Sabtu, 27 April 2019

Waspada dalam Bertransaksi


www.kreditgogo.com

Kemajuan teknologi dewasa ini membawa perubahan signifikan terhadap beberapa bidang dalam kehidupan. Tidak terkecuali kepada transaksi jual beli antara penjual dan pembeli. Kehadiran transaksi jual beli secara online merupakan salah satu hasil dari kemajuan teknologi. Kita sebagai penjual tidak perlu repot menyediakan etalase yang tentunya berbiaya mahal untuk menyediakannya. Penjual hanya perlu mempunyai akun di suatu situs jual beli yang tersedia, dan mengunggah informasi terkait barang yang akan mereka jual, pun juga bagi pembeli, tidak perlu repot mendatangi toko fisik yang bisa saja jauh dari domisili si pembeli. Cukup sekadar mengoperasikan gawai berupa handphone, tablet pc, ataupun notebook dan komputer, kemudian mengakses aplikasi ataupun situs jual beli online, pembeli dapat mencari dan menemukan segala macam barang yang mereka butuhkan. Tatap muka antara penjual dan pembeli pun dapat tidak dihadirkan untuk menyelesaikan transaksi jual beli.

Saya pun turut mengalami dan menikmati kemudahan yang seperti demikian. Kemajuan teknologi yang begitu pesat dewasa ini telah membawa saya kepada kemudahan dalam berbelanja sesuatu. Umumnya barang-barang elektronik. Namun perlu juga disadari bahwa tetap perlu ada kehati-hatian dalam melakukan transaksi jual beli secara online. Absennya momen pertemuan saya sebagai pembeli dengan pihak penjual dapat menjadi celah untuk pihak yang berniat tidak baik untuk melakukan penipuan. Sebut saja penipuan kualitas produk yang ternyata tidak sebaik yang diiklankan dalam situs internet milik penjual. Atau penipuan metode pembayaran. Dimana penjual meminta pembeli untuk membayar sejumlah uang terlebih dahulu sebagai konfirmasi dari pembeli bahwa mereka membeli barang milik penjual. Penipuan terjadi tatkala pembayaran telah dilakukan oleh pembeli namun barang tidak dikirimkan kepada pembeli.

Kejahatan secara digital dewasa ini cukup marak terjadi. Karenanya kita perlu waspada tatkala kita menggunakan dunia digital untuk melakukan transaksi jual beli. Mengapa demikian? Karena, dalam dunia digital, pertemuan antara pembeli dengan penjual maupun sebaliknya tidaklah berlangsung melalui tatap muka secara langsung, melainkan hanya sekadar antara akun penjual dengan akun pembeli. Penjual mempunyai sebuah akun dalam sebuah media toko digital, bertemu dengan akun milik pembeli. Pertemuan secara tatap muka dalam dunia digital dirasa hanya akan memperlambat transaksi, yang mana memang mengedepankan kemudahan dan kecepatan dalam bertransaksi.

Beberapa waktu yang lalu saya mengalami kejadian yang kurang mengenakkan. Saya hampir saja menjadi korban penipuan secara digital. Ketika itu saya sedang dalam posisi menjual sebuah kamera digital milik saya karena sedang membutuhkan dana segar. Guna mempercepat terjualnya kamera milik saya tersebut tanpa ragu saya pun mengiklankan kamera tersebut ke sebuah website jual beli online yang cukup terkenal. Benar saja, saya segera mendapat pesan singkat melalui aplikasi chatting yang mengabarkan bahwa si calon pembeli berminat dengan kamera saya. Seperti biasa, terjadi negosiasi harga antara saya dengan calon pembeli dimana disepakati sebuah harga antara kami.

Kemudian proses berlanjut, kami membahas mengenai ongkos kirim (ongkir). Si calon pembeli memberikan alamat lengkapnya yang berada di kota yang berbeda dengan saya. Saya pun melakukan pengecekan ke alamat situs penyedia jasa ekspedisi dan memberikan beberapa opsi kepada calon pembeli untuk ongkir yang diperlukan. Setelah terjadi kesepakatan mengenai ongkir yang perlu dibayar oleh calon pembeli. Setelah terjadi kesepakatan, maka proses berikutnya yaitu pembayaran oleh calon pembeli. Metode transfer melalui rekening bank pun dipilih oleh calon pembeli. Calon pembeli mengaku akan mentransfer melalui mandiri e-cash. Saya pun mengiyakan saja kendati saya tidak begitu memahami seperti apa mandiri e-cash tersebut. Tak lama berselang saya menerima bukti transfer dari calon pembeli seperti di gambar berikut:

Nomor rekening saya tidak cantumkan.
Saya mulai curiga karena merasa bukti transfer tersebut seolah seperti foto kertas kosong yang menyerupai struk ATM yang ditambahkan tulisan menggunakan aplikasi editor foto. Saya semakin curiga ketika melihat ada salah ejaan pada gambar tersebut.



Saya pun menjelajah internet untuk mencari informasi terkait mandiri e-cash dan saya mendapatkan artikel mengenai penipuan menggunakan mandiri e-cash. Sontak saya pun dengan alasan tidak memahami mengenai mandiri e-cash tersebut membatalkan transaksi dengan calon pembeli untuk menghindari penipuan.

Sedikit informasi mengenai mandiri e-cash:
  1. Mandiri e-cash adalah uang elektronik berbasis server yang memanfaatkan teknologi aplikasi di handphone dan USSD, atau yang disebut sebagai uang tunai di handphone, dimana yang memungkinkan pemegangnya untuk melakukan transaksi perbankan tanpa harus melakukan pembukaan rekening ke cabang Bank Mandiri. https://www.bankmandiri.co.id/e-cash

  2. Mandiri e-cash tidak dapat transfer ke bank lain selain Bank Mandiri. https://penablog.com/transfer-e-cash-ke-rekening-bank-selain-mandiri/

  3. Untuk menerima dana dari mandiri e-cash, penerima dana tidak perlu memasukkan kode OTP (One Time Password). https://carabimo.com/mau-tahu-struk-bukti-transfer-e-cash-ke-rekening-ini-gambarnya/
Jika rekan sekalian mengalami kejadian yang serupa dengan yang saya alami, ada baiknya benar-benar menelusuri kebenaran niat dari calon pembeli, apakah memang benar-benar ada itikad baik dari pembeli untuk membeli barang milik anda ataukah ada niatan jahat dari calon pembeli untuk melakukan penipuan guna mendapatkan untung berupa barang yang anda jual tanpa harus mengeluarkan sejumlah dana untuk mendapatkan barang tersebut. Berhati-hati akan lebih bijaksana daripada harus menyesal di kemudian hari.