, kepada beberapa rekan sejawat, saya menyiratkan keinginan tersebut. Saya lebih banyak berujar dalam angan dan cita saya tentang keinginan untuk mendapatkan posisi sebagai guru mata pelajaran.

Pada akhirnya Sang Empunya kehidupan selalu tahu apa yang saya butuhkan dan saya minati. Tatkala pengumuman posisi mengajar saya untuk tahun ajaran yang baru telah tiba, saya pun gembira karena mendapat posisi yang saya harapkan, yakni sebagai seorang guru mata pelajaran. Meskipun demikian, ada sedikit kecemasan karena saya harus mengajar dua mata pelajaran sekaligus, yaitu musik dan komputer. Kadang, keharusan untuk menjalani suatu hal yang sama sekali baru memunculkan rasa minder terhadap kemampuan diri. Sesungguhnya kemampuan dan potensi ada namun seolah lenyap karena tidak tenteramnya hati maupun asumsi yang negatif. Sekadar menguatkan diri, saya berusaha menutupi kecemasan dengan euforia saya karena mendapatkan posisi baru yang berbeda dengan yang sebelumnya.

Hampir semusim berjalan menjadi seorang guru komputer dan musik, saya menikmati posisi saya saat ini. Awalnya kebutaan tentang menjadi seorang guru mata pelajaran begitu menghalangi langkah untuk mengembangkan diri. Namun dengan sokongan dari rekan sejawat, keluarga, pun tak tertinggal dari Sang Kreator kehidupan, saya semakin mantap menjejakkan langkah dalam posisi sebagai seorang guru mata pelajaran, dan berharap akan tetap dapat berposisi seperti sekarang.

Kini, menapaki usia empat tahun saya mengajar, saya merasa semakin matang dalam menjadi pengajar. Segala kekurangan masih menanti untuk mendapatkan perbaikannya. Namun setiap kesempatan yang datang saya anggap sebagai tantangan untuk dapat ‘naik kelas’ menuju posisi yang semakin meningkat. Ambisi tetap ada. Banyak harapan yang masih menanti untuk diwujudkan di hari depan. Semoga saya dapat semakin mampu menginspirasi dan membagikan ilmu yang saya miliki, kepada setiap anak didik yang telah dipercayakan kepada saya. Sehingga saya pun dapat menjadi bagian dari sekelumit pribadi yang ikut memberikan andil mencerdaskan kehidupan bangsa.


Adakah saya menginspirasi?

gambar dari : http://cerpen-online-indonesia.blogspot.com