Minggu, 07 April 2019

Menikah : Sebuah Keputusan Penuh Pertimbangan atau Sebuah Keterpaksaan Keadaan?

Menikah adalah suatu hal yang menjadi impian sebagian besar orang di dunia. Satu tahapan yang akan mulai menjadi topik pembicaraan ketika usia sudah memasuki tahapan dewasa. Ada suatu anggapan tertentu bagi sebagian golongan masyarakat, bahwa yang menjadi latar belakang atau pendorong terjadinya sebuah pernikahan adalah karena sudah cukup usia, pekerjaan yang sudah mapan, atau dorongan pihak keluarga yang dirasa ingin cepat mendapatkan anggota keluarga baru dan menimang cucu. Sebuah rahasia umum jika beberapa hal tersebut menjadi motivasi terjadinya sebuah pernikahan. Namun ketika ditelaah lebih lanjut, apakah sesederhana itu alasan utama untuk melangkah ke salah satu jenjang lanjutan dari kehidupan seorang manusia tersebut? Apakah sebuah keputusan untuk menikah yang telah diambil tersebut dapat konsisten dijaga dengan adanya alasan-alasan umum yang melatarbelakangi keputusan tersebut?

Perlu diingat, sebuah pernikahan adalah salah satu keputusan besar yang perlu dipersiapkan dan direncanakan secara matang. Kesalahan dalam memilih calon pasangan hidup bisa menjadi penyesalan terbesar di kemudian hari. Seperti diketahui, pada hakikatnya pernikahan adalah penyatuan dua orang manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dalam sebuah ikatan yang sah baik secara agama maupun secara hukum, untuk membina sebuah keluarga yang diharapkan baik dan berlangsung seumur hidup, sampai akhir hayat. Walau terjadi banyak penyimpangan akan kedalaman makna pernikahan, akan tetapi hal mendasar dalam hubungan pernikahan tidak akan bisa digantikan. Bilamana dewasa ini terdapat banyak pernikahan antara dua orang yang memiliki satu kesamaan berupa jenis kelamin yang sama, baik itu antara lelaki dengan lelaki atau perempuan dengan perempuan, tetap tidak dapat mengganti definisi dari pernikahan yang sebenarnya. Karena pada dasarnya manusia diciptakan Sang Pencipta hanya bergender laki-laki dan perempuan, sehingga ketika relasi dalam pernikahan dikreasikan olehNya, itu pun untuk manusia dengan dua jenis kelamin berbeda, dan bukan untuk laki-laki dengan laki-laki, atau perempuan dengan perempuan.

Kembali kepada latar belakang sebuah pernikahan, tentu keputusan untuk menikah tidak bisa didasarkan hanya pada alasan yang dangkal. Akan menjadi terlalu riskan jika sebuah pernikahan terjadi hanya karena alasan-alasan yang saya sebutkan sebelumnya. Bisa saja karena alasan tersebut, pernikahan menjadi tidak terencana secara matang, dan bahkan menjadi sebuah keterpaksaan bagi masing-masing pihak, dikarenakan keadaan yang seolah mendesak karena perkara umur, atau mungkin pandangan orang sekitar, dsb. Padahal, mungkin sang calon mempelai secara mental maupun finansial belum mencapai tahapan siap. Bahkan jika dipaksakan untuk menikah, pernikahannya tidak akan menjadi suatu hal yang baik. Tentu tidak ada yang menginginkan pernikahan seperti demikian.

Contoh lain alasan yang (menurut saya) dangkal yang mendorong sepasang kekasih untuk menikah adalah (hanya karena) cinta dan perasaan tertarik kepada pasangan. Perlu diingat bahwa pernikahan adalah perjalanan seumur hidup. Ibarat sebuah rumah, maka ketika sepasang kekasih yang memutuskan untuk menikah memasuki rumah tersebut, membentuk sebuah kesatuan yang disebut dengan keluarga, mereka harus mengetahui bahwa tidak akan ada pilihan untuk mundur ataupun pergi dari rumah tersebut. Apapun yang terjadi, mereka harus setia dengan pilihan yang telah diambil. Menyenangkan ataupun mendukakan, itulah yang harus diterima dan dijalani. Karenanya pertimbangan matang dalam menentukan calon pasangan hidup adalah mutlak diperlukan, tidak bisa tidak, jika ingin memiliki pernikahan yang "abadi" (sampai maut memisahkan). Pernikahan yang hanya didasarkan karena rasa saling mencintai dan karena ada perasaan ketertarikan diantara dua insan manusia, cenderung untuk gagal, walaupun belum dapat dipastikan akan gagal. Namun bukan berarti pernikahan yang langgeng adalah pernikahan tanpa kehadiran cinta. Bukan juga demikian.

Apa yang saya maksudkan adalah, ketika kita tertarik dengan seseorang dan membuka kemungkinan untuk sebuah hubungan yang mendalam, kita perlu juga mempertimbangkan berbagai hal yang ada pada diri orang tersebut pun juga yang ada dalam diri kita. Pikiran egois akan berkata, "Apa yang bisa dia berikan padaku?". Namun jika kita sudah mencapai kedewasaan yang cukup dan dapat berpikir tidak lagi untuk diri sendiri, maka kita akan bisa berkata, "Apa hal terbaik dariku yang bisa aku berikan untuknya?". Kita perlu untuk tetap berpikir logis akan keberadaan pasangan kita. Cinta dan perasaan tertarik kepada pasangan rentan untuk berubah-ubah, namun ketika kita memilih berdasarkan karakter pasangan kita, suatu hal yang (bisa dibilang) permanen adanya pada diri pasangan kita, maka kita bisa meyakinkan diri kita untuk bertahan sampai maut memisahkan bersama pasangan kita. Karena sebuah karakter seseorang adalah sesuatu yang terbentuk sejak lama. Jika karakter seseorang baik adanya, kecil kemungkinannya orang tersebut untuk berubah karakternya menjadi buruk ataupun menjadi tidak baik. Jadi, sertakanlah pertimbangan karakter pasangan sebagai salah satu latar belakang sebuah pernikahan.

Ketika anda memutuskan untuk menikahi seseorang, segala sesuatu yang tadinya dilakukan sendiri, sepihak, tanpa perlu ada izin orang lain, akan berubah menjadi sesuatu yang memerlukan kesepakatan bersama, perlu dibicarakan berdua, dan bisa jadi tidak terlaksana karena ketiadaan kesepakatan dengan sang pendamping hidup. Hal yang wajar, karena bisa jadi sesuatu yang akan diputuskan tersebut, akan berpengaruh pada kehidupan anda dan pasangan. Bagi pria, bukan berarti menjadi lemah, hanya karena perlu pendapat dari istri untuk sesuatu hal yang mungkin sepele, begitupun bagi wanita, bukan juga berarti menjadi dominan, karena dapat bagian untuk "mengontrol" keputusan sekecil apapun dalam kehidupan pernikahan. Semuanya punya peranan tersendiri, setara, sepadan, dan bukan berat sebelah. Tidak menakut-nakuti, namun pernikahan adalah salah satu sarana untuk menyambut kehidupan yang penuh masalah dengan cara yang bersukacita. Benar, kehidupan setelah pernikahan bukanlah hidup tanpa masalah. Melainkan akan muncul banyak masalah baru yang sebelumnya (mungkin) belum pernah ada. Lalu mengapa bisa menjadi suatu sukacita? Karena kita tidak lagi menghadapi permasalahan tersebut sendirian. Bersama pendamping hidup kita, kita diberikan "sharing partner" yang dengan lapang dada dan tanpa harus diiringi permintaan yang memohon-mohon, akan memberikan sugesti-sugesti yang bisa menjadikan setiap permasalahan menemukan solusinya. Seperti janji pernikahan dimana kita akan selalu setia dalam suka dan duka, hidup setelah pernikahan menjanjikan keadaan yang tidak hanya penuh masalah, namun juga ada kebahagiaan besar sebagai anugerahNya.

Tuhan tidak memaksa umatnya untuk menjalani sebuah pernikahan. Dia menyadari bahwa rencanaNya untuk setiap pribadi adalah tidak sama satu dengan yang lain. Jika pada akhirnya, pergumulan hidup anda membawa anda pada keputusan untuk menikmati sebuah pernikahan, hendaknya tidak hanya karena suatu alasan dangkal. Landasi pernikahan anda dengan sebuah keputusan matang yang telah dipertimbangkan dengan baik, dan juga tanamkan motivasi kuat untuk memuliakan Tuhan melalui pernikahan yang anda akan jalani. Karena sesungguhnya pernikahan itu adalah ide dari Allah sendiri, karenanya sudah sepantasnya pernikahan dijalani untuk membawa kemuliaan bagi Allah, sang kreator relasi pernikahan itu sendiri. Dengan begitu, akan menjadikan refleksi kemuliaan Tuhan terpancar nyata, ketika hubungan yang anda jalani bersama pasangan anda, berakhir dalam suatu pernikahan kudus, dengan motivasi dasarnya adalah untuk memuliakan Allah.

Adakah saya menginspirasi?

Berkriteria Untuk Berpendirian

Bertanya Mengapa

Menghormati Pemimpin